SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 28. RAPAT.


__ADS_3

Ruangan rapat sudah penuh. Hari ini pemilik perusahaan tempat dimana Revand dan Gisella juga Roy bekerja mengadakan rapat penting terkait proyek baru yang mereka kerjakan belakangan ini. Meskipun tugas dinas Revand dan Gisella sukses beberapa waktu yang lalu di Banjarmasin, tetap saja mereka tidak bisa santai menghadapi proyek yang sudah berjalan.


Selama bekerja dikantor tersebut, baru kali inilah rapat seperti ini dilakukan. Seperti nya memang ada suatu kendala yang harus dihadapi perusahaan mereka.


"Terima kasih, kalian sudah hadir diruang rapat ini, dan maaf jika mungkin rapat ini terkesan mendadak. Ada beberapa kendala yang harus kita hadapi, dan perlu penanganan yang serius, jika tidak, kita akan menderita kerugian besar dan mungkin akan berefek kepada beberapa karyawan kita dilapangan..!"


Semua mata tertuju kepada pemilik saham tertinggi di perusahaan tersebut. Termasuk Revand dan Gisella. Suasana jadi tegang.


"Apa kita punya masalah yang berat pak...!"


Revand memberanikan diri untuk bertanya. Pria setengah baya itu beralih menatap kearah Revand.


"Salah satu rekan kita diproyek ini mengundurkan diri, perusahaan mereka tidak ingin melanjutkan kerjasama nya dengan kita, meskipun mereka bertanggung jawab untuk kerugian yang ditimbulkan akan tetapi, kita kehilangan satu rekan bisnis yang sangat berpotensi, ini sangat membuat perusahaan kita sedikit terguncang...!"


Bos Revand, menyebut nama seorang rekan bisnis yang baru bekerja sama dengan mereka beberapa waktu yang lalu, serta menyebut kan nama perusahaan nya. Wajah Revand dan Gisella memucat.


Sial, pria tua bangka itu, kenapa menjadi bodoh seperti ini...? Apa dia sengaja melakukan ini untuk balas dendam ke gue....


Gisella membathin. Revand sejenak berpaling kearah Gisella.


Apa Revand mau nyalahin gue tentang ini...


Kembali Gisella membatin saat bertemu mata dengan Revand.


Tidak profesional, mengundurkan diri disaat proyek sedang berjalan, apa maksudnya, apa gara gara Gisella menjadi karyawan disini...


Revand ikut membathin. Sungguh pria tersebut tidak menyangka akan mendapatkan kejadian seperti itu.


"Kita semua tahu, beliau cukup berpengaruh dalam proyek kita sekarang, akan tetapi, saya tidak ingin hal ini membuat kita jadi berhenti melakukan semua nya, kita perlu partner baru, partner yang kuat, dan tentunya berpengalaman, dari segi prestasi dan kualitas, hanya ada satu perusahaan yang bisa kita rangkul,"


Kembali, bos mereka menyebut kan nama seseorang dan perusahaan yang dimaksud. Wajah Gisella kembali berubah..


Sial, kenapa juga perusahaan pria dingin menyebalkan itu yang dipilih...?


Gisella mengangkat tangan nya.


"Ya, silahkan...!"


Gisella dipersilahkan untuk bicara.


"Maaf sebelumnya pak. Menurut saya perusahaan tersebut sama sekali tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan lain terhitung ditahun ini, semenjak perusahaan itu dipimpin oleh putra tunggal mereka, sistem mereka diubah, semua yang melakukan itu pemimpin barunya tersebut, perusahaan ini dulunya juga sempat turun drastis, tapi sejak diganti putranya, perusahaan itu kembali membaik, sulit untuk kita merangkul mereka untuk bekerja sama...!"


Semua jadi saling pandang dan berbisik ketika mendengar Gisella mengucapkan kalimat tersebut. Revand berbisik ditelinga Gisella, karena kebetulan mereka duduk berdampingan.


"Apa yang dimaksud itu Zill..? Pria yang kita temui di Jepang itu...?"

__ADS_1


Gisella mengangguk ketika Revand berbisik seperti itu.


Sial..


Wajah Revand mengelam. Kedua tangan nya mengepal.


"Anda seperti nya sangat berpengalaman meneliti perihal itu Gisella. Benar yang kamu katakan, namun hanya perusahaan dialah satu satunya masa depan perusahaan kita, jika kita tidak bisa mengajak perusahaan itu bekerja sama, itu berarti mereka adalah lawan sengit perusahaan kita, jadi bagaimana...? Apakah ada yang bisa menjamin, bisa merangkul perusahaan mereka agar perusahaan kita tidak mengalami kerugian yang sangat besar jika proyek ini diteruskan...?"


Gisella kembali mengangkat tangan nya. Dan lagi lagi ia dipersilahkan untuk bicara.


"Saya akan berusaha untuk membujuk nya pak, jika itu tidak berhasil, mungkin mau tidak mau kita memang harus bertarung dengan perusahaan mereka sampai akhir..!"


Revand dan Roy spontan berpaling kearah Gisella. Tidak menyangka wanita itu bisa sergap bicara seperti itu sementara mereka saja masih sibuk menimbang nimbang.


"Bagus. Saya suka semangat kamu Gisella. Kamu anak baru disini, tapi kamu mulai menunjukkan dedikasi kamu diperusahaan ini, perihal kamu datangnya darimana, saya tidak akan mempersoalkan, yang terpenting adalah kamu bisa menunjukkan prestasi kamu dikantor ini...!"


Gisella seakan terbang melayang dipuji seperti itu didepan orang banyak.


"Terima kasih pak. Tapi saya merasa dengan kedudukan saya yang sekarang, saya tidak bisa 100 persen punya wewenang melakukan pekerjaan itu nantinya, apakah bapak bisa membuat posisi saya jadi berwenang...?"


Bos mereka langsung menatap kearah Revand.


"Proyek ini kamu yang bertanggung jawab direktur, dan kamu tidak punya sekretaris untuk mengerjakan ini, Gisella adalah mantan rekan dinas kamu, saya rasa dia orang yang cocok untuk jadi sekretaris kamu sekarang, apakah kamu keberatan...!"


"Saya keberatan pak...!!"


Sialan ini cowok, dia ngincar posisi sektretaris juga apa...? Nggak mungkin, tapi kenapa dia nggak setuju...


Gisella mengumpat didalam hati.


"Kenapa kamu tidak setuju Roy..?"


"Kenapa bukan direktur Revand saja yang membujuk pemilik perusahaan tersebut...?"


Buset Roy, apa apaan dia..? Gue yang menemui Zill...? malas bener..


Revand melotot kearah Roy, tapi sahabatnya itu pura pura tidak melihat.


"Benar juga, tapi tetap saja Revand perlu sekretaris, proyek ini banyak menyita energi, jika dia mengerjakan nya sendiri, bisa bisa dia stres dan kinerja dia juga akan menurun..!"


"Kenapa bapak setuju begitu saja jika nona Gisella yang menjadi sekretaris direktur..?"


Roy masih berusaha mendebat. Pria ini bisa memprediksi apa yang akan terjadi jika wanita seperti Gisella yang menjadi sekretaris Revand. Wanita itu akan punya banyak waktu bersama dengan Revand.


"Karena Nona Gisella lebih berpengalaman menghadapi pemilik perusahaan yang akan kita taklukan, selain itu nona Gisella juga sebelum nya rekan dinas direktur bukan...? Lalu kenapa seperti nya kamu keberatan jika nona Gisella menjadi sekretaris Revand...? Kamu bisa mengambil alih proyek ini...?"

__ADS_1


Wajah Roy merah. Gisella tertawa dalam hati. Puas sekali ia melihat betapa pria bernama Roy ini dibuat mati kutu oleh bos mereka.


Rasakan lu...


Maki Gisella masih dengan senyum di bibirnya....


Sialan, gue emang kagak punya pengalaman seluas Gisella, tapi kalau gue nekat mendebat melulu, ntar gue bisa bisa dipecat, mau kerja apaan ntar gue...


Roy tidak bisa lagi berkata apa apa selain bicara pada hatinya sendiri.


"Baik pak. Saya terima amanah dari bapak. Semoga saya bisa mengerjakan nya dengan baik. Gisella mohon kerja samanya .."


Yess...


Gisella bersorak gembira dalam hati hingga hal ini membuat wajah nya sangat terlihat bahagia ketika mendengar kesanggupan Revand tentang apa yang diperintahkan bosnya.


"Bagus kalau begitu, saya percaya dengan kemampuan kamu Revand. Jangan kecewa kan kami semua.."


Bos mereka menutup rapat itu dengan wajah penuh kelegaan. Berbeda dengan Roy, dari tadi ia terus saja menatap kearah Revand, dan Revand tahu arti tatapan itu.


"Bisa kagak lu buang parno lu tentang Gisella...? Ini situasi gawat, kalo gue kagak bisa menyelesaikan masalah ini, lu juga kagak akan bisa dapat gaji.."


Bisik Revand ketika mereka sudah bubar. Saat itu staff yang lain sibuk menyalami Gisella, yang naik jabatan menjadi sekretaris. Hingga mereka berdua bisa bicara seperti itu tanpa diganggu wanita tersebut.


"Baiklah Vand, gue tau, gue kagak bisa bantu apa apa saat situasi seperti ini, harusnya gue kagak egois, gue cuma kagak mau rumah tangga lu berantakan itu aja...!"


Roy balas berbisik. Revand menepuk pundak sahabatnya dengan penuh perasaan tulus.


"Gue hargai kekhawatiran lu, lu emang sahabat gue yang baik, tapi kita harus bersikap profesional, kita kagak boleh mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan..!"


"Iya gue tau. Mungkin gue doang yang terlalu parno, Gisella kagak mungkin bisa menggeser pesona Sherlin dihati lu,"


"Yang penting lu doain gue semoga gue bisa menyelesaikan masalah ini, kalau kagak, lu ama gue bakal cuti dapat gaji..!"


"Nooo...! Istri gue bakal kagak beri gue jatah kalo gue kagak ngasi uang bulanan tau...!!"


Revand tertawa melihat ekspresi sahabat nya.


Sherlin, aku janji, meskipun Gisella menjadi sekretaris ku, aku nggak akan pernah tergoda dengan nya...


Note: Positif thinking memang perlu, tapi jangan sampai karena terlalu berfikir positif, kita jadi lalai menilai niat buruk seseorang pada kita.


👉 Yang mau ikut kuis kesempatan masih terbuka ya, cek aja diepisode 27😎


👉 Jangan lupa like, vote, komen, rate, plus klik favo jika suka💝

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2