SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 30. KEJUJURAN.


__ADS_3

"Vand, gue suka deh suasana dirumah lu, bikin betah, gimana kalau tiap pagi gue kerumah lu, nyokap lu baik banget soalnya, gue jadi ngerasa ada nyokap gue disini..!"


Saat mereka sudah diatas mobil, Gisella bicara demikian. Wanita itu sangat suka dengan sambutan ibu Revand padanya tadi. Revand menarik nafas. Kata kata Sherlin tadi spontan berkelebat diotaknya.


"Maaf, kayaknya nggak perlu setiap hari, nggak enak ama tetangga dan rekan kantor, kita harus jaga reputasi kantor dengan baik bukan, ohya, sebenarnya kita ini mau kemana, dengan penampilan lu yang begitu, nggak mungkin kita kekantor kan...?"


Revand menanyakan hal yang sedari tadi sudah sangat ingin ia pertanyakan.


"Tadi malam gue udah cari informasi, hari ini target kita sedang menjadi tamu disebuah pesta yang bertema bisnis, kalau kita pakai baju formal kekantor, tentu aja kita nggak akan bisa masuk kesana,"


"Lu emang hebat ya, sergap dalam menangani sesuatu...!"


Puji Revand sembari tersenyum.


Tentu saja Revand, gue itu sergap segala hal, termasuk sergap merebut lu dari Sherlin..


Gisella menjawab dalam hati sembari tersenyum senyum karena ia suka, Revand sudah mulai puas dengan apa yang ia lakukan.


"Sherlin itu setiap hari selalu pake baju lu...? Emang baju dia kurang...?"


Sebuah pertanyaan yang dari tadi ingin diucapkan Gisella akhirnya terucap juga karena ia benar benar tidak suka melihat Sherlin memakai pakaian Revand, meskipun itu wajar karena mereka suami istri.


"Emang kenapa...? Gue suka liat dia make baju gue, artinya dia mencintai apapun yang berkaitan dengan gue kan...!"


"Iya, tapikan ada nyokap lu, kan jadi kurang jaga penampilan, emang lu nggak dengar, nyokap lu tadi bilang apa..?"


Revand terdiam. Benar juga. Tadi terlihat sekali sikap ibunya seperti tidak suka dengan penampilan Sherlin hingga sang ibu membanding bandingkan Sherlin dengan Gisella.


"Lu benar, ntar gue coba bicara dengan Sherlin, kalo lagi ada nyokap gue, dia harus memperhatikan penampilan..!"


"Hanya saat nyokap lu ada..?"


"Iya..!"


"Kenapa...? Lu kurang suka wanita yang rapi..?"


"Bukan begitu, karena menurut gue, Sherlin itu selalu enak dilihat dalam kondisi apapun dimata gue ...!"


Sialan...


Gisella memaki tiada henti.


***


Mereka sudah sampai di lokasi pesta yang digelar disebuah gedung besar yang ada disalah satu hotel berbintang kota Samarinda. Memang sedikit aneh, pesta yang digelar dilakukan pada pagi hari menjelang siang, bukan seperti pesta pada umumnya, yang dilakukan pada malam hari. Namun seperti kata Gisella tadi, pesta ini ternyata hanya dihadiri oleh kalangan orang orang yang bergerak di bidang bisnis. Beberapa tamu sudah ada yang dikenal Revand. Selebihnya belum. Revand bisa melihat pesta ini bukan pesta biasa.


Berjalan memasuki ruangan pesta, Gisella berkhayal seperti menjadi istri Revand yang berjalan beriringan dengan pria tersebut. Revand menolak ketika wanita itu ingin menggandeng nya. Meskipun dengan dalih agar terlihat formal. Bagi Revand, yang bisa melakukan hal itu hanya sang istri. Jika Gisella berkhayal ia menjadi istri Revand saat memasuki ruangan pesta, sebaliknya, Revand berkhayal disebelah nya adalah Sherlin. Hingga hal itu mampu membuat mood Revand jadi baik. Dan senyum pria itu jadi terukir.



"Sell, pesta ini mirip acara entertainment ya, gue baru kali ini keacara pesta bertema bisnis tapi mirip jalan diatas red carpet,"


Revand berbisik ketika mereka semakin masuk kedalam ruangan. Diluar siang, dan didalam seolah hari sudah malam. Luar biasa. Mendengar bisikan Revand, Gisella tersenyum senang.


"Dan pengalaman pertama lu kepesta ginian itu bareng gue..!"


Kata wanita itu dengan penuh perasaan senang.


"Kalo gue naik jabatan, gue bakal gelar pesta ginian, tapi buat Sherlin...!"


Gisella seketika mencibir.


Cih, padahal istrinya dirumah, tapi tetap aja disebut terus...


Gadis itu memaki dalam hati. Ia melambaikan tangan kearah seseorang. Revand mengikuti arah lambaian tangan Gisella. Ternyata, gadis itu tengah menyapa Zill. Target mereka...



Seperti biasa. Meski disapa, dan telah menoleh, pria bernama Zill itu tetap tidak memberikan ekspresi. Tanpa senyum, apalagi balas melambaikan tangan. Revand memaki dalam hati...

__ADS_1


Dasar sombong..


"Lu lihat deh, meski keacara ginian aja dia tetap dengan gaya nya sendiri, apa itu udah bisa lu jadikan patokan, kalo target kita ini sulit untuk kita luluhkan..?"


Gisella berbisik lagi meski pun mereka terus melangkah kearah Zill sembari sesekali menyambut salam perkenalan tamu lain.


"Pake anting...?"


Balas Revand merespon bisikan Gisella. Gisella mengangguk.


"Dasar anak bandel yang sombong..!"


Sungut Revand. Gisella tertawa kecil.


"Anak bandel itu akan jadi penolong kita nantinya Vand,"


"Kalo nggak dia justru orang yang menghancurkan kita..!"


"Kalau begitu, kita harus siap kan diri, sebelum dihancurkan, kita yang harus menghancurkan lebih dulu, kalo dia nggak mau kerja sama dengan kita..!"


Benar. Lu akan tau akibatnya kalau berani macam macam ama gue Zill, terlebih lagi kalo lu berani deketin istri gue...


Hati Revand yang menjawab.


Mereka sudah sampai dimeja dimana Zill duduk.


"Boleh kami duduk disini..."


Sapa Gisella dengan suara sangat dibuat bersahabat.


"Kenapa kalian ada disini...?"


Bukannya mempersilahkan duduk, Zill justru melayangkan pertanyaan itu pada Gisella dengan wajah tanpa ekspresi.


"Ya, karena kita juga diundang disini, anda lupa kita juga punya perusahaan yang berpengaruh hingga bisa ada disini.."


Pria itu terdiam. Tidak bisa mendebat. Meskipun sebenarnya ingin mendebat.


Maki Revand dalam hati..


"Jadi boleh kami duduk disini...?"


Gisella kembali mengulang pertanyaan yang sama. Zill menghela nafas panjang.


"Tidak ada yang bisa melarang siapapun duduk disini .."


Katanya dengan suara dingin. Gisella tersenyum, ia dan Revand akhirnya duduk satu meja dengan Zill.


"Anda disini bersama ayah anda...?"


Zill sesaat melempar pandangan nya kearah Revand ketika Revand memberinya pertanyaan tersebut.


"Kalau saya disini, artinya saya mewakili ayah saya..!"


Sahut Zill masih tanpa ekspresi.


"Pesta ini digelar untuk para pengusaha yang maju dibidang nya, selamat ya, anda bisa dikatakan berhasil mengelola bisnis ayah anda padahal umur anda masih sangat muda .."


"Belum berhasil, baru mulai berusaha.."


Pria itu meralat ucapan Gisella tanpa menatap wajah Gisella. Hal ini membuat Revand semakin tidak suka dengan sikap Zill..


Etika dari mana itu...? Bicara tanpa melihat lawan bicara..


Batin Revand.


"Nah, karena anda saat ini memang tengah berusaha untuk membuat perusahaan anda semakin maju, bagaimana kalau anda bekerja sama saja dengan perusahaan kami...?"


Gisella bicara kembali. Mulai melancarkan aksi. Spontan Zill menatap tidak suka kepada wanita dihadapan nya.

__ADS_1


"Anda sangat licik ya, anda sengaja menghampiri saya ditempat seperti ini dan membicarakan hal itu, agar saya tidak ada alasan untuk pergi meskipun saya tidak suka dengan pembicaraan ini...?"


Iyalah...! Guekan udah nyelediki lu anak bandel..


Batin Gisella yang menyahut, tapi bibir gadis itu mengulas senyum.


Gisella pinter juga, menjerat pria ini disituasi yang tepat...


Revand membatin pula. Tidak ia sangka, ia juga bisa tersenyum disaat berhadapan dengan pria dingin seperti Zill ini.


"Bukankah dalam bisnis kita harus pandai melihat dan memanfaatkan situasi...? Anda bisa sesukses ini, artinya anda pasti tahu perihal ini.."


Gisella melanjutkan..


"Anda dari tadi selalu bicara, apakah anda sektretaris direktur Revand...?"


Gue fikir ni orang kagak tau jabatan gue, ternyata tau juga...


Revand lagi lagi membathin..


"Iya, dia sekretaris saya, apa yang dia lakukan adalah tugasnya, sebagai pihak yang diajak kerja sama, apakah anda bersedia bekerja sama dengan perusahaan kami..!"


Revand akhirnya bicara setelah dari tadi hanya Gisella yang mendominasi percakapan.


"Tidak..!"


"Kenapa...? Apakah jawaban ini tidak terkesan terburu buru, anda bisa memikirkan nya dulu, ini situasi pesta, siapa tahu saja keputusan anda dipengaruhi situasi ini.."


Revand berusaha untuk tetap membujuk. Zill menatap lurus kearah Revand.


"Dimanapun saya berada, saya bisa berfikir secara jernih tanpa dipengaruhi oleh apapun, dan jawaban saya. Tidak...!"


Ucap nya dihadapan Revand.


"Kenapa...? Apakah perusahaan kami dimata anda tidak cukup profesional..? Tidak cukup baik untuk membuat sebuah kemajuan...? Dan anda meremehkan perusahaan kami...?"


Kali ini Gisella yang bicara. Zill menghembuskan nafas kesal.


"Saya tidak bilang meremehkan perusahaan kalian, saya hanya tidak mau bekerja sama dengan perusahaan kalian itu saja..!"


Suara Zill mulai meninggi.


"Tapi alasannya apa...? Anda tidak memberi kami alasan yang masuk akal hingga kami bisa memahami penolakan anda...!"


"Kalian akan kecewa jika saya mengutarakan alasan saya..!"


Sahut Zill sembari hendak bangkit dari duduknya. Namun Gisella menahan...


"Seseorang yang bersikap profesional tidak akan kecewa menerima kenyataan apapun, jadi anda harus memberitahu kan kami alasan nya...!"


Zill menghentikan gerakannya. Lalu mencondongkan wajah nya kearah Revand dan Gisella..


"Saya tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan yang hanya memikirkan keuntungan sendiri tanpa memikirkan apakah ada orang yang tersakiti dibalik keuntungan itu sendiri, bagi saya itu rezeki yang tidak berkah, dan satu lagi, alasan saya tidak ingin bekerja sama dengan kalian adalah, karena wanita ini adalah sekretaris anda direktur Revand...!"


Bisikan Zill membuat wajah Revand dan Gisella merah padam. Pria dihadapan mereka ingin beranjak kembali, namun lagi lagi Revand menahan. Kali ini Revand tidak bisa menahan emosi nya.


"Apa maksud anda...! Terutama alasan anda yang kedua, apa hubungannya dengan sekretaris saya ..? Anda tidak suka dia bekerja dengan saya ..!"


"Jangan terlalu banyak menuntut direktur. Tadi anda ingin saya mengemukakan alasan saya menolak tawaran anda, sekarang anda semakin ingin tahu apa dibalik alasan saya tersebut, saya sudah jujur menjawab pertanyaan anda, tolong hargai itu dan biarkan saya pergi...!"


Habis berkata begitu, Zill membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan meja tersebut. Tanpa menoleh lagi. Diperlakukan seperti itu. Kedua telapak tangan Revand mengepal. Begitu juga Gisella. Gadis itu dibuat malu setengah mati oleh kejujuran pria dingin tersebut.


Baru seperempat saja Zill berbicara jujur. Belum sepenuhnya. Karena Zill masih menghargai Revand maupun Gisella. Sadar mereka sedang berada dimana. Jika Zill membongkar segala nya, akan dipastikan baik Revand maupun Gisella akan terbakar emosi, dan keduanya akan dicap buruk oleh sesama pebisnis yang hadir di pesta tersebut..


Note: Terkadang kejujuran memang sangat menyakitkan, akan tetapi lebih baik sakit menerima kejujuran daripada bahagia menerima kebohongan.


πŸ‘‰ jangan lupa dukungan nya dinovel ini ya sahabatπŸ’–πŸ’–


πŸ‘‰ Yang mau ikut kuis episode 27 masih dibuka ya, karena durasi belum diclouse 😎

__ADS_1


πŸ‘‰ Buat kalian yang memiliki novel nonfiksi karya saya berjudul RACUN CINTA SIKEMBAR kalian berkesempatan mengikuti event birthday tokoh utama pria novel non-fiksi karya saya tersebut di markas besar GSB follow akun FB saya MITHAVIC HIMURA. Event digelar tgl 10 Agustus 2020.


Bersambung


__ADS_2