
Gisella duduk dihadapan Revand dengan wajah kusut. Masalahnya kini bertambah, ia terusik dengan pria bernama Pram yang akan dijodohkan dengan nya, serta tuntutan bos ia dan Revand menyoal proyek besar mereka, yang harus bisa merangkul perusahaan milik Zill.
Rasanya, otaknya terasa pecah jika memikirkan itu semua.
"Vand. Pria itu perlu diberi perhitungan, biar dia berhenti berlagak sombong, gara gara dia, kita di deadline, stres tau gue..!!"
"Lu bantu gue mikir jalan keluar nya, jangan mikir hal hal melenceng melulu, bagaimana caranya kita serang dia dengan potensi kita..!"
Revand mengucapkan terima kasih ketika pesanan makanan nya datang. Gisella menatapi Revand heran. Mereka sekarang ada dikantin kantor.
"Lu tumben makan di kantin ..? Tau gitu gue bawain lu bekal Vand, Sherlin nggak buatin lu bekal..?"
"Lagi malas gue,"
Revand menjawab singkat, sembari mulai menikmati menu makan siangnya dengan setengah hati.
Tiba tiba ..
"Eh, belakangan ini makanan utama kantin kita enak enak ya, beda dengan biasanya, katanya pemilik kantin ini termotivasi untuk membuat perubahan rasa di menu mereka,"
Dua orang karyawan kantor dimana Revand dan Gisella bekerja duduk tidak jauh dari tempat Revand dan Gisella duduk. Ucapan mereka terdengar jelas ditelinga Revand maupun Gisella.
"Kalau menunya enak ginikan kita juga puas makan disini, nggak perlu bikin repot istri buatin bekal, kita juga jadi semangat kerja..!"
"Iyalah. Kan bos kerja sama dengan restoran yang baru buka itu, jadi kantin ini nggak jadi dieliminasi, semoga aja selamanya, enak gini..!"
Sialan. Mereka pada bicarain masakan Sherlin ...
Gisella memaki dalam hati. Sedang Revand, menatap menu dihadapan nya. Benar juga. Meskipun tidak membawa bekal, toh menu utama dikantin ini juga dari restoran Rei, yang juga pastinya hasil olahan istrinya. Revand sampai melupakan itu. Pantas aroma masakan yang ada dihadapannya sekarang sungguh nikmat.
Tapi rasa nikmat itu ternodai perasaan kesalnya pada Sherlin, karena pagi tadi, istrinya itu tetap berangkat untuk bekerja, padahal tadi malam ia sudah melarang Sherlin untuk bekerja.
"Vand. Lu berantem sama Sherlin gegara dia kerja..?"
"Gue juga bingung. Sebenarnya gue ini egois mungkin, gue langsung kagak suka ketika mereka kagak berhasil membujuk Zill, gue langsung pengen Sherlin berhenti kerja..!"
"Gue perhatiiin selama ada Zill itu lu suka uring uringan. Lu cemburu ama dia..! Atau ini hanya karena lu kesal karena dia buat kita jadi punya masalah..?"
"Dua duanya...!"
Gisella tersenyum.
"Perasaan itu bikin lu bisa membuat ide untuk menjatuhkan dia Vand,"
"Kan gue minta lu bantu gue lawan dia dengan potensi, bukan lewat jalan beginian..!"
Lewat potensi..? Gimana gue bisa jelasin ke Revand, gue mana bisa melawan musuh dengan prestasi, gue jadi sekretaris kan karna rekomendasi melulu, bukan karna gue punya potensi...
Gisella membatin.
"Lu mau karir lu abis gara gara dia ..?"
"Ya enggaklah...!! Gue meraih karir gue yang sekarang bener bener dari bawah, gue berjuang. Sherlin tau itu..!!"
__ADS_1
Sahut Revand tegas.
"Tapi posisi kita sekarang sedang diujung tanduk Vand, bos bilang kalau kita nggak bisa mengatasi ini, proyek ini akan diserahkan pada orang lain.."
Kedua telapak tangan Revand mengepal mendengar ucapan Gisella. Hal itu juga yang membuat nya stres belakangan ini. Kesalnya Sherlin pun tidak bisa membujuk Zill untuk mau bekerja sama dengan perusahaan mereka. Hingga hal itu membuat ia dan Gisella stres.
"Apa yang lu rasakan saat abis berantem dengan istri lu..?"
"Ada perasaan sedih, rasa bersalah tapi juga sedikit nikmat yang aneh...!"
Sahut Revand jujur. Ia memang merasa kan perasaan itu setiap kali berselisih dengan istrinya. Tapi ia tidak mengerti, kenapa Gisella menanyakan hal demikian.
"Dalam hubungan itu perlu kerikil Vand, agar kualitas hubungan itu teruji, kalau lurus lurus aja, hubungan juga akan monoton, berantem dikit wajar, toh ntar juga kalian baikan, pernah nggak lu dengar, pertengkaran itu bumbu rumah tangga, ortu gue juga suka bertengkar, tapi buktinya pernikahan mereka awet, lu lihat deh rumah tangga beberapa artis, terlihat adem, tapi tiba tiba aja cerai. Karena rumah tangga mereka selalu lurus lurus aja,"
Hal yang sama kembali dibahas Gisella. Ada dua perasaan yang bergolak didada Revand saat ini. Perasaan menyetujui ucapan Gisella, tapi juga membantah nya.
"Main api dikit Vand, biar lu tau seberapa dalam cinta Sherlin ama lu..!"
"Maksud lu...?"
"Lu tes perasaan Sherlin sedalam apa dengan lu, dengan cara lu main api dengan wanita lain,"
"Gila lu...! Sherlin cinta ama gue, buat apa gue ngetes hal itu lagi...!!"
"Buktinya, dia tetap kerja padahal lu udah menyuruh dia untuk berhenti kerja..!!"
Sial...
Revand mengumpat didalam hati.
"Masih 90 persen, pria itu mau ngetes rasa menu restoran mereka dulu baru memutuskan..!"
"Sip, lu akan lihat nanti kenyataan nya, kalau Zill mau bekerja sama dengan restoran mereka, terus Sherlin masih ngotot kerja disana, artinya perasaan cintanya keelo itu patut dipertanyakan..!"
Tidak. Sherlin hanya mencintai ku. Tidak mungkin mencintai pria lain...
Bantah Revand dalam hati. Tapi ia penasaran juga, bagaimana reaksi Sherlin ketika nanti ia mencoba kembali untuk melarang istrinya tersebut untuk bekerja, ketika nanti Zill ternyata memutuskan untuk bekerja sama dengan restoran mereka. Masih patuh padanyakah, atau justru sebaliknya....?
***
Zill sudah duduk di kursi yang telah disediakan khusus untuk nya oleh Rei dan Sherlin. Menu sedang disiapkan. Tentu saja Sherlin dan Rei langsung yang turun tangan untuk mengerjakan.
Beberapa saat kemudian. Menu sudah siap dihadapan mereka. Mata Zill meneliti menu tersebut satu persatu. Pria itu menatap satu piring menu yang sebenarnya tidak asing ia dengar dan lihat, akan tetapi asing untuk lidah nya karena ia pernah mencoba menu itu, namun tidak membuat lidah nya puas.
"Saya tidak mau mencicipi ini..!"
Tolak Zill pada Sherlin dan Rei yang ada dihadapannya. Untuk menyaksikan apakah ia puas atau tidak dengan hasil masakan mereka berdua.
"Sebagai masyarakat yang tinggal di Kalimantan, sebaiknya anda harus mencicipi menu itu, mungkin anda pernah mencicipi nya dan tidak suka, hingga anda tidak ingin mencicipi nya lagi, akan tetapi beda orang beda rasa. Jadi selain menu favorit anda yang anda pesan telah kami siapkan, mohon untuk mencicipi menu ini juga, setelah itu kami akan menerima apapun keputusan anda ..!"
Rei berusaha untuk membujuk. Restoran nya memang menawarkan beberapa menu internasional, seperti masakan China, dan Jepang, menu itu berbaur dengan menu menu Nusantara, dan Rei serta Sherlin menerapkan menu ciri khas daerah tempat mereka tinggal, agar orang yang awalnya merasa asing dengan menu itu jadi menyukai nya.
__ADS_1
Mandai. Kulit buah cempedak yang difermentasi ini adalah salah satu menu ciri khas Kalimantan. Menu ini tidak asing didaerah Kalimantan, walau asing diluar pulau Kalimantan, akan tetapi meskipun hanya berbahan dasar kulit yang notabene limbah dari buah Cempedak, namun masyarakat Kalimantan berhasil membuat menu berbahan dasar kulit cempedak yang difermentasi ini, menjadi olahan menu yang enak untuk disantap.
Banyak pendatang dari luar Kalimantan, yang awalnya enggan mencicipi, karena dinilai aneh, akhir nya jadi menyukai. Tapi tentu saja, untuk mengolah menu tersebut, butuh tehnik yang khusus. Salah tehnik, maka Mandai yang dihasilkan juga tidak akan sempurna.
Sherlin sudah mengolah Mandai tersebut secara khusus, baik dari segi fermentasi, sampai menjadi sebuah menu yang sekarang tersaji dihadapan Zill. Namun Zill belum berniat untuk mencicipi nya, padahal sejak tadi, ia sudah sibuk menikmati menu lainnya dan terlihat sangat puas.
"Kalau menu Mandai ini tidak enak, kalian tau apa akibatnya...?"
Zill mencoba untuk bernegosiasi.
"Resiko apapun akan kami terima direktur..!"
Sahut Rei cepat. Zill menghela nafas. Ditatapnya Sherlin dan Rei bergantian.
"Menu yang lain saya merasakan puas luar biasa, hanya ada beberapa restoran tertentu, yang bisa mengolah menu favorit saya ini dengan sempurna, dan kalian berhasil membuat saya merasa puas dengan olahan kalian, akan tetapi resiko kalian menginginkan saya untuk mencoba menu yang sudah saya tolak, maka jika rasanya tidak memuaskan saya, kerja sama kita juga akan batal...!"
Sherlin spontan berpaling kearah Rei. Ia berharap, Rei tahu maksudnya itu. Bagaimana pun ia tidak ingin usaha Rei yang menginginkan Zill mau bekerja sama dengan mereka, jadi batal gara gara menu Mandai yang ia sajikan. Tapi Rei cuek. Seakan yakin, olahan Sherlin tidak akan pernah mengecewakan, ia dengan tegas menerima tantangan dari Zill.
Rei, nekat amat sih kamu. Dia mana mungkin suka menu ini, lidahnya udah biasa makan makanan Jepang..
Sherlin berteriak dalam hati. Zill meraih sendok. Mengambil Mandai yang ada diatas piring tersebut. Wajahnya masih terlihat sangat enggan saat mendekat kan sendok itu kemulutnya. Ekspresi nya seperti sedang dipaksa memakan makanan yang sudah dibubuhi racun.
Dan ...
"Ini enak. Beda dengan yang pernah gue cicipi...?"
Tidak disangka, Zill bisa mengucapkan kalimat itu setelah memasukan sepotong mandai itu kedalam mulutnya. Bukan hanya itu, tangannya bergerak lagi dan lagi menyendok Mandai oseng diatas piring tersebut. Hingga tidak terasa tandas separuh.
Pria itu terlihat seperti menahan rasa pedas dimulutnya. Tapi ekspresi puas sangat terlihat di wajah nya.
Sedang Rei dan Sherlin yang mendengar ucapan Zill yang tidak lagi formal langsung bersorak kegirangan.
"Direktur Zill bersedia kerja sama dengan kita, horeee...!!"
Rei tidak bisa menahan perasaan gembira nya, saat menyadari Zill mengubah cara bicara nya yang semula formal menjadi santai. Sedang Zill, tidak perduli dengan ekspresi kegirangan keduanya, ia terus saja menikmati oseng Mandai tersebut, sembari sesekali berdecak menahan rasa pedas dimulutnya.
"Mandai kalian rasanya enak, asin dari fermentasi itu berpadu tepat dengan bumbu yang lain, tekstur Mandai nya kagak terlalu lembek, mirip daging sapi yang dioseng pedas. Gue dulu pernah mencoba tapi cenderung asin, semakin digigit semakin asin, hingga menenggelamkan rasa bumbu yang lain, kalau yang ini sempurna, gue puas. Arigatou...!!"
Pria itu memberikan pendapat nya dengan memakai bahasa yang santai, diakhiri dengan ucapan terima kasih dalam bahasa Jepang. Ia terlihat sangat puas sekali.
Gilaaaaa, keren gilaaa, ni orang gue fikir kaku aja bisanya, ternyata dia bisa bahasa gaul njiiir...
Rei berteriak dalam hati...
Rei, selamat ya, aku senang, aku bisa memberikan sesuatu yang membanggakan kamu, tapi maaf Rei, mungkin ini masakan terakhir yang bisa aku masakin untuk kamu, Revand mencabut izinnya Rei, aku hanya bisa patuh padanya karena istri harus patuh dengan suami...
Sherlin membathin dengan perasaan sedih yang tiba tiba menyelimuti nya...
Note: Kepuasan itu akan kita dapat dan rasakan, ketika kita bisa membuat orang lain bahagia atas apa yang sudah kita lakukan. Cintai masakan asli daerah kalian ya gaes๐ MERDEKA ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ฉ
๐Yang demen Mandai siapa๐๐ author penggemar Mandai๐๐๐
๐ Pembaca yang baik pasti tahu isi hati author nya ๐
__ADS_1
๐ pengumuman pemenang kuis event " SANG PELAKOR" akan diumumkan insya Allah di episode 41, keputusan juri tidak bisa diganggu gugat๐ tapi kalian yang berpartisipasi, warrbiasah ๐
Bersambung