
Revand tidak mampu membuat Sherlin keluar dari kamar mandi. Diteriaki dari luar pun sang istri sengaja menulikan telinganya. Hal itu membuat Revand semakin dikepung rasa bersalah. Rasa bersalah bercampur perasaan emosi. Kenapa disaat ia punya masalah dikantor, ia juga menciptakan masalah dirumah dengan istri nya...?
Kalut. Revand memilih keluar dari kamar. Tidak perduli masih memakai pakaian kerja. Pria itu ingin mencari udara segar. Otaknya benar benar sangat stres sekarang.
"Revand, kenapa malam malam begini kamu diluar..? Masih belum ganti baju pula, Sherlin tadi nunggu kamu pulang kerja lho, mama nggak bisa nemenin, udah keburu ngantuk..!"
Revand tergagap ketika sebuah suara membuyarkan lamunan nya tentang kekalutan nya. Pria itu menoleh. Ibunya sudah berdiri dibelakang nya.
"Oh, nggak papa ma, aku cuma cari angin,"
Sebuah alasan yang tidak masuk akal sebenarnya, karena dikamar nya pun bisa mencari angin. Bukankah kamar mereka dilengkapi dengan balkon yang luas. Kapan pun ingin menghirup udara segar, mereka bisa melakukan nya tanpa harus keluar dari kamar segala.
"Cari angin, atau sedang menghindari istri kamu..?"
Kata kata ibunya membuat Revand untuk sesaat salah tingkah.
"Vand, mama lebih berpengalaman soal itu daripada kamu. Dulu papamu setiap kali bertengkar dengan mama, selalu keluar kamar untuk menghindari mama, jadi sekarang mama yakin, kamu juga sedang bertengkar dengan istri kamu hingga kamu keluar kamar dijam seperti ini, ada apa..? Kamu bisa cerita dengan mama masalah yang kamu hadapi sekarang..."
Tidak. Kalau aku cerita, mama pasti semakin menilai Sherlin macam macam..
Hati Revand bicara. Pria itu menarik nafas.
"Cuma masalah kecil ma, aku yakin besok juga selesai, kami hanya perlu meredakan emosi aja, bukan saling benci, kebetulan juga, sekarang aku punya banyak masalah dikantor. Mungkin itu sebabnya, aku tadi nggak bisa mengontrol emosi ku sendiri.."
Terang nya pada sang ibu.
"Tugas istri itu harus bisa meredam kekalutan suami saat suami sedang punya masalah dikantor, bukan justru menyulut emosi hingga tercipta pertengkaran. Sherlin ini bagaimana sih, dia seharusnya menghibur kamu, bukan justru membuat kamu jadi emosi..!"
"Ma, Sherlin nggak salah. Kami cuma salah paham, biasalah kalau berumah tangga pasti ada aja hal yang bikin suami istri bertengkar kan, itu biasa,"
"Akan jadi tidak biasa kalau istri selalu menyulut emosi suami, kamu sudah lelah bekerja, tapi istri kamu justru membuat kamu semakin lelah saat pulang kerumah, istri kamu itu tidak mengerti cara menyenangkan suami, padahal dirumah pun apa sih yang bisa dia kerjakan..? Hanya mengatur rumah tangga, makanya dia tidak bisa berfikir intelek, beda dengan Gisella, dari penampilan saja, dia wanita yang berkelas, andai kamu lebih dulu kenal Gisella, mama mungkin lebih merestui kamu dengan Gisella.."
"Ma..! Cukup. Aku nggak mau dengar hal itu lagi dari mama, istri ku itu cuma Sherlin, sampai kapanpun hanya Sherlin, jadi mama nggak usah berfikir macam macam, Sherlin itu yang terbaik untuk aku ma..!"
Revand jadi semakin emosi ketika mendengar sindiran dari sang ibu menyoal istrinya. Hal ini membuat pria itu segera meninggalkan ibunya untuk kembali masuk kedalam. Akan semakin emosi dia jadinya, jika terus bicara dengan ibunya seperti itu. Nanti yang ada, bukan hanya dengan Sherlin ia bertengkar, tapi juga dengan ibunya. Dan Revand tidak ingin itu terjadi.
Revand masuk kedalam kamar kembali, untuk menghindari prasangka ibu dan ibu mertuanya, Revand memilih untuk melawan keegoisan nya. Ia harus meminta maaf pada sang istri, sebelum masalah ini jadi semakin berlarut larut.
Tiba dikamar, ia mendapati Sherlin sudah berada diatas tempat tidur. Wanita itu menutup seluruh tubuh hingga kepala nya dengan selimut. Revand memberanikan diri menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya. Membelai kepala Sherlin sembari mengucapkan maaf berulang kali. Hal itu membuat Sherlin membuka kedua matanya. Sebenarnya wanita itu tidak sedang tidur. Ia hanya berpura pura tidur karena tidak tahu harus melakukan apa saat mendapati suaminya tidak ada dikamar mereka. Ingin keluar kamar, ia takut ibu dan ibu mertuanya curiga. Karena itulah, Sherlin memilih untuk melakukan itu saja. Sambil berharap, Revand akan kembali. Ternyata harapan nya terkabul...
"Aku lagi banyak masalah dikantor, maaf kalau masalahku itu jadi menyeret kamu juga, maaf juga karena itu membuat aku memperlakukan kamu dengan kasar, jujur aku menyesal sayang..."
Ucap nya dihadapan sang istri. Sherlin menatap wajah suaminya. Ingin melihat kedasar hati sang suami lewat sorot mata lembut pria tersebut. Jemari tangan Revand terangkat. Mengusap mata sang istri yang terlihat sembab. Revand sedih, jika istrinya mengeluarkan air mata karena bertengkar dengan dirinya.
"Jadi bukan karena kamu cemburu dengan Rei kan...?"
Revand menggeleng.
"Aku selalu cemburu kalau ada pria didekat kamu termasuk Rei, tapi bukan itu yang tadi membuat aku jadi emosi. Aku stres dengan masalah dikantor, aku hanya mau membuang stresku dengan kamu. Tadinya, Gisella ngajakin aku minum minum dibar, dia juga sama stress nya seperti aku, tapi aku ingat kamu sayang, aku memang bukan pria alim, tapi aku udah janji dengan kamu untuk berubah jadi lebih baik lagi, makanya aku tolak ajakan Gisella, hanya mencari mu, untuk membuang stres. Tapi, sikap ku bikin kamu terluka, maafkan aku ya..!"
Sherlin terdiam. Revand sedang bicara jujur dihadapan nya. Ia bisa melihat wajah tampan suaminya begitu kusut dan semrawut. Menandakan pria itu memang sedang stres seperti yang dikatakan nya.
Aku juga stres dengan sindiran mama kamu Revand, tapi memang kalau karena hal ini kita jadi bertengkar itu sama aja kita nggak bisa dewasa menyikapi persoalan kita...
Sherlin berkata dalam hati sembari menangkap jemari suaminya yang tengah membelai wajahnya. Digenggamnya jemari tangan itu erat.
"Aku juga minta maaf. Jujur, aku benar benar nggak mau melakukan itu kalau kita sedang emosi..."
__ADS_1
Ucap nya terbata.
"Iya aku tahu. Maaf ya, semoga aku bisa merubah kebiasaan buruk ku itu, tapi kamu juga harus janji, jangan sampai buat aku cemburu terus..."
"Cemburu kamu itu harus dikontrol, masa Rei bikin kamu cemburu..."
Bukan Rei Sherlin. Tapi Zill. Bagaimana caranya untuk bisa bicara hal ini tanpa bikin kita bertengkar....
Revand membathin lagi.
"Vand, Rei punya rencana buat buka restoran, kalo aku mewujudkan impian mama kamu untuk bisa buka restoran, gimana pendapat kamu...?"
Mumpung situasi sedang bersahabat, Sherlin langsung membicarakan hal itu pada Revand.
"Kan aku udah bilang. Kamu nggak usah kerja, kamu serius dengan ucapan kamu tadi yang mau kerja karena nggak mau aku remehkan...?"
Sherlin menarik nafas.
"Nggak juga. Tadi itu aku juga lagi emosi. Ini emang hal yang mau aku omongin kekamu, nggak ada hubungannya dengan pertengkaran kita tadi ..."
"Kalau emang buka restoran itu aku restui, kenapa juga kamu join dengan Rei, lebih baik solo kan, kamu bosnya sendiri...!"
"Vand, buka restoran itu nggak segampang yang kita pikir, harus punya partner yang paham bener soal ini, kalopun aku buka restoran sendiri, aku juga pasti bakal ajak Rei buat join, dia pengalaman di bidang ini Vand,"
"Iya, kamu benar, Rei lebih berpengalaman dibandingkan aku soal itu, akukan taunya makan, tapi aku tetap keberatan sayang, ntar kamu kecapekan, terus susah hamil...!"
"Aku tau kok. Aku ngomong gini cuma sekedar share aja, kamu izinin Alhamdulillah, nggak, juga nggak papa. Cuma, aku takut aja. Aku bukan menantu yang baik buat mama..."
Telunjuk Revand spontan menempel di bibir Sherlin saat wanita itu bicara seperti itu.
"Mama itu sayang sama kamu, mungkin untuk mengambil hati beliau, kamu nggak perlu ikut ikutan kerja, kamu hanya perlu berdandan dihadapan beliau, mama memang bawel untuk hal itu..."
"Sayang, namanya orang tua, bukankah kita selalu ingin menyenangkan hati para orang tua kita...? Kamu mau berpenampilan seperti apapun dimata aku selalu menarik, tapi untuk mama, mungkin kamu harus buat pengecualian.."
Sherlin terdiam.
"Sher, mau gaun apapun itu, kamu bisa membeli nya, pakai aja uang semau kamu, kamu juga boleh kok ajak mama kamu kesalon buat perawatan. Mari kita bahagiakan orang tua kita, selagi mereka masih ada disekitar kita...!"
Kembali Sherlin menarik nafas.
"Tapi kalau menurut kamu, penampilanku ini gimana sih...? Aku sama Gisella menarik mana dimata kamu...?"
"Kenapa kamu membandingkan diri kamu dengan Gisella...?"
"Karena mama kamu membandingkan aku dengan Gisella..!"
"Dimataku, kamu itu menarik. Mau pakai apapun kamu, buatku kamu selalu menarik, apalagi....."
"Apalagi apa ...?"
Revand berbisik ditelinga Sherlin...
"Apalagi polos tanpa busana tiap malam dihadapan ku, aku jauh lebih suka...!"
Revand mengaduh ketika Sherlin mencubit lengan nya sekuat tenaga. Wajah Sherlin memerah.
"Dasar mesum...!!"
__ADS_1
Kata sang istri sembari menutup wajahnya dengan selimut. Revand tidak terima di cubit sesakit itu oleh Sherlin. Ia menarik selimut yang menutupi wajah istrinya, dan menyerang istri nya dengan ciuman ciuman nya. Hal ini membuat Sherlin menjerit tertahan.
"Revaaaaand, stop dulu, mandi dulu sana biar segar...!"
Katanya setengah berteriak.
"Cium dulu...!"
"Duuh, banyak permintaan, sana mandi dulu ih..!"
Sherlin memukul Revand dengan bantal yang dipakai nya, berusaha untuk membuat sang suami menyudahi serangan nya. Revand menyerah. Ia tahu, Sherlin tipe wanita pencinta wewangian, mungkin keringat nya sekarang membuat wanita itu jadi kurang bergairah meski pun dirinya sendiri dalam keadaan apapun selalu bergairah. Tapi Revand tidak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti tadi. Memaksa Sherlin untuk berhubungan intim. Ia ingin Sherlin melayani nya dengan ikhlas, bukan karena terpaksa...
"Oke, oke, aku mandi. Tapi janji, ntar beri aku jatah 5 kali..!"
"Apa...?"
Sherlin kaget dengan durasi yang diinginkan suami nya. 3 kali saja sudah sangat melelahkan buatnya apalagi 5 kali, suaminya itu memang selalu punya gairah yang besar setiap kali mereka melakukan hubungan intim.
"Vand. Jangan 5 kali, kamu mau bikin aku pingsan...!"
Sherlin berusaha menawar.
"Ya udah. 3 kali, tapi plus kamu servis aku...!"
"BUKK...!!"
Bantal guling kembali melayang kearah Revand. Ketika Revand mengatakan hal demikian. Revand terbahak.
"Kamu itu ya, ngelunjak...!"
Rajuk Sherlin spontan.
"Jadi pilih 5 kali aku yang servis kamu, atau 3 kali tapi kamu yang servis aku...?"
"Aaah, udah. Dasar suami mesum...! Mandi sana...!"
Revand tertawa. Puas sekali ia bisa menggoda istrinya, hingga membuat wajah Sherlin jadi tidak karuan menerima obrolan ambigu yang ia ciptakan. Istrinya ini memang dikenal tidak pernah membahas hal hal seperti ini dalam keseharian. Wanita itu terlalu pemalu...
"Vand, konsep restoran yang mau dibuka Rei itu beda sama restoran pada umumnya lho. Dia minta tolong aku buat interogasi kamu, gimana pendapat kamu tentang kantin kantor, karena rencana dia, restoran dia ini bakal merangkul beberapa perusahaan batubara untuk membuat perusahaan itu menyuplai makanan dari restoran dia. Meski kamu ngelarang aku buat kerja, aku bolehkan buat bantu ngasi masukan buat dia terkait hal ini...?"
Revand seketika terdiam. Ucapan Gisella berkelebat diotaknya...
Kita minta tolong istri lu buat membujuk Zill Vand...
Ah, sial. Revand memaki dalam hati.
Kalau aku izinkan Sherlin kerjasama dengan Rei, apakah itu berarti aku bisa membuat Sherlin membujuk Zill, agar pria itu mau kerja sama...? Merangkul beberapa perusahaan batubara. Aku yakin perusahaan Zill adalah sasaran utama yang dituju Rei, karena perusahaan itu punya ribuan karyawan, tapi kenapa aku masih tidak rela jika harus melihat Sherlin yang melakukan nya....
Note : Selesai kan masalah sesegera mungkin. Jangan menilik masalah itu besar atau kecil baru mulai menyelesaikan. Karena masalah kecil yang diabaikan, akan jadi menumpuk, dan akan menjadi sebuah masalah yang lebih besar...
👉 pembaca yang baik pasti tahu apa yang diinginkan author nya😘
👉 BUAT KE 21 PESERTA EVENT KUIS SANG PELAKOR, JAWABAN KALIAN SEDANG DISELEKSI PARA JURI. TERIMA KASIH SUDAH BERPARTISIPASI 💝 SEMOGA MENJADI SALAH SATU YANG TERBAIK 💝
JURI 1 👉 CO OWNER FOUNDER LEADER 2 GSB, OWNER 🌟 UVSS 🌟, CO OWNER $ INTERNATIONAL & PENULIS NOVEL SANG PELAKOR ( SAYA SENDIRI)
JURI 2 👉 OWNER $ INTERNATIONAL, MEMBER SENIOR GSB & SPONSOR EVENT KUIS INI : ZILL RETA.
__ADS_1
BERSAMBUNG