SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 85. BALASAN SHERLIN.


__ADS_3

Rei berlari secepat mungkin, menuju lokasi dimana Revand berada, sesuai petunjuk yang disebut kan oleh Zill. Bersamaan dengan itu, seorang pria juga tengah berusaha mendekati dimana tubuh Revand tergeletak tidak berdaya.


Sepintas, orang tidak akan tahu, Revand tengah berusaha untuk melawan, agar bisikan yang hadir didalam otak nya itu tidak membuat nya kembali ke kamar semula, dimana Gisella menunggu.


Itu tidak mudah. Seolah ada rantai besi yang menarik tubuh Revand, agar kembali ke kamar tersebut. Dalam kondisi yang bisa dikatakan sudah sangat parah, Revand masih berusaha untuk melawan, ayat ayat suci yang pernah diajarkan istri nya terus ia ucapkan, namun semakin ia berusaha untuk melawan kekuatan tersebut, semakin besar level ilmu yang dikirim oleh para kaki tangan dukun yang disewa Gisella.


Inilah yang membuat Revand tidak kuat. Disatu sisi, ia di selimuti nafsu yang membara, untuk segera berhubungan intim dengan Gisella, akibat ilmu guna guna tersebut, disatu sisi ia berusaha untuk mengingat bahwa itu tidak boleh ia lakukan, karena akan jadi semakin parah jika hubungan intim itu terjadi.


Sedang efek dari ilmu yang dikirim dari jarak jauh oleh Ki Robius, membuat Revand menjadi seketika lemah, ilmu itu menyerang bagian syaraf penting dalam tubuh nya, itu dilakukan dukun yang disewa Gisella, agar saat Gisella memasukan ilmu pengasihan kedalam tubuh Revand dengan cara berhubungan intim layaknya suami istri tersebut, Revand tidak bisa melawan, karena seluruh syaraf penting nya diserang.


Karena Revand melakukan perlawanan, dari berusaha untuk mengendalikan diri sendiri, mengontrol emosi, membaca ayat suci Al-Qur'an, serta doa doa yang pernah diajarkan istri nya, ilmu itu bereaksi, walaupun doa itu ia baca didalam hati, terjadi pertempuran dua kekuatan didalam tubuh Revand, ilmu putih dan ilmu hitam. Itu sebabnya, darah keluar dari hidung dan telinga Revand. Menandakan, betapa keras perjuangan Revand untuk tetap bertahan, demi sang istri..


Sherlin, kamu harus bertahan, Zill akan datang menyelamatkan mu. Aku yakin, tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Tolong selamat kan istriku Ya, Allah, jika aku harus menukarnya dengan nyawaku, aku rela asal dia bisa selamat, Sherlin wanita yang selalu menjalani hidup nya dengan lurus, tidak seperti aku, yang pernah meragukan ketulusan cintanya, hingga bermain api dengan Gisella, yang pantas mati itu aku Tuhan, Sherlin masih harus hidup agar ia bahagia..


Revand memejamkan mata, rasa sakit yang ia rasa tidak mampu lagi membuat ia berteriak. Jangankan berteriak, membuka mulut saja ia sudah tidak sanggup. Tapi, Revand masih punya hati. Bibirnya tidak bisa mengucapkan doa apapun, hatinya masih bisa, meski diselingi erangan rasa sakit, mewarnai..


"Hei, lu mau bawa kemana temen gue..!!"


Revand merasa tubuh nya ada yang ingin memindahkan. Ada suara yang mengucapkan hal itu juga. Tangan besar itu begitu kasar ingin memindahkan tubuhnya dari tempat nya semula. Revand berusaha untuk membuka mata. Wajah asing dilihat nya. Tapi suara yang tadi ia dengar, seperti dikenalnya.


"Turunkan dia, gue bilang..!!"


Rei, itu suara Rei. Alhamdulillah, ada yang bisa menemukan aku dalam keadaan begini, orang yang sedang memegang aku ini pasti orang suruhan Gisella..


Revand kembali membathin. Sekuat mungkin, pria itu membuka mulut nya, rasanya begitu sulit, seolah olah bibirnya di lem alteco. Karena Revand terus berusaha keras membuka mulut, akhirnya mulutnya terbuka, Revand mempergunakan kesempatan itu, untuk menggigit lengan besar orang yang sedang ingin memindahkan nya. Revand mengerahkan seluruh kekuatan nya untuk menggigit lengan tersebut. Teriakan pemilik tangan itu menggelegar, jika saja kamar hotel milik Zill tidak dilengkapi dengan fasilitas kedap suara, Revand berani menjamin, seluruh penghuni kamar yang ada dilantai ini akan keluar karena teriakan keras tersebut.


Sumpah serapah terlontar dimulut pria tersebut. Disertai sentakan keras, yang membuat tubuh Revand meluncur jatuh setelah sempat di papah oleh pria asing tersebut.


Tubuh Revand jatuh begedebuk dilantai, tidak bergerak lagi. Hal ini membuat Rei marah. Dengan penuh kekuatan, diserangnya pria yang tadi lengan nya digigit oleh Revand tersebut. Tidak siap diserang, karena masih sibuk menahan rasa sakit dilengan nya, pria suruhan Gisella itu jatuh terjengkang. Bersamaan dengan itu beberapa pria berpakaian hitam berdatangan, mereka segera meringkus pria yang tadi diserang Rei. Mendapatkan pertolongan dari para bodyguard keluarga besar Mahendradatta, Rei mengucap syukur. Ia segera memeriksa kondisi Revand.


"Dia sekarat tuan. Mari segera dibawa kedokter terdekat dulu..!!"


Rei setuju. Dibantu dua orang bodyguard Zill, ia mengangkat tubuh Revand untuk diberi pertolongan secepatnya.


Sementara itu, Zill sudah sampai dimana lokasi Sherlin dan juga wanita yang ingin menghabisi Sherlin.


Zill segera menghubungi seluruh keamanan hotel, untuk memasang alternatif keselamatan agar saat Sherlin terjatuh, tubuh nya tidak menyentuh tanah sama sekali. Namun permintaan Zill, tidak bisa diterima oleh pihak keamanan hotel. Alasannya, permintaan itu sangat mustahil, mengingat jarak ketinggian dimana Sherlin berada cukup tinggi. Jauh dari permukaan tanah.


Zill tidak bisa menahan kekhawatiran nya. Ia mendekati kedua wanita yang sedang bertengkar mulut tersebut.


"Hentikan perbuatan kamu wanita gila..!"

__ADS_1


Wanita yang sedang mendesak Sherlin untuk terjun kebawah itu melirik kearah asal suara.


Sial, Kelamaan bener ini cewek tidak jatuh jatuh juga, tangannya sudah aku pukul beberapa kali tetap kuat memegang pagar balkon, tubuhnya kecil, tapi ternyata punya kekuatan yang luar biasa, padahal aku melihat ia sudah kehilangan banyak tenaga untuk bertahan, sampai Presdir hotel ini menemukan kami lagi, apa yang harus aku lakukan. .


Wanita itu membathin.


"Jangan mendekat. Kalau kamu mendekat, maka wanita ini akan jatuh dari ketinggian ini dalam hitungan detik. Aku akan memukul tangannya ini dengan pukulan ku yang kuat, aku pastikan dia akan segera jatuh, jadi jangan mendekat...!"


Wanita itu mengancam. Zill mendengar nafas wanita itu juga memburu, seperti nya ia kesulitan juga untuk mendorong tubuh Sherlin dari bibir balkon itu.


"Kalau wanita itu jatuh, maka kamu juga akan jatuh, kamu tidak melihat, salah satu tangan nya juga memegang tangan kamu, kamu juga akan mati bersama nya, kamu mau...!!"


Zill berusaha untuk mencari selah, agar mampu menolong Sherlin yang terdesak dibibir balkon.


"Aku bisa menahan tubuhku jika ia terjatuh, tubuh nya tidak mungkin bisa menarik ku. Jadi jangan mendekat..!!"


"Apa yang kamu mau..!! Aku bisa memberikan apa yang kamu mau, asal kamu tarik wanita itu untuk menjauh dari sana...!!"


Zill berteriak lantang, karena tidak tega melihat Sherlin yang sepertinya sudah terlihat sangat kepayahan.


"Apa mauku..? Tentu saja aku perlu uang, kamu pikir aku akan mau melakukan ini, tanpa bayaran yang fantastis...?"


"Ini cek, kamu bisa menulis berapapun uang yang kamu mau. Tapi, tarik wanita itu kemari, jika kamu melakukan itu, kamu boleh mengambil cek ini dan menulis berapapun nominal yang kamu mau, tapi jika sampai wanita itu terjatuh karena mu, aku pastikan akan menendang tubuh kamu dari sini, agar kamu ikut terjatuh juga dari lantai ini...!!"


Cek, itu benar benar asli, dia gila apa, aku boleh menulis berapapun nominal yang aku mau..? Ini lebih menggiurkan, aku bisa buka usaha juga selain bayar hutang dengan cek itu, aku kuras aja sekalian harta pria ini, dia pemilik hotel inikan, tapi kalau dia ingkar janji bagaimana...


"Aku tidak percaya, cek itu benar benar kamu berikan untuk ku...!"


Ucap wanita itu ragu.


"Kamu tahu keluarga besar Mahendradatta tidak pernah ingkar janji...? Lakukan apa yang aku perintahkan, tarik wanita itu kemari, ambil cek ini ...!!"


Benar juga, aku tahu reputasi keluarga Mahendradatta, jujur dan tidak pernah ingkar janji. Mungkin lebih baik, aku putar haluan saja, Gisella membayarku tidak sebesar itu, lebih baik, aku patuh pada orang yang membayarku lebih tinggi..


Berfikir sampai disitu, wanita itu segera menarik tubuh Sherlin yang mulai melemah, didorong nya tubuh Sherlin kearah Zill, Sherlin terhuyung di dorong dengan keras seperti itu, sebelum wanita itu terjatuh, Zill lebih dulu menangkap tubuh Sherlin.


Setelah itu, Zill mengulurkan cek ditangan nya kearah wanita dihadapan nya..


Penuh rasa gembira, membayangkan betapa banyak nanti nominal uang yang akan ia tulis dicek itu langsung menyambar cek yang diulurkan Zill.


Wanita itu tertawa, diciumnya cek itu penuh rasa gembira.

__ADS_1


Aku kaya akhirnya, aku kayaaaa..


Wanita itu berteriak dalam hati sembari terus menciumi cek tersebut, karena tidak memperhatikan kakinya terlalu gembira melonjak kesana kemari, wanita itu tergelincir, hal itu membuat cek ditangan nya terlepas dan melayang kebibir balkon.


Tidak ingin pohon uangnya hilang, wanita itu memburu cek tersebut, ingin menangkap nya, tidak memikirkan resiko yang akan ia hadapi jika ia nekat menangkap cek yang melayang tersebut. Melihat bahaya mengancam wanita yang tadi ingin membunuhnya, Sherlin melepaskan tangan Zill yang masih merengkuh tubuh nya, tangan Sherlin sempat menangkap satu tangan milik wanita tersebut, hingga wanita itu tidak terjun bebas dari bibir balkon, hanya ingin menangkap cek yang melayang jatuh kebawah tersebut.


Zill kaget melihat tindakan nekat Sherlin. Mana mungkin wanita itu bisa menahan tubuh besar wanita yang ingin membunuhnya itu terlalu lama. Melihat Zill hanya bengong, Sherlin meminta pria itu ikut membantu nya menarik wanita itu agar tidak terjatuh.


Namun, Zill tidak bergeming, yang ia lakukan hanya menangkap lengan Sherlin, agar Sherlin tidak tertarik jatuh jika wanita yang dipegang nya itu terjatuh...


"Zill, kenapa diam, ayo bantu aku buat narik dia keatas...!!"


Sherlin terengah-engah saat mengucapkan kalimat tersebut.


"Untuk apa kamu menolong orang yang ingin membunuhmu...? Lebih baik, dia mati disana karna perbuatan nya sendiri...!"


Dingin suara Zill saat mengucapkan kalimat tersebut. Paras wanita yang ingin membunuh Sherlin memucat. Posisi mereka sekarang berbalik. Jika tadi, Sherlin yang ada diposisi nya sekarang berada di bibir balkon, bahkan nyaris bergelantungan, kini dirinya yang merasa kan apa yang dirasakan Sherlin tadi, bedanya ia tadi mendesak ingin mendorong Sherlin, sementara Sherlin justru ingin menarik nya agar ia selamat.


Bayang kematian menari nari dibenak wanita itu, membuatnya merinding. Rasa takut mulai menyelimuti wanita tersebut..


"Tolong, selamat kan aku..!"


Pintanya penuh harap kepada Sherlin dan Zill.


"Pegang tangan ku kuat kuat, aku akan menarikmu...!"


Teriak Sherlin sekuatnya. Sementara Zill...


"Apa pantas, kamu meminta pertolongan, pada orang yang ingin kau bunuh....?"


Note : Hati yang tulus tidak akan membalas kejahatan dengan kejahatan pula. Karena jika itu ia lakukan, maka ia tidak ada bedanya dengan manusia jahat tersebut.


πŸ‘‰ pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya 😘


πŸ‘‰ Buat yang baca, semoga bacanya teliti ya, jadi bisa paham alur dan nggak cepat menyimpulkan sesuatu sebelum story' ini tamat, sekali lagi saya informasikan, novel ini non-fiksi BUKAN fiksi, non-fiksi artinya kisah nyata jadi saya menulis sesuai yang terjadi. Penulis fiksi menulis berdasarkan imajinasi, sedang penulis non-fiksi menulis berdasarkan ingatan kejadian tersebut. Mohon bisa membedakan, imajinasi dengan memori ingatanπŸ™


πŸ‘‰buat yang setia stay disini kalian yg buat novel ini tetap update πŸ’—


πŸ‘‰ baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul CINTA SANG PENULIS klik profil saya untuk tahu karya saya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2