
Usai ikut doa bersama, Sherlin menepi dari keramaian. Ia jadi serba salah untuk bersikap. Ingin dekat dengan Revand, ia takut akting suaminya terbongkar, sementara ibu Zill tidak henti hentinya mengucapkan kalimat syukur nya dihadapan Sherlin, wanita itu percaya dengan apa yang tadi diucapkan Pram. Bahwa Sherlin adalah calon istri putranya.
"Nak. Ibu bersyukur, Zill mempunyai calon istri sebaik kamu. Ibu minta setelah suasana berkabung, hubungan kalian diresmikan saja. Ibu ingin melihat kalian menikah, ibu hanya ingin setelah ibu menyusul suami ibu, Zill punya seseorang yang bisa menjaga dan merawat nya dengan tulus, bukan karena ingin hartanya saja."
Sherlin kembali tidak bisa berkata apa apa mendengar ucapan ibu Zill. Ditatapnya wajah wanita itu. Meski sepasang matanya sembab, tapi ia bisa melihat, kebahagiaan terpancar dimata itu ketika beliau mengucapkan kalimat tersebut.
Sherlin semakin merasa serba salah dibuatnya.
"Bu..."
"Sher, bisa kita bicara sebentar...?"
Baru saja Sherlin ingin mencoba menjelaskan situasi yang sebenarnya, tiba tiba saja Zill muncul dan langsung mengucapkan kalimat tersebut. Sherlin menatap kearah ibu Zill. Wanita itu mengangguk, memberi isyarat, agar Sherlin mengikuti kemauan anaknya.
Sherlin mengalah. Ia mengikuti langkah Zill, ada rasa bersalah ketika ia melakukan itu. Karena disana, Revand sang suami menatap nya dengan penuh rasa cemburu yang sangat terlihat.
Maafkan aku Revand. Ini karena perbuatan kamu sendiri, hingga aku terjebak dalam situasi rumit begini..
Bisik hati Sherlin, sembari mengikuti langkah Zill. Pura pura buta dengan tatapan penuh cemburu yang ditujukan sang suami kepada nya.
Zill mengajak Sherlin bicara diruangan yang tidak ramai. Hanya ada beberapa asisten rumah tangga Zill yang terlihat sibuk dengan tugas mereka masing masing diruangan itu. Hingga tidak peduli dengan apa yang dilakukan tuan mereka.
"Sher, sebelum nya aku minta maaf. Mungkin permintaan ku ini terkesan egois, dan nggak memikirkan perasaan kamu sebagai istri Revand, tapi kuharap, kamu bisa paham dengan maksudku ini."
Zill terdiam untuk sesaat. Ia menarik nafas. Entah kenapa, hanya ingin membicarakan apa yang sekarang ia sepakati dengan Revand, ia seperti tidak bisa bersikap normal. Jantung nya berdetak lebih kencang. Hatinya diselimuti berbagai rasa. Meski berulang kali ia meneguhkan hati, bahwa ia tidak boleh menikmati perasaan tersebut, tetap saja itu tidak berfungsi sama sekali.
"Demi ibuku. Apakah kamu mau pura pura membenarkan gosip itu...?"
Lirih suara Zill saat mengucapkan kalimat tersebut. Ketegasan yang biasanya dimiliki pria itu seperti lenyap tidak berbekas. Ia seperti kehilangan kekuatan dihadapan Sherlin.
Sementara itu, Sherlin seketika menoleh mendengar apa yang diucapkan oleh Zill.
"Maksud kamu, kita melakukan hal yang seperti Revand lakukan dengan Gisella..?"
"Jadi benar, suami kamu sudah minta izin dengan mu untuk hal itu...?"
Sherlin menghela nafas.
"Aku harus bagaimana menghadapi situasi ini..? Jujur, aku keberatan dengan pemberitaan kita dimedia, jujur aku juga terluka dengan akting Revand dan Gisella. Tapi aku bisa apa untuk merubah semuanya...? Revand udah jujur mengatakan semua nya padaku, aku lega dia bisa jujur, tapi aku juga nggak bisa berbohong, aku sakit menerima ini semua. Siapa yang suka mendengar suaminya diakui pacar oleh wanita lain...? Gisella pula..!"
Suara Sherlin gemetar saat mengucapkan kalimat itu. Terlihat sekali wanita itu seperti terguncang. Dan ingin sekali Zill menyentuh pundak wanita itu untuk sekedar menghibur memberikan kekuatan, tapi ia tidak bisa. Ia tidak bisa melakukan itu karena Sherlin istri orang lain. Apa bedanya ia dengan Gisella jika ia melakukan hal itu...?
"Aku mengerti perasaan kamu. Revand harus merasa kan perasaan yang sekarang kamu rasakan Sher. Maaf, bukan maksudku untuk memprovokasi kamu dalam situasi seperti ini, akan tetapi sebagai teman, aku juga nggak suka dengan keputusan yang diambil suami kamu. Mungkin dengan membalik kan keadaan yang sekarang kamu rasakan, dia bisa sadar dengan perasaan kamu yang sekarang, jadi aku harap demi ibuku bekerja sama lah. Aku akan membayarmu untuk ini. Aku sudah terlambat menyesali perbuatan ku pada ayahku. Aku nggak melakukan hal yang membahagiakan disisa terakhir hidupnya, aku nggak mau mengulang kesalahan yang sama, tolong hanya saat ibuku rapuh seperti ini, tetaplah ada disamping nya. Buat dia kuat menghadapi semua ini. Aku tau, ini konyol, tapi semua ini kulakukan demi ibuku...!"
"Kamu tau nggak, kalau kita melakukan itu, kita sama saja menyakiti hati beliau Zill. Sesuatu yang diawali dengan kebohongan itu nggak akan berakhir dengan baik. Kenapa kamu nggak kenalin calon kamu aja pada beliau, agar beliau bisa tenang...!"
__ADS_1
Sherlin tidak setuju dengan niat yang di rencanakan oleh Zill. Meskipun ia merasa sakit dengan apa yang dilakukan oleh suaminya, tapi ia tidak punya niat untuk membalikan situasi itu pada sang suami.
"Aku tahu. Tapi aku janji setelah masa berkabung lewat, aku akan menjelaskan semuanya pada ibuku, untuk sekarang tolong kerja samanya, aku janji, aku nggak akan memanfaatkan situasi ini untuk melakukan hal hal yang nggak pantas, kamu bisa percaya itu padaku. Aku nggak punya pacar, dan kamu tau sendiri mencari pacar itu tidak semudah mencari barang yang kita mau, apalagi mencari yang benar benar tulus dengan kita, semua butuh proses, aku pasti merealisasikan kemauan ayahku, tapi bukan sekarang. Tugasku sekarang adalah membuat ibuku bisa bangkit lagi."
Sherlin terdiam. Tidak bisa berkata apa apa lagi. Disatu sisi ia paham dengan apa yang dirasakan oleh Zill. Tapi di sisi lain ia juga tau posisi nya adalah istri Revand. Rasanya ia bermain dengan dosa jika melakukan hal yang seperti Revand dan Gisella lakukan. Hatinya sesak. Sepasang matanya mulai menghangat. Dan butiran bening itu nekat turun membasahi pipi wanita itu, meskipun ia segera mengusap nya.
"Sher. Percaya sama aku. Nggak ada kontak fisik selama kita berpura pura. Aku tau posisi kamu, dan aku paham dengan posisi ku sendiri."
Suara Zill kembali terdengar. Sherlin menarik nafas panjang. Berusaha untuk menguatkan hati, dan mencerna semua ucapan Zill, yang di nilai nya sangat konyol.
"Baiklah. Ini kulakukan karna kamu temanku, dan ibu kamu baik padaku. Tapi aku harap, ini nggak lama, bagaimana pun apa yang kita lakukan ini salah. Aku nggak mau bermain api Zill. Aku nggak mau pernikahan ku taruhan nya...!"
Akhirnya, Sherlin mengambil sebuah keputusan, meski suaranya gemetar, saat mengucapkan kalimat tersebut.
"Aku tau. Kita hanya melakukan ini karena situasi yang rumit mengepung kita. Makasih ya, nanti aku transfer pembayaran nya sama kamu..!"
"Nggak usah. Anggap aja aku membalas apa yang dilakukan Revand, meskipun aku nggak seharusnya melakukan itu...!"
Zill tidak bisa membantah lagi mendengar Sherlin teguh untuk tidak mau menerima pembayaran darinya. Tapi ia lega, setidaknya Sherlin berani membuat keputusan, untuk bisa lebih kuat menghadapi Revand dan Gisella. Paling tidak, Zill berharap Revand segera mengakhiri aktingnya dengan Gisella karena merasa cemburu dengan situasi yang terbalik menyerangnya tersebut.
Maafkan aku Sherlin, aku hanya ingin memberikan sedikit pelajaran untuk suami kamu, bahwa dia harus lebih berhati hati untuk setiap keputusan yang ia ambil ....
Zill membathin sembari beranjak meninggalkan Sherlin untuk kembali keruang depan karena harus tetap menjadi tuan rumah untuk para pelayat yang datang. Sepeninggal Zill, airmata Sherlin luruh lagi.
Kenapa aku harus terlibat permainan gila kalian...? Apa salahku...
***
"Sell. Lu tegang amat liat berita. Kenapa..? Gebetan yang lu kejar lagi jadi hot news...?"
Gisella mencibir mendengar ucapan Dina. Teman nya itu memang ingin kerumahnya, beruntung ibunya sudah kembali ke Jakarta, karena khawatir ayahnya marah, sang istri meninggal kan rumah terlalu lama. Jika ada sang ibu, tentu saja ia tidak mengizinkan Dina datang, karena akan membuat semua hal yang tidak boleh diketahui oleh keluarga besarnya akan diketahui.
Dina ikut ikutan melihat kelayar telivisi. Dimana mata Gisella masih menatapi layar itu tanpa berkedip.
"Itukan berita keluarga Mahendradatta, lu tertarik sama keluarga mereka...? Presdir nya baru aja meninggal kan...? Apa, lu sekarang berniat mepet putra tunggal nya..? Lumayan dapat warisan gedde tu,"
"Nggak...! Revand tetap pujaan hati gue..!!"
Gisella meraih remote. Lalu mematikan telivisi. Bibirnya maju satu senti.
Pria itu udah meninggal. Cih. Pendek umur banget. Pantesan tobat, punya penyakit ternyata..
Gisella memaki dalam hati. Sejujurnya, sosok ayah Zill cukup membuat Gisella sulit untuk melupakan. Sebelum ia kenal Revand, Gisella selalu larut dalam kata "seandainya" untuk hubungan nya dengan pria itu. Seandainya pria itu tetap bersamanya, tentu ia punya kedudukan tinggi sekarang diperusahaan keluarga besar Mahendradatta. Tidak hanya sebagai sekretaris. Tapi itu dulu. Sekarang, seluruh otaknya hanya memikirkan Revand. Hanya Revand yang sedapat mungkin ingin ia miliki.
"Gimana udah siap bawa gue ketempat dukun lu...?"
__ADS_1
"Gue yang harus nya nanya itu keelo, elo udah siap belum...?"
"Emang, gue harus menyiapkan apa selain uang buat bayar tu dukun...?"
"Mental lu juga harus siap. Karena persyaratan itu kagak mudah, beda orang beda persyaratan, apalagi kalo pujaan hati lu itu taat ibadah, semakin banyak syarat yang harus lu terima...!"
"Nggak pake tumbal kan...?"
"Emang lu mau pesugihan..?"
Gisella menggeleng cepat. Tanpa pesugihan pun ia masih bisa mendapatkan kekayaan, bermodal kan wajah dan tubuh sexy nya ini. Akan tetapi bukan itu prioritas utama Gisella sekarang. Hanya Revand target nya.
"Nggak pake tumbal kok, cuma kadang syaratnya aja nyeleneh bagi kita. Apalagi kalo orang yang akan kita dukuni itu taat ibadah, makin sulit kita buat bikin tunduk..!"
"Berarti percuma dong gue kedukun buang duit segala,"
"Ya inceran lu itu alim nggak..?"
Cih. Diajak ke bar aja dia nggak mau...
Gisella menyahut dalam hati.
"Lu yakin nggak sih, kalo nggak yakin mending nggak usah deh, ntar lu juga nggak bakal bisa memenuhi persyaratan yang ada...!"
Dina mulai kesal dengan sikap ragu ragu Gisella.
"Ya, wajar dong gue ragu. Gue kan nggak percayaan hal gituan,"
"Tapi contoh nyatanya itu gue Sell. Gue sekarang udah berhasil."
"Ya udah. Kalo emang ada kemungkinan berhasil. Asal jangan minta gue tidur ama tu dukun aja, najis gue..!!"
"Kalo dukunnya ganteng...?"
"Mana ada dukun ganteng, dimana mana juga pasti jelek,"
"Tapi apapun syaratnya, lu siap kan Sell ..?"
"Demi Revand jadi milik gue, gue siap...!"
Dina menarik nafas lega. Karena jika Gisella tidak siap, ia juga akan menerima resiko nya. Resiko kemarahan sang dukun yang merasa terganggu telah diusik pelanggan yang tidak punya kesiapan untuk melakukan sejumlah persyaratan...
NOTE: Cinta tidak bisa direkayasa. Karena ia datang begitu saja tanpa bisa dicegah dan di prediksi manusia. Cinta bisa menyatukan apa saja yang kita anggap mustahil untuk disatukan. Akan tetapi, merekayasa cinta untuk menyatukan hal yang mustahil bukan bentuk dari anugrah sebuah cinta. Tapi keserakahan manusia.
πPembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya π
__ADS_1
π Ngetik dihutan ini gaes, demi fans "SANG PELAKOR" cari sinyal sampe harus naik pohon πππ komentar kalian ntar pasti saya respon ya, sabarπ
BERSAMBUNG.