
Acara nya perjamuan makan sukses membuat tamu terhormat Revand gembira. Gembira karena, Revand dianggap sangat menspesialkan tamu hingga sang istri ikut andil terjun langsung untuk memasak langsung menu yang dihidangkan. Hal itu membuat Revand, terutama istri nya mendapatkan applaus dan pujian yang berulang ulang. Revand bahagia. Semakin cinta dan sayang lah Revand pada sang istri.
"Sayang, makasih ya. Bos ku suka sekali dengan acara kita tadi. Kamu yang punya ide, dan kamu juga yang membuat perjamuan makan jadi sangat istimewa, masakan kamu!"
Usai berganti pakaian dengan pakaian tidur, Revand menghampiri istri nya yang masih membersihkan wajah nya didepan kaca hias.
"Itu juga karena prestasi kamu dikantor kan, kalau kamu nggak kerja dengan baik mana mungkin beliau bisa bersikap begitu respect dengan kamu,"
"Tapi perjamuan tadi itu benar benar prestasi kamu sayang, aku mau kasih hadiah kekamu deh, kamu mau apa...?"
Revand bertanya sembari membelai lembut rambut panjang istri nya yang dibiarkan terurai. Sherlin terdiam sejenak. Tangan nya yang sedang memegang kapas berhenti mengusap kan kapas itu kewajahnya. Wanita itu mengangkat wajah nya. Menatap wajah suaminya dengan tatapan mata serius.
"Hadiah...? Aku cuma mau, kamu setia itu aja,"
Entah kenapa, ucapan Amel direstoran tadi cukup mengganggu fikiran Sherlin. Ditambah lagi, Sherlin yang diam diam mengawasi Gisella memang acap kali memergoki wanita itu sering mencuri pandang pada suaminya. Sherlin bukan tidak percaya pada Revand. Mereka berpacaran cukup lama. Selama itu, bukan tidak ada pengganggu dalam hubungan mereka, hanya saja yang sekarang bibit pengganggu itu cukup membuat Sherlin gelisah.
" Setia...? Akukan selama ini nggak pernah macam macam sama kamu sayang...? Kenapa menyuruhku melakukan hal yang aku sendiri mewajibkan hal itu kulakukan dan kamu lakukan..?"
"Ia. Maaf. Aku jadi ngaco. Mungkin karena terlalu capek, aku jadi ngaco...!"
Sherlin memilih tidak melanjutkan membahas apa yang menjadi kekhawatiran nya. Ia mengulas senyum. Melanjutkan mengusap kan kapas ke wajahnya. Revand menangkap lengan istrinya. Merampas kapas itu dan ganti ia yang melakukan hal yang dilakukan istrinya tadi dengan lembut.
Sherlin termangu. Apa sekarang, ia sedang di layani oleh suaminya...? Wajah nya jadi bersemu, itu membuat Revand jadi gemas dan, sial, jadi berfikiran untuk melakukan aktivitas intim dengan sang istri. Padahal ia harus menahan libido nya karena masa haid Sherlin belum usai.
"Wajah kamu yang begitu bikin aku nafsu tau..."
Bisiknya sembari meletakkan kapas kemeja rias.Wajah istri nya sudah bersih. Ia merasa tidak perlu dibersihkan lagi. Belum sempat Sherlin merespon bisikan nakal suaminya, Revand sudah mengangkat tubuhnya keatas tempat tidur. Sherlin panik...
"Vand. Kamu nggak lupakan, aku masih kotor lho!"
Katanya gelagapan. Wajahnya semakin memanas. Revand membaringkan tubuh mungil istri nya, menatapi wajah polos Sherlin yang tetap indah meski tanpa make up. Sherlin balas menatap, tapi jantung nya berdegup kencang karena khawatir, suaminya mengajak nya melakukan hubungan intim dengan kondisi nya yang seperti ini.
Jemari Revand membelai wajah itu. Lembut. Seolah olah wajah Sherlin sebuah karya seni yang begitu sangat dikagumi nya. Sherlin mau tidak mau menikmati apa yang dilakukan suaminya. Meski wanita itu tetap memasang radar waspada kalau kalau Revand nekat mengajak nya berhubungan intim.
"Kamu cemburu kenapa...? Harusnya kamu sadar, aku yang pantas cemburu, karena tadi kamu masak bareng dengan Rei dalam waktu yang lumayan lama. Rei nggak nyentuh nyentuh kamu kan...?"
Ucapan Revand mau tidak mau membuat Sherlin melongo. Rei...? Revand cemburu pada Rei...? Sherlin spontan tertawa...
Revand mengerut kan alis melihat istrinya justru menertawakan nya, padahal ia sedang serius membahas hal itu...
__ADS_1
"Apanya yang lucu...?"
"Kamu. Kamu yang lucu. Kamu cemburu pada Rei...? Astaga. Aku kan udah bilang. Rei itu sahabat aku. Mana mungkin dia bisa kamu cemburui,"
"Tapi dia juga pria sayang. Keren. Tinggi, tubuhnya oke. Pinter masak. Cocok banget sama kamu, sedang aku...? Didapur mau ngapain...? Cuma jadi penonton aja..!"
Jemari Sherlin terulur. Dibelainya wajah tampan sang suami yang sekarang ini terlihat sangat bete.
"Tapi dia pria baik baik. Dia nggak mungkin jadi pebinor..! Rei itu jodoh Amel. Aku mau mereka jadian pada akhirnya, sebenarnya, mereka itu saling suka. Hanya aja sama sama keras kepala!"
"Terus, kenapa kamu tiba tiba jadi meragukan kesetiaan ku...?"
Wajah ceria Sherlin meredup. Jemari nya yang tadi membelai wajah suaminya menghentikan apa yang ia lakukan. Ia ingin bangkit. Mendorong tubuh suaminya yang menindih tubuhnya, namun Revand tidak mengizinkan sang istri lolos dari cengkraman nya. Ia memperkuat posisi nya hingga Sherlin merasa benar benar tidak ada celah untuk lolos.
"Gisella itu cantik ya.."
"Emang, terus kenapa...?"
"Kalau aku berpenampilan begitu kamu suka nggak..?"
"What...?"
"Hei. Kamu ini sedang cemburu dengan Gisella...? Astaga. Kalau aku suka cara berpenampilan dia, udah dari pertama kenal dia, aku pasti tertarik dengan dia..! Sayang. Aku lebih suka penampilan kamu yang sekarang. Tertutup tapi anggun. Buatku kamu itu hanya perlu sexy dikamar ini. Didepan aku. Jangan didepan pria lain, apalagi didepan umum!"
"Ohya. Biasanya kan pria suka wanita sexy. Gisella itu cantik, sexy, cerdas, wanita karir pula, sedang aku..."
Jari telunjuk Revand menempel dibibir Sherlin. Jujur, ia tidak suka jika lagi lagi istri nya itu minder lagi.
"Aku udah bilang, jangan suka merasa kamu itu nggak menarik. Aku suka sama kamu artinya, kamu wanita yang punya segudang daya tarik. Aku sudah suka dengan kamu yang seperti ini. Paham...?"
"Serius. Kamu nggak mau aku jadi sexy...?"
"Emangnya kamu mau melakukan hal yang nggak kamu sukai...?"
Sherlin menggeleng.
"Tapi istri yang berbakti pasti selalu berusaha ingin membuat suaminya senang!"
Ucap nya pelan.
__ADS_1
"Sherlin. Aku paham apa yang kamu maksud. Aku juga paham dengan kekhawatiran kamu. Tapi kamu harus percaya, nggak ada yang harus kamu khawatir kan sayang. Tugas suami adalah membina. Kalau aku ingin kamu sexy, berarti aku gagal jadi imam yang baik untuk kamu. Aurat istri yang diumbar bukankah jadi dosa pula bagi suaminya...? Aku masih tau hal itu sayang. Jadi jangan berfikiran macam macam lagi ya...!"
Wajah suram Sherlin seketika semringah mendengar ucapan Revand. Hatinya menjadi lega mendengar apa yang dikatakan suaminya.
"Maafkan aku ya. Abisnya dia keliatan bener memancing kamu tadi. Sengaja membuat kamu ngeliatin dada dan paha dia buat bikin kamu tertarik!"
"Aku tau kok. Tapi aku nggak tergoda. Justru sikap kamu yang sekarang yang lagi memancing aku. Memancing nafsu libido ku naik..."
Sembari mengucapkan kalimat tersebut Revand merunduk. Mencium bibir istrinya dengan lembut, Sherlin gelagapan. Ia tahu sekarang lagi lagi sang suami kembali bergairah seperti malam malam sebelum nya. Setengah mati ia mencoba menahan gairah suaminya itu, karena ia benar benar masih belum bisa melayani suaminya tersebut dengan total.
Sherlin melepaskan ciuman panas suaminya. Berusaha untuk mendorong tubuh Revand agar ia bisa bangkit supaya tidak terjebak dengan situasi. Tapi Revand tidak membiarkan itu terjadi. Kini Sherlin benar benar merasa sangat was was. Keringat memercik didahi wanita itu. Otaknya berputar bagaimana caranya agar ia bisa menahan Revand agar suaminya itu bisa memadamkan gairah nya kembali.
"Vand. Maaf tentang yang tadi. Aku percaya sama kamu. Aku cuma mau jujur aja. Kalau sikap Gisella tadi bener bener sedang memancing kamu, aku bukan nggak percaya kamu, hanya mengingatkan. Maafkan aku ya..!"
Sherlin bicara dengan suara terbata bata. Revand menghela nafas panjang. Tidak tega melihat betapa istri nya terlihat tertekan dengan apa yang ia lakukan tadi. Revand tidak ingin membuat Sherlin jadi trauma. Ia harus bisa menahan gairah nya ini. Jika tidak. Bisa jadi tidak akan ada malam pertama dan malam seterusnya untuk dia.
"Oke. Aku mau maafin kamu, asal besok lusa kamu mau aku ajak berbulan madu ringan...!"
"Bulan madu ringan...? Maksud nya...?"
"Ia, besok lusa aku dinas ke Banjarmasin. Proyek itu membuat bos menugaskan aku kesana, sebagai orang yang dipercaya menangani proyek ini. Aku mau kamu ikut aku. Sekalian jalan jalan di Banjarmasin. Aku sebut bulan madu ringan, karna ini bukan jadwal bulan madu utama kita, bos berjanji jika proyek ini berjalan lancar diawal, aku dapat izin cuti, ketika aku cuti kita bakal bulan madu yang sebenarnya, gimana...?"
"Harus ya aku ikut...?"
"Iya dong. Aku mau kamu ikut, agar Gisella nggak ada celah buat menarik perhatian aku...!
Revand memancing reaksi Sherlin dengan sengaja mengatakan hal itu dihadapan sang istri. Paras Sherlin berubah.
"Gisella ikut...?"
"Iya dong sayang. Inikan bukan liburan. Ini dinas. Gisella adalah orang yang dipercaya pihak mereka untuk menangani proyek ini, tentu aja dia ikut. Jadi apa kamu mau menemani suami kamu ini dinas kesana..? Lagian, besok lusa itu kalau nggak salah haid kamu udah selesai kan..? Pasti malam pertama kita lancar. Kita lakukan di salah satu kota beriman. Biar ntar punya anak yang beriman juga..."
Revand berkata demikian sembari mengedip kan sebelah matanya pada Sherlin. Wajah Sherlin memerah mendengar ucapan sang suami...
Ada ya, suami seteliti suaminya ini....? Jadwal haidnya saja sang suami hapal.Tapi jika membiarkan Revand dinas hanya dengan Gisella, ia juga tidak akan tenang. Bukan tidak percaya pada Revand. Ia percaya. Ia hanya perlu tahu. Sejauh mana Gisella berhasrat ingin mengganggu suaminya. Apakah hanya level ringan, atau justru sebaliknya.....
(Pesan moral apa yang kalian petik di episode kali ini....? Jawab pertanyaan ini dikolom komentar ya, jangan lupa berikan dukungan kalian untuk karya saya ini 😘)
BERSAMBUNG....
__ADS_1