SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 67. TIDAK MUNGKIN..!


__ADS_3

Pram menepikan mobilnya ketika melihat Revand berjalan ditepi jalan dengan penampilan yang berbeda dari biasanya. Tidak memakai dasi, dan jas. Hanya memakai kemeja putih dengan celana warna hitam. Penampilan Revand lebih mirip seperti seseorang yang sedang melamar pekerjaan, bukan seorang direktur seperti biasanya. Keheranan Pram inilah yang membuat, pria itu berniat untuk menyapa Revand. Kebetulan, beberapa hari ini ada yang mengganjal dalam fikiran Pram. Dan itu ada sangkut pautnya dengan pria tersebut.


"Kebetulan kita ketemu disini. Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda..!"


Meski Revand terlihat terkejut bertemu dengan Pram ditempat umum seperti ini, Revand menuruti juga ketika Pram mengajak nya untuk masuk kesebuah cafe tidak jauh dari lokasi mereka bertemu, kini mereka sudah duduk disalah satu meja didalam cafe tersebut, dengan dua cangkir kopi dihadapan mereka.


"Sebelum nya, saya tidak bisa untuk tidak bertanya, kenapa anda bisa diluaran dengan penampilan seperti ini..? ini jam sibuk kerja kantor, anda sedang tidak menemui klien diluar dengan penampilan seperti ini bukan...?"


Revand menarik nafas. Sudah ia duga, pasti akan menimbulkan pertanyaan jika orang yang mengenal nya melihat ia dengan penampilan nya seperti ini. Sebenarnya Revand malu, namun apa boleh buat. Ini kenyataan yang harus ia hadapi.


Ia menceritakan semua yang ia alami kepada Pram. Meskipun sebelumnya, hubungan mereka tidak cukup baik karena akting yang dilakukan, namun setelah kejadian dihotel beberapa waktu yang lalu itu, secara pelan tapi pasti aura permusuhan Pram pada Revand mulai memudar, begitu juga sebaliknya. Mendengar cerita Revand, Pram menarik nafas panjang. Ingin tidak percaya, kenyataan nya, Revand sekarang benar benar bukan siapa siapa lagi dihadapan nya. Harusnya ia bahagia melihat kehancuran pria yang pernah membuat nya kesal ini, namun ketika Pram tahu akting Revand dan Gisella, Pram jadi tidak lagi memelihara bibit benci itu. Justru kasihan, melihat tragis nya nasip Revand sekarang.


Kehilangan karir yang dibangun nya dalam sekejap, karena Gisella.


"Turut prihatin. Apapun yang menjadi persoalan kita di hari kemarin, lupakan. Saya sudah tau semuanya, Gisella memang ingin menghancurkan rumah tangga anda dengan istri anda, hanya saja, saya heran juga, kenapa anda yakin Gisella memang ingin berubah...? Pada kenyataannya, dia justru melakukan hal buruk ini terhadap anda..?"


"Dia sebenarnya wanita yang baik. Hanya saja, anda pernah menyakiti nya terlalu dalam, hingga kebaikan dia menjadi tertutupi oleh benci dan dendam,"


Pram menghela nafas mendengar ucapan Revand, yang telak menohok hatinya.


"Ia, anda benar. Gisella dulu wanita yang baik. Hanya saja, saya dulu keterlaluan terhadap dia, hingga dia berubah seperti sekarang, andai waktu bisa ditarik kembali, saya mau mengembalikan waktu dahulu, untuk memperbaiki semuanya, tentu dia juga tidak terlalu jauh melangkah seperti sekarang..."


Suram sekali suara Pram saat mengucapkan kalimat tersebut.


"Semua belum terlambat, anda bisa melakukan itu dari sekarang, buktikan pada dia bahwa anda sekarang menyesali semuanya,"


"Itu sangat sulit. Dia terlanjur jatuh cinta kepada anda, dan dia juga menempuh hal kurang wajar untuk mendapatkan anda..!"


"Memberikan obat perangsang pada saya, lalu mencoba untuk meniduri saya..?"


"Itu salah satu ritual yang dia lakukan untuk membuat anda tunduk padanya..!"

__ADS_1


"Apa...?"


Paras Revand berubah mendengar penuturan Pram. Ia tidak habis fikir. Tiba tiba saja, ucapan Roy sahabatnya terngiang di telinga nya. Tentang guna guna. Jangan jangan...


"Apa, Gisella memakai guna guna..?"


Tanya Revand ragu. Namun, sepasang mata Pram membelalak mendengar ucapan Revand.


"Anda sudah tahu..?"


"Berarti benar..?"


Pram mengusap wajah nya dengan gusar. Lalu ia mengangguk. Revand bengong. Zaman metropolitan seperti ini, hal mistis seperti ini masih ada..?


"Waktu saya menggantikan posisi anda dikamar hotel tersebut, saya sudah merasakan hal berbeda setelah kejadian itu, setiap kali pikiran saya selalu ada Gisella, pikiran itu menyeret saya untuk terus menemuinya, seolah olah ada bisikan lain yang menuntun saya melakukan itu. Setiap malam, saya bahkan ingin sekali bercinta dengan Gisella, ini menyiksa, hingga kemudian, salah satu kenalan saya membawa saya ke seorang ustaz, dari sana saya baru tahu, karena hubungan intim itu, ada kekuatan lain menuntun saya untuk terus menggilai Gisella. Saya diberi obat penawar, tapi ilmu itu cukup kuat, pada akhirnya, ustaz bilang diri saya sendiri lah yang bisa melawan kekuatan itu. Hati dan fikiran saya. Setiap kali saya merasa benci dan kesal, ilmu itu terasa semakin kuat menyiksa saya, saya harus bisa mengendalikan fikiran saya, saya berusaha untuk tidak membenci Gisella dan berusaha introspeksi diri sendiri, dan ajaib, pengaruh ilmu itu perlahan lahan mulai tidak menuntut saya melakukan hal-hal tidak jelas untuk dekat dengan Gisella. Tidak hanya itu, ustaz juga berpesan pada saya untuk menjaga ibadah saya, pusatkan fikiran hanya kepada Allah, Alhamdulillah sekarang saya bisa mengontrol diri saya..!"


Revand semakin bengong mendengar penuturan Pram. Ini hal yang diluar nalar menurut nya. Tapi sudah ada dua orang yang mengatakan hal itu, Roy, dan juga Pram. Revand tidak mungkin untuk tidak percaya.


"Apa maksud anda? Saya tidak mau lagi berurusan dengan Gisella, saya tidak mendendam, tapi jujur saya tidak ada hati untuk bermanis manis sikap dengan orang yang mencoba meruntuhkan kehidupan saya dan istri saya..!"


"Saya tahu, saya tidak meminta banyak, saya hanya ingin anda melakukan satu hal, jaga ibadah anda, kendalikan fikiran anda, sekarang saya sedang berusaha untuk membuat Gisella sadar atas perbuatannya, tapi itu tidak mudah, jika anda saja percaya Gisella bisa berubah, kenapa saya tidak..? Tapi jika anda tidak mau bekerja sama dalam hal ini, saya tidak punya celah untuk bisa memenangkan pertarungan ini. Apa yang sudah dilakukan Gisella terhadap anda adalah salah satu pancingan dia agar dia bisa menguasai fikiran anda, emosi dan benci membuat ilmu mudah merasuki anda, terpenting jaga diri anda, jangan sampai anda tidur dengan dia, karena jika itu terjadi, anda akan mengalami hal serupa seperti yang saya alami..!"


"Jadi, cuma itu yang bisa saya lakukan..?"


"Apakah anda termasuk orang yang melewatkan shalat jika sedang sibuk..?"


Revand menggeleng, selama ia menikah dengan Sherlin, ia sudah berusaha untuk melakukan perubahan baik dalam dirinya, termasuk menjaga ibadah. Hanya saja, emosi yang terkadang masih sulit untuk dia kendalikan, apalagi jika sedang cemburu. Itu yang sekarang berusaha untuk dirubah Revand secara bertahap. Beruntung, Sherlin sabar membinanya.


"Bagus, berarti anda harus mengendalikan emosi dan fikiran anda agar tidak ada celah untuk Gisella membuat ia bisa menguasai anda, ini kartu nama saya, harap hubungi saya jika ada hal yang terjadi mengenai Gisella. Anda target utama, jadi sekarang andalah yang di incar olehnya, bukan saya, mari kita bekerja sama untuk membuat seseorang sadar atas kekhilafan nya..!"


Pram memberikan kartu nama nya pada Revand. Setelah itu menyeruput kopi miliknya, lalu pamit dari hadapan Revand. Revand merasa otaknya buntu untuk berfikir. Down dan shock bercampur jadi satu. Harus menerima kenyataan, kehilangan karir secara tiba tiba, berusaha mencari pekerjaan baru hari ini ia selalu ditolak meski latar belakang prestasi nya cukup bagus, sekarang menerima kenyataan baru, ada ilmu hitam pula siap menyerang nya, rasanya Revand menjadi stres luar biasa...

__ADS_1


***


Revand terkejut, ketika ia pulang kerumah ada ibunya berdiri menyambut nya didepan pintu. Sang ibu tidak memberi kabar akan datang kerumah. Namun melihat ekspresi wajah ibunya, Revand yakin ibunya tahu kondisi terkini tentang dirinya.


Semoga mami tidak bicara yang tidak tidak pada Sherlin...


Revand membathin sembari menghampiri sang ibu yang menatap nya dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Assalamualaikum mi, kok nggak ngasih kabar, kalau mau datang..?"


Revand berusaha untuk bersikap seperti biasa. Sang ibu menarik nafas berat.


"Waalaikum salam, mami sengaja, sengaja nggak kasi kabar, ternyata ini cukup ampuh untuk menangkap basah situasi buruk rumah tangga kalian. Mami kecewa Revand, mana penampilan terhormat kamu, lihat sekarang kamu. Menyedihkan sekali, jalan kaki, cari kerjaan, penampilan kumal, pulang kerumah, istri belum pulang, rumah tangga seperti apa yang kalian jalankan sekarang..?"


"Mi, aku bukannya mau merahasiakan semuanya, hanya aja kami perlu waktu untuk menceritakan hal yang sebenarnya, saat ini kami sedang diuji, rumah tangga ku sedang diuji mi, jadi tolong, mohon pengertiannya, aku ikhlas mendapatkan ini semua, asal aku dan Sherlin tetap bersama, lagi pula, Sherlin belum pulang karena harus lembur, dia sudah minta izin mi, tidak usah mempersoalkan itu. Mohon doanya, doakan kami bisa melewati ini semua.."


"Tidak...!! Mami tidak mungkin ikhlas menerima ini semua, kalau papimu tahu karir kamu lenyap, dia bisa jatuh sakit Revand..! Selama ini kami selalu membanggakan banggakan kamu. Apa jadinya, kalau anak yang kami banggakan hidup nya terpuruk seperti ini..? Istri kamu itu pembawa sial. Kamu menikah dengan dia jadi sial. Ceraikan saja dia, nikahi Gisella. Dia sekarang punya karir yang bagus. Dia direktur Revand. Status sosial kamu akan kembali terangkat jika kamu bersama dia...!!"


"Cukup Mi. Jangan bicara seperti itu lagi. Kalau mertuaku mendengar nya tidak enak. Beliau saja bisa memahami situasi kami kenapa mami tidak..? Tolonglah Mi, aku sekarang stres, jangan buat aku semakin stres. Dan lagi, jangan berharap aku akan menikahi Gisella, jabatan yang dia miliki sekarang bukan karena dia layak mendapatkan itu, tapi dengan seribu muslihat. Tapi aku juga sadar, aku juga salah. Aku yang salah karena pernah percaya dia seratus persen, teman yang baik. Sekarang aku harus menelan semuanya, tapi jika mami ingin aku menikahi Gisella, sampai kapanpun aku tidak ingin melakukan nya..!!"


"Tapi untuk apa kamu mempertahankan istri seperti Sherlin...? Dia membuat hidup kamu sial. Dia juga tidak bisa memberikan kamu keturunan, kedudukan Gisella lebih menjanjikan daripada Sherlin yang hanya bekerja disebuah restoran...!!"


"Tapi, apa yang didapat Sherlin sekarang adalah buah dari kerja kerasnya Mi, dia melakukan itu berdasar kan cara yang baik, tidak seperti Gisella yang mendapat kan posisi bagus itu dengan menipuku..! Aku capek Mi, tolong jangan tambah beban ku dengan semua tuntutan mami yang berlebihan..!!"


Habis berkata begitu, Revand berbalik keluar dari rumah nya kembali. Tidak jadi masuk kedalam rumah. Ucapan demi ucapan ibunya membuat ia seperti dihantam pukulan demi pukulan yang menyakitkan. Ia tidak butuh hal yang muluk muluk sekarang, sudah disupport dan didukung saja dia akan merasa baik saja, tapi kenyataannya, sang ibu datang justru menambah luka, ibarat kedua kakinya yang semula sudah dipatahkan kini menjadi semakin hancur hingga ia seperti tidak mampu untuk melangkah lagi...


Note: Keluarga harus nya sama seperti anggota tubuh, jika salah satu anggota tubuh terluka, maka anggota lainnya akan merasakan sakit pula, hingga seluruh anggota tubuh bersatu membuat luka itu sembuh dan tidak terasa sakit lagi. Bukan justru sebaliknya..


👉 jangan lupa like, komen mendukung, dan vote nya ya,buat yang selalu beri vote n stay disini kalian terbaik 😎


👉 TERIMA KASIH BUAT KE 43 PESERTA EVENT BIRTHDAY SAYA DI-MARKAS BESAR GSB, DURASI SESI 1 SUDAH DI CLOUSE, BERIKAN WAKTU PARA JURI UNTUK MELAKUKAN PENILAIAN, MOHON MAAF BAGI YANG BELUM SEMPAT IKUT KARENA KENDALA SINYAL, DURASI TIDAK BISA KAMI PERPANJANG YA, SEMOGA NEXT BISA IKUTAN DIEVENT SAYA YANG LAIN, TETAP JADI PEMBACA KARYA SAYA, AGAR SELALU BISA IKUT BERPARTISIPASI DALAM EVENT NYA❤️

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2