
"Kalian kenapa...?"
Tanya Gisella ketika Revand dan Sherlin sudah kembali ketempat duduk mereka. Gisella bisa melihat aura Revand seperti sedang menyimpan emosi.
"Nggak papa, kok.."
Sahut Revand, sembari menyuruh Sherlin segera menyantap sarapan yang sudah tersaji diatas meja.
Sherlin menurut. Wanita itu masih merasakan aura Revand yang diliputi emosi, meskipun pria tersebut berusaha menahan lewat senyum yang diberikan nya.
Revand beneran cemburu dengan Zill ya, kan tadi itu nggak sengaja...
Sherlin membathin sambil terus menyantap sarapannya pelan pelan.
"Vand, lu lihat cowok disana nggak.."
Tiba tiba Gisella berucap demikian, sambil menunjuk seorang pria disudut ruangan dengan bibirnya. Revand dan Sherlin mengikuti isyarat Gisella, melayangkan pandangan mereka kesana, dan....
Gisella kenal Zill...
Sherlin kembali membathin. Karena yang dimaksud oleh Gisella itu adalah Zill, yang ternyata duduk dimeja yang ada disudut ruangan sendirian.
Kucing nya kemana ya...
Sherlin lagi lagi membathin. Sementara itu Revand membuang nafas ketika sadar siapa yang dimaksud Gisella.
Cowok yang tadi ngobrol dengan Sherlin, emang dia siapa...
Revand berucap dalam hati.
"Nggak kenal, emang kenapa...? Lu kenal...?"
Gisella tersenyum mendengar pertanyaan Revand.
"Maunya sih kenal. Tapi sulit buat ngobrol ama tuh cowok, dia itu dingin, tanpa ekspresi, liat aja, dia duduk sendiri begitu aja tanpa ekspresi apa apa, tapi bukan itu yang pengen gue kasi tau keelo. Dia itu saingan perusahaan kita, mantan bos gue dulu bilang, perusahaan dia itu pesaing yang kuat semua perusahaan batubara yang ada di Kalimantan. Waktu perusahaan dia dipimpin bokapnya, perusahaan lain nggak merasa perusahaan dia itu saingan, sekarang beda..."
"Maksud lu, dia itu bos perusahaan batubara...?"
Revand bertanya gelisah. Tentu saja gelisah. Dia tadinya berfikir, pria ini tinggal di sini, di Jepang bukan Indonesia, hingga kapasitas pria itu bertemu dengan Sherlin jadi jarang terjadi. Ternyata...
Tampan, dan lebih mapan dari gue...
Revand membathin.
"Tunggu, perusahaan kita...? Ini maksudnya...?"
Sherlin menyela. Ia menatap wajah Revand dan Gisella bergantian.
Gisella tersenyum penuh arti..
"Iya, gue kan sekarang kerja di perusahaan suami lu Sher, gimana dong, gue dipecat sedang gue butuh kerjaan, gue apa apa sendiri, dan suami lu udah berbaik hati buat rekomendasi kan gue dikantor dia, Vand. Lu belum cerita ama Sherlin...?"
Untuk sesaat wajah Revand seperti wajah seseorang yang merasa bersalah. Sherlin menatapi wajah suaminya dengan tatapan tidak habis fikir.
Hal begini kenapa Revand nggak cerita, aku tahu, ini masalah pekerjaan, dan nggak seharusnya aku meribetkan hal itu, tapi inikan Gisella...
__ADS_1
Sherlin berkata dalam hati. Ucapan ibunya dan juga ucapan Amel terngiang kembali ditelinga Sherlin. Semua tentang Gisella. Ah...entah kenapa, perasaan nya semakin tidak tenang.
"Sayang, aku mau cerita, tapi lupa. Lagian, ini juga nggak penting penting amat kan, toh kamu juga tahu, sebelumnya aku dan Gisella emang terlibat kerjasama kan...?"
Revand bicara kearah istri nya.
Bukan begitu maksud ku Vand, setidaknya kamu cerita, kalau orang lain aku nggak peduli tapi ini Gisella...
Sherlin hanya merespon ucapan suaminya dalam hati. Meski bibirnya mengulas senyum.
"Ya udah. Kalau emang situasi nya begitu, apa yang harus aku beratkan...? Aku nggak ngerti masalah bisnis, jadi mungkin pendapat ku juga nggak akan mempengaruhi apapun...!"
Sherlin bicara dengan nada sumbang. Revand merasa sikap Sherlin jadi lain. Ia ingin sekali menjelaskan secara detail, namun Gisella buru buru berkata...
"Ya bener sih. Inikan masalah kerjaan, istri juga nggak seharusnya terlalu ikut campur, balik lagi tentang pria disana, aku punya cara buat menurun kan reputasi dia Vand,"
Gisella menatap Revand penuh arti..
Gisella mau ngapain lagi, menurunkan reputasi...
Sherlin menatap kearah Zill yang saat itu masih sibuk ditempat duduk nya disana, pria itu terlihat sibuk dengan ponselnya.
Sherlin tidak sadar, Revand memperhatikan apa yang ia lakukan, dan itu membuat sang suami jadi semakin kurang simpatik pada pria pemilik kucing itu.
Sherlin, jauhkan pandangan kamu dari dia..
Revand berseru namun hanya dalam hati. Tentu saja hanya dalam hati, karena ia tidak bisa mengucapkan hal itu secara langsung, karena ada Gisella diantara mereka.
"Emang lu punya ide apa...?"
Revand tertarik dengan apa yang diucapkan Gisella karena saat ini dia memang sedang kesal pada pria disana.
Sherlin spontan menatap wajah Gisella tidak suka.
"Itu sama aja kalian melakukan tindakan ilegal, bukankah lebih baik sebuah bisnis itu bersaing sehat, bukan saling menjatuhkan...?"
Sherlin bicara meski pun ia tidak mengerti sama sekali tentang bisnis. Tapi apa yang ia ucapkan adalah pendapat nya. Ia tidak ingin Gisella meracuni pikiran Revand untuk melakukan bisnis yang tidak berkah.
Apa yang diucapkan Sherlin membuat Revand tidak suka. Ia menganggap, ketidak setujuan istrinya itu karena sang istri merasa pria itu patut dibela
Sial. Kenapa kamu membela pria itu Sherlin...
"Sher. Lu nggak ngerti soal bisnis, setiap bisnis perlu punya cara. Lu pikir bisnis besar yang berhasil itu semua memakai cara yang sehat...? Dalam dunia bisnis, bersaing dalam hal apapun itu penting, kalau lu teguh dengan prinsip jujur lu itu dalam berbisnis, lu selamanya nggak akan pernah maju..."
Ada yang menggores hati Sherlin mendengar ucapan yang keluar dari mulut Gisella.
Benar. Dibanding kamu,aku emang nggak ngerti apa apa Gisella, sekolah aja aku nggak. Tapi aku tetap nggak suka sistem cara kerja kamu itu...
Hanya hati Sherlin yang bicara. Wanita itu tidak merespon ucapan Gisella karena ia tahu akan kalah debat. Namun, ia berharap Revand tidak satu pemikiran dengan wanita itu. Selama ini yang Sherlin tahu, Revand pria yang jujur. Tidak mungkin pria ini akan melakukan segala cara untuk bisa menang.
"Aku udah selesai sarapan, aku balik kehotel ya .."
Sherlin memutuskan untuk pergi. Bisa bisa ia jadi emosi jika terus bicara dengan Gisella. Wanita itu benar benar punya cara untuk membuat emosinya turun naik.
"Ya udah. Kalau gitu, kita balik aja, Sell, kita duluan ya..."
__ADS_1
Revand memilih mengikuti sang istri. Gisella tersenyum penuh arti.
"Jangan lupa lanjut bahas soal yang tadi Vand..."
Ucap Gisella mengingat kan sebelum Revand beranjak meninggalkan meja mengikuti langkah kecil istrinya.
"Sherlin, kita jalan jalan lagi..."
Revand meraih lengan istrinya ketika mereka sudah tiba diluar restoran.
"Nggak. Aku mau istirahat aja dikamar.."
Tolak Sherlin sembari menepis halus genggaman jemari sang suami di telapak tangannya.
"Sayang, kamu marah ya..?"
Sherlin menghentikan langkahnya ketika mendengar perkataan Revand. Ia menatap wajah suaminya dengan tatapan mata serius.
"Aku nggak tau apakah sikapku ini benar, tapi jujur, aku kecewa kamu nggak cerita Gisella satu kantor dengan kamu Vand.."
Katanya lalu berbalik, dan melangkah tergesa meninggalkan suaminya untuk pulang. Revand memburu sang istri lalu menangkap lengan mungil itu erat. Hingga membuat langkah Sherlin terhenti kembali.
"Sayang, aku minta maaf, aku kan tadi udah bilang aku lupa, aku mau cerita itu aku lupa, karena sibuk ngurus keberangkatan kita kesini, aku nggak ada niat buat menyembunyikan apapun sama kamu sayang..."
Revand berusaha untuk membujuk Sherlin yang terlihat tidak suka karena wanita itu baru tahu Gisella satu kantor dengan nya.
"Ya udah. Aku maafin, lagian seperti yang diucapkan Gisella tadi, aku kan juga nggak berhak tau soal itu. Aku nggak ngerti soal bisnis, jadi lupakan aja, lakukan aja yang menurut kamu baik .."
Revand semakin gemas saat menyadari Sherlin kelihatannya masih marah. Ditarik nya lengan sang istri ketempat tersembunyi, dan di sandarkan nya tubuh istrinya ditembok bangunan kokoh yang ada di sekitar tempat itu. Wajah mereka berjarak begitu dekat, hingga nafas mereka masing masing bisa mereka rasakan menyapu wajah satu sama lain.
"Kamu cemburu dengan Gisella...? Oke, aku paham. Aku mengerti, karena banyak yang bilang dia itu pelakor, tapi aku juga harus jujur dihadapan kamu Sherlin, aku juga cemburu. Rasa cemburuku ini lebih besar dari rasa cemburu kamu pada Gisella...! Aku nggak suka kamu berinteraksi dengan pria pemelihara kucing itu,"
Sherlin memberanikan diri menatap wajah sang suami karena ia ingin sang suami juga tahu bahwa saat ini ia sedang serius.
"Kamu cemburu dengan Zill...? Reputasi dia nggak seburuk reputasi Gisella Vand, lagian aku dan Zill itu nggak sering ketemu, kami ketemu kebetulan aja sedang kamu..."
Revand menatap manik mata istrinya dengan tatapan serius. Seolah ingin menembus hati wanita dihadapan nya lewat mata itu. Hatinya terasa hangat ketika sadar wanita dihadapan nya memang sedang diliputi perasaan cemburu. Revand suka itu. Sherlin membuat pengakuan yang membuat hatinya sejuk. Cemburu.
"Kamu takut kehilangan aku kan...?"
"Ngomong apa kamu ini...? Tentu aja...! Kamu suami aku, tentu aja aku takut kehilangan kamu, tapi Vand, yang lebih membuat aku berfikir keras saat tau kalian satu kantor adalah, aku nggak suka kamu terpengaruh cara berfikir Gisella menghalalkan segala cara untuk meraih kesuksesan...!"
Hati Revand yang semula hangat lantaran sadar sang istri cemburu padanya kini berubah diliputi rasa kesal. Revand merunduk, ******* bibir istri nya dengan sangat liar. Sherlin kaget. Mereka masih berada diluar bukan dikamar, meskipun sekarang Revand menariknya ditempat yang tersembunyi, tetap saja baginya itu tidak layak dilakukan.
Sherlin melakukan perlawanan. Ia tidak peduli berdosa atau tidak nya ia menolak keinginan sang suami yang ia fikirkan hanya satu, apa yang mereka lakukan benar benar tidak sesuai dengan aturan etika. Apalagi sekarang ini mereka sedang berada dinegara orang. Jika mereka tercyduk pihak berwajib sedang melakukan hal mesum ditempat umum, meskipun mereka sepasang suami istri tapi bermesraan ditempat umum menurut Sherlin itu tabu.
Sherlin semakin gencar melakukan perlawanan, apalagi Revand yang dibakar api cemburu semakin menggila kehilangan akal sehat. Jemari tangan sang suami masuk kebalik baju yang ia kenakan. Meraba apa yang bisa diraba didalam sana. Sherlin semakin dibuat kesal. Dengan penuh kekuatan, wanita itu mendorong tubuh suaminya, dan itu berhasil membuat ia terlepas dari cengkraman Revand.
Kesempatan itu digunakan Sherlin untuk segera berlari menjauh. Revand mau tidak mau dibuat terkejut dengan respon keras dari sang istri. Baru kali ini Sherlin menolaknya mentah mentah seperti itu. Ia tidak paham, apakah penolakan istrinya itu karena kesal ia melakukan hal itu diluar kamar, atau karena ingin membela pria bernama Zill itu. Yang jelas saat ini Revand benar benar dilanda kecemburuan yang amat sangat...
Note: Berkomunikasi dengan baik akan menghindarkan kita dari sebuah kesalahpahaman, maka dari itu penting bagi setiap pasangan untuk saling terbuka satu sama lain.
**DILARANG MEMPLAGIAT SELURUH ISI CERITA INI. KARENA KARYA INI ORISINIL PEMIKIRAN AUTHOR SENDIRI YANG DIADAPTASI DARI BEBERAPA KEJADIAN YANG REAL TERJADI.
👉FOLLOW FB SAYA "MITHAVIC HIMURA" UNTUK TAHU NOVEL NOVEL NON-FIKSI SAYA YANG SUDAH TERBIT. FOLLOW AKUN SMULE SAYA MITHA_GSB_UVSS UNTUK TAHU OST OST SANG PELAKOR.
__ADS_1
👉JANGAN LUPA LIKE, VOTE,KLIK FAVO,BERI BINTANG UNTUK KARYA SAYA INI AGAR SAYA SEMANGAT UPDATE 💝 BUAT SEMUA YANG UDAH BERI VOTE, LIKE, BERI BINTANG 5 N KLIK FAVO, MAKASIH YA💝
BERSAMBUNG