
Revand melangkah masuk kedalam cafe, tempat dimana ia dan Zill sepakat bertemu. Kedua pria itu sama sama ingin menyampaikan apa yang bergolak dihati mereka masing masing.
Zill, sudah menunggu disalah satu meja yang ada disudut ruangan. Tidak terlalu mencolok, namun nyaman dipakai untuk berbicara.
"Sebelum nya, gue turut prihatin untuk apa yang sudah menimpa lu belakangan ini..!"
Zill bicara seperti itu, saat Revand sudah duduk dihadapan nya.
"Gue..?"
Revand merasa aneh, jika mendengar pria dingin dihadapan nya ini bicara non formal. Seperti bukan Zill.
"Iya, karena sekarang kita teman, gue rasa kita kagak perlu formal kan...?"
"Tergantung.."
"Maksud lu...?"
"Gue bisa nganggap lu teman, asal lu jujur ama gue..!"
Revand menatap wajah Zill, saat mengucapkan kalimat tersebut.
"Soal apa...?"
"Perasaan lu pada Sherlin...!"
Spontan, wajah Zill berubah mendengar ucapan Revand. Ia mengalihkan perasaan nya dengan menyeruput kopi miliknya, perlahan.
"Lu yakin, pengen gue jujur...?"
Zill balik bertanya, kali ini dia menatap wajah Revand, dengan pandangan yang sangat tajam.
"Iya. Yakin..!"
"Buat apa...?"
"Supaya gue tau, lu pria seperti apa..!"
Zill tertawa. Ucapan Revand membuat ia sedikit sebal. Ia sebenarnya tidak mau membahas hal ini, karena akan membuat hatinya sesak, namun karena diminta, terpaksa ia harus melakukan nya.
"Gue suka sama bini lo..!"
"Lu...?!"
"Diem dulu. Lu yang mau gue jujur kan...?"
Revand terpaksa menahan emosi nya, dan diam menunggu Zill bicara.
"Jujur, Sherlin wanita pertama yang bisa membuat gue merasa nyaman, selama ini gue cukup introvert untuk urusan satu ini. Tapi, dengan Sherlin, gue seperti kagak punya beban. Awalnya, gue ingin merebut bini lo. Karena gue ngeliat lu pria yang kurang bersyukur. Lu menyepelekan sesuatu yang harusnya kagak lu sepelekan. Tapi sekarang, gue sadar satu hal. Lu sangat mencintai bini lu, dan kesungguhan lu itu membuat gue mengurungkan niat untuk merebut bini lu dari lu, sekarang gue sedang berusaha untuk menetralisir semua nya. Gue bisa tapi perlu waktu, selama masa itu, jangan sekali kali lu bikin gue nyesel kagak melanjutkan niat gue merebut Sherlin dari lu, kalo sampe gue liat, lu menyakiti dia, maka kesempatan lu akan habis Revand...!!"
Telapak tangan Revand mengepal mendengar kejujuran yang diucapkan Zill dengan sangat berani itu. Tidak menyangka, pria itu berani terbuka mengakui perasaan nya kepada suami wanita yang ia sukai.
Lu mengerikan Zill, aura lu bikin setan pun hangus dibuatnya..
Revand membathin.
"Gue sebenarnya kesal mendengar pengakuan jujur lu, tapi gue berusaha untuk menghargai nya, minimal, lu bukan seseorang yang bermain manis didepan busuk dibelakang, gue akan pastikan, kagak akan membiarkan istri gue jatuh cinta sama lu,"
__ADS_1
Zill tertawa getir mendengar ucapan yang keluar dari mulut Revand. Ia kembali menyeruput kopi miliknya.
"Jaga istri lu, lu akan menyesal jika lu kagak melakukan itu dari sekarang..!"
"Gue tau, tapi jujur melihat hasil pemotretan kalian gue kesal. Lu seolah olah mempergunakan kesempatan itu buat mesra ama istri gue, meskipun Sherlin bilang itu cuma setingan dan gue percaya itu, tetap aja gue kesal..!"
"Gue kagak perduli dengan kekesalan lu itu, lu kira gue suka memakai gaun pengantin dengan wanita yang gue suka tapi kagak bisa gue miliki...? Ironis, kalau media tau ini, lu bisa punya kesempatan buat merusak reputasi gue dimata publik ..!"
Mendengar ucapan Zill, Revand jadi teringat sesuatu.
"Kita lupakan masalah itu, tapi ingat aja, kalo lu melakukan hal yang kagak gue suka, mendekati bini gue dan berusaha nikung gue, lu akan habis Zill."
"Lu yang akan habis, kalo lu berani mempermainkan Sherlin. Gue akan mengerahkan segala kekuatan gue buat merebut istri lu itu, paham...!"
Sekali lagi Revand dibuat bergidik oleh aura pria dihadapannya ini. Seluruh kekuatan..? Termasuk harta nya kah...? Mendadak, Revand merasa tidak percaya diri jika mengingat sekarang ia bukan lagi pria yang memiliki karir cemerlang itu.
"Gue paham. Ohya, tentang rencana Gisella beberapa waktu lalu, gue cuma mau ngasi tau keelo, hati hati karena target utama mereka sekarang adalah elo, jadi mungkin sekarang, mereka lagi cari kelemahan lu buat merusak reputasi lu..!"
Wajah Zill seketika berubah mendengar apa yang disampaikan Revand. Sebenarnya, ini sudah ia prediksi sebelumnya, namun ternyata saat mendengar nya langsung dari sumber terpercaya, mau tidak mau ia sedikit terguncang juga.
"Karena penolakan gue waktu itukah.. ?"
"Benar..!"
Zill menghela nafas.
"Sejujurnya, gue kagak mau berperang dengan siapapun dalam bidang ini. Menurut gue, setiap perusahaan punya misi dan visi masing masing, perusahaan lu juga seperti itu kan. Hanya aja seperti yang pernah gue katakan sebelumnya, gue kagak tertarik jadi rekan bisnis perusahaan lu itu karena ada dua hal, yang bikin gue berat untuk melakukan nya...!"
"Karena Gisella kan. Lu kagak bisa percaya dengan kinerja wanita yang pernah pengen merusak rumah tangga orang tua lu..!"
"Salah satunya itu. Dan karena, perusahaan lu itu kagak jujur dalam melakukan bisnis, awalnya, gue heran reputasi lu baik selama ini dimata para pebisnis, gue dulu sempat berfikir, lu sama dengan bos lu itu dalam mengelola perusahaan, tapi kejadian sekarang membuat mata hati gue jadi terbuka. Lu karyawan yang jujur, lu kagak hanya ingin melindungi rumah tangga lu, tapi juga jalan rezeki lu, gue salut untuk hal itu. Kondisi lu yang sekarang, menurut gue jauh lebih bermartabat, dibanding kondisi lu saat dikursi direktur di perusahaan itu, lu salah berkarir disebuah perusahaan yang menghalalkan segala cara, untuk bisa maju...!!"
"Mereka melakukan itu untuk menipulasi pengeluaran..!"
"Dengan kata lain, bos lu itu kagak mau rugi, tapi pengen di cap mensejahterakan karyawan..!"
Revand mengangguk mendengar ucapan Zill. Itu yang bisa ia simpulkan setelah mencoba menyelidiki sendiri, hingga kemudian apa yang dilakukan nya, terendus oleh mantan bosnya tersebut, hingga membuat pria itu murka.
"Sekarang lu harus persiapkan diri buat melawan mereka, lu tau Gisella seperti apa, dia sekarang menjadi direktur disana, bukan kagak mungkin apapun akan dilakukan Gisella buat menghancurkan lu. Seperti yang dia perbuat kegue..!"
"Gue tau. Hanya aja, gue butuh bantuan lu untuk hal ini, seandainya, gue benar benar berperang melawan mereka, lu bisa menjadi saksi untuk memperkuat tuduhan ini saat masalah ini ada dijalur hukum..?"
Revand mengangguk mantap. Mantan bosnya saja sudah tidak mempertimbangkan dedikasi nya selama ini diperusahaan, untuk apa dia mempertimbangkan perasaan pria tersebut...? Revand bukan dendam. Tapi ia perlu keadilan. Itu saja.
"Ohya, nyokap gue pengen make lu jadi model karena media gencar menulis artikel tentang lu, waiters yang ditawar seharga 50 juta..!"
Paras Revand berubah mendengar kata kata yang baru saja diucapkan Zill tadi. Apalagi saat usai mengucapkan kalimat itu, Zill seperti ingin tertawa. Sialan..
"Media...?"
"Lu cek aja berita diinternet, lu sekarang lagi booming, daripada booming dengan berita itu, mending lu terima tawaran pemotretan nyokap gue, setidaknya buat menyaingi gosip panas lu itu, gimana..?"
Wajah Revand merah padam. Dia terlalu sibuk belakangan ini. Tidak sempat mengikuti berita terupdate.
Waiters seharga 50 juta...? Siapa lagi yang membocorkan perihal itu pada media..
"Kenapa nyokap lu pengen gue jadi model lu..?"
__ADS_1
"Nyokap gue liat berita lu itu Vand, beliau fikir lu emang bisa jadi model. Daripada terkenal dengan label 50 juta, mending lu terkenal di butik nyokap gue..!"
"Tapi gue bukan model...!"
"Bukan pula waiters seharga 50 juta itu kan..?"
Sial...
Revand memaki, Zill nyaris tertawa melihat betapa emosi nya Revand sekarang. Namun sedapat mungkin ia menahan keinginan nya untuk tertawa, karena tidak ingin memancing Revand mengamuk di cafe tersebut.
"Oke, gue terima, kapan gue pemotretan..!"
Karena emosi, Revand langsung mengiyakan tantangan yang diberikan oleh Zill.
"Sherlin akan mengatur jadwal lu ntar, karna nyokap gue bakal menghubungi istri lu itu..!"
Revand mengepalkan telapak tangan nya. Sungguh ia tidak pernah membayangkan, akan menjadi model segala, ini bukan bidangnya, tapi untuk bisa menghapus gosip waiters 50 juta itu, memang seharusnya ia melakukan hal itu.
"Kalo gitu, kita ketemu di studio, gue balik dulu, thanks. Untuk waktu nya..!"
Revand ingin bangkit, namun tiba tiba kepalanya mendadak sakit lagi. Hal itu membuat ia tidak bisa menumpukan kedua kakinya dengan baik, untuk berdiri beruntung Zill spontan menangkap nya, agar tidak terjatuh.
"Lu kenapa..?"
Tanya Zill dengan nada heran.
"Jam berapa sekarang...?"
Zill melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan nya.
"Jam 5 lewat, sebentar lagi setengah 6 sore..!"
Paras Revand berubah mendengar ucapan Zill.
"Gue harus pulang..!"
Katanya sembari bergegas ingin melangkah. Namun justru membuat ia limbung, seketika. Zill segera membantu Revand untuk melangkah. Setelah membayar kopi yang mereka nikmati tadi, mereka segera keluar dari cafe.
"Lu pulang pake apa...?"
"Panggilin angkot please ...!"
Revand memohon kepada Zill, sembari terus memijit kepala nya yang terkadang sakitnya menusuk tapi juga terkadang bisa lenyap tiba tiba, tidak sakit sama sekali.
"Lu pulang bareng gue aja,"
Malas mencari angkot, Zill segera membawa Revand menuju mobil yang terparkir di halaman cafe. Revand hanya menurut. Fikirannya cuma satu sebelum magrib, ia harus segera dirumah. Ia teringat dengan ucapan istrinya...
Magrib jangan keluyuran diluar rumah, diculik setan...
Rasa sakit yang tidak biasa itu muncul di jam jam tertentu, itu yang membuat Revand mau tidak mau harus mengikuti instruksi sang istri. Sebuah hal yang awalnya tidak ia percayai, semenjak merasakan nya sendiri, Revand jadi percaya hal hal mistis itu ada sekarang...
Note: Waktu magrib adalah waktu dimana iblis dan setan berinteraksi dan bertebaran di mana mana, usahakan saat menjelang magrib, kita tidak berada diluar rumah, jika pun kondisi memaksa kita untuk berada diluar rumah, akan lebih baik berhenti lah sejenak disuatu tempat, hingga waktu magrib berlalu. Membiasakan diri berkeliaran saat waktu magrib, akan membuat manusia mudah terjangkit penyakit yang kadang tidak bisa terdeteksi secara medis, kemungkinan terburuk, tubuh rentan mendapat celah di ganggu oleh berbagai makhluk abstral.
👉 Pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya 😘
👉 JANGAN LUPA BACA JUGA NOVEL NON-FIKSI TERBARU SAYA BERJUDUL CINTA SANG PENULIS YA, KLIK PROFIL SAYA UNTUK CEK KARYA SAYA, DAN BERIKAN DUKUNGAN KALIAN UNTUK KARYA SAYA TERSEBUT ❤️
__ADS_1
BERSAMBUNG