
Cantik sekali kamu nak. Beruntung sekali suami kamu mendapatkan wanita cantik lahir dan batin seperti kamu, gaun rancangan ku semakin terlihat anggun dipakai olehmu..
Sejak tadi, ibu Zill tidak henti hentinya memuji Sherlin sembari terus menyaksikan jalannya pemotretan itu. Ia sangat puas melihat betapa Sherlin dan Zill seperti pasangan yang serasi saat melakukan pemotretan dengan gaun pengantin seperti itu.
"Bu. Model pria dan wanita nya serasi sekali ya. Cemistry nya dapat bener. Seolah olah mereka itu pasangan yang benar benar ingin melangsungkan pernikahan..!"
Suara wanita disebelah nya terdengar. Ibu Zill berpaling. Gita, wanita yang menjadi pengganti rekan bisnis nya yang sudah mengundurkan diri, bicara seperti itu sembari terus menatap wajah model pengantin pria.
"Iya, mereka bisa menjiwai, padahal mereka bukan model, ohya, terima kasih ya sudah meluangkan waktu untuk datang melihat pemotretan nya langsung..!"
"Saya merasa terhormat bisa melihat langsung sesi pemotretan nya Bu. Sekarang apakah boleh, saya mewawancarai model ibu...?"
"Silahkan. Saya tidak keberatan.."
Gita, menunduk hormat pada Ibu Zill. Lalu wanita itu segera menghampiri model gaun pengantin rekan bisnis nya, dengan senyum terukir di bibir nya. Namun, yang membalas senyumnya hanya Sherlin, sang model pengantin wanita, model pengantin pria acuh, bahkan pura pura tidak melihat.
Gita menggerutu dalam hati.
Pria ini sombong juga, tapi kenapa aku suka ya dengan gayanya itu...
Wanita itu membathin sembari duduk dihadapan kedua nya.
"Pemotretan yang luar biasa, perkenalkan saya Gita Cahyani orang yang bertanggung jawab, mempromosikan hasil rancangan Bu Stella Mahendradatta, boleh meminta waktu kalian sebentar untuk sedikit wawancara...?"
"Anda wartawan..?"
Zill bertanya tanpa ekspresi. Namun Sherlin menendang kaki pria itu spontan. Hal itu membuat Zill sedikit kaget, ia berpaling menatap kearah Sherlin, lalu menarik nafas.
"Oke, tapi saya tidak punya banyak waktu, mohon jangan terlalu lama.."
Zill akhirnya mengucapkan kalimat tersebut.
Hanya diberi kode model wanita itu, pria ini jadi berubah sikap, mereka pacaran kah...?
Gita membathin.
"Ah, perkenalkan saya Sherlin, mohon maaf jika tadi saya banyak mengecewakan, jujur ini pengalaman pertama saya, sebelum nya saya tidak pernah melakukan hal seperti ini, jadi mohon maaf jika hasilnya kurang memuaskan...!"
Sherlin bicara sembari tersenyum.
"Iya, tapi hasilnya bagus, saya puas, kalau tidak puas tentu saja saya tidak mau mewawancarai kalian, ohya boleh tahu model pria ini namanya siapa...?"
Zill melirik sekilas, mendengar pertanyaan wanita dihadapan nya yang selalu kepergok melirik nya secara diam diam. Tidak ada kemauan buat Zill menyebut namanya dihadapan wanita itu. Sherlin melirik kearah Zill, karena pria itu tidak kunjung bicara merespon ucapan wanita dihadapan mereka.
"Ah, ini putra tunggal pemilik butik ini, apa anda tidak tahu..?"
Sepasang mata Gita terbelalak mendengar ucapan Sherlin.
"Jadi dia..? Astaga, mohon maaf ya, saya tidak terlalu update tentang hal ini, saya memang tahu bu Stella punya putra, tapi saya tidak pernah melihat putra bu Stella dimanapun Bu Stella berada, jadi mohon maaf, wah putranya ternyata berbakat jadi model ya..!"
Wajah Zill tidak bereaksi mendengar ucapan yang dilontarkan oleh wanita rekan bisnis ibunya itu. Justru pria itu seperti bosan, terlihat ia menghembuskan nafas setiap kali Gita bicara.
__ADS_1
"Ohya, kalian baru menjadi model tapi hasilnya sangat memuaskan, boleh minta bocoran tips kalian saat melakukan pemotretan, hingga ekspresi kalian bisa alami seperti itu saat pengambilan foto, apakah kalian saling mencintai...?"
Zill terbatuk-batuk mendengar pertanyaan yang diucapkan Gita. Wajah nya memerah. Sherlin sendiri terlihat salah tingkah menerima pertanyaan itu.
Cinta sepihak kah ..? Pria ini bertepuk sebelah tangan...? Dari ekspresi nya saja, aku bisa menebak, perasaan pria ini begitu besar pada wanita bernama Sherlin ini, tapi wanita ini tidak merespon. Kenapa ya...
Gita kembali membathin, diawasinya Zill dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Ah, itu. Kami bukan pasangan kekasih, kami cuma teman, menyoal kenapa saya bisa enjoy saat melakukan pemotretan, itu karena dia menuntun saya untuk bisa melakukan itu dengan baik, saya hanya membayangkan hal hal baik tentang dia hingga saya merasa tidak tegang lagi...!"
Paras Zill kembali merah mendengar ucapan Sherlin yang terus terang. Meski ada rasa perih yang ia rasakan saat mendengar kata " teman" yang diucapkan oleh Sherlin, namun mendengar pengakuan Sherlin bahwa ia punya hal baik untuk diingat, rasanya rasa perih itu jadi terasa sejuk terobati.
"Sherlin wanita yang mudah untuk disukai, karena dia baik dan punya inner beauty, menurut saya, secantik apapun wanita, jika tidak ada inner beauty maka wanita itu tidak bisa terlihat cantik dimata kaum pria, mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan, saya ke toilet dulu, permisi...!"
Habis bicara seperti itu Zill bangkit lalu berlalu. Sepeninggal Zill, Gita berpindah duduk disamping Sherlin.
"Kalian benar benar bukan pasangan kekasih..?"
Tanyanya masih tidak percaya dengan pengakuan Sherlin tadi.
"Bukan mbak. Saya teman dia aja, saya sudah menikah..!"
"Oh, sudah menikah, maaf kalau begitu. Panggil saya Gita aja, kita seperti nya seumuran, bisa kita berteman...?"
Wanita itu mengulurkan telapak tangan nya, kearah Sherlin. Meski bingung dengan sikap hangat wanita bernama Gita itu, namun Sherlin menyambut juga uluran tangan tersebut, dan Gita menjabat erat telapak tangan Sherlin sembari tersenyum.
"Iya, tentu saja, terima kasih.."
Ternyata cinta sepihak model pengantin pria itu karena wanita ini sudah menikah, aku jadi penasaran, sebaik apa wanita ini hingga bisa membuat putra tunggal Bu Stella sampai, memendam perasaan seperti itu...
Gita menatapi Sherlin yang saat itu masih asyik menceritakan bagaimana perasaan nya saat menjalani proses pemotretan tadi. Sherlin lebih menyambut hangat salam perkenalan Gita, dibanding Zill. Namun diperlakukan dingin seperti itu oleh Zill, membuat wanita itu jadi semakin penasaran..
***
"Mas, karyawan baru ya...?"
Revand mendapatkan pertanyaan itu dari salah satu pelanggan, saat ia mengantar kan pesanan pelanggan tersebut. Dua hari menjalani peran barunya sebagai waiters, Revand mulai terbiasa dengan aktivitas barunya itu. Meskipun terkadang, ia menerima tatapan penuh iba ketika kebetulan pelanggan yang datang, adalah teman sekantor nya.
Namun, Revand berusaha untuk menguatkan hati. Tatapan iba bercampur mencemooh, ketika seseorang melihat apa yang diraih dan dimilikinya, lenyap tidak berbekas hanya karena ia percaya Gisella bisa berubah.
"Ia. Saya karyawan baru disini.."
"Nggak cocok lho jadi waiters, harusnya tampang begini jadi direktur, atau model ya kan ya..!"
Kata pelanggan itu meminta pendapat temannya. Mereka meneliti Revand dari ujung rambut hingga ujung kaki. Di tatapi seperti itu, Revand jadi risih juga. Dia bukan brondong yang bisa di rayu tante tante seperti pelanggan nya ini. Bah...
"Hei, ganteng. Kalo kamu kerja sama aku aja gimana...? Gaji kamu sebagai waiters juga tidak seberapa dong ya, kamu mau nggak kerja sama aku..?"
Wanita kesatu yang berdandan full make up bicara seperti itu kepada Revand.
"Kerja apa tante..?"
__ADS_1
"Wow, cuma di panggil Tante sama kamu aja, aku jadi dua kali semangat nih, sini aku bisikin..!"
Revand mau tidak mau mendekatkan telinga kearah wanita ber-make up tebal itu. Dan segera, wanita itu membisik kan sesuatu ketelinga Revand. Mendengar bisikan wanita berusia sekitar usia ibunya itu, paras Revand merah padam.
Lalu tanpa banyak bicara, pria itu segera masuk kedalam tanpa menghiraukan teriakan wanita ber-make up tebal tersebut.
Dibelakang, Revand membanting nampan kewastafel. Hal ini membuat Amel yang sedang sibuk mengerjakan pesanan pelanggan, jadi menghentikan kegiatan nya. Ditatapnya Revand dengan tatapan tidak mengerti.
"Lu kenapa Vand..?"
"Gue lagi kesal, udah 4 kali ini gue dibooking tante tante, emang gue punya tampang mirip pria panggilan apa...!!"
Revand menjawab pertanyaan Amel, dengan wajah bete.
"Sabar, punya muka ganteng emang resikonya gitu, tapi berkat lu, pelanggan kita jadi membludak nih, tangan gue sampe mau putus ngerjain pesanan pelanggan nggak ada hentinya, lu mau dipindah kebelakang, bagian dapur..? Masak...?"
Revand menggeleng cepat. Bisa hancur menu restoran jika ia berada didapur.
"Ya udah, sabar ya, mereka itu terpesona ngeliat lu, jadi anggap mereka fans lu..!"
Bodo amat, gue cuma peduli kalau Sherlin yang menggemari gue...
Omel Revand dalam hati. Amel geleng geleng kepala melihat Revand yang komat kamit sendiri.
"Emang mereka berani bayar lu berapa Van...?"
Sisi usil Amel jadi timbul seketika.
"Sekali kencan 50 juta...!"
"Diiih, mahal amat, gaji lu jadi waiters nggak nyampe segitu Vand, haha, cepat tajir lu sehari udah 4 yang booking lu..!!"
"Sialan lu..!"
Amel terbahak melihat Revand yang makin mesem mesem sendiri, sembari setengah hati menerima nampan berisi makanan, yang harus ia antar kedepan.
"Jaga hati Vand, banyak yang terpesona ama lu disini, awas aja lu selingkuh..!"
Goda Amel sebelum Revand berlalu. Revand tidak menggubris godaan yang dilontarkan Amel.
Aku malah kepikiran, gimana pemotretan Sherlin dan Zill sekarang, rasanya nggak rela liat dia berfoto bersama pria lain...
Revand menggumam dalam hati, sembari terpaksa mengantarkan makanan pesanan pelanggan yang diberikan oleh Amel...
Note: Setiap manusia punya pesona dalam diri mereka masing masing. Namun pesona yang abadi, yang tidak pernah luntur meskipun fisik menua adalah hati dan prilaku yang baik.
👉Jangan lupa like vote klik favo rate 5 jika suka ya 💝
👉 jangan lupa baca novel terbaru saya yang baru terbit berjudul CINTA SANG PENULIS klik profil saya untuk mengetahui karya saya ya❤️ jangan lupa dukungan nya❤️
bersambung
__ADS_1