SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 76. KEKHAWATIRAN GISELLA.


__ADS_3

"Brakk...!!"


Gisella melempar barang yang ada dihadapannya, dengan wajah yang sangat terlihat kesal. Keributan yang ia ciptakan, membuat bi Sarti tergopoh-gopoh, menghampiri nya.


"Non Gisell, kenapa non...?"


Tanya sang asisten rumah tangga nya tersebut, sembari berusaha memunguti barang yang diporak porandakan oleh majikannya.


"Gue kesal Bi, Pram itu ya. Berani bener dia menemui orang tua gue dirumah, bicara yang enggak enggak, tadi mami telpon, dia nanya apa bener gue dan Pram pernah tidur bareng...!!"


Bi Sarti menghela nafas.


"Iya, sejak kemarin, nyonya besar juga menanyakan hal itu non, bibi bingung mau jawab bagaimana, non Gisel sekarang jarang ngobrol dengan bibi..!"


"Gue nggak punya waktu, sekarang gue direktur Bi, gue harus melakukan gebrakan supaya bos gue bisa terkesan dengan kinerja gue, tapi kalau Pram selalu aja bikin gue kesal, gimana gue bisa melakukan tugas dengan baik...!!"


"Non. Menurut bibi, den Pram itu serius dengan non Gisel, ayolah non, berikan kesempatan untuk dia supaya bisa membuat non Gisel bahagia, dia pria yang baik bukan..?"


"Ingat bi ya, Pram itu pria paling brengs*k yang pernah gue temui dalam hidup. Jadi jangan sekali kali, bibi memberikan restu bibi untuk dia ...!"


"Jadi...?"


"Iya, Revand tetap target gue, gue cuma mau Revand..!!"


Habis berkata begitu, Gisella segera berlalu dari hadapan asisten rumah tangga nya. Bi Sarti hanya geleng geleng kepala. Ia bahkan tidak berani bercerita, jika sebentar lagi ibu gadis itu akan datang. Seperti nya, ibu Gisella sedikit terusik dengan ulah Pram, yang nekat datang ke rumah orang tua Gisella, dan membongkar semua yang pernah mereka perbuat didalam hotel pada saat Gisella berada dibawah pengaruh obat perangsang tersebut.


Pram, seperti nya mulai melakukan rencananya. Rencana untuk membuat Gisella berhenti dari semua obsesinya pada Revand. Dan itu tidak disukai oleh Gisella, karena sekarang ia sedang disibukkan dengan beban tugas direktur yang ia emban dari bosnya, dan itu bukan masalah ringan, mengingat Gisella sebenarnya tidak punya bakat menduduki jabatan tersebut. Tidak seperti Revand, yang memang benar benar mendapatkan kursi direktur dengan segala dedikasi yang diberikan nya.


Namun, membuang posisi bagus itu begitu saja karena merasa ia tidak menguasai...? Tentu saja itu sebuah tindakan bodoh. Bodoh, karena kedudukan sebagus itu, baru ini bisa ia dapatkan.


Gisella baru saja membuka pintu saat didepan pintu rumah nya, berdiri Dina yang melongo melihat wajah nya yang amburadul karena kesal.


"Haduh, baru aja gue mau kerumah lu, lama amat sih keluar kotanya, kesel gue..!!"


Gisella menghempaskan bokongnya dikursi teras sembari memberi isyarat pada Dina untuk ikut duduk bersama nya. Dina tersenyum simpul. Tapi, tetap mengikuti isyarat Gisella.


"Rencana lu gagal total ya..?"


Tanyanya pada Gisella.


"Gue kesel tau. Udah salah sasaran, ilmu dukun itu salah masuk, liat Revand makin lengket dengan Sherlin, terus Pram makin gencar buat meyakinkan keluarga gue supaya pernikahan kami dipercepat, pria itu gila bener, pake ngomong ke bokap gue lagi kalau gue sama dia udah tidur bareng, gimana gue nggak stres...!!"


Gisella mengucapkan kalimat tersebut, dengan nada suara meninggi. Wajahnya benar benar terlihat kesal. Dina menarik nafas mendengar cerita Gisella.

__ADS_1


"Lu udah cerita ke Ki Robius belum..?"


"Udah, dia udah gue bayar double buat menambah ilmu pengasihan yang gue kirim. Tapi sampe sekarang, belum ada reaksinya, sedang gue makin gila karna ilmu pengasihan ini makin bikin gue selalu horny cuma ngeliat muka Revand doang, lu tau nggak, hari ini aja ngeliat foto Revand aja gue udah bisa klimaks, ironisnya disana, Revand malah makin lengket ama bininya itu..!!"


Dina menatap wajah Gisella dengan tatapan mata prihatin.


"Target lu itu punya iman yang kuat Sell. Beda dengan target gue. Seperti nya, Revand itu bener bener setia dengan istri nya. Dia mencintai istrinya apa adanya, itu sangat sulit, hati dan fikiran nya selalu di penuhi oleh istri nya. Lu udah liat tabloid terbaru nggak...?"


Gisella menggeleng mendengar pertanyaan Dina. Dina membuka tas yang ia bawa. Mengeluarkan tabloid yang baru saja ia beli, dan menyerahkan pada Gisella.


"Disitu tertulis, karena cemburu Revand mencium istrinya di depan umum, berita ini ditulis karena mereka menjadi model butik milik keluarga Mahendradatta, dia memang kehilangan pekerjaan nya, tapi pesona dia membuat keluarga Mahendradatta memberikan dia pekerjaan sebagai model, sedangkan lu sekarang pusing dengan beban tugas direktur yang lu emban, padahal lu aja nggak punya pengalaman untuk menangani hal itu...!"


Gisella menggenggam tabloid milik Dina saat melihat foto foto Sherlin, Zill dan juga Revand ada ditabloit tersebut. Perkiraannya seperti tidak tepat sasaran. Revand masih bisa mendapatkan uang dari hasil pemotretan tersebut. Bagaimana ia mampu membuat pria itu merangkak kembali ke perusahaan...?


"Sell, kalo menurut gue sih, mending lu sekarang buka hati lu untuk Pram, seperti nya dia tulus mencintai lu..!"


"Brakk...!!"


Dina terkejut ketika tiba tiba saja, Gisella menggebrak meja yang ada dihadapan mereka. Wajah Gisella merah padam. Dina tahu, dari ekspresi temannya itu saja, Gisella pasti tidak setuju dengan apa yang ia ucapkan tadi.


"Lu gue cari bukan untuk jadi pendukung Pram, gue kagak butuh itu...!!"


Seru Gisella dengan suara dingin. Dina menghela nafas mendengar ucapan yang dilontarkan Gisella.


"Gue cuma mau tau, waktu lu buat perjanjian dengan Ki Robius Aleptuss soal ilmu pengasihan itu, apa lu diberi tahu efek lain selain kita kagak bisa hamil...?"


Dina menghela nafas panjang mendengar pertanyaan Gisella.


"Lu udah buat sesuatu yang fatal Sell, ilmu pengasihan yang masuk ketubuh pria yang salah bikin lu sulit punya peluang untuk menundukkan target lu, kecuali lu mau melakukan tindakan ekstrim sekali lagi. Lu meminta Ki Robius Aleptuss melakukan tindakan kedua, mengirim ilmu pengasihan dari jarak jauh, biasanya durasi waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 5 hari, maka lu bisa memetik hasilnya, karena setahu gue, ilmu alternatif itu bukan ilmu sembarangan, lu menyerang Revand dari dua arah, kemungkinan berhasil memang besar tapi resikonya juga sama besarnya...!"


"Selain kagak hamil apa lagi yang harus gue terima misal gue gagal Din...?"


Gisella tidak sabar mengetahui resiko yang sekira kira akan ia dapatkan jika semua rencana yang ia susun gagal.


"Ada orang yang lu cintai yang akan menerima akibatnya Sell...!"


"Contoh nya..?"


"Kematian..."


"Lu bilang dukun itu kagak minta tumbal...!"


"Emang iya, selagi lu lancar melakukan prosedur, tapi lu kan udah gagal satu kali, lalu alternatif kedua, lu juga seperti nya menemukan kendala. Masih ada kesempatan untuk menarik kembali rencana yang lu susun Sell. Kalo lu berubah fikiran sekarang, gue akan menemani lu menemui Ki Robius Aleptuss, untuk membicarakan soal ini, tapi mungkin lu harus bayar biaya ganti rugi karena lu menghentikan program yang sudah kalian sepakati...!"

__ADS_1


"Gila...! Rugi dua kali gue...!! Udah kagak dapat Revand, ilang banyak duit, ogah...! Gue nggak mau mundur. Gue tetap akan meneruskan rencana ini. Gue yakin Revand akan gue dapatkan...!!"


"Lu yakin...?"


"Kenapa enggak...?"


"Sell. Lu yakin bisa menerima resiko yang akan terjadi kalo lu gagal juga..?"


"Kalo alternatif kedua gagal, gue bakal minta Ki Robius Aleptuss make alternatif ketiga..!"


"What..?"


Dina terbelalak mendengar ucapan yang keluar dari mulut Gisella.


"Lu gila Sell...!"


"Gue emang gila, gue gila karena Revand, setiap menit,detik, jam, hari, Revand selalu menguasai fikiran gue, gue nggak bisa menyerah begitu aja, gue harus berhasil Dina...!!"


"Kalo lu berhasil mendapatkan Revand, apakah lu rela berhenti dari kegemaran lu bermain dengan suami orang...!"


Gisella mengangguk mantap.


"Revand target terakhir gue, cuma dia yang bisa membuat gue jatuh cinta setelah hati gue beku karna tindakan Pram dimasalalu...!!"


Sebenarnya, gue seneng melihat betapa lu serius mencintai Revand Gisella, masalahnya target lu ini sangat sulit, ia punya hati yang tulus pada istrinya, sasaran lu emang ikan kakap. Siapa pun pasti ingin punya pendamping seperti dia, masalahnya jika ini tetap kagak berhasil, dan lu terus menaikkan level ilmu pengasihan yang lu kirim ke pada Revand, resiko terbesar yang akan lu hadapi bukan hanya bisa membuat lu kehilangan orang terdekat lu, tapi juga Revand, bahkan diri lu sendiri bisa menjadi tumbalnya. Bagaimana caranya agar lu bisa paham tentang ini semua....


Dina bicara seperti itu didalam hati. Sembari menatapi wajah sahabatnya tersebut.


Menyerah...? Setelah gue begitu gila dengan Revand...? No....! Jangan sebut gue Gisella kalo gue kagak bisa mendapatkan apa yang gue mau, kursi direktur aja bisa gue dapatkan tanpa punya pengalaman, apalagi hanya hati seorang pria. Pria akan lemah dengan tubuh wanita. Lihat aja nanti...


Gisella pun bicara dalam hati, sembari menggenggam erat tabloid yang berisikan foto foto Sherlin, Zill dan juga Revand sebagai foto model butik milik keluarga Mahendradatta.


Note: Optimis itu perlu, tapi jika tidak mempertimbangkan baik buruk sebuah tindakan, saat berjuang melakukan sesuatu yang ingin dicapai, maka sisi optimis itu bisa berubah menjadi sisi obsesi yang terkadang bisa membuta kan mata hati dan fikiran kita.


๐Ÿ‘‰ jangan lupa like vote klik favo rate 5 jika suka ya ๐Ÿ’ buat yang selalu stay, beri vote, like dan komen mendukung kalian pendukung terbaik novel iniโค๏ธ


๐Ÿ‘‰ jangan lupa baca novel nonfiksi terbaru saya berjudul CINTA SANG PENULIS dilapak ini yaโค๏ธ


๐Ÿ‘‰ buat ke 27 peserta event birthday tokoh pendukung novel non-fiksi karya saya berjudul GSB SEASON 1, pengumuman hasil nilai kalian dibabak final sudah diumumkan di-markas besar GSB ya, diakun FB saya MITHAVIC HIMURA. Buat yang mengikuti event event terkait novel karya saya yang masih menanti hasil nilai kalian, pantengin terus akun FB saya, pengumuman akan bergilir diumumkan, mengingat bulan ini banyak event yang digelar serempak di markas besar GSB terkait novel karya saya โค๏ธ



bersambung

__ADS_1


__ADS_2