SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 69. SAKIT TIDAK BIASA.


__ADS_3

Sherlin tergagap ketika tiba tiba saja Revand, sudah duduk didekat nya. Sejak tadi Sherlin sebenarnya ingin memejamkan mata, namun usai menerima telpon dari ibu Zill tadi, perasaan nya jadi tidak menentu, pikiran nya jadi penuh. Ia bimbang.


"Belum tidur sayang..?"


Revand memijit kaki sang istri, sembari mengucapkan kalimat tersebut, namun buru buru Sherlin meminta sang suami untuk menghentikan apa yang dilakukan sang suami, meski pun jujur, ia memang ingin sekali dipijit, karena kedua kakinya sangat pegal lantaran restoran setiap hari diserbu pelanggan. Untuk duduk sejenak saja, Sherlin seperti tidak ada waktu.


"Kenapa...?"


Revand heran karena Sherlin menepis tangan nya yang tadi memijit kaki sang istri.


"Ah, itu. Aku ngerasa durhaka sama kamu, karena kayaknya aku memperlakukan kamu seperti asisten rumah tangga..!"


"Apaan..? Yang mana..? Bantuin kamu, mijit kamu..? Kenapa mikir sejauh itu sih. Wajar lah aku melakukan itu, aku sekarang banyak waktu senggang, masa iya aku nggak ngapa-ngapain, aku belum dapat pekerjaan juga, buat diem terus juga aku nggak suka, kamu mikir begitu karena kepengaruh omongan mami kan...?"


Sherlin tertunduk. Revand meraih kepala istri nya, dan menyandarkan kepala sang istri kedadanya. Dicium nya puncak kepala istri nya dengan lembut.


"Durhaka itu, kalau kamu merintah merintah ini itu, nggak liat sikon, sedang kamu sendiri lupa tugas sebagai istri..!"


Revand menyambung ucapan nya. Sembari mengusap rambut istri nya penuh sayang.


Sherlin melingkar kan tangan nya dipinggang suami nya. Rasanya, ia jadi ingin bermanja-manja dengan sang suami karena terlalu stres dengan masalah mereka belakangan ini.


"Tapi, semenjak kerja aku juga jadi kurang merhatiin kamu kan, kadang aku juga lembur kalau restoran lagi rame rame nya diakhir pekan, sebenarnya aku ngerasa bersalah, Rei juga nggak maksa aku buat lembur, tapi aku ngerasa nggak enak kalau aku pulang sementara, Amel dan Rei kelimpungan mengatasi pelanggan...!"


"Aku paham kok. Yang penting, kamu nggak lupa ngasi nafkah batin buat aku itu udah cukup..!"


Revand berteriak tertahan, ketika Sherlin spontan mencubit pinggang nya, ketika ia mengatakan kalimat tersebut. Ia terkekeh melihat ekspresi istrinya yang manyun.


"Aku serius lho ini..!"


Lanjutnya masih dengan tawanya. Sherlin menarik diri dari dekapan suaminya, ditatapnya wajah Revand sesaat.


Izin sekarang kali ya, mumpung Revand lagi nggak manyun..


Sherlin berkata dalam hati.


"Vand. Ibu Zill ngasi aku kerjaan tambahan, kira kira kamu ngizinin atau nggak...?"


Tawa Revand terhenti, ketika istrinya bicara seperti itu dengan nada serius.


"Enaknya, kamu dapat kerjaan lagi, sedang aku belum...!"


Revand tidak bisa menyembunyikan rasa irinya.


"Ya, aku juga nggak tau, tadi barusan ditelpon,"


"Kerjaan apa emang...?"


"Jadi model gaun pengantin..!"


"Apa...?"


Sherlin mengangguk, meyakinkan ketika Revand menatap nya dengan tatapan tidak percaya.


"Ibu Zill itu punya butik, cabang nya dimana mana, untuk fashion show, biasanya beliau emang nyewa model, tapi kali ini berbeda, beliau merancang khusus gaun itu sendiri, dan pengen aku sebagai model nya..!"


Revand spontan terdiam mendengar penjelasan istri nya.


"Apa, kalian sudah mengakhiri akting kalian...?"


"Sudah. Kalau nggak, mana mungkin beliau mengizinkan aku untuk minta izin segala dengan kamu..!"


Revand menarik nafas. Model gaun pengantin. Artinya, Sherlin tidak sendiri, itu berarti ada model laki laki yang dipakai untuk pasangan model perempuan.


"Model prianya siapa...?"

__ADS_1


"Zill..?"


"Apa...!!"


Kali ini suara Revand semakin meninggi. Wajah nya terlihat gusar. Rasa cemburu tiba tiba menyerbu nya. Membayang kan istrinya memakai gaun pengantin dengan pria lain rasanya sesak, memang hanya akting, tapi ia benar benar tidak rela. Namun melihat situasi mereka yang sekarang, saat ia kehilangan pekerjaan, apakah adil menolak tawaran pekerjaan itu, sementara tagihan biaya sehari hari, juga jumlah nya tidak sedikit.


Memang, untuk membayar tagihan listrik dan air, Revand masih bisa mengandalkan tabungan yang ia simpan, namun tentu saja itu tidak bisa terus diharapkan, apalagi pemasukan darinya saja tidak ada sama sekali, sementara karena dipecat tidak hormat, Revand tidak menerima pesangon dari perusahaan, kecuali gaji terakhir yang dipotong seenaknya oleh bosnya lantaran kesal dengan keputusan nya untuk mengundurkan diri.


"Vand...?"


Suara Sherlin membuyarkan lamunan Revand, dan Revand menghela nafas.


"Aku cemburu, tapi aku bisa apa untuk melarangnya..."


Sahut Revand tanpa nada. Sherlin meraih tangan suaminya, dan menggenggam tangan itu erat.


"Kamu bisa melakukan hak kamu sebagai suami, melarang, atau mengizinkan...!"


Ucap Sherlin dengan lembut. Revand mendesah lagi. Ditatapnya wajah wanita yang sangat dicintainya tersebut.


"Ya udah aku izinkan, tapi dengan satu syarat, nggak ada kontak fisik seperti layaknya sepasang pengantin..!"


"Maksudnya kontak fisik...?"


"Kulit kamu dengan kulit Zill jangan sampai bersentuhan, dan aku nggak mau ada adegan mesra segala, lalu, biarkan aku mengawal kamu selama pemotretan..!"


"Kamu nggak keberatan...?"


"Kamu keberatan...?"


Sherlin menghela nafas.


"Aku mau melakukan nya asal kamu mengizinkan nya Vand,"


"Vand, ini cuma sementara, aku yakin kok kamu bisa sukses lagi, asal kamu nggak nyerah..!"


"Kamu yakin nggak bosen sama suami yang pengangguran gini..?"


"Kamu nganggur kan bukan karna kamu malas, tapi karena kamu belum dapat kerjaan, sabar aja, tetap usaha, aku yakin kok ntar ada jalannya, tapi misal aku nerima tawaran ini, gimana dengan ibu kamu...?"


"Aku akan memberi pengertian pada mami untuk hal itu...!"


"Jadi beneran kamu ngizinin...?"


"Beri jatah double dulu malam ini..!"


Revand berkelit ketika sang istri spontan ingin mencubit nya kembali, ketika ia melontarkan kata-kata seperti itu. Ia terkekeh lagi. Sherlin mencibir.


"Ada maunya..!"


Kata sang istri pura pura merajuk.


"Wajar dong banyak maunya sama istri sendiri,"


Revand membela diri, namun Sherlin tidak terpancing dengan ulah usil nya lagi. Wanita itu seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Vand, gimana kalo kamu kerja direstoran Rei aja, jadi waiters, selama nunggu panggilan kerja kamu di tempat lain..!"


Revand bengong mendengar ucapan istrinya.


"Jadi waiters...?".


Ulangnya, dan Sherlin mengangguk membenarkan. Revand berfikir sesaat, lalu..


"Boleh juga, tapi aku nggak punya pengalaman tentang itu lho..!"

__ADS_1


"Jadi waiters cuma perlu ramah, cekatan dan sergap itu aja kok, nggak seberat jadi chef..! Tapi, itu kalau kamu mau sayang, aku nggak maksa kamu lho, mau diem dirumah aja juga nggak papa selama nunggu panggilan,"


Sherlin buru buru bicara seperti itu, khawatir Revand tersinggung dengan idenya.


"Oke, nggak masalah, aku coba ya, tapi apa ada lowongan direstoran kalian...?"


"Restoran kamu juga kan..? Modal ku disitukan uang kamu juga..? Atau kamu bisa kok mengganti kan posisi aku disana jadi wakil Rei, aku yang jadi waiters..!"


"Nggak. Aku nggak ada pengalaman di bidang dapur, aku jadi waiters aja, kalau untuk cekatan dan sergap, kurasa aku bisa mengusahakan nya. Asal jangan suruh aku masak..!"


Sherlin tersenyum mendengar ucapan sang suami. Lega rasanya, awalnya ia mengira suaminya akan marah karena ia mendapat kan tawaran jadi model gaun pengantin ibu Zill, tapi ternyata ia justru harus bersyukur dengan situasi sulit mereka yang sekarang, mampu mengubah sikap suaminya menjadi lebih dewasa.


Sherlin mencondongkan wajah nya kearah sang suami, ingin mencium sang suami, sebagai ucapan terima kasih, namun tiba tiba gerakan nya terhenti, saat Revand mengerenyit menahan sakit sembari memegangi kepalanya.


"Vand, kamu kenapa..? Kepala kamu sakit..?"


Revand tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh istri nya, penglihatan nya seperti berputar putar, kepala nya seperti ditusuk-tusuk jarum. Begitu juga sepasang matanya. Melihat hal itu, Sherlin dengan sergap membantu sang suami untuk berbaring.


"Kamu kecapekan Vand, aku pijitin kepala kamu ya, kamu tidur, jangan lupa baca doa..!"


Sherlin membisikkan kata-kata itu sembari membuat Revand berbaring dengan benar. Revand tidak bisa merespon apa yang diucapkan sang istri, tapi ia menuruti apa yang diucapkan oleh istri nya berbaring, dan segera membaca doa yang diajarkan sang istri selama mereka resmi menjadi suami istri. Ritual yang selalu mereka lakukan, yang awalnya selalu membuat sang istri kesal lantaran ia selalu ketiduran sebelum membaca doa tersebut.


Saat membaca surah Al Ikhlas, mendadak ia melihat wajah istrinya berubah menjadi wajah Gisella. Revand terperangah, hingga ia spontan menjauh dari sang istri yang sedang memijit kepala nya. Namun bibirnya tetap menyelesaikan surah Al Ikhlas yang tadi dibaca nya. Perlahan bayangan Gisella lenyap, namun sakit kepala nya tetap menjadi..


"Vand, kenapa..? Kamu kayak ngeliat hantu aja...?"


Sherlin bertanya dengan nada heran.


"Nggak papa, kepala ku sakit banget, rasanya sakitnya nggak biasa..!"


"Aku ambilkan obat dulu ya..!"


Sherlin ingin turun dari tempat tidur, namun spontan Revand menahan dengan cara mencekal pergelangan tangan istrinya erat.


"Tolong jangan kemana mana, disini aja..!"


Katanya pada sang istri. Meski heran dengan tingkah suaminya, Sherlin terpaksa menuruti juga permintaan suaminya. Dibantu nya Revand kembali untuk berbaring. Ia memijit kepala sang suami sembari terus menuntun sang suami membaca ayat 4, seperti biasa yang mereka lakukan sebelum tidur. Dengan patuh, Revand mengikuti sang istri, namun Sherlin bisa merasakan betapa erat nya Revand memeluknya, suami nya itu seperti bersembunyi dari sesuatu dengan tubuh nya.


Revand kenapa ya, aneh banget, seperti sedang ketakutan...


Sherlin membathin sembari terus memijit kepala sang suami, sambil terus menuntun suaminya membaca doa sebelum tidur.


Note: ilmu hitam kebanyakan masuk disaat kita sedang tertidur lelap. Biasakan diri berdoa sebelum tidur. Bagi yang muslim, biasakan membaca ayat kursi yang disertai membaca ayat 4 lalu ditutup dengan doa tidur.


- Ayat kursi


- Al Fatihah


- Al Ikhlas


-An Nas


- Al Falaq


- Doa tidur.


Insya Allah segala bentuk ilmu kiriman tidak akan bisa masuk merusak diri kita. Semoga kita semua terhindar dari segala bentuk kejahatan duniawi ya, Amiin.


👉 Pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya 😘


👉 Novel terbaru saya baru terbit beberapa jam yang lalu ya, yuk baca dan berikan juga dukungan kalian untuk karya saya tersebut. Diangkat dari kisah nyata, seseorang yang berjuang meraih impian nya menjadi seorang penulis



bersambung

__ADS_1


__ADS_2