SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 42. CURIGA (1)


__ADS_3

"Sher, kamu dan Revand baik baik saja kan ..?"


Sherlin sedikit kaget ketika saat menyiapkan sarapan, ibunya tiba tiba bertanya seperti itu.


"Kami baik aja ma, kenapa..?"


Sherlin tidak menceritakan perihal pertengkaran nya dengan Revand beberapa hari yang lalu, karena menurutnya itu tidak perlu diceritakan, toh ia dan Revand sudah berbaikan. Revand tetap mengizinkan ia bekerja, meski jam kerja dikurangi, ia juga tidak banyak mempermasalahkan tentang Gisella, yang masih menjadi sekretaris Revand. Sherlin mencoba untuk bijak menyikapi semua nya. Tidak ingin picik. Karena berharap, Gisella memang ingin berubah.


"Syukur lah. Mama hanya khawatir nak. Hanya ingin memastikan. Tapi kalau kalian baik baik saja, syukur lah.."


Apa aku hanya terlalu banyak berfikir ya, Sherlin seperti nya baik baik saja...


Wanita setengah baya itu membathin. Ia menatap kearah Revand, yang baru turun dari lantai atas. Menghampiri meja makan, tapi tidak menarik tempat duduk seperti biasa. Pria itu hanya berkata, bahwa ia tidak sarapan karena terburu buru.


"Kenapa terburu buru...? Bukankah masih terlalu pagi...?"


Ibu Sherlin mencoba menyelidiki.


"Aku baru tau ada hal yang harus aku urus sebelum kekantor ma, jadi aku sedikit terburu buru, nanti aja dikantor aku sarapan, toh menunya juga menu yang dibuat Sherlin.."


Kata Revand, sembari mengulas senyum. Ia menghampiri sang istri, dan mencium kening istrinya.


"Aku berangkat sayang, kamu minta antar sopir ya, aku terburu buru...!"


Sherlin melongo. Tadi malam seperti nya Revand tidak cerita kalau berangkat kekantor lebih awal, akan tetapi situasi seperti ini bukan yang pertama. Sherlin mencoba untuk memaklumi. Ia mengantar suaminya sampai depan, hingga Revand masuk kedalam mobilnya, lalu berangkat kekantor.


"Gisella masih jadi sekretaris Revand..?"


Ibunya bertanya ketika Sherlin kembali.


"Masih ma, kenapa...?"


"Jangan terlalu merasa aman Sher, awasi suami kamu. Paham maksud mama..?"


"Iya ma. Tapi bukan berarti aku harus mengawasi semua kegiatan Revand kan. Ntar yang ada, aku kayak istri yang posesif nya berlebihan..!"


Kamu terlalu polos sayang. Mama khawatir, kepolosan kamu itu dimanfaatkan oleh Gisella..


Hati wanita itu berkata. Tidak tega ia sebenarnya jika ia terus mempersoalkan ini pada putrinya. Karena ia tahu, bukan hal yang mudah untuk Sherlin berusaha tidak berfikiran macam macam, karena suaminya setiap hari berinteraksi dengan Gisella. Hanya saja, entah kenapa naluri keibuan nya mengatakan, pagi ini Revand sedang menyembunyikan sesuatu.


"Ma, aku berangkat kerja ya, pagi ini aku bertugas nganterin orderan gantiin Rei, beberapa karyawan juga ada yang nggak masuk, restoran lagi sibuk sibuk nya ini..!"


Sherlin menceritakan situasi nya sekarang pada sang ibu..


"Baiklah. Hati hati. Jangan terlalu capek sayang..!"


Sherlin mencium tangan ibunya, sembari tersenyum agar ibunya tidak usah mengkhawatirkan nya. Setelah itu, ia segera berangkat. Diantar oleh sopir mereka.


***


Gisella tidak bisa menahan kegembiraan nya ketika mobil Revand berhenti didepan rumah nya. Semula, ia ingin mengajak Revand untuk mampir, berkenalan dengan ibunya, akan tetapi Revand menolak dengan alasan, mereka akan telat sampai kantor jika itu mereka lakukan.


"Lain kali, kalo gue ajak mampir, mampir ya, gue mau nyokap gue percaya, kalo gue emang gaul sama pria baik baik,"


Gisella membuat permintaan. Revand mengiyakan. Ia kembali mengendarai mobil nya menuju alamat yang diberikan Gisella.


"Kita hanya ketemu dia dilobi aja, sebentar. Supaya dia tahu gue udah bareng cowok lain ...!"


Kata Gisella ketika melihat seperti nya Revand ingin protes.


Tidak berapa lama kemudian, mereka sampai ditempat yang mereka tuju. Disalah satu hotel berbintang yang ada di kota kayu Samarinda. Gisella membawa Revand menuju lobi hotel. Menanti pria yang sudah membuat janji dengan nya.


Diwaktu yang bersamaan...

__ADS_1


"Sher, sorry. Gue ngerepotin lu melakukan ini, Rei lagi sakit, maagnya kambuh, dia itu chef tapi sendiri nya selalu lupa makan, biasanya Rei yang nganterin ini pesanan di hari tertentu, lu tau kan, nggak boleh orang sembarangan yang nganterin pesanan cowok es itu, cuma lu dan Rei, yang tau cara menghadapi tu cowok, ntar salah salah, dia kecewa dengan pelayanan kita..!!"


Amel bercerita dengan wajah penuh rasa bersalah. Sherlin tersenyum.


"Nggak papa. Aku paham kok. Kamu handle tugas disini ya, aku akan segera kembali, ntar kita sidang itu Rei, buat nggak bandel lagi .!"


Sherlin memberikan senyumnya pada Amel. Sembari pamit meninggalkan Amel, sambil membawa makanan yang sudah dibungkus rapi untuk segera diantar.


Sementara itu hotel, dimana Revand dan Gisella berada di lobi, sedang menunggu. Hingga kemudian, orang yang mereka tunggu telah tiba.


Gisella sangat puas melihat betapa Pram terlihat kaget, melihat ia menemui pria itu bersama seorang pria.


"Kenalin, ini calon suami gue, direktur Revand,"


Katanya dihadapan Pram. Aura tidak nyaman seketika tercipta. Meski begitu, Revand mengulur kan tangan nya kearah pria dihadapannya.


Maaf ya Sherlin, ini hanya akting..


Suara hati Revand berkata. Telapak tangan mereka bertemu. Mereka masing masing menyebutkan nama, lalu kembali duduk.


"Kamu sudah berubah Gisella..!"


"Berubah dalam hal apa...?"


Gisella balik bertanya dengan nada tidak bersahabat. Pram menelan ludah.


Sial. Ternyata, benar. Gisella sudah sepintar ini, tidak bodoh seperti dulu, bahkan sekarang dia sudah menjadi sekretaris, apa ini alasan papi menjodohkan aku dengan dia. Tapi kenapa wanita ini justru sudah punya calon suami...?


Pram tidak bisa menyembunyikan perasaan tidak menentu nya saat ini. Pandangan nya selalu tertuju pada Gisella. Seakan tidak menyangka, wanita yang punya tingkat kecerdasan yang menurut nya payah itu, benar benar menjadi seorang sekretaris sekarang.


"Kamu benar benar bekerja karena potensi kamu Gisella...? Bukan karena rekomendasi orang dalam, karena direktur ini pacar kamu..?"


Wajah Gisella memerah mendengar ucapan Pram.


Rutuk Gisella dalam hati.


"Apa maksud ucapan anda..? Tentu saja dia diterima di perusahaan karena potensi dia, bukan karena bantuan orang dalam...!"


Revand berusaha untuk membela Gisella. Sesaat, Pram menatap Revand. Mencoba menyelidiki.


"Maaf, saya hanya bertanya, bukan untuk memvitnah, karena sudah lama kami tidak bertemu, jadi kalian memang sepakat untuk menikah..? Apakah anda tahu, orang tua kami sudah menjodohkan kami..? Saya rasa, anda akan kesulitan untuk meminta restu jika nanti kalian akan menikah..!"


Revand lumayan terpojok mendengar ucapan sinis yang dilontarkan pria bernama Pram tersebut. Gisella sadar situasi..


"Itu urusan kami, yang jelas kami saling mencintai, jadi gue harap, lu nggak usah banyak berharap atas rencana orang tua kita, gue nggak cinta ama lu. Gue cuma cinta pria ini...!!"


Gisella mengucapkan itu dengan nada suara meninggi.


Ini memang akting Pram, tapi lu harus ingat, gue benar benar mencintai Revand daripada lu...


Bisik hati Gisella. Pram terdiam. Entah kenapa, rasanya ia tidak rela melihat wanita dihadapan nya menjadi milik orang lain. Memang dulu, ia pernah menolak wanita ini, tapi itu dulu. Sekarang, melihat betapa Gisella sudah banyak berubah menjadi wanita yang lebih menarik, rasanya ia menyesal juga sudah menyia nyiakan wanita ini.


Ponselnya berdering. Pram meminta izin untuk menjawab panggilan tersebut.


Lama amat lu diluar, gue mau kekantor ini, abis makan, makanan yang udah gue pesan udah dateng, lu kalo emang mau ketemu gue, cepetan temui gue dikamar...!


"Oke. Oke. Tunggu gue beberapa menit lagi..."


Pram menutup ponselnya. Ia kembali duduk dihadapan Revand dan Gisella.


"Kita lanjutkan pembicaraan kita nanti dilain waktu, sekarang ada yang mau saya urus,"


Ucapan itu sebenarnya dilontarkan Pram untuk Gisella. Bukan untuk Revand, dan Gisella cukup cerdas untuk mengetahui isyarat itu.

__ADS_1


"Gue nggak mau ketemu lu lagi dilain waktu, lupain rencana perjodohan itu. Sekarang lu udah tau gue udah punya pacar, jadi jangan ngarep apa apa lagi dari gue ..!"


Gisella bangkit. Meraih tangan Revand, merangkul nya lalu mengajak pria itu berlalu dari hadapan Pram. Sadar dengan apa yang dilakukan Gisella, Revand berusaha ingin melerai lengan Gisella yang merangkul nya mesra. Namun Gisella berbisik...


"Diem dulu. Pram masih ngeliatin kita, lu nggak usah protes, rangkul lengan doang belum juga gue cium lu dihadapan dia..!"


Ucapan nakal Gisella membuat Revand merasa ada sesuatu yang membakar sekilas dalam darahnya. Membuat jantung nya berdegup kencang. Bukan karena kasmaran, tapi karena merasa tertantang.


Sial..


Maki Revand ketika ia justru menikmati hal itu. Ia ingin mendebat Gisella, tapi situasi tidak mendukung nya, mereka terus melangkah melintasi lobi hotel tersebut untuk keluar. Tanpa disadari Revand, tidak jauh dari mereka, Zill menyaksikan apa yang tengah mereka lakukan. Semula, Zill tidak yakin orang yang dirangkul Gisella itu Revand. Tapi ketika pria itu mencoba untuk memperdekat jarak. Zill jadi yakin, pria itu adalah Revand.


"Revand dihotel dengan Gisella sepagi ini. Ada apa...?"


Zill ingin memburu Revand dan Gisella yang masih berjalan beriringan dengan posisi Gisella merangkul lengan Revand mesra. Namun dikejauhan sana ia melihat Sherlin muncul sembari menenteng bungkusan yang ia yakin makanan yang ia pesan.


"Kenapa jadi Sherlin yang nganter pesananku ...? Sekalian aja aku buat dia melihat kelakuan suaminya...!"


Zill segera mendekati Sherlin yang muncul dari arah berlawanan. Ia ingin menunjukkan pada wanita itu tentang apa yang ia lihat, akan tetapi...


"Kebetulan. Kebetulan banget kamu mau keluar kamar, aku nggak harus naik keatas kan, atau aku tetap naik keatas nganterin ini...? Restoran lagi rame banget, aku harus segera kembali, tolong tanda tangan disini ya..!"


Ucapan yang ingin diucapkan oleh Zill, terhenti seketika ditenggorokan. Nafas wanita itu terengah-engah, pertanda memang wanita itu sedang terburu buru. Zill mengulur kan tangan. Sherlin menyerahkan bungkusan berisi makanan itu kepada Zill. Dan meminta Zill untuk tanda tangan sebagai tanda terima.


Setelah Zill melakukan hal itu, Sherlin segera ingin membalikkan tubuhnya untuk segera kembali kerestoran. Namun suara Zill menghentikan gerakan nya.


"Bagaimana kabar Revand...? Perusahaan nya baik baik saja kan..? Apa pagi ini, dia kekantor...?"


Sherlin membalikkan tubuhnya kembali dan menatap wajah Zill.


"Alhamdulillah, dia baik baik aja, untuk perusahaan mungkin sekarang dia sedang diuji, tapi aku yakin dia bisa menghadapi nya, dan tentu aja dia sekarang ada dikantor, aku yakin itu..."


Suami kamu ada dihotel ini dengan Gisella, Sherlin...


Ingin sekali Zill mengatakan kalimat tersebut. Namun melihat wajah polos Sherlin yang seolah tanpa dosa, Zill jadi tidak tega.


Mungkin, lebih baik aku selidiki saja dulu hal ini, siapa tau aja, mereka disini untuk tujuan bisnis...


Zill membathin.


"Baik lah. Syukur kalau begitu. Silahkan kembali kerestoran, terima kasih ya sudah mengantarkan langsung pesanan ku ini, biasanya Rei.."


"Rei sakit. Aku yang menggantikannya, karena karyawan yang lain nggak berani menemui kamu ...!"


Jelas Sherlin sembari tersenyum. Rasanya tidak bicara seformal dulu membuat komunikasi mereka terjalin cukup santai. Tidak kaku seperti biasanya, meski pun ekspresi Zill masih dingin seperti biasa.


Zill mengiringi langkah Sherlin untuk mengantarkan Sherlin sampai diluar hotel.


"Lain kali kalau dia sakit, dijadwal dia yang nganter konfirmasi aja situasi restoran ya, kalau terburu buru begini yang ada itu membahayakan kamu, hati hati.."


Ucap Zill pada Sherlin. Sherlin mengucapkan terima kasih padanya sebelum akhirnya wanita itu melangkah menuruni anak tangga hotel tersebut untuk keparkiran dimana salah satu karyawan Rei menunggu nya diatas motor, Sherlin dan Zill tidak sadar, Revand menatap kearah mereka dengan tatapan penuh amarah didalam mobil miliknya..


Sherlin dan Zill dihotel yang sama...? Ngapain mereka....?


Semula, Revand ingin langsung melabrak Sherlin dan Zill saat mereka berdua bicara didepan hotel. Tapi suara Gisella mengurung kan niatnya, karena wanita itu menyadarkan ia, bahwa mereka harus segera berangkat kekantor jika tidak ingin terlambat...


Note : Jangan lekas percaya dengan apa yang kita lihat. Karena yang nampak belum tentu yang sebenarnya. Terkadang, apa yang kita lihat tidak seperti yang terlihat ..


👉 Bagi yang selalu mengikuti novel saya berjudul " FACE" dilapak sebelah, novel itu sudah tamat ya💖


👉 Pembaca yang baik pasti tahu isi hati author nya 💖💖💖😘😘😘😘


👉Masih ditunggu yang belum setor nomor nya untuk menerima reward event bagi yang menjadi juara, cek infonya diepisode 41. Silahkan follow saya disini bagi yang belum mempunyai kontak pribadi saya, atau bisa juga menghubungi saya lewat akun FB saya MITHAVIC HIMURA 💖

__ADS_1


bersambung


__ADS_2