SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 59. TAK SESUAI RENCANA (2) (21+)


__ADS_3

Zill mencari cari Sherlin kesegenap penjuru kamar, hingga kemudian, ia mendapati wanita itu ada didalam kamar mandi. Pakaian wanita itu basah, membuat lekuk tubuh Sherlin terlihat. Ini membuat jantung Zill seolah berhenti berdenyut. Namun, ia berusaha untuk mengontrol perasaan nya, kondisi Sherlin lebih membuat nya khawatir.


"Sher, kamu kenapa, kenapa jadi begini, apa yang terjadi..?"


Zill berusaha untuk membuat Sherlin berhenti menyiramkan air kesekujur tubuhnya. Mendengar suara Zill, Sherlin menghentikan kegiatan nya, ditariknya Zill hingga tubuh mereka beradu dan menempel satu sama lain.


"Panas, tolong aku. Tolong bantu aku,"


Suara Sherlin tidak sama seperti biasanya terdengar. Jika biasanya suara wanita itu cenderung sopan dan halus, kini terdengar seperti mendesah dan menggoda. Membuat siapa pun yang mendengar nya akan terangsang, terutama kaum pria. Tidak hanya berkata dengan suara mendayu seperti itu, Sherlin juga nekat ingin membuka pakaian yang digunakan Zill. Zill paham sekarang, Sherlin di bawah pengaruh obat perangsang.


"Sher, sadar Sher, tahan kamu harus bisa mengendalikan diri, kamu tunggu disini ya, aku telpon dokter dulu,"


Zill berusaha menahan Sherlin yang membabi buta ingin membuka pakaian nya, merasa mendapatkan perlawanan, Sherlin berbalik membuka kemejanya sendiri, kancing demi kancing dibukanya, hal ini membuat Zill yang awalnya ingin menelpon dokter, urung melakukan hal itu, karena tidak ingin Sherlin nekat membuka baju yang dipakai nya.


Jantung Zill berdegup demikian kencang, berbagai perasaan menyerbunya. Separuh bagian dada Sherlin terlihat, membuat fikirannya mendadak buntu seketika. Sebagai pria normal, tentu saja pemandangan itu sangat menggoda imannya, apalagi Zill diam diam memang menyukai wanita ini. Hanya saja, karena tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang lain, Zill memilih untuk memendam saja perasaan spesial itu didalam hati. Hubungan persahabatan mereka diusahakan Zill tetap tulus, namun diserang godaan seperti ini, tentu saja itu tidak mudah baginya.


Melihat Zill yang termangu menatapi dirinya, Sherlin tidak ingin membuang kesempatan. Ditariknya pria itu keluar kamar mandi. Mengajak nya keatas tempat tidur, menuntaskan perasaan yang mendesak didalam dirinya saat ini. Suara Zill yang berusaha untuk menyadarkan nya tidak digubris oleh Sherlin. Tingkahnya semakin menggila, menuntut pelampiasan. Sherlin melepaskan pakaian atasnya yang sudah basah. Zill semakin dibuat kelimpungan, antara ingin memanfaatkan kondisi tidak sadar Sherlin karna ia mencintai wanita itu, atau mempertahankan prinsip nya tidak ingin merusak rumah tangga orang lain.


Berfikir sampai disitu, Zill meraih tubuh Sherlin yang tadinya ada diatas tubuhnya, meraih selimut dan langsung menutupi tubuh bagian atas Sherlin yang hanya tertutup bra yang dipakainya. Apa yang dilakukan Zill, membuat Sherlin tidak bisa lagi membabi buta menyerang Zill. Ia terkurung selimut yang ditutup kan Zill keatas tubuh nya, ditambah lagi kini Zill yang berada diatas tubuhnya mengunci gerakannya. Pandangan mata Sherlin sayu, seolah menghiba meminta Zill untuk membantunya melepaskan rasa menyesak dalam dirinya akibat pengaruh obat perangsang yang menyerangnya.


"Bantu aku Vand, bantu aku mengatasi rasa menuntut ini, lepaskan aku,"


Pinta Sherlin menghiba. Masih dengan nada suara mendesah seolah merayu pria dihadapannya.


Dalam keadaan tidak sadar aja, nama Revand yang kamu sebut Sher, menandakan kamu memang mencintai pria itu, harus kuakui hatiku terluka karena mencintai mu, tapi apa bedanya aku dengan Gisella jika aku memanfaatkan keadaan kamu yang sekarang. Cintaku tidak sekotor itu Sherlin, buatku asal kamu bahagia, itu sudah cukup. Tapi, maaf aku harus melakukan ini untuk mu, agar kamu tidak terlalu tersiksa dengan keadaan kamu yang sekarang..


Habis membathin seperti itu, ia merunduk. Dic*umnya bibir Sherlin dengan penuh perasaan. Zill bukan ingin memanfaatkan kondisi Sherlin yang sedang tidak sadar seperti itu. Akan tetapi untuk mengulur waktu, agar gejolak nafsu Sherlin yang dibawah pengaruh obat perangsang itu tidak terlalu membuat wanita itu tersiksa.


Jika biasanya Sherlin tidak terlalu piawai untuk urusan yang satu ini, karena pengaruh obat tersebut, Sherlin mendadak menjadi liar. Di balasnya c*uman Zill. Bahkan wanita itu meronta ingin lolos dari kurungan selimut yang dibuat Zill agar bisa meminta lebih dari sekedar ciuman. Untuk sesaat Zill seolah terbuai dengan situasi yang entah dikatakan sebuah keberuntungan untuk nya, atau sebuah kecelakaan. Yang jelas untuk sesaat keduanya tenggelam dalam c*uman mereka satu sama lain. Jika Sherlin membalas c*uman Zill karena bernafsu akibat pengaruh obat perangsang tersebut. Berbeda dengan Zill yang menc*um Sherlin dengan penuh perasaan cinta yang dimiliki nya.


Walau pun begitu, Zill sempat mengambil ponsel disaku celana nya, lalu melepaskan pagutan bibir mereka untuk segera menghubungi Rei. Aksi Zill sedikit terhambat karena Sherlin merengek kembali untuk melakukan apa yang mereka lakukan tadi. Wanita itu terus meronta-ronta. Hingga membuat Zill mau tidak mau mendekap Sherlin dengan perasaan yang tidak tahu harus dijabarkan seperti apa.


Siapa yang tega melakukan ini padamu Sher..

__ADS_1


Kata Zill berulang ulang, untungnya ia berhasil menghubungi Rei, sebelum akhirnya ponselnya terpental entah kemana lantaran kerepotan menahan gerakan Sherlin yang membabi buta untuk membuka selimut yang menutupi tubuh nya.


Diwaktu yang bersamaan, Rei, yang mendapat kan telpon dari Zill segera menerobos kerumunan tamu untuk segera memanggil dokter yang memang ada di hotel tersebut. Karena terburu buru, ia menabrak seseorang hingga orang itu terjatuh. Rei berulang kali meminta maaf sembari membantu orang itu berdiri, namun ia kaget ketika melihat wajah orang yang ditabraknya.


"Revand. Lu disini...?"


"Kepala gue pusing Rei, tolong antarkan gue ketempat Sherlin, lu tau kan dia dimana, Gisella ada disekitar sini, dia menyamar jadi wartawan untuk bisa masuk kesini, gue harus cari Pram, menurut daftar yang gue liat dia ada disini kan, lu bisa meminta Zill buat menyuruh Pram kekamar 145..? Gue kagak bisa menjelaskan lebih rinci kagak ada waktu, kesadaran gue nyaris abis bantu gue ketemu Sherlin Rei, gue kagak mau melampiaskan nafsu gue kewanita lain sekarang..!"


Rei melongo mendengar serangkaian ucapan yang keluar dari mulut Revand. Tidak mengerti arah pembicaraan Revand. Revand kesal melihat ekspresi bodoh Rei.


"Kenapa diam...!! Gue serius..!! Hubungi Zill sekarang juga, kalo lu yang gue suruh cari pria bernama Pram itu, buang waktu, lakukan apa yang gue suruh sekarang...!!"


Revand tersengal sengal mengatakan kalimat itu. Wajahnya semakin merah. Dibentak begitu oleh Revand, Rei jadi kalang kabut. Ia segera menghubungi Zill, cukup lama Zill baru bisa dihubungi.


Saat Rei ingin bicara, Revand menyambar ponsel itu dan segera bicara pada Zill.


"Dengerin gue, ini Revand, tolong minta sobat lu Pram kekamar 145, Gisella menunggu disana, ini darurat kalo lu kagak melakukan ini, acara penting lu sekarang hancur berantakan,"


"Lu Revand, kenapa bisa lu ada disini, lu datang bareng Gisella, jadi ini ulah kalian, Sherlin dibawah pengaruh obat perangsang, kalo lu kagak datang sekarang juga di kamar 157, Sherlin bisa ngajakin gue tidur malam ini..!!"


"Kagak usah bawa dokter kesini, lu bawa Revand kesini segera kekamar 157..!"


"Tapi kondisi Sherlin gimana...?"


"Kalo Revand kita kurung di kamar ini semalaman dengan Sherlin, besok juga bakal sembuh, paham...!"


Rei garuk garuk kepala. Pria itu masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Namun tetap melakukan apa yang diminta oleh Zill. Di burunya Revand yang terseok seok mencari kamar. Menuntun Revand menuju kamar yang disebut kan oleh Zill tadi.


Sementara itu, Pram yang baru saja ingin tampil didepan para relasi bisnis Zill mengurung kan niat saat ponselnya berdering. Panggilan dari Zill..


"Wanita pujaan lu menunggu dikamar 145 sekarang buruan, kesempatan lu kagak datang dua kali, jangan membantah dan banyak tanya, gue sekarang lagi kesulitan menghadapi situasi genting gue sendiri, 10 menit lagi gue keluar, acara gue jamin kagak akan kenapa napa, asal lu ikuti kata kata gue...!"


Telpon ditutup. Pram bengong.

__ADS_1


Anak ini kenapa..? Kenapa ngomong ngos ngosan begitu..? Dia dikejar siapa sih.. ? Gisella...? Gisella ada disini...


Berfikir tentang Gisella, Pram mengurung kan niat untuk tampil ke acara perjamuan. Gisella lebih penting dari apapun buat nya. Meski tidak mengerti, apa yang sedang dibicarakan Zill, tapi ia yakin, sahabat nya itu tidak mungkin menjerumuskan nya.


Langkah nya tergesa menuju kamar yang dimaksud oleh Zill.


Mungkin saja Gisella berubah fikiran, ia putus dengan si Revand itu, lalu pengen jadian ama gue..


Hati Pram berbunga bunga berfikir sampai disana. Dibukanya pintu kamar yang dimaksud oleh Zill



"Gisella ..?"


Pram menyerukan nama Gisella saat masuk kedalam kamar tersebut. Ditutup nya pintu kamar. Pria itu masuk dan mencari sosok Gisella.


Sepasang matanya terbelalak melihat Gisella sudah bugil diatas tempat tidur dengan posisi yang menantang. Seolah olah menanti pria yang masuk kedalam kamar tersebut.


"Sell, kenapa kamu bugil begini sih..?"


Setengah mati, Pram menetralisir perasaan nya melihat pemandangan menggoda kelelakian nya tersebut. Masih ingin menjadi pria baik baik. Meraih selimut untuk menutupi tubuh bugil gadis itu. Namun yang ada, Gisella yang sudah dibawah pengaruh obat perangsang menarik Pram keatas tempat tidur, dan dengan brutal menciumi Pram.


"Revand, akhirnya lu datang juga, lakukan sekarang gue udah nggak kuat sayang.."


Pram terkesiap mendengar racauan yang keluar dari mulut Gisella.


Bedebah, jadi lu mau ngajak tidur pria itu dengan memakai obat perangsang segala, lu akan tau berurusan dengan siapa Gisella, gue kagak akan melewatkan kesempatan emas ini..


Pram yang awalnya ingin melerai apa yang diperbuat Gisella, karena masih ingin jadi pria baik baik melupakan niat nya tersebut.


Dibiarkan nya Gisella melucuti pakaiannya. Dibalasnya c*uman liar Gisella. Hal yang sangat ia tunggu tunggu selama ini datang dengan sendirinya. Dengan sepenuh hati, diladeni nya nafsu Gisella yang membabi buta itu dengan perasaan cinta yang sangat besar. Wanita yang dulu pernah ia campak kan tapi sekarang justru ingin ia dapatkan..


Note: Cinta yang tulus tidak akan mengatasnamakan cinta dengan sentuhan fisik sebagai syarat utama dalam mencintai. Karena cinta yang tulus hanya bisa mengambil haknya ketika situasi satu sama lain halal untuk melakukan nya. Cinta memang buta. Tapi, jangan karena cinta kita jadi ikut buta membedakan yang benar dan juga yang salah.

__ADS_1


👉 Pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya 😘


Bersambung


__ADS_2