
Beberapa hari kemudian Rei telah meresmikan restoran milik nya. Tentu semua itu atas kerja sama Rei dengan Sherlin dan Amel yang dibantu beberapa teman Rei yang lain hingga impian pemuda itu akhirnya terealisasi.
"Sher, gimana udah siap..?"
Rei muncul dari lantai atas restoran dengan penampilan rapinya. Sesuai rencana, setelah 3 hari resmi dibuka, Rei dan Sherlin mulai melakukan pertemuan dengan perusahaan yang akan mereka ajak kerja sama. Perusahaan pertama tentu tidak sulit untuk diyakinkan. Karena jauh jauh hari Revand sudah mewakili Rei dan juga Sherlin untuk membicarakan masalah kerja sama tersebut.
Dan atasan Revand tidak keberatan, dengan satu catatan, 1 bulan masa percobaan. Yang artinya, jika dalam waktu 1 bulan makanan yang di kirim oleh restoran Rei tidak mendapatkan keluhan, maka kerja sama itu akan diperpanjang.
"Wah tuan muda, iya aku udah siap kok.."
Goda Sherlin dengan senyum manis nya.
"Ah, lu. Ntar pada tau lagi gue tuan muda, pada berduyun duyunlah itu cewek tipe rayap..!"
Omel Rei. Sherlin tertawa.
"Restoran nggak papa nih kita tinggal...?"
"Amel bisa ngurus kok tenang aja.."
Sherlin akhirnya mengikuti langkah Rei menuju motor yang terparkir di depan restoran.
"Lu keberatan kagak, kalo kita pake motor..? Gue malas pake mobil, suka kejebak macet..!"
"Nggak papa, mau pake transportasi apapun aku nggak keberatan kok.."
"Cakep dah lu, gue demen cewek tipe gini ni, kagak bawel haha..."
Rei menyerahkan helm pada Sherlin. Amel tidak mengantar 2 sahabatnya itu, karena sibuk mengawasi karyawan Rei yang bekerja didapur. Meski baru dibuka. Berkat promosi dan nama besar Rei dibidang kuliner, tidak sulit untuk Rei mendapatkan tamu untuk restoran nya. Meski belum terlalu ramai, akan tetapi restoran tidak pernah kosong tamu. Itu yang membuat Amel memutuskan untuk stay di restoran meskipun gadis itu sebenarnya ingin ikut Rei dan Sherlin.
Rei menghentikan motornya disebuah cafe. Perkiraan Sherlin yang mengira mereka akan bertemu di kantor milik Zill langsung salah besar. Cafe adalah tempat yang di pilih Rei dan Zill untuk bertemu.
Saat Rei dan Sherlin masuk kedalam cafe, mereka melihat Zill sudah berdiri dari tempat duduknya sembari melihat kearah jam tangan yang dipakai nya. Sherlin dan Rei sadar kesalahan. Mereka telah telat beberapa menit dari jam yang dijanjikan.
Segera keduanya menghampiri pria tersebut. Meski Zill terlihat terkejut melihat Sherlin, namun pria itu tetap bisa terlihat tenang dan tidak berubah ekspresi sama sekali.
"Kalian telat 10 menit. Nyaris saja saya pergi dari sini, aturan dari mana itu, kalian yang membuat janji, kalian yang telat. Apa bagus tamu yang menunggu tuan rumah..."
Suara dingin Zill terdengar. Sherlin sedikit terpaku juga. Benar benar cool. Meskipun mereka saling kenal, tetap saja sikap Zill tidak terpengaruh sama sekali. Tetap bersikap dingin dan tidak welcome sama sekali.
Mungkin karena kami telat, jadi pria ini badmood..
Sherlin membathin. Mereka segera duduk. Seorang waiters menghampiri mereka. Dan cappucino menjadi pilihan mereka bertiga.
"Wah, kita ini seperti janjian ya, udah kompak pake baju putih putih, minuman sama pula. Tapi saya minta maaf direktur atas keterlambatan kami, saya berjanji untuk tidak melakukan hal itu lagi.."
Rei berbicara. Meski pria itu seperti nya tidak terpengaruh dengan sikap dingin Zill, tetap saja Sherlin bisa merasa kan Rei juga ketar ketir menghadapi Zill.
"Sedikit masukan dari saya, untuk berbisnis kedisplinan itu penting. Jika anda tidak bisa menghargai waktu maka, saya tidak bisa membicarakan apapun menyangkut bisnis dengan anda, jadi saya tidak mau hal ini terjadi lagi .."
Zill merespon ucapan Rei. Dan sekali lagi Rei mengaku salah dihadapan Zill. Sherlin benar benar baru menyadari apakah karena sikap dingin Zill inikah, Revand suaminya tidak bisa berhasil untuk mengajak pria ini bekerja sama...?
Rei segera mengemukakan maksud kedatangan nya pada Zill secara detail. Zill menyimak apa yang diucapkan oleh Rei dengan serius.
__ADS_1
"Saya tipe orang yang tidak bisa langsung percaya jika tidak membuktikan nya sendiri. Bisakah saya datang kerestoran anda untuk mencicipi langsung masakan anda..?"
Zill mengutarakan isi hatinya ketika Rei sudah selesai menjelaskan semua nya dengan detail.
"Oh, tentu bisa. Anda boleh datang kerestoran kami kapanpun anda mau, nanti saya sendiri yang membuat menu yang anda mau .."
"Lalu dia ..?"
Zill melempar tatapan nya kepada Sherlin. Sherlin tergagap. Sedari tadi hanya menyimak pembicaraan, tiba tiba ditanya, ia sedikit tergagap juga. Waiters datang membawakan pesanan kopi mereka. Meletakan 3 cangkir kopi tersebut diatas meja dihadapan mereka.
"Terima kasih.."
Ucap Zill pada pelayan itu.
Ni cowok walo horor dan jutek, tapi tetap punya etika...
Rei membathin ...
"Apakah Nyonya direktur Revand ini ada sangkut pautnya dengan pembicaraan kita sekarang...?"
Suara Zill kembali terdengar.
"Oh, iya direktur. Saya bekerja sama dengan Rei, dia sahabat saya, bisnis ini kami buka bersama, jadi kehadiran saya disini bukan sebuah kebetulan.."
Sherlin buru buru menjelaskan. Jika tidak mau dicap lemot oleh pria dihadapannya ini.
"Suami anda mengizinkan..?"
Selidik Zill.
"Tentu saja.."
"Kalian sama sama chef...?"
"Kami mungkin belum mendapatkan gelar master chef oleh kompetisi apapun, tapi insya Allah setiap masakan yang kami olah, selalu dilakukan penuh cinta .."
Rei yang menjawab. Kembali Zill manggut manggut. Pria itu menyeruput kopi miliknya sesaat. Lalu ..
"Seperti yang saya katakan tadi, saya akan menentukan keputusan saya terkait tawaran kalian, jika saya sudah mencicipi langsung masakan kalian, untuk sekarang, maaf saya belum bisa memutuskan secara pasti...!"
"Tidak apa apa. Kami menunggu kedatangan anda direstoran kami kapanpun itu.."
"Berarti pembicaraan kita cukup sampai disini ya, saya masih ada rapat ditempat lain ..."
Zill segera ingin bangkit dari tempat duduknya, namun..
"Direktur maaf, ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan pada direktur.."
Sherlin menahan Zill yang ingin segera bangkit. Hingga pria itu mengurungkan niatnya seketika.
"Soal apa...?"
"Restoran kami merangkul 2 perusahaan untuk memulai kerja sama, termasuk perusahaan dimana suami saya bekerja, bagaimana jika perusahaan anda juga bekerja sama dengan perusahaan suami saya, mungkin itu akan lebih memudahkan kerja sama kita .."
Zill menatap lurus kearah Sherlin, seolah olah ingin melihat kedasar hati wanita tersebut, tentang apa yang diucapkan Sherlin tadi.
"Maksud rekan saya seperti ini direktur, akan lebih baik, jika satu perusahaan dan perusahaan lainnya punya keterkaitan, jadi memudahkan komunikasi kita jika sewaktu-waktu akan digelar rapat...!"
Rei buru buru menambah kan, karena ia merasakan aura Zill jadi tidak nyaman ketika pria itu menatap Sherlin, sesudah Sherlin mengatakan perihal tersebut.
__ADS_1
"Jika saya tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan itu, apakah anda juga menarik kerjasama anda tadi jika seandainya saya bersedia untuk kerja sama dengan anda ..?"
Kali ini Zill menatap kearah Rei dengan tatapan mata serius.
"Oh, tentu tidak. Itu persoalan yang lain, kami hanya menawarkan sebuah alternatif. Jadi tidak ada hubungannya dengan hal itu direktur.."
"Nyonya Direktur Revand melakukan ini karena permintaan suami anda..?"
"Maaf panggil saya Sherlin saja direktur, atau jika anda keberatan bisa memanggil Bu Sherlin saja jika memang anda keberatan berbicara santai.."
"Benar. Kita seumuran. Kurang lebihnya, rasanya otak saya mau meledak jika harus memakai aturan perkantoran, ampuni saya..."
Untuk pertama kalinya dimata Sherlin, Zill tersenyum kecil. Zill seketika tersenyum saat mendengar ucapan nyeleneh Rei tadi. Rei memang seperti itu. Tidak terlalu suka dengan gaya formal saat berbicara.
"Baiklah. Jika kalian membuat saya puas dengan hasil masakan kalian, maka saya akan memutuskan untuk bekerja sama dengan kalian, dan jika itu terjadi, artinya kita teman, kita bisa berinteraksi secara santai, tapi jangan menyesal dengan keinginan anda ini ya tuan Rei, karena saya bisa bersikap sesantai mungkin jika dengan orang yang bisa membuat saya merasa dia layak dianggap teman..!!"
Buset ni cowok, pangeran dari kerajaan apa sih, banyak bener peraturan nya..
Rei membathin.
Ternyata pria ini hanya tersenyum jika benar benar ingin tersenyum. Bukan pria yang suka mengobral senyum hanya untuk menarik perhatian orang lain..
Sherlin membathin pula, tapi dengan topik yang lain.
"Baiklah direktur, semoga kita bisa menjadi teman nantinya..."
Sahut Rei cepat.
"Tergantung kalian, bisa tidak membuat lidah saya berdecak nikmat oleh masakan kalian.."
"Beres itu. Tapi bagaimana dengan tawaran kedua ..?"
Mendengar pertanyaan Rei, spontan Zill menatap kearah Sherlin.
"Bu Sherlin tidak bisa menjawab pertanyaan saya, saya artikan iya. Diluar dari pada itu, jawaban saya tetap sama. Saya menolak. Maaf. Sampai kan pada suami anda Bu Sherlin, keputusan saya bukan sebuah keputusan yang bisa diubah ubah, karena saya bukan tipe orang yang gampang memutuskan sesuatu, jadi maaf ya, saya tidak bisa untuk hal yang satu itu,"
"Jadi..."
"Iya. saya minta maaf. Siapapun yang membujuk saya, tidak akan mempengaruhi keputusan awal saya, jadi saya memutuskan tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan suami anda itu bukan karena suami anda yang mengajak saya, tapi karena saya punya alasan lain. Satu lagi. Saran saya, istri memang wajib patuh dengan suami, akan tetapi istri juga berhak memberikan pendapat terkait keputusan suami, jangan menyimpan pendapat anda didalam hati Bu, utarakan saja pada suami anda .."
Habis berkata seperti itu, pria itu bangkit dan pamit dari hadapan mereka berdua.
Sherlin terpaku ditempatnya. Bagaimana bisa Zill bisa tahu tentang rasa keberatan nya atas keputusan Revand mengizinkan Gisella menjadi sekretaris nya...?
"Sher, serem juga tu cowok. Kayaknya yang di katakan Amel bener deh. Gisella bawa sial diperusahaan Revand, gue yakin Zill ini kagak mau kerja sama dengan perusahaan suami lu karena nama baik Gisella itu suram ...!"
Rei bicara ketika Zill sudah berlalu dari hadapan mereka.
Aku harap kesialan itu tidak berlarut larut Rei, apalagi jika merembet sampai mengganggu rumah tangga ku...
Sherlin menyahuti ucapan Rei hanya dalam hati. Sikap Zill tadi membuat ia berfikir satu hal, apakah pria itu tahu Gisella tidak pernah tulus untuk berubah...?
Note: Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama, pepatah lama itu benar, jagalah nama baik kita selama hidup sebaik mungkin, karena nama baik yang ditinggal kan akan membuat generasi kita bangga saat mengenang kita. Caranya...? Tidak harus menjadi seorang pejabat dulu baru bisa memperoleh nama yang membanggakan, cukup menjaga perbuatan kita selama kita hidup, tidak seenaknya hanya karena ingin mendapatkan kepuasan semata.
๐ Jangan lupa dukungan kalian di novel ini ya biar tetap eksis dilapak ini๐๐
๐ Buat peserta event kuis "SANG PELAKOR" tetap stay disini untuk mengetahui siapa diantara kalian yang beruntung memenangkan kuis tersebut๐
Bersambung
__ADS_1