
Roy tidak jadi masuk kedalam ruang kerja Revand saat berpapasan dengan Gisella didepan pintu masuk. Pria tersebut mengurungkan niatnya, memilih diam ditempat nya sebentar, karena ia ingin tahu apa yang dilakukan Gisella diruangan Revand sembari membawa bawa kotak bekal segala....
Ngapain sih tu cewek, bawain Revand bekal...? Nekat amat dikantor begini...?
Pria itu membathin, namun tetap diam ditempat nya tidak bergerak sama sekali.
Sementara itu, Gisella sudah masuk kedalam ruangan Revand.
"Vand. Udah jam istirahat nih. Makan bareng yuk..!"
Revand menghentikan kegiatan nya yang sedang mengecek berkas berkas dihadapan nya. Lalu mengangkat wajahnya. Setelah itu melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan nya.
"Oh, udah jam rehat, kamu duluan aja, lagi tanggung ini.."
Katanya sembari tersenyum tipis. Gisella meletakkan bekal keatas meja kerja Revand. Hal itu mau tidak mau membuat Revand menghentikan lagi kegiatan nya.
"Aku bawain masakan buat kamu. Makan di kantin kurang sehat. Lebih sehat kalau masak sendiri, ayo dong makan, jangan kerja terus..!"
Gisella mencoba membujuk sembari membuka bekal yang ia bawa tadi. Revand menatap makanan didalam kotak bekal yang dibawa Gisella.
" Oh, repot repot, aku bawa bekal dari rumah kok, aku nggak pernah makan di kantin karena Sherlin udah nyiapin bekal ku setiap hari,"
Sial...
Maki Gisella ketika mendengar apa yang diucapkan Revand.
"Iya juga sih ya. Sherlin kan nggak ada aktivitas, udah kewajiban dia buat nyiapin bekal lu tiap hari, tapi masa gue bawa balik bekal yang udah gue masakin buat lu sih Vand. Segitunya lu ama gue,"
Gisella memasang wajah semuram mungkin dihadapan Revand.
" Ini kantor, kamu nggak lupa cara interaksi kamu kan...?"
Revand mengingat kan tanpa merespon ucapan suram Gisella.
"Inikan jam istirahat, wajar dong interaksi normal...!"
Bantah Gisella. Revand menarik nafas.
"Oke. Tinggalkan bekal itu, dan kamu boleh keluar sekarang, karena aku masih punya banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan, thanks untuk makanannya..!"
Revand menyerah. Ia tidak ingin berdebat dengan Gisella disaat pekerjaan nya menumpuk seperti sekarang. Hanya makanan saja. Tidak masalahkan...?
"Kita makan bareng Vand, kalo lu nggak mau makan bekal yang gue bawa, setidaknya kita makan bareng, kan lebih asik..!"
Gisella masih menawar. Karena ia sebenarnya ingin menghabiskan waktu istirahat bersama Revand.
"Maaf Gisella. Aku benar benar nggak bisa makan bareng sama kamu, karena aku masih harus menandatangani semua yang ada diatas meja kerjaku sekarang, tolong keluar dulu ya.."
Gisella menghembuskan nafas kecewa. Ia mengalah. Segera memutar tubuh, lalu melangkah menuju pintu, meninggalkan bekal yang dibawanya diatas meja kerja Revand. Gagal lagi misinya hari ini....
Setelah Gisella keluar, Roy masuk. Seketika Revand menoleh...
"Astaga, kenapa hari ini gue diganggu melulu..!!"
Ucap nya tapi diselingi dengan senyum pertanda ucapan itu hanya candaan dari Revand saja, karena berbeda dengan saat dengan Gisella tadi, pria itu lekas menutup berkas berkas yang belum selesai ia kerjakan, mengambil bekal yang ia bawa, dan bekal yang dibawa Gisella tadi, lalu mengajak Roy sahabatnya itu untuk duduk.
"Kenapa penampilan lu lebih semrawut dibandingkan gue Vand, mana dasi lu...!"
Sindir Roy sembari menghempaskan bokongnya diatas tempat duduk empuk diruangan itu. Revand terkekeh.
"Hari ini gue dibuat tertekan ama bos, gue harus menyelesaikan semua yang ada diatas meja itu sebelum jam pulang, terus ntar juga kita bakal rapat penting juga kan...!"
__ADS_1
Revand menselonjorkan kakinya diatas sofa. Mencoba membuat tubuh nya rileks.
"Itu sebabnya lu sampe lepas dasi terus jadi begini amat penampilan lu...?"
"Cuma jam istirahat doang, ntar gue pake lagi kok, leher belakang gue sakit nih, andai ada Sherlin pengen gue manja manjaan ama dia dijam istirahat begini...!"
Roy mencibir mendengar khayalan tingkat tinggi sahabatnya.
"Masih kuat juga cinta lu ama Sherlin setelah banyak diganggu Gisella...!"
"Diganggu...?"
"Iya, itu buktinya...!"
Roy menunjuk bekal yang dibawa oleh Gisella tadi. Revand tertawa kecil.
"Apaan lu. Udah gue bilang, Gisella kagak akan bisa membuat gue menduakan Sherlin. Sherlin itu serba bisa, mana ada tandingannya..!"
"Jangan lupa Vand, setiap manusia punya kekurangan, dan meskipun Sherlin serba bisa, dia juga punya kekurangan, jadi kalau lu beranggapan karena Sherlin serba bisa lu kagak akan menduakan nya, gue rasa itu pendapat yang salah..!"
"Iya, iya. Lu ini mirip kakek kakek, lu mending ambil cuti pergi bulan madu biar lu dan istri lu bisa makin harmonis lagi...!!"
"Abis itu gue banyak potongan gaji karna bayar biaya bulan madu kedua...!"
"Gue biayain."
"Ogah..!"
"What..!"
"Ntar kalo gue kagak ada dikantor, Gisella bebas tebar pesona ama lu...!"
"Heem lu ini, parno bener, gue jadi curiga lu yang mulai tergoda ama Gisella,"
Revand berkelit ketika Roy melemparnya dengan pulpen. Pria itu terbahak melihat ekspresi Roy yang amburadul.
Revand menyodorkan bekal dari Gisella kearah Roy, setengah hati Roy menerima.
"Ntar gue kena guna guna ni cewek lagi..!"
Katanya dengan wajah serius. Revand mencibir, ia balik ingin mengambil bekal itu tapi Roy tidak membiarkan nya.
"Sini, lu kan takut kena guna guna, biar gue aja yang makan..!"
"KAGAK ..!!"
"Kenapa emangnya...? Lu percaya hal gituan...?"
"Berjaga jaga apa salahnya..."
"Tapi terlalu berprasangka buruk juga kagak baik Roy...!"
Roy akhirnya membuka bekal yang dibawa Gisella. Dari tampilan nya memang sangat menggoda. Begitu juga aroma nya. Ia melirik bekal dari Sherlin untuk Revand. Sama menarik nya. Perlahan Roy mulai mencicipi. Dan...
"Ini dia yang masak...?"
"Katanya gitu."
"Ini sih, beli. Gue sering kok beli makanan ini di salah satu rumah makan kagak jauh dari sini...!"
"Masa sih...?"
"Iyalah. Istri gue emang kagak sepintar istri lu masak, kadang gue juga beli buat makan siang, menu ini adalah menu utama direstoran itu, wadahnya doang dari rumah, makanannya nyalip hahaha...! Dia hebat soal salip menyalip ya...!"
Revand melongo. Tentu saja pengetahuan nya tentang menu diluar kurang memadai. Karena dia jarang makan diluar, Revand sudah betah makan makanan yang dimasak Sherlin. Sudah sesuai selera nya. Dan ia sudah jatuh cinta.
__ADS_1
"Ya udah kalo gitu, kagak mungkin diguna gunakan, toh dia beli bukan masak sendiri haha...! Makan sana habisin...!!"
Roy mencibir. Tapi ia melakukan juga apa yang diperintahkan oleh Revand. Karena ia sudah familiar dengan menu ini jadi cukup sesuai dengan lidahnya. Tapi ia tidak habis fikir, Gisella sampai melakukan itu untuk menarik perhatian Revand. Ini diam diam cukup menganggunya..
"Vand, lu taukan konsekuensi perusahaan kita kalau kita kagak bisa menjaga nama baik perusahaan...!"
"Gue direktur lu, gue lebih tau soal itu banding lu...!"
Roy menghela nafas.
"Baguslah. Gisella itu sedang mengincar lu Vand, ingat itu...!"
"Gimana kalau ternyata yang dia incar itu elo...? Elo juga ganteng...!"
Revand berusaha menutupi kejadian sebenarnya dihadapan Roy, tentang Gisella yang memang menyukainya. Bahkan perempuan itu sudah mengungkapkan perasaan kepada nya saat di Jepang tempo hari. Tapi baginya, sejauh ini tidak ada yang perlu di khawatir kan. Toh, ia masih bisa bersikap tegas pada wanita itu...
"Yang ini beda Vand, biasanya Gisella itu dikejar, tapi sekarang dia mengejar, dengan melakukan perhatian semacam ini lagi, gue curiga dia itu suka beneran sama lu, lu kudu hati hati...!!"
Sialan, anak ini terlalu peka, atau berpengalaman soal menghadapi wanita seperti Gisella sih..
"Dikejar atau mengejar, toh balik ke diri kita masing masing, gue mencintai Sherlin, jadi gue kagak akan tergoda dengan Gisella..!"
Roy hendak menjawab, namun tiba tiba pintu diketuk dari luar, lalu saat pintu terbuka muncul sektretaris Revand sambil membawa sebuah map. Wanita itu menunduk hormat kepada keduanya sebelum bicara.
"Maaf pak, mengganggu makan siang bapak. Saya mau menyerahkan ini kepada bapak langsung...!"
Kata sang sekretaris sembari memberikan map itu pada Revand. Revand menerima dan membukanya. Membacanya sesaat. Lalu...
"Kamu mengundurkan diri...?"
"Iya pak. Orang tua saya dikampung sakit keras, saya harus pulang sekarang juga,"
Jawab sang sekretaris itu sembari menundukkan wajahnya.
"Kamukan bisa cuti, tidak harus mengundurkan diri...?"
Revand masih berusaha untuk menahan niat sang sekretaris, karena menurutnya, sekretaris nya ini cukup berdedikasi dalam pekerjaan, sayang jika harus kehilangan kinerja karyawan seperti dia.
"Maaf pak. Saya mau mengundurkan diri, bukan cuti.."
Revand menghela nafas.
"Baik lah. Nanti gaji terakhir kamu akan segera ditranfer berikut bonus karna kamu karyawan yang baik, jika kamu mau kembali, silahkan disini selalu ada tempat untuk kamu bisa bekerja...!"
"Terimakasih pak...!"
Sang sekretaris membungkuk hormat lagi kepada Revand dan Roy. Lalu memutar tubuh dan segera keluar dari ruangan Revand.
Diluar....
"Saya sudah mengundurkan diri bu. Jangan lupa kompensasi besar yang ibu janjikan..."
Sang sekretaris bicara seperti itu pada Gisella.
"Tentu saja .."
Gisella meminta wanita itu segera pergi. Gadis itu tersenyum penuh arti.
Gue akan jadi sekretaris lu Revand...
Note: Kesuksesan akan membawa berkah, jika diraih dengan cara yang baik.
π HALLO PEMBACA SETIA SANG PELAKOR, EPISODE INI AUTHOR MAU BIKIN KUIS, KHUSUS BUAT KALIAN YANG SETIA BACA KARYA SAYA INI π CARANYA JAWAB PERTANYAAN DIBAWAH INIπ TULIS DIKOLOM KOMENTAR EPISODE INI YA. KUIS INI DITUTUP PADA HARI JUMAT TGL 7 AGUSTUS 2020. JADI MELEBIHI TGL ITU KOMENTAR TIDAK AKAN DISELEKSI YA.
__ADS_1
BERSAMBUNG