
Revand menghentikan aktivitas nya yang sedang membereskan semua barang yang ada di ruang kerjanya, saat seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya tersebut. Ketika ia membalik kan tubuhnya, Gisella sudah masuk kedalam ruangan nya, menghampiri nya, namun saat gadis itu ingin menyentuh nya, Revand segera berkelit, lalu memutar tubuhnya, dan menatap Gisella dengan tatapan penuh amarah. Gisella hanya tersenyum kecil melihat betapa pria dihadapannya begitu terlihat emosi padanya. Gadis itu segera duduk di kursi direktur milik Revand, membuat Revand nyaris tidak bisa menahan emosi yang membakar hatinya.
Kursi itu.Kursi itu didapatkan nya dengan susah payah. Dengan kerja kerasnya selama ini, Sherlin saksi nyata betapa ia berjuang begitu keras untuk mendapatkan posisi itu. Sekarang, dengan mudahnya kursi itu diserahkan kepada orang lain, hanya karena ia berusaha untuk jujur dalam kinerja nya diperusahaan ini.
"Sakit kan...? Saya sudah bilang direktur, eh mantan direktur, jangan coba coba untuk melawan saya. Saya bisa membuat anda mendapatkan apa yang tidak pernah anda bayangkan sebelumnya, rencana malam itu, sudah saya rancang dengan sangat sempurna, kesempatan kita juga sangat tepat waktu itu, tapi ternyata anda membuat rencana saya hancur semua nya. Bahkan, anda membuat saya tidur dengan pria lain selain anda..!!"
Gisella bicara seperti itu dengan nada yang sangat dingin. Revand sedapat mungkin menahan emosi yang menguasai nya sekarang. Bagaimana pun, ia tidak mau membuat keributan disaat ia sedang mengundurkan diri. Meski sejujurnya, ia ingin sekali mengamuk diruang tersebut.
"Apa yang lu mau Gisella..? Kedudukan..? Cinta...? Atau hanya pengakuan kalau lu hebat...? Menurut gue, lu ini gagal. Lu, gagal mendapatkan itu semua. Apa yang lu dapatkan sekarang, kagak akan bisa membuat lu merasa bangga, karena lu kagak bekerja keras untuk mendapatkan nya. Gue kasihan dengan lu..!"
"Diem lu Revand. Lu nggak ada hak untuk mengucapkan kalimat itu. Kursi ini bisa lu dapatkan lagi asal lu mau kerja sama dengan gue, lu sadar nggak. Lu mempersulit perusahaan ini dengan sikap sok suci lu itu. Lu pikir, ada orang kaya yang jujur...? Mereka semua punya cara. Dan cara itulah yang membuat mereka kaya, perusahaan ini merugi besar akibat sikap lu yang selalu berusaha jujur itu. Lu pikir, jujur lu itu bisa buat lu kenyang...? Gue yakin, istri lu juga akan protes kalo jatah bulanan nya lu potong karena gaji karyawan di potong untuk menutupi kerugian...!!"
"Tapi, cara lu itu salah Gisella. Kalian yang nggak mau kerjasama dengan gue, kalian yang nggak sabar untuk berusaha merubah situasi perusahaan ini sedikit demi sedikit. Kalian lebih memilih mengorbankan orang lain untuk membuat sebuah gebrakan...!"
"Lu pikir, ilmuwan bisa menemukan obat itu tanpa melewati sebuah pengorbanan...? Bisnis itu kejam Revand, kalo lu selalu mengandalkan sikap jujur lu itu, gue yakin sampai kapan pun lu tetap akan menjadi gembel diperusahaan manapun...!"
"Gue hanya ingin mencari nafkah yang bisa membuat rumah tangga gue berkah..!"
"Rumah tangga lu akan hancur sebentar lagi, karena Sherlin nggak bisa memberikan lu keturunan..! Lu kira, nyokap lu bisa tahan menunggu...? Gue baru ingat sayang. Beberapa hari yang lalu, nyokap lu menghubungi gue, dia akan datang untuk membicarakan perihal ini, sebentar lagi, istri lu yang nggak subur itu akan di lenyapkan, dan gue yang jadi gantinya, apalagi sekarang karir gue melesat naik, dan lu sekarang pengangguran. Gue nggak sabar, pengen ngeliat reaksi nyokap lu itu. Kalau tiba saatnya datang, lu harus siap menerima gue sayang, gue yang berkuasa sekarang. Lu hanya boleh mengikuti apa yang gue mau...!!"
"Diam lu Gisella. Jangan ngimpi. Sampai kapanpun istri gue tetap Sherlin. Bagaimana pun keadaan dia, gue kagak perduli. Dia yang menemani gue dari bawah, bukan lu. Dia akan selalu menjadi istri gue, jadi jangan bermimpi menggantikan dia..!"
Revand segera mengangkat barang barang miliknya untuk segera keluar dari ruangan itu. Tidak mau mendengar ocehan Gisella lagi yang akan memancing emosi nya. Namun, langkah nya terhenti saat suara Gisella terdengar.
"Gue ingin lu Revand. Aku ingin kamu. Kenapa lu kagak pernah mau membuka hati lu sedikit untuk gue...? Kenapa kamu hanya memikirkan Sherlin, Sherlin dan hanya Sherlin, padahal jadi yang kedua pun gue bersedia. Aku bersedia...!!!"
Gaya bahasa Gisella di sengaja kan bercampur seperti itu, agar ia bisa membuat Revand yakin kalau ia sedang serius. Namun, Revand tidak bergeming.
"Jika kamu bisa jadi yang pertama dihati pria lain kenapa kamu mau jadi yang kedua...? Sudahi kebencian kamu Gisella, aku tidak bisa membalas perasaan kamu karena aku hanya mencintai Sherlin..!"
__ADS_1
Revand membalas dengan gaya bicara yang juga tidak kalah serius nya. Menanggalkan kalimat "elo-gue" agar Gisella tahu, dia juga sedang tidak bercanda.
"Tapi kamu sendiri yang bilang, istri kamu itu nggak pernah membuat kamu merasa diinginkan, aku bisa memberikan apa yang nggak bisa diberi kan istri kamu Vand, aku selalu menginginkan kamu setiap saat. Nggak seperti Sherlin, yang terlalu kaku dan pasif, dia nggak secinta itu sama kamu Revand...!!"
"Iya. Aku memang pernah punya fikiran seperti itu, tapi saat orang lain menyentuh istriku, aku baru sadar, aku tidak rela dia diambil orang lain. Aku tidak rela Sherlin memilih pria lain selain aku. Kurasa untuk hal yang satu itu, aku tidak perlu banyak menuntut lagi, dia mau melayani ku saja artinya dia juga menginginkan nya, kuakui, kamu memang mampu membuat sensasi lain dihatiku, tapi aku sadar, istriku itu Sherlin bukan kamu, aku nggak bisa kehilangan dia hanya karena kebodohanku terlalu banyak menuntut..! Ambil lah kursi itu untuk mu. Sebagai imbalan, Sherlin tetap menjadi istri ku...! Semoga dengan duduk dikursi itu, hidup kamu jadi lebih baik Gisella,"
Habis berkata begitu, Revand benar benar keluar meninggalkan ruangan yang kini sudah menjadi ruangan Gisella. Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Revand, wajah Gisella merah padam. Digebraknya meja dengan luapan emosi nya.
"Lu nggak akan bahagia bersama Sherlin Revand...!!"
Katanya dengan penuh ambisi.
***
Zill dan Sherlin sudah duduk di tepian sungai Mahakam. Suasana sungai Mahakam yang sedang pasang membuat indah pemandangan dihadapan mereka. Beberapa perahu ketinting lalu lalang, bercampur hiruk pikuk nya bunyi kendaraan dibelakang mereka, mereka sengaja memakai tempat terbuka seperti ini untuk bertemu. Terlalu banyak didalam ruangan ber AC juga tidak membuat otak terasa fresh. Justru angin alami bak angin pantai ini membuat tubuh mereka seperti rileks seketika.
"Maaf, udah menyita waktu kamu untuk bicara disini..!"
Tanya Zill dengan nada serius. Sherlin mengangguk. Ia meminta izin pada Revand, untuk bertemu Zill untuk membicarakan perihal akting mereka. Jadi mau tidak mau, Revand mengizinkan mereka bertemu secara pribadi.
"Aku minta maaf Zill. Apapun yang aku lakukan malam itu, aku benar benar sedang nggak sadar, tolong jangan diambil hati ya, aku benar benar malu kalau membahas ini sama kamu, tapi aku nggak mau hubungan pertemanan kita jadi buruk atau canggung karena hal ini..!"
Sherlin bicara dengan nada serius. Zill menghela nafas.
Aku yang minta maaf, sudah menikmati situasi malam itu bersamamu Sherlin. Meskipun itu kulakukan karena ingin menahan birahi kamu karena pengaruh obat perangsang itu, tetap saja jujur aku menikmati nya..
Zill merespon ucapan Sherlin dalam hati. Wajah nya memerah lagi.
"Zill...?"
Suara Sherlin membuat Zill tergagap.
__ADS_1
"Ah, iya. Aku mengerti. Aku paham maksud kamu, aku juga minta maaf, mungkin malam itu juga melakukan hal yang nggak seharusnya aku lakukan..!"
"Rei bilang, kamu sudah melakukan hal yang seharusnya kamu lakukan Zill, kamu teman yang baik. Aku malah sekarang nggak enak sama kamu, karena aku mungkin bukan teman yang baik untuk kamu. Maaf, apa bisa kita mengakhiri akting kita didepan ibu kamu...? Aku nggak mau semua akan terluka karena hal ini Zill. Bagaimana pun, berbohong bukan alasan yang tepat untuk menyelesaikan masalah apapun...!"
Zill terdiam lama saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Sherlin. Berbagai perasaan bercampur aduk dibenaknya. Namun ia paham, apa yang diucapkan Sherlin itu masuk akal. Sekarang saja, dia justru menikmati peran mereka selama ini, meski tidak ada kontak fisik yang intens selama mereka akting, tetap saja Zill terkadang bahagia mendengar orang orang menyebut Sherlin adalah calon istri nya.
"Baiklah. Aku mengerti. Tapi, apakah aku boleh jujur satu hal..? Aku hanya ingin membuang beban ini aja. Nggak bermaksud untuk membebani fikiran kamu. Jujur, aku suka sama kamu. Aku menginginkan kamu Sherlin. Saat Revand seolah olah bermain api dengan Gisella, ada keinginan ku untuk merebut kamu dari dia. Tapi sepertinya, suami kamu sangat mencintai kamu, jadi tenang saja. Aku nggak akan mengharap apapun tentang perasaan ini. Aku hanya ingin jujur, dan Revand harus sadar satu hal, dia akan menjadi manusia bodoh, jika sampai melepas kamu untuk Gisella..!"
Sherlin membatu mendengar ungkapan perasaan pria disebelah nya. Sangat to the point, tidak basa basi sama sekali. Sherlin bahkan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk merespon ucapan jujur Zill. Tidak menyangka, ia akan mendengar hal itu diucapkan oleh pria dingin seperti Zill.
"Sejak kapan kamu suka sama aku..?"
Tanya Sherlin terbata.
"Sejak kamu bisa membuat kucing ku jadi jinak, aku sudah kagum sama kamu. Buatku, wanita pencinta kucing yang bisa membuat seekor kucing nyaman bersama nya adalah wanita penyayang dan juga sangat spesial. Dengan kucing saja, kamu penyayang Sherlin, apalagi dengan manusia. Maaf, aku lancang memelihara perasaan ini padamu, tapi aku bukan tipe orang yang akan merusak kebahagiaan orang lain. Karena aku tahu, sakitnya melihat pernikahan itu dirusak oleh orang lain. Selama Revand tetap menjaga kamu dengan baik, aku juga ikut bahagia. Wanita seperti kamu harus dijaga, itu yang harus Revand lakukan untuk mu.."
Mendengar penuturan Zill, sepasang mata Sherlin jadi menghangat. Perasaan nya begitu sesak. Hatinya perih.
Aku bukan wanita sesempurna itu Zill, mertuaku saja menganggap aku bukan menantu yang baik, karena sampai sekarang aku belum bisa memberikan cucu untuk mereka...
Apakah benar aku pantas dijaga...? Apakah benar Revand tetap harus menjaga ku...?
Hati Sherlin bicara dengan perasaan yang bercampur aduk. Perasaan hancur mendominasi. Hancur, karena ia tidak tahu, apakah Revand akan sanggup mempertahankan nya disaat ia justru tidak bisa memenuhi tuntutan ayah ibunya...
Note: Rasa kemanusiaan manusia terlihat dari tingkah laku nya. Jika ia begitu sayang dengan semua makhluk ciptaan Tuhan, maka ia juga akan kerap memanusiakan manusia, karena begitu banyak manusia kehilangan sisi kemanusiaan nya, lantaran zalim dengan sesama.
π jangan lupa dukungannya selalu di karya saya ini ya sahabat π
π Siapa yang punya kucing dirumah angkat tangan π€π€π€ ini kucing author namanya Kyubi , setiap saya sakit dia selalu nempel jagain saya, bahkan molor pun dibantal yang sama dengan saya sampe kadang saya ngalah ga pake bantalππ
__ADS_1
bersambung