
Revand baru saja masuk kedalam rumah ketika, ponselnya berdering. Nama ibunya terpampang di layar ponsel nya. Segera Revand menerima panggilan tersebut.
"Assalamualaikum Revand, mami melihat pemberitaan media, istri kamu diakui pria lain calon istri, istri kamu selingkuh..?"
Sudah diduga, pasti sang ibu menelpon karena melihat media memang selalu berkali kali mengulang berita yang sama, tentang Sherlin yang ada dirumah sakit, sebelum ayah Zill meninggal tersebut. Memang, media tidak menyebutkan nama Sherlin, namun wajah Sherlin lumayan jelas terpampang di kamera, hingga siapapun yang melihatnya, pasti akan langsung bisa menebak itu adalah istri nya. Dan Revand kesal mendapati kenyataan tersebut.
"Waalaikum salam, Itu salah paham mi, wartawan yang seenaknya membuat berita itu, Sherlin waktu itu sedang menengok temannya, mami dan papi nggak usah mikir macam macam ya,"
Revand berusaha untuk menutupi semuanya. Karena bisa runyam jika ibunya sampai tahu kejadian yang sebenarnya. Tentang ia yang berakting dengan Gisella, dan juga tentang Sherlin yang juga berakting dengan Zill. Revand jadi kesal.
"Bener itu cuma gosip..? Lakukan klarifikasi kalau begitu, mami tidak mau keluarga kita jadi bahan omongan orang orang...!"
"Iya Mi, nanti pasti diklarifikasi, yang penting, aku dan Sherlin baik baik aja kok, aku tutup dulu ya mi, mami jaga kesehatan, salam buat papi.."
Revand menutup percakapan setelah mengucapkan kalimat tersebut. Ia menarik nafas berat. Segera ia naik kelantai atas. Menuju kamarnya. Didalam kamar ia tidak menemukan istri nya. Revand tahu istrinya sudah pulang sejak tadi, ia ingin membahas ini dengan jelas.
Tempo hari selama dirumah Zill, ia sangat merasa keberatan, melihat betapa ibu Zill begitu memperlakukan Sherlin seperti layaknya seorang menantu. Pulang dari melayat, Sherlin tidak mau diajak membahas soal itu. Terpaksa, Revand mencari waktu yang tepat untuk membahas hal ini.
Ia ingin semuanya jadi jelas. Ia tidak rela istrinya diakui oleh pria lain sebagai istri. Ia ingin media berhenti memberitakan berita konyol itu.
Berulang kali Revand memanggil nama istri nya, tidak ada sahutan. Revand mencari kesegenap sudut kamar. Hingga, saat ia kebalkon, ia akhirnya menemukan sang istri.
Revand melihat ekspresi keterkejutan diraut wajah sang istri, ketika wanita itu berbalik, dan mendapati ia sudah berdiri dibelakang sang istri. Sebenarnya, Revand sekarang ini sedang badmood, namun ia sadar, istrinya juga sama halnya dengan kondisi diri nya. Revand menghampiri sang istri, sembari mengulas senyum.
"Kamu aku panggil panggil dari tadi, nggak denger...? Ngelamun disini..? Bahaya tau..!"
Katanya sambil menarik lengan istrinya menjauh dari bibir balkon, dan mengajak sang istri duduk di bangku yang ada disitu. Sherlin tidak melakukan penolakan sama sekali, patuh. Mengikuti suaminya.
"Kita harus bicara.."
Ucap Revand dengan nada serius. Sherlin menghela nafas.
"Maaf. Aku terpaksa.."
Sherlin seolah tahu, apa yang ingin dibicarakan suaminya, hingga ia langsung mengucapkan kalimat tersebut dihadapan sang suami.
"Kamu bisa menolak demi melindungi pernikahan kita kan..?"
"Kalimat itu juga yang ingin aku katakan sama kamu.."
Balas Sherlin. Dan Revand menghembuskan nafas mendengar nya. Diraihnya jemari tangan sang istri. Hingga ia baru sadar, di jari manis sang istri, tidak ada cincin pernikahan mereka tersemat disana seperti biasanya.
__ADS_1
"Kamu baru mandi..?"
Sherlin menggeleng. Sejak pulang dari restoran tadi, ia hanya mengganti pakaian, dengan pakaian yang lebih santai. Belum mandi, karena sekarang otaknya benar benar penuh dengan fikiran.
"Kenapa kamu melepas cincin pernikahan kita..?"
Sherlin seketika menatap wajah suaminya.
"Aku bukan mau sengaja, aku terpaksa, tadi aku pulang bareng ibu Zill, beliau makan di restoran aku, kalau aku pakai cincin kita, yang ada dia malah banyak bertanya, jadi aku melepaskan nya, sekarang baru sadar, aku belum memakai nya kembali..!"
Revand melepaskan genggaman tangan nya dijemari sang istri. Wajahnya terlihat kesal.
"Aku nggak rela Sher. Sekarang aja kamu bisa lupa dengan cincin kita, gimana nanti..? Lama kelamaan, kamu jadi melupakan aku. Tolonglah, minta pada Zill akhiri semua nya, aku nggak rela melihat kamu diakui calon oleh dia..!"
"Ucapan yang sama aku katakan untuk kamu Vand, aku juga mau, kamu mengakhiri akting kamu dengan Gisella..! Calon dia itu baik, biarkan aja mereka bersama, kenapa harus mengikuti keinginan Gisella untuk lepas dari perjodohan itu..?"
"Pria itu pernah mencampakkan Gisella dimasa lalu Sher, hingga Gisella berubah menjadi seperti sekarang, larut dengan jalan hidup nya yang salah,"
"Tapi aku bisa melihat, Pram itu serius dengan Gisella, lagian itukan masalalu, Gisella harus memberikan kesempatan untuk Pram, agar Pram memperbaiki kesalahannya..!"
"Kalau aku menjamin, aktingku dengan Gisella segera aku akhiri, apakah kamu juga melakukan hal yang sama untuk akting kamu dengan Zill..!"
"Itu pasti aku lakukan, tapi aku perlu perlahan, karena ibu Zill itu juga masih rapuh untuk sekarang, tapi itu pasti aku lakukan Vand, dan kamu harus percaya sama aku dan Zill, meski kami akting dia nggak pernah kurang ajar sama aku."
"Aku takut kamu jatuh cinta padanya..!"
Balas Sherlin sengit. Revand menarik nafas.
"Baiklah. Besok. Aku akan membicarakan ini dengan Gisella dan akan aku pastikan, akting kami akan segera diakhiri, tapi tolong, lakukan hal yang sama pada Zill, hentikan semua nya, sebelum orang tua kita bingung melihat pemberitaan media dimana mana.."
"Aku mengerti. Aku akan mengusahakan nya,"
Revand menatap dalam dalam wajah istrinya. Seperti ingin menyuarakan isi hati nya kepada sang istri, lewat tatapan matanya tersebut.
"Sher, apa perasaan kamu tetap sama seperti dulu padaku..?"
"Kenapa kamu bertanya begitu..?"
"Kamu terlalu dingin padaku belakangan ini.."
Ah, sial. Cuma ngomong pengen minta jatah aja, kenapa susah bener sih ..
Revand mengumpat didalam hati.
"Maaf. Aku terlalu kaget dengan situasi yang kalian cipta kan untuk ku, aku perlu waktu untuk bisa mengatasi hal itu. Aku juga nggak rela orang lain mengakui kamu sebagai pacar, sama seperti yang kamu rasakan sekarang, tapi aku bisa apa untuk merubah semua...? Kuncinya itu ada sama kamu, jangan meremehkan Gisella Revand, dia itu benar benar terobsesi dengan kamu..!"
__ADS_1
"Kamu bisa percaya aku sayang. Aku nggak pernah melupakan perasaan ku sama kamu meskipun aku bersama Gisella..!"
"Andai kamu lengah, kamu dijebak, terus kalian tidur bareng, hingga dia hamil anak kamu, apa yang bisa kamu lakukan Vand, sedang aku, sampai sekarang belum juga mampu memberikan kamu keturunan, itu membuatku stres belakangan ini. Ini melukaiku Vand, aku percaya sama kamu, tapi apa kamu bisa menjaga diri kamu jika kalian terus intens seperti itu...?"
Revand meraih tubuh mungil istrinya, dan memeluk nya dengan erat. Diperlakukan seperti itu oleh Revand, Sherlin tidak bisa menahan tangisannya. Wanita itu menangis di pelukan sang suami. Airmata yang selama ini selalu mampu ia sembunyikan dibelakang Revand, sekarang tidak mampu ia tahan lagi untuk berderai..
Revand membelai rambut Sherlin dengan lembut. Sesekali diciumnya puncak kepala sang istri. Jujur, ia tidak ingin melihat Sherlin seperti itu. Perasaan bersalah mengepung nya seketika.
"Kamu pasti bisa hamil sayang, aku yakin itu. Aku janji aku akan menjaga diri, karena cuma kamu ibu dari anak anakku..!"
"Pasti kamu juga diterpa gosip kan, kenapa istri kamu belum hamil juga, ibu kamu tadi bilang, reputasi kamu juga akan hancur kalau sampai aku belum hamil juga, sebenarnya apa salahku. Kita udah periksa, dokter juga bilang kita ini sehat, tapi kenapa aku belum hamil juga...? Hingga kemudian, kamu melakukan permainan itu dengan Gisella, aku jadi sempat berfikir, kamu melakukan itu karna kamu sudah bosan menunggu. Kamu ingin punya anak dengan Gisella..? Wanita itu nggak akan melepaskan pria yang disukai nya sampai kapanpun, ibu kamu juga cenderung lebih suka dengan Gisella, apakah kamu bisa merasakan bagaimana perasaan ku sekarang Vand..? Aku membantu ibu Zill bangkit dari keterpurukannya sedangkan aku sendiri sebenarnya sudah hancur dari dalam...!"
Sherlin semakin dalam larut dalam isak tangisnya. Revand semakin mengeratkan pelukannya, berusaha untuk membuat istrinya kuat. Pria itu bisa merasakan betapa sekarang , Sherlin benar benar sedang terpuruk dengan situasi ini.
"Maafkan aku sayang, kamu boleh menghukum aku dengan cara apapun, tapi jangan tinggalkan aku. Kita sudah berjanji dihadapan Allah untuk selalu bersama dalam suka dan duka, jadi kuharap, apapun yang terjadi, jangan sampai kita terpisah, ya...!"
"Kalau aku nggak bisa hamil juga, apa yang akan kamu lakukan...?"
Sherlin menarik tubuh nya dari pelukan erat suaminya. Wajahnya yang berlinang air mata, menatap Revand dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Jemari Revand terangkat, diusapnya airmata sang istri dengan lembut.
"Kamu pasti bisa hamil..!"
"Kalau aku benar benar nggak bisa hamil gimana Vand, apa cinta kamu tetap sama seperti sekarang...? Atau kamu akan meninggalkan ku..?"
"Aku nggak akan meninggalkan kamu, dengan alasan apapun..!"
"Tapi ibu kamu ingin cucu, dan aku menantunya nggak bisa memberikan itu..!"
"Kamu jangan bicara begitu sayang, dokter bilang kita sehat, kita hanya perlu bersabar, lagipula apapun yang terjadi, aku nggak akan meninggalkan kamu, istriku cuma kamu Sherlin. Jadi jangan berfikiran macam macam, jaga ucapan kamu, ucapan itu sama dengan doa, jangan pesimis, kita harus optimis, tolong jangan seperti ini, kamu juga akan membuat ku hancur jika kamu seperti ini..!"
Sherlin tidak merespon ucapan Revand. Matanya hanya bisa menatap wajah suaminya dengan tatapan sarat luka. Berat sekali wanita itu ingin mengucapkan apa yang ada di dalam hati nya sekarang.
Tentang tuntutan mertua nya. Yang menyuruhnya untuk merelakan Revand berpoligami, jika ia tidak kunjung hamil juga.
Aku mencintaimu Revand, tapi aku nggak mampu kalau seandainya kelak, aku dipoligami, apalagi jika wanita yang dipilih itu adalah Gisella. Seandainya aku memang nggak bisa memberikan mu keturunan, tinggalkan saja aku, karena aku tidak bisa membagi suami dengan wanita seperti dia...
Note: Tuhan tahu kapan akan memberikan anugrah nya untuk kita. Jika anugrah nya tersebut belum juga kita terima, ada kejutan indah yang Tuhan siapkan untuk kita, asal kita ikhlas menerima ujian yang diberikan-NYA.
๐Jangan lupa dukungan nya ya biar novel ini tetap semangat update saban hari ๐
๐ Novel terbaru saya juga sudah terbit dilapak sebelah ya, diangkat dari kisah nyata, tentang seorang dokter yang berjuang melawan pandemi Corona, dan seorang gadis miskin yang bercita cita ingin menjadi seorang dokter, bukan impian indahnya yang terealisasi namun sigadis harus menerima kenyataan, ia terkena virus Corona, mampukah Bryan Bee, sang dokter tampan menyelamatkan gadis tersebut..? Sementara sang gadis diam diam ia cintai, namun kenyataannya, sang adik ternyata juga mencintai gadis pekerja keras tersebut..
Antara cinta dan kemanusiaan, yang manakah yang didahulukan sang dokter....? Baca novel saya yang berjudul " DOKTER ITU KAKAKKU" dilapak sebelah ya. Diangkat dari kisah nyata, dimasa masa sulit kita melawan pandemi Corona.
__ADS_1
bersambung