SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 97. ANUGRAH TERINDAH.


__ADS_3

Revand masuk kedalam kamar, dilihatnya sang isteri duduk termenung ditepi pembaringan, perlahan, Revand menghampiri sang istri dan duduk disamping wanita itu.


Menyadari suaminya sudah duduk disampingnya, Sherlin berusaha untuk tersenyum.


"Aku siapin air hangat untuk kamu mandi ya..!"


Katanya sembari ingin turun dari tempat tidur. Namun, Revand segera mencegah sang istri beranjak, dengan cara mencekal pergelangan tangan sang istri, lalu menarik tubuh istrinya hingga wanita itu duduk dipangkuannya.


"Nggak usah, nggak usah kemana mana, bukannya kamu lagi kurang sehat, kata mami kamu muntah muntah terus dari tadi..!"


Revand bicara seperti itu sembari mencium aroma istrinya, yang wanginya selalu ia suka.


"Vand, aku takut...!"


Sherlin akhirnya mengucapkan kata kata yang sedari tadi hanya ia pendam dalam hati.


"Takut kenapa...?"


"Tadi, mama minta aku periksa, takut kalau nggak diperiksa, ntar kalo hamil kasian ini bayi, tapi aku takut, akukan sering mengalami hal ini, terus kita periksa hasilnya, sia sia..!"


Wajah Sherlin terlihat sekali sangat suram saat mengucapkan hal itu.


"Nggak usah dijadikan fikiran, kita periksa, tapi kalau misal hasilnya negatif ya udah nggak papa, kita tunggu lagi aja, sekarang aku nggak akan banyak berharap terlalu muluk muluk, buatku kamu ada disampingku aja itu udah cukup, aku mau menghabiskan sisa hidupku bersama kamu sayang, tanpa harus ada tekanan ini dan itu...!"


"Tapi, aku takut mengecewakan mama..! Kalau aku periksa terus hasilnya..."


"Sssst, dengar Sherlin, dulu aku orangnya paling nggak percaya tentang keajaiban, tapi setelah melewati banyak hal bersamamu, aku jadi percaya keajaiban itu ada, keajaiban Tuhan itu ada, kamu tetap hidup sampai sekarang aja itu udah hal terindah buat aku, jadi bagaimana kalau kita menanti satu keajaiban lagi...? Aku yakin, suatu saat kita akan punya anak, asalkan kita nggak berburuk sangka atas semua ketentuan dari Tuhan..?"


Sherlin memeluk tubuh suaminya mendengar apa yang sudah diucapkan oleh sang suami barusan. Hatinya terenyuh. Rasanya, beberapa hal yang tadi ia takutkan menjadi luruh, walaupun ia tetap merasa was was juga bagaimana kalau hasil nya negatif...? Begitu rindunya Sherlin untuk bisa mengandung anak hasil buah cintanya bersama Revand, membuat wanita itu menaruh harapan besar untuk bisa hamil. Bukan orang tuanya saja.


"Kita periksa ya...?"


Revand membuyarkan lamunan sang istri dengan suara yang lembut. Sherlin menarik dirinya yang didekap sang suami, menatap wajah sang suami dengan tatapan mata penuh harap.


"Kamu yakin, mama nanti nggak bakal kecewa kalo hasilnya negatif...?"


"Aku yakin...! Mami sekarang udah banyak berubah sayang, apa yang sudah terjadi membuat beliau tahu siapa sebenarnya Gisella, jadi kamu nggak usah khawatir kan hal itu...!"


Sherlin tertunduk.


"Tapi, ide aku dulu masih berlaku untuk kamu Vand, misal aku emang nggak bisa memberikan kamu keturunan, kamu bisa kok cari wanita lain yang bisa memberikan kamu keturunan..!"


"Aku, nggak akan melakukan hal itu...!"

__ADS_1


Tegas Revand dengan ekspresi serius.


"Sekarang, aku mandi dulu ya, kamu siap siap, kita kedokter sekarang...!"


Revand mencium kening istrinya, sebelum beranjak untuk bersiap mandi. Sherlin hanya mengangguk. Ada dua perasaan bercampur aduk dihati wanita itu. Perasaan ingin tahu kenapa ia bisa mual dan pusing tanpa jeda, dan juga perasaan takut jika ternyata hasilnya sama saja seperti yang sudah sudah.


Tidak apa apa Sherlin, kamu harus kuat, apapun hasilnya, harus diterima, karena kamu harus yakin, Tuhan tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikan anugrah nya pada hamba-NYA..


Suara hati kecil Sherlin bicara seperti itu, mencoba untuk membuat Sherlin menepis rasa ragu dan ketakutan wanita tersebut.


Akhirnya, Revand membawa istrinya untuk diperiksa, sepanjang perjalanan sampai kerumah sakit, pria itu tidak henti hentinya untuk membuat hati istrinya untuk tenang. Karena apapun hasilnya, Revand tahu itu yang harus mereka terima dan itu pasti yang terbaik untuk mereka.


Setelah selesai diperiksa dan menunggu beberapa saat, akhirnya dokter yang memeriksa Sherlin, muncul. Revand tidak sabar untuk mendengar kabar apa yang dibawa oleh dokter itu setelah memeriksa istrinya.


"Selamat ya, istri Anda positif hamil, baru beberapa Minggu, jadi masih sangat rentan, jangan sampai istri Anda stres, kelelahan dan kurang asupan gizi..!"


Dokter itu mengucapkan kalimat tersebut dihadapan mereka berdua.


"Apa dokter, saya hamil...?"


Sherlin seolah tidak menyangka dengan apa yang ia dengar dari dokter tersebut. Dia hamil...? Sungguh...? Kalimat yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya bisa ia dengar..? Ini mimpi atau nyata...?


"Sayang, kamu hamil, kamu hamil sayang...!"


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, kau berikan aku kesempatan untuk menerima anugrah terindahmu lagi. Setelah lolos dari maut itu..!"


Wanita itu bicara seperti itu nyaris meneteskan air mata bahagia. Dokter itu tersenyum, melihat riak kebahagiaan terpancar pada wajah pasangan muda tersebut.


"Saya beri resep ya, vitamin dan sejumlah obat penambah darah agar ibu dan calon bayinya selalu sehat...!"


Katanya pada Revand dan Sherlin.


"Terimakasih dokter..!"


Sahut Revand dan Sherlin bersamaan.


***


Kehamilan Sherlin membuat ibu Revand dan ibu Sherlin tidak henti hentinya mengucapkan syukur. Rasanya, jika tidak mengingat suaminya dirumah sendirian, ibu Revand ingin tidak kembali kerumahnya karena selalu ingin merawat Sherlin dengan baik.


Sayangnya, itu tidak bisa ia lakukan. Wanita itu harus segera kembali kerumah karena sang suami sudah memintanya untuk segera pulang. Gara gara berurusan dengan Gisella, ibu Revand jadi banyak menghabiskan waktu percuma untuk berada diluar rumah. Hal itu membuat sang suaminya murka disana, untung saja, berita kehamilan Sherlin membuat suaminya itu tidak jadi memuntahkan emosi nya pada sang istri.


"Sherlin, mama harap, kamu nggak usah kerja lagi direstoran kalau sekira kira itu membuat kamu kelelahan sayang, biar Revand yang bertanggung jawab cari nafkah, kamu dirumah aja, jaga kehamilan kamu ini..! Tapi, itu juga kalau kamu bersedia, mama masih ingat dengan janji mama, untuk tidak terlalu banyak ikut campur dengan masalah rumah tangga kalian, karna mama yakin, kalian bisa mengatasi itu dengan baik...!"

__ADS_1


Suatu malam, dimalam terakhir mertuanya menginap dirumah, wanita itu bicara seperti itu usai menikmati makan malam. Ibu Sherlin yang mendengar hal itu sembari sibuk membereskan meja makan, hanya diam meskipun menyimak apa yang diucapkan besannya.


"Aku setuju mi, biar aku aja yang kerja, Sherlin dirumah aja,tapi itu juga kalau Sherlin mau, kalau Sherlin merasa masih mau kerja ya, kita juga nggak bisa melarang, tapi kalau aku pribadi sih mending nggak usah, biar dia dirumah aja, jaga kandungan baik baik..!"


Revand menyahut. Sembari meminta istrinya duduk disampingnya, setelah ia selesai membantu mertuanya membereskan meja.


"Iya, masalah itu, biar Sherlin yang memutuskan sendiri, ibu yakin dia tahu yang terbaik, menjaga hati calon ibu itu penting, agar dia tetap bahagia, dan bayinya juga tumbuh berkembang dengan sehat...!"


Kali ini, ibu Sherlin yang bicara. Wanita itu juga duduk diantara semua yang ada disitu, dan mencoba untuk memberikan saran pula. Sherlin tersenyum. Bahagia sekali rasanya melihat ibunya dan juga ibu suaminya damai kembali, setelah beberapa saat lamanya kedua wanita yang sangat dihormatinya ini sempat berseteru karena niat ibu Revand tidak disetujui oleh ibunya, mengizinkan Revand menikah dengan Gisella.


"Sherlin, sekali lagi mama minta maaf ya, mungkin dulu Tuhan tidak suka dengan mama yang selalu mendesakmu untuk segera hamil, hingga Tuhan sengaja membuka fikiran mama sekarang. Ketika mama berusaha untuk ikhlas, tidak lagi terobsesi seperti dulu, perasaan mama tidak lagi tertekan seperti dulu..! Rasanya damai sekali. Terima kasih nak, kamu mengajarkan mama tentang bagaimana harus bersikap tulus dan ikhlas. Mama minta maaf sempat tidak merestui kamu menjadi istri Revand, padahal kamulah wanita terbaik untuk putra mama...!"


Ibu mertua Sherlin mengucapkan kalimat tersebut dengan nada suara bergetar.


"Ma, aku udah lupakan semuanya, kita sama sama ambil hikmahnya aja, aku paham kok perasaan mama, wajar, mama ingin yang terbaik untuk putra mama, karena Revand anak mama satu satunya, makasih ya ma, masih memberikan kesempatan untuk ku menjadi menantu mama..!"


Sherlin menyahut dengan suara terbata karena merasa terenyuh dengan apa yang diucapkan oleh mertuanya tadi.


"Mama yang harusnya mengucapkan terima kasih padamu sayang, terima kasih sudah kembali ke dunia ini untuk bisa membuat mama menebus kesalahan mama padamu, terima kasih tetap mencintai putra mama meskipun ibunya pernah jahat padamu, terima kasih, kamu tetap memilih Revand menjadi suami kamu sementara ada pria kaya raya sempurna yang juga mencintai kamu, Revand beruntung mendapatkan istri seperti kamu sayang, mama beruntung mendapatkan menantu setulus kamu, terima kasih, sudah membuat mama merasakan anugrah indah itu, kamu memberikan hadiah untuk mama, seorang cucu...!"


Kenapa rasanya aku ingin menangis...? Mama mengucap kalimat itu sampai kedua matanya berkaca-kaca, aku tidak pernah membencimu mama, karena buatku, saat kita mencintai anaknya, kita juga harus mencintai seluruh keluarga orang yang kita cintai, aku mencintai anakmu, artinya aku juga mencintai mu mama...


Sherlin mengucapkan kalimat tersebut didalam hati, sembari membalas pelukan yang diberikan oleh ibu mertuanya.


Sherlin, rencana Tuhan itu memang indah, ia memberikan sesuatu disaat waktu yang tepat, disaat mertua kamu menyadari semua kekhilafan nya, hingga diberikannya lah anugrah itu sekarang, agar mertua kamu sadar, bahwa Tuhan itu tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikan anugrah nya pada hamba-NYA...


Ibu Sherlin berbisik didalam hati, ikut bahagia menyaksikan betapa besannya sekarang benar benar banyak melakukan perubahan sikap terhadap putrinya. Disaat dahulu ia wanita pertama yang tidak membiarkan putri nya dipoligami dengan wanita seperti Gisella..


Note: Tuhan itu adil, ia memberikan apa yang kita butuhkan pada waktu yang tepat. Jika harapan dan doa kita belum terkabul, bukan berarti Tuhan tidak sayang dengan kita. Hanya saja, ada waktu yang tepat sudah dipersiapkan oleh Tuhan, untuk hamba-NYA yang mau ikhlas menerima segala ujian yang sudah diberikan -NYA.


👉 pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya 😘


👉baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul CINTA SANG PENULIS dilapak ini juga ya ..



👉 Dan novel online saya yang lain diplatform kuning NOV*LME berjudul :


- FACE ( tamat fiksi roman)


- DOKTER ITU KAKAKKU ( on going non-fiksi)


- MAHKOTA DEWA ( on going fiksi fantasi)

__ADS_1


bersambung


__ADS_2