SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 90. BUKTI CINTA (2)


__ADS_3

Revand tidak bisa menahan rasa sedih nya melihat tubuh Sherlin yang terbaring tidak sadarkan diri. Ibu Sherlin, dan juga Zill serta Rei, sudah menceritakan apa yang terjadi, ketika ia baru sadar tadi. Sementara Gisella, dibaringkan diatas tempat tidur, dimana tadi Revand berbaring, karena gadis itu masih tidak sadarkan diri.


Zill, awalnya ingin meminta dokter untuk memeriksa keadaan Gisella. Meskipun, kesal dan marah atas apa yang sudah terjadi, tapi Zill tidak bisa juga membiarkan gadis itu demikian, karena biar bagaimanapun, Gisella gadis yang dicintai oleh sahabat nya, Pram.


Pram sedang dalam perjalanan menuju Samarinda. Pria itu berniat untuk menjemput Gisella, karena ayah Gisella telah meninggal. Jika tidak karena Pram, Zill sudah menyeret Gisella kejalur hukum malam ini juga, hanya karna mengingat Pram sahabat nya, urusan itu akan mereka bicarakan lagi. Yang sekarang difikirkan Zill adalah, bagaimana caranya agar mereka bisa membuat Sherlin sadar, dalam waktu kurang dari 2×24 jam.


"Aku akan menemui dukun itu ma..!"


Revand mengucapkan hal itu, setelah usai berbisik ketelinga istri nya agar mau bertahan untuk nya.


"Tapi itu sangat berbahaya nak...? Sherlin juga tidak mungkin mengizinkan kamu melakukan nya..!"


Bantah sang mertua.


"Benar Vand, biar kami yang akan menemui orang itu, jangan lu..!"


Zill ikut bicara.


"Tidak bisa nak, Zill, tugas ini hanya Revand yang bisa melakukan nya, karena target utama nya Revand, hanya saja, ini sangat berbahaya, karena kita tidak tahu, bagaimana nanti reaksi dukun itu saat melihat kedatangan Revand...!"


Mertua Revand menjelaskan pada Zill.


"Ya udah, nggak ada waktu lagi kan, kita harus cepat melakukan nya..!" Tambah Revand.


"Masalah nya, Gisella pingsan, bagaimana kita tahu dukun dia dimana..!"


Rei ikut bicara. Revand mengeluarkan ponsel dari saku celana nya. Lalu, ia terlihat menghubungi seseorang...


Kemudian...


"Tadi, gue udah tanya Roy, belakangan ini, gue udah meminta dia buat menyelidiki dukun yang dipakai Gisella, sebenarnya, sejak awal, gue emang udah berniat ingin melakukan ini, hanya aja malam ini Gisella ternyata melakukan hal yang lebih mengerikan dibandingkan sebelumnya, dan tadi, Roy bilang dia udah tau dukun itu, tapi besok pagi baru bisa kesana, karna malam malam begini, bikin masyarakat disekitar situ ribut ntar...!"


"Sekalian aja ditangkap rame rame, kan beres...!"


Wanita suruhan Gisella, ikut bicara setelah sedari tadi hanya diam menyimak.


"Tidak bisa. Jika itu kita lakukan, kita tidak bisa membuat Sherlin sadar, masyarakat bisa menangkap dia, tapi ilmu itu tetap ada menyerang Revand dan Sherlin, juga menguasai Gisella...!!"


Ibu Sherlin bicara. Dan semua yang ada disitu manggut manggut membenarkan.


"Ya udah, besok gue akan menemani Revand buat menemui dukun itu, kalian semua istirahat saja dihotel ini, ada beberapa kamar yang bisa kalian pakai untuk istirahat, gue mau kedepan, kasian mami lelah mengganti kan gue..!" Kata Zill akhirnya.


"Tunggu dulu, menurut ibu, sudah bagus seperti ini. Diruang yang sama, karena kita tidak ada yang tahu, apa lagi yang terjadi setelah ini, jika kita bersama dalam satu ruangan, kita bisa saling menjaga, apalagi kondisi Sherlin dan juga Gisella harus terus di pantau, kita tidak tahu, Gisella pingsan karena lemah atau sebaliknya...!"


Ibu Sherlin mengucapkan hal itu dihadapan semuanya. Dan Zill merasa, apa yang diucapkan oleh ibu Sherlin itu ada benarnya juga.


"Baiklah, kalau begitu, tetap disini dan informasi kan apa yang terjadi disini, Rei lu tetap disini soal tugas lu didepan biar anak buah lu yang mengatasi, dan lu yang disana...!"


"Namaku, Sari Presdir...!"


Wanita suruhan Gisella mengucapkan namanya pada Zill, karena tidak ingin menyulitkan orang untuk memanggil nya.


"Oke, Sari. Kamu mau duit...? Jaga Gisella selama dia disini, awasi pergerakan dia, kalau kamu lalai, kamu akan tau akibatnya..!"


Wajah wanita yang tadi ingin membunuh Sherlin, memancarkan aura kebahagiaan mendengar ucapan Zill. Tidak menyangka ia diberi tugas, dan diberi imbalan pula.


"Terimakasih Presdir, anda baik sekali, aku berjanji akan melakukan tugas dengan baik...!!"

__ADS_1


Zill tidak bereaksi, setelah pamit pada ibu Sherlin dan juga Revand, pria tinggi itu keluar dari ruangan itu, untuk menutup acara didepan agar tamu tamu tidak merasa diabaikan, diikuti Gita, yang juga ingin menemui ibu Zill. Banyak sekali yang ingin ditanyakan gadis itu tentang masalah ini, namun Gita tahu, ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal yang ingin ia ketahui.


Revand duduk ditepi pembaringan istrinya. Menggenggam jemari tangan Sherlin, dan mencium nya. Terlihat sekali kekhawatiran diwajah Revand, meskipun saat ini seluruh tubuh nya juga terasa sakit seperti habis diinjak ribuan banteng yang mengamuk.


"Kamu harus bertahan sayang...!"


Bisik Revand sembari mencium kening istrinya dengan airmata yang menggenang. Revand tidak sadar, sedari tadi Sari, yang bertugas menjaga Gisella, memperhatikan nya.


Luar biasa pria ini, melewati rasa sakit akibat diguna guna Gisella, tapi tetap kukuh untuk bertahan. Pantas, Gisella tergila gila, sudah ganteng, setia sayang istri pula, tapi wajar sih, istrinya juga punya hati yang mulia, wanita berhati bersih yang memang mau berkorban untuk orang lain, Revand beruntung mendapatkan istri seperti Sherlin, begitu juga sebaliknya, yang jadi biang disini Gisella, kenapa harus merusak indahnya hubungan suami istri ini dengan obsesi nya itu. ..


Wanita itu membathin, sembari terus menatapi Revand yang masih terus memeluk tubuh istrinya.


"Revand, kamu harus istirahat nak. Biar ibu yang jaga Sherlin. Kamu pasti sangat lelah karena kondisi kamu tadi begitu parah..!"


Ibu Sherlin mengucapkan hal itu pada Revand.


"Iya ma, mama yang harus istirahat, aku mau shalat hajat dulu, untuk bermunajat, agar Allah mau memberikan aku kesempatan bersama Sherlin lagi diesok hari dan seterusnya...!"


Habis mengucapkan hal itu, Revand beranjak menuju kamar mandi, untuk mengambil air wudhu. Ibu Sherlin tersenyum bahagia mendengar apa yang dilakukan menantunya.Bersyukur, menantunya bisa semakin mendekatkan diri pada Tuhan, tanpa harus dipaksa paksa.


***


Keesokan harinya, Zill dan Revand sudah berangkat menuju rumah Roy agar mereka bisa langsung menemui dukun yang disewa Gisella. Sebelum berangkat, ibu Sherlin sudah mewanti-wanti keduanya agar mampu mengontrol hati dan fikiran mereka, dan tidak lupa untuk terus berdoa. Zill meminta ibunya untuk menemani ibu Sherlin untuk menjaga Sherlin, sementara Rei pamit karena harus mengurus restoran yang tidak bisa diserahkan pada Amel saja seorang diri.


Sebelum pergi, Zill sudah berpesan pada ibunya, bahwa Pram akan datang untuk mengurus Gisella. Zill tidak ingin ibunya akan mempersulit Pram untuk membawa Gisella , karena ia tahu, ibunya itu pasti sangat murka pada Gisella.


Tiba dirumah Roy, Roy sudah menunggu. Melihat isyarat dari Revand yang membuka kaca mobil milik Zill, pria itu segera bergegas masuk kedalam mobil mewah milik Zill.


Didalam mobil, Revand memperkenalkan Roy pada Zill. Rasa kagum terpancar di wajah Roy, saat berkenalan langsung dengan pria pewaris tunggal perusahaan keluarga Mahendradatta tersebut. Pria yang hanya dilihatnya dimedia itu kini satu mobil dengan nya.


Roy, memberikan alamat lengkap yang diperoleh nya saat melakukan penyelidikan karena Revand yang meminta nya. Tidak berapa lama kemudian, mobil sudah tiba didepan rumah besar sang dukun.


Revand sekali lagi bertanya pada sahabatnya itu. Roy mengangguk yakin.


"Ya sudah, kita turun saja sekarang. Revand,apa lu yakin bisa melakukan ini, wajah lu aja masih pucat begitu...?" Tanya Zill.


"Kagak ada waktu untuk berfikir lagikan, nyawa Sherlin taruhan nya, gue harus melakukan nya...!"


Revand segera turun dari mobil, diikuti oleh Zill dan juga Roy. Mereka segera menghampiri rumah besar yang terlihat sepi tersebut.


Beberapa saat menunggu, pintu terbuka. Ki Robius menatap kearah tamunya satu persatu.


3 pria yang bertamu dirumah dukun Gisella itu juga sama herannya. Karena penampilan dukun itu jauh diluar prediksi yang mana awalnya mereka mengira dukun itu tua dengan penampilan yang menakutkan, yang ini sama sekali tidak terlihat seperti dukun.


"Lu yakin ini orang nya....?"


Revand berbisik pada Roy.


"Kalian mencari orang yang benar...!"


Belum lagi Roy menjawab pertanyaan Revand, pria itu bicara. Mereka dibuat terperangah.


"Bisa mendengar suara hatikah orang ini...?"


Revand berbisik dalam hati.


"Benar, aku bisa mendengar apa yang kalian ucapkan didalam hati, dan aku juga tau apa maksud kalian datang kesini, masuklah dulu...!"

__ADS_1


Ragu, ketiga pria itu masuk kedalam rumah milik dukun yang disewa Gisella. Aura tidak nyaman langsung menyerbu mereka.


"Jika anda tahu, apa maksud kami datang kesini, apa pendapat anda...?"


Saat mereka sudah duduk, Zill melontarkan pertanyaan itu kepada sang dukun.


"Hal yang sia sia..!"


Jawab Ki Robius, yang langsung menyulut emosi Revand.


"Apa kau gila...? Karena uang kamu mau melakukan hal sekeji ini...? Kamu ingin ada yang mati karena ilmu mu ini...!?"


Revand bicara seperti itu dihadapan Ki Robius.


"Aku dibayar, aku melakukan apa yang menjadi tugasku, tapi jujur, baru kali ini aku mendapat lawan yang tangguh, Revand istrimu itu wanita yang luar biasa, dia terlihat lemah, tapi sebenarnya dia sangat kuat, dia mampu menembus alam bawah sadar untuk mencegah Gisella membangkitkan mu. Semua ini karena ketulusan hati yang dimiliki nya, aku kesulitan untuk menghadapi manusia yang punya hati seperti ini. Apa kau tahu..? Kenapa Gisella kalah oleh istrimu..? Karena istri mu tidak pernah membenci Gisella, hatinya tetap menyediakan kata maaf untuk Gisella jika Gisella ingin berubah, sedang kamu..? Kebencian menguasai hatimu, hingga Gisella mudah untuk mempengaruhi mu, namun aku salut padamu, kamu bisa bertahan sejauh ini padahal itu sangat sulit, kau juga punya hati yang sulit untuk ditaklukkan, kau dan istrimu benar benar membuat aku kesulitan untuk membantu klienku...!!"


"Jadi, kalau begitu, anda tidak ada alasan untuk memisahkan pasangan yang saling mencintai dengan tulus bukan...?"


Zill mengucapkan kalimat itu dengan nada suara dingin.


"Sejujurnya, aku menyerah, karena resikonya akan fatal untukku, tapi aku konsisten dengan perintah orang yang membayarku, kau datang kesini pasti sudah tau resikonya Revand. Kau target utama klien ku, hanya ada dua pilihan yang bisa kau lakukan, ilmu ini menginginkan bukti cinta dan ketulusan, istrimu sudah membuktikan cinta dan ketulusan nya padamu, hingga kau bisa sadar, tapi klienku tetap tidak ingin melepaskan mu, hingga aku juga tidak bisa menyudahi peperangan yang menyakitkan ini, jika kau ingin memutus mata rantai ilmu ini, kau yang harus mengorbankan diri mu sendiri, jadi klienku tidak mendapatkan mu, dan istrimu akan selamat dari kematian nya besok...!"


"Jangan ngaco lu dukun sialan...!!"


Roy tidak bisa menerima apa yang diucapkan oleh dukun yang disewa Gisella.


"Jaga ucapan kamu anak muda. Kalian datang kesini kusambut baik, jika kalian menantang ku untuk bertarung aku akan meladeninya, dan lupakan mufakat kita yang tadi...!!"


Ki Robius terlihat marah pada Roy, atas ucapan kasar pria tersebut.


"Tunggu, kalau aku mengorbankan diriku, apakah istriku akan selamat..?" Tanya Revand.


"Tentu saja, istrimu sudah memutuskan untuk mengorbankan nyawanya untuk membuatmu sadar, itu bukti cintanya padamu, berani berkorban untuk orang yang di cintai, tidak egois, namun berhubung klienku tetap memintaku untuk meneruskan rencana nya, bahkan menambah level kekuatan ilmu itu, aku tidak bisa menolak, aku selalu patuh dengan orang yang membayarku, tapi jika kalian bersikeras untuk memutus mata rantai ilmu ini, Revand harus menjadi korban nya, karena dia target utama. Kalau Revand bersedia, maka istrinya akan selamat, Gisella juga terbebas dari obsesi ingin memiliki mu karena ilmu yang kumasukkan kedalam tubuhnya lebur, hal buruk yang akan diterima Gisella jika kamu melakukan hal ini, dia akan menjadi tidak waras, dan mati perlahan karena menderita...!"


"Ini gila...!! Anda sama saja memisahkan dua orang yang saling mencintai...!"


Zill tidak terima dengan penuturan yang diucapkan oleh Ki Robius.


"Bukan aku, tapi yang membayarku, dan iblis yang membantuku, menginginkan pertukaran itu. Jika Revand tidak bersedia mengorbankan diri, maka, istrinya lah yang mengambil peran itu, dia bersedia memutus mata rantai ilmu ini dengan mengorbankan dirinya sendiri, ketika istri mu mati esok hari, maka ilmu itu juga lebur, Gisella tidak akan bisa mengganggu mu lagi, dan ia akan menerima resiko yang akan ia tanggung karena gagal menjalankan misinya untuk mendapatkan mu...!!"


"Aku bersedia. Lakukan apapun asalkan istriku bisa hidup, aku mencintainya, jika aku mati, paling tidak aku tahu ada pria lain yang bisa menjaga nya, tapi jika dia yang mati itu tidak adil untuk nya, karena dialah yang paling menderita disini selama aku mengenal Gisella, aku pernah meragukan ketulusan cinta nya ...!"


Revand bicara seperti itu dengan penuh keyakinan.


"Jangan gila lu Revand, Sherlin kagak akan mau melihat lu melakukan ini...!" Bentak Zill.


Revand berpaling ke arah Zill.


"Gue tau lu tulus mencintai Sherlin Zill, lu benar gue kurang bersyukur waktu itu, pria seperti gue kagak pantas mendapatkan wanita sebaik Sherlin. Sherlin selalu menderita bersama gue, gue ikhlas asal lu jaga baik baik dia, gue mencintai dia, apa yang sekarang gue lakukan, adalah bukti cinta gue pada dia...!!"


Note: Ketulusan hati dan cinta, akan membuat perilaku seseorang melakukan hal baik pada orang sekitar nya.


👉 pembaca nya baik pasti tahu keinginan author nya 😘


👉 Baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul CINTA SANG PENULIS.


👉 DILARANG MEMPLAGIAT SELURUH ISI CERITA INI...!! BAGI KALIAN YANG MENEMUKAN SIPLAGIAT TERSEBUT, HARAP INFORMASI KAN KEPADA SAYA.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2