SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 38. KECEWA.


__ADS_3

"Mami..?"


Gisella tidak bisa menyembunyikan kekagetan nya ketika saat ia pulang kerumah, ada ibunya dirumah. Wanita yang dipanggil mami oleh Gisella itu tersenyum, saat melihat sang anak tiba.


"Mami kenapa nggak ngabarin Sella sih mau datang..?"


Gisella melempar pandangan nya kearah asisten rumah tangga nya, yang hanya tertunduk melihat tatapan nya.


"Sengaja, mau tau kegiatan kamu bagaimana, ternyata, kamu bebas sekali tinggal sendirian, jam segini kamu baru pulang...!"


Gisella menghela nafas, tekanan dikantor membuat ia stres. Hingga gadis itu selalu ke club malam untuk sekedar mabuk. Sebenarnya ingin mengajak Revand, akan tetapi pria itu selalu menolak. Tidak disangka justru perbuatan nya dipergoki oleh ibunya.


Gisella duduk disamping ibunya. Untung ia tidak terlalu banyak meminum minuman beralkohol, hingga ia tidak mabuk saat pulang.


"Kamu minum minum...?"


"Cuma dikit mi, stres aku..!"


Sang ibu geleng geleng kepala.


"Tinggal sendirian bukan berarti kamu bisa seenaknya Gisella, kalau papimu tahu hal ini, dia pasti akan sangat marah..!"


"Marah karena aku membuat nama baiknya tercemar...? Kenapa tidak menganggap ku hilang saja, agar dia tidak malu...!"


"Gisella. Biar bagaimanapun kamu anak kami, jika ada yang terjadi padamu, kami juga akan kena imbasnya..!"


"Jadi mami khawatir sekarang itu dalam artian apa...? Karna takut nama baik keluarga besar tercemar, atau karena sayang Gisella..!"


"Tentu saja karena sayang kamu Gisella..!"


"Tidak mi, mami bohong. Kalian hanya khawatir nama baik kalian rusak karena aku. Bukan mengkhawatirkan aku...!"


"Gisella..!!"


"Udahlah mi, aku capek, aku kekamar dulu..!"


Gisella bangkit dan segera meninggalkan ibunya menuju lantai atas. Tidak mengindahkan suara ibunya, yang menahan nya untuk tidak beranjak dulu. Sepeninggal Gisella, wanita itu menatap bi Sarti. Dan bi Sarti paham dengan tatapan itu.


"Ada info apalagi tentang dia bi..?"


"Non Sella sekarang sedang berusaha untuk berubah Nyonya,"


"Berubah...? Pulang tengah malam begini kamu bilang itu perubahan yang baik..? Jadi sebelum nya dia pulang jam berapa...?"


"Kadang tidak pulang sama sekali nyonya..!"


Jawab asisten rumah tangga tersebut sembari menunduk.


"Astaga. Anak itu. Dia wanita, apa yang dilakukan nya diluar sana hingga tidak pulang kerumah..!"


Bi Sarti tidak bisa berkata apa-apa. Ia tidak mungkin menceritakan perilaku majikannya tersebut kepada sang nyonya besar. Suka bermain cinta dengan suami orang. Tidak. Majikannya pasti akan kena amarah orang tuanya, bi Sarti tidak mau itu terjadi.


"Apa Gisella punya pacar bi...?"


"Saya kurang tahu Nyonya besar.."


"Dia pernah membawa pria kerumah ini..?"


Bi Sarti menggeleng. Gisella memang tidak pernah membawa pria manapun kerumah nya, karena Gisella lebih suka berkencan dihotel dibandingkan dirumahnya. Menurut Gisella, membawa pria yang tidak sama kerumah akan membuat hidup nya runyam. Namun, setelah ia mengenal Revand, Gisella benar benar tidak pernah lagi bercinta dan menjalin hubungan dengan pria manapun.


Seluruh otak gadis itu hanya memikirkan Revand. Tapi sejauh ini, Gisella belum mendapatkan hasil apa apa, dari apa yang ia lakukan selama ini. Revand masih saja mencintai Sherlin. Masih saja menyebut nama Sherlin setiap kali bicara dengan nya. Membuat Gisella kesal. Hingga gadis itu ekstra memikirkan cara jitu untuk menarik perhatian Revand.


Gisella tidak jadi membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, setelah berganti pakaian, ketika mendengar ketukan dipintu kamarnya. Dengan malas wanita itu mempersilahkan sang pengetuk pintu itu masuk.


"Gisella, mami kesini ingin bicara penting dengan mu. Dan pembicaraan ini tidak cukup hanya dilakukan via ponsel,"

__ADS_1


Sang ibu bicara seperti itu, ketika wanita itu masuk kedalam kamar Gisella.


"Ya udah. Ngomong aja.."


Sahut Gisella dengan suara malas.


"Ada pria yang ingin meminang kamu nak."


Spontan Gisella memalingkan wajahnya, saat mendengar ucapan ibunya.


"Aku tidak mau dijodohkan..!"


"Dia pengusaha sukses yang perusahaan nya tengah berkembang sekarang ini di Jakarta..!"


"Siapa...?"


"Pramudya Satrio Irawan, umurnya sama dengan mu, tapi sangat mapan, tampan pula..!"


Deg. Jantung Gisella nyaris berhenti berdetak saat sang ibu menyebut kan nama pria yang dimaksud.


Tidak. Tidak mungkin pria itu. Mana mungkin dia yang ingin melamar ku. Mungkin hanya nama aja ..


Wajah pria dimasalalu yang membuat Gisella mendendam dengan pria terbayang. Meski tidak ingin mengakui, tapi jujur ia penasaran juga.


"Mami punya fotonya...?"


"Tidak. Tapi mami sudah memberikan nomor kamu padanya, apa dia belum menghubungi kamu..?"


Gisella menggeleng.


"Mungkin belum sempat, tapi jangan kaget jika mungkin nanti dia menghubungi atau bahkan mengunjungi kamu, yang jelas fikirkan dulu hal ini sebelum menolaknya, ini kesempatan bagus untuk membuat papimu memandang kamu Gisella...!"


Kalau terbukti pria itu dia, gue akan membalas sakit hati gue ini kedia, gue akan buat dia merasakan sakit dan kecewa yang dulu pernah gue rasakan dimasa lalu...


***


Sherlin menghampiri Revand yang masih berkutat didepan laptopnya. Sejujurnya, hari ini ia sangat lelah. Namun, melihat sang suami masih sibuk bekerja seperti itu, ia tidak tega untuk tidur lebih dulu.


"Udah malam lho. Nggak istirahat..?"


Kata nya pada sang suami.


"Tanggung nih, dikit lagi. Gimana restoran, rame..?"


Sahut Revand tanpa mengalihkan perhatian nya dari laptop dihadapan nya.


"Alhamdulillah. Dari hari kehari pelanggan kami semakin banyak.."


Revand menghentikan jemarinya yang sedang sibuk mengetik di keyboard laptop milik nya. Lalu berpaling menatap istrinya. Ia teringat sesuatu...


"Hebat juga ya, Rei itu berbakat juga dibidang ini, ohya. Gimana..? Udah ketemu Zill..?"


Revand bertanya dengan raut wajah serius.


"Udah. Tapi maaf ya, kami nggak berhasil membuat dia setuju untuk kerja sama dengan perusahaan kamu.."


Sherlin bicara dengan nada suara bersalah.


"Yang bener...? Dia menolak permintaan kamu..?"


Sherlin mengangguk.


"Tapi aura dia kekamu itu beda dengan aura dia ke aku dan Gisella, masa sih dia menolak juga..!"


Revand seperti tidak percaya dengan apa yang ia dengar sekarang ini dari istrinya.

__ADS_1


"Aku rasa, bukan karena dengan siapa, atau siapa yang membujuk Vand, kurasa ini hanya karena dia berusaha profesional, dia nggak mau kerja sama saat kamu dan Gisella mengajak nya, begitu juga saat aku mengajak nya, keputusan dia itu tidak dipengaruhi oleh faktor itu, tapi dia memang punya alasan sendiri, hingga ia nggak mau menerima tawaran perusahaan kalian...!"


Tentu saja. Aku tahu pria itu tidak mau bekerja sama dengan perusahaan kami karena apa, karena Gisella, tapi apa sifat itu yang dinilai profesional...? Apakah Zill ini pernah suka dengan Gisella, hingga ia menyikapi masalah ini begitu picik...?


Revand bicara dalam hati. Tanpa sadar Sherlin memandang nya.


"Vand, aku rasa dia punya alasan kuat hingga dia nggak mau menerima tawaran kalian.."


Kata Sherlin hati hati.


"Dia hanya merasa sok hebat. Dia fikir, dia itu tidak butuh perusahaan lain untuk bisa berkembang..!!"


Nada suara Revand terdengar sinis saat mengucapkan kalimat itu.


"Kurasa bukan begitu. Aku memang nggak kenal dekat dengan dia, tapi aku bisa menilai, dia bukan tipe pria seperti itu. Lebih baik cari tahu dulu kenapa dia seperti itu pada kalian,"


Ah, aku ingin sekali mengatakan, jangan jangan karena Gisella, Zill nggak mau kerja sama dengan perusahaan kamu Vand, tapi aku takut kamu akan menganggap ku wanita yang picik...


Sherlin hanya bisa melanjutkan ucapannya didalam hati.


"Alasan apa...? Lihat aja gaya dia itu. Sok hebat, lalu apakah dia mau bekerja sama dengan restoran kalian...?"


"Belum diputuskan, tapi aku dan Rei yakin 90 persen dia mau menerima tawaran kami..."


"Kalau begitu, kamu berhenti aja kerja direstoran itu...!"


"Apa..?"


Sherlin tidak bisa menyembunyikan kekagetan nya ketika mendengar ucapan suaminya.


"Ia. Bukannya kamu sudah membuat pria itu mau bekerja sama dengan Rei, kurasa itu sudah cukup untuk membantu Rei, kamu nggak perlu melanjutkan tugas kamu lagi,"


"Vand, kenapa jadi begini sih...? Inikan pekerjaan Vand, ada tanggung jawab, nggak bisa main berhenti gitu aja, belum sebulan lho ini, apa kata Rei kalo aku melakukan itu...!"


"Dia pasti mengerti, karena dia tau, istri yang baik itu yang patuh dengan suami.. !"


"Tapi Vand, bukannya kamu ngizinin aku kerja buat bikin mama kamu bahagia dan bangga, terus kenapa sekarang..."


"Aku bilang kamu harus berhenti ya berhenti Sherlin, tolonglah, jangan buat otakku semakin stres, aku udah cukup banyak punya masalah dikantor..! Lagian, aku juga masih sanggup kok menafkahi kamu, kalau kamu bersikeras mau kerja, kamu bisa kerja dikantor aku, aku berikan posisi yang bagus untuk mu, itu kalau kamu emang mau bikin mama bangga padamu...!"


"Kamu ngaco ..? Aku kerja dikantor kamu...? Kamu fikir orang yang tidak punya pendidikan seperti aku ini bisa dapat posisi apa dikantor kamu...? Oke, aku bisa kerja dikantor kamu sebagai cleaning servis, tapi apa itu akan membuat mama kamu bangga...? Aku nggak masalah mau kerja apa aja, tapi mama kamu...?"


"Aku bisa memberikan posisi bagus tanpa harus melihat kemampuan atau pendidikan kamu sayang..!"


"Itu artinya sama aja lewat jalan curang Vand, sekian banyak pelamar kerja di perusahaan kamu ditolak, terus dengan santainya aku menempati posisi bagus dikantor kamu, tanpa punya potensi apa apa. Kamu pikir aku bisa bangga dengan hal itu...?"


"Jadi kamu lebih bangga kerja dengan Rei dibandingkan suami kamu sendiri...?"


"Aku nggak bilang gitu Vand, tapi setidaknya dengan Rei aku itu dibutuhkan karena potensi aku bukan karena siapa disana. Aku ingin diakui karena potensi aku Vand, bukan kedudukan bagus tapi nyatanya, aku nggak punya potensi sama sekali..!"


"Kenapa harus dibuat ribet begitu sih ...? Sekarang ini banyak orang mengincar posisi bagus, tidak peduli memakai jalan apa, kenapa kamu malah nggak suka suami kamu dengan mudah merekomendasikan kamu...!!"


"Aku kecewa sama kamu Vand. Kamu itu berubah. Kamu udah mulai nggak jujur dalam hal apapun. Sampai dengan pekerjaan pun kamu juga nggak jujur begini, sekarang. Apakah ada hal lain yang juga nggak kamu ceritakan sama aku...? Revand yang kukenal nggak pernah berfikir jalan pintas dalam melakukan hal apapun, dia ulet dan pekerja keras. Kamu fikir, kamu bisa seperti sekarang itu karena rekomendasi orang dikantor kamu...? Itu karena kamu punya potensi Vand..!"


Sherlin bangkit. Lalu segera meninggalkan suaminya untuk masuk kedalam kamar. Wanita itu tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Ia kecewa, Revand begitu mudah mengizinkan nya, tapi juga begitu mudah untuk melarangnya kembali. Bagaimana ia harus mengatakan semua ini pada Rei....?


Note : Manusia yang dipegang adalah ucapan nya, kalau kerbau baru talinya. Pernah mendengar pepatah ini..? Iya benar. Ucapan kita syarat utama orang bisa percaya pada kita. Jika kita tidak bisa memegang kata kata yang sudah kita ucapkan sendiri, maka orang juga akan sulit untuk percaya kepada kita. Kepercayaan itu mahal harganya, tapi sekali dirusak, perasaan percaya itu tidak akan seutuh seperti diawal saat belum dirusak.


👉 Jangan lupa like, vote, rate 5, klik favo n komen jika suka ya💖 yang selalu stay, kalian warrbiasah😘


👉 Jika kalian menemukan orang lain memplagiat karya saya ini mohon beri tahu saya, karena karya ini orisinil, buah pemikiran saya sendiri yang dipadu kejadian real yang terjadi disekitar saya.


PENULIS YANG HANYA BISA MEMPLAGIAT KARYA ORANG LAIN, TIDAK PANTAS DISEBUT PENULIS, KARENA SAMA SAJA MERAMPAS KARYA ORANG LAIN..!!


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2