SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 13. PENGALAMAN PERTAMA.


__ADS_3

Hallo pembaca " SANG PELAKOR" lanjut pengenalan tokoh versi author ya, sekarang tokoh Amel, salah satu sahabat Sherlin juga yang baik dan tangguh, ini versi author, kalo kalian ga sreg, silahkan cari versi sendiri yaπŸ˜‚ pembaca bebas berimajinasi 😎



Nah, udah pada gak penasaran kan, sekarang mari kita lanjutkan episode berikutnya 😊


- PENGALAMAN PERTAMA.


Perjalanan dinas Revand akhirnya usai. Revand dan Gisella berhasil membuat para klien proyek mereka merasa yakin dan puas. Selama di Banjarmasin, Gisella belum mendapatkan kesempatan untuk menarik perhatian Revand. Meski mereka sering beraktivitas berdua, benteng pertahanan Revand masih sulit untuk ditembus oleh Gisella. Hal ini membuat Gisella benar benar mencoba mencari trik untuk bisa menaklukkan hati pria tersebut.


" Mama..."


Sherlin terkejut ketika tiba tiba saja ibunya sudah memeluk nya dengan erat. Semenjak resmi menjadi istri Revand, Sherlin memang meminta ibunya untuk tinggal bersama nya, dirumah yang dibeli Revand untuk nya. Bagi Sherlin, rumah itu terlalu besar jika hanya ditinggali berdua, itu sebabnya setelah izin dengan Revand, Sherlin meminta ibunya untuk tinggal bersama dengan mereka. Meskipun awalnya sang ibu menolak, akan tetapi dengan berbagai macam cara, akhirnya sang ibu mau juga diajak tinggal bersama dirumah mewah tersebut.


" Gimana. Apa Revand memperlakukan kamu dengan lembut sayang...?"


Sherlin bengong dengan pertanyaan ibunya.


"Maksud mama...?"


"Mama tidak mau nasip kamu seperti mama, kamu ngertikan maksud mama..?"


Sherlin tersenyum. Sekarang ia tahu apa yang sedang dikhawatirkan ibunya.


"Menurut mama, apakah Revand bisa memperlakukan kasar aku ma..?"


Sherlin mencoba menanyakan hal itu. Ingin tahu pendapat ibunya, tanpa dipengaruhi oleh pendapat nya.


" Revand memang sangat menghormati wanita, dia juga sudah lama memacari kamu selama kalian belum menikah, dan hubungan kalian juga lancar lancar saja, tapi tetap jangan terlena, karena setiap pernikahan itu, pasti ada pasang surutnya, dan kamu harus siap untuk hal itu, yang ingin mama tahu, apakah Revand melakukan hal hal yang sekira kira memaksa kamu, terutama dalam berhubungan intim. Tolong jangan menganggap mama ikut campur dalam masalah kamu sayang, mama cuma khawatir..."


Sherlin tersenyum mendengar ucapan ibunya. Dibalikannya tubuhnya, agar posisi mereka saling berhadapan. Hingga mereka bisa saling menatap wajah satu sama lain.


"Ma, makasih ya, mama selalu mengkhawatirkan Sherlin. Aku janji, aku nggak akan menutupi apapun pada mama, Revand sangat baik memperlakukan aku ma. Begitu sabar, padahal aku masih belum punya banyak pengalaman tentang itu. Tapi dia begitu sabar, mama nggak usah khawatir ya. Alhamdulillah, aku menemukan pria yang jadi suamiku, yang bisa menghargai aku sebagai wanita dan istri. Makasih ya ma, udah merestui kami..."


Wanita setengah baya itu menghela nafas lega mendengar kalimat yang keluar dari mulut putrinya. Jemarinya terangkat. Membelai wajah cantik putrinya.


"Mama bahagia melihat kamu bahagia sayang. Karena selama ini, mama merasa tidak bisa memberikan kebahagiaan yang sebenarnya untuk kamu, melahirkan kamu dari keluarga yang tidak lengkap, satu satunya harapan mama adalah, kamu bisa bahagia dengan orang yang jadi suami kamu, karena begitu banyak pria yang tidak bisa menghargai istri dan juga wanita..."


Sherlin memeluk tubuh ibunya dengan penuh sayang.


"Aku bahagia ma, memiliki mama buatku itu sebuah kebahagiaan tersendiri, wanita yang selalu berjuang untuk anaknya, kehadiran Revand sudah menambah kesempurnaan hidup aku, kita lupakan masalalu pahit kita ya ma, mulai sekarang kita harus bahagia..!"


Wanita itu balas memeluk putri nya. Perasaan lega begitu menyelimuti nya. Putri kesayangan nya kini sudah menjadi wanita. Tanpa melewati hal buruk yang pernah ia terima saat ia masih bersama dengan suaminya dahulu. Revand bukan ayah Sherlin. Revand pria yang bertanggung jawab, sedang ayah Sherlin bukan pria yang bertanggung jawab.


***


Sherlin mengetuk pintu kamar kost milik Amel. Dari kabar yang ia dapat dari Rei, Amel sakit hingga beberapa hari tidak masuk kerja. Hingga Sherlin langsung mendatangi kamar kost Amel sembari membawakan sayur kesukaan sahabatnya itu. Sop ceker. Beberapa saat menunggu, akhirnya pintu dibuka. Terlihat wajah lusuh Amel. Sherlin langsung masuk kedalam. Kamar itu terlihat semrawut. Tentu saja. Karena pemilik nya sedang sakit. Mana mungkin beres beres kamar. Sherlin meletakkan makanan yang ia bawa dimeja kecil yang ada disudut ruangan kost tersebut. Lalu menghampiri sahabat nya.


"Sakit nggak ngasi kabar. Kalau Rei nggak bilang, aku mana tau kamu sakit..!"


Kata Sherlin sembari memegang dahi Amel. Khawatir kalau suhu badan Amel naik.


" Gue udah baikan kok, sebenarnya nggak bisa dibilang sakit Sher, karena semua wanita kan pasti mengalami apa yang gue alami, cuma yang kemarin itu pengalaman pertama buat gue, pinggang sakit, perut bagian bawah gue juga sakit, keram, astaga gue jadi seketika lemah, padahal biasanya juga gue nggak pernah bermasalah saban tamu ini datang ..!"

__ADS_1


"Haid...?"


Amel mengangguk.


" Itu tanda nya Tuhan ngasi kode kamu Mel, kamu wanita jangan pungkiri itu..!"


"Lu kira gue nyalahin kodrat gue sebagai wanita...?"


"Bukan itu maksud ku. Maksud ku itu, selama ini kamu itu terlalu masa bodoh dengan kondisi kamu yang wanita itu. Kerja berat diforsir, ya kamu emang kuat, nggak cengeng tapi tetap aja fisik kamu itu wanita, perlu dijaga..."


Amel cengengesan. Ia menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Abis, kalo kerja gue malas minta bantu apalagi Rei itu, mendorong gue banget kalo apa apa harus sendiri, kan malas minta bantu dia.."


" Dia cuma ngetes kamu Mel. Butuh nggak kamu ama dia..."


"Hallah. Cuma cowok romantis yang bisa mikir gitu Sher, Rei itu bukan Revand yang bisa romantis, gue galau aja dia bawain gue buah naga, bawain coklat gitu kek...!"


Sherlin tertawa melihat ekspresi Amel yang begitu lucu saat mengucapkan kalimat tersebut. Ditertawakan Sherlin, Amel mencibir. Hingga ia teringat satu hal...


"Gimana, lu ama Revand udah gitu gak...?"


Katanya dengan sorot mata nakal. Wajah Sherlin spontan bersemu.


"Udah pastikan, muka lu udah ngomong iya, gue udah tau...!"


Amel menghindar ketika Sherlin meninju bahunya pelan.


"Gimana Sher. Rasanya...? Enak nggak...?"


Kata Sherlin pura pura sewot.


"Maksud gue, lu ngerasa dihargai nggak sebagai cewek...? Banyak kejadian, pria itu egois, kalau udah pengen, nggak peduli istri sakit, main ajak aja. Terus kalo ditolak pake hukum agama dah, bilang dosa segala lagi nggak melayani suami..!"


Sherlin menarik nafas panjang. Wajahnya jadi terlihat serius. Sebenarnya, dia dulu juga punya fikiran yang sama menyoal hal itu. Banyak yang ia dengar pria pasti egois tentang masalah berhubungan intim. Ayahnya saja seperti itu. Tidak heran, jika Amel juga mengkhawatirkan hal yang sama, karena ia tahu, Amel sama seperti dirinya yang berusaha menjaga kehormatan wanita sampai nanti tiba saatnya menikah.


"Mel. Dulu aku juga berfikiran sama kayak kamu. Semua pria itu egois kalau udah menyangkut hal itu. Tapi setelah mengalami nya sendiri, aku jadi tahu, nggak semua pria seperti itu. Revand sabar dan nggak egois sama sekali. Dia bisa membuat aku nggak mengkhawatirkan apapun, meskipun aku awam dalam hal itu. Kurasa, kita nggak bisa memukul rata semua pria begitu, karena tergantung prianya, Alhamdulillah aku diberi suami yang sempurna seperti Revand, kamu juga harus yakin, nggak semua pria egois .."


"Baguslah. Lu emang layak mendapatkan semua itu Sher, kalo nggak gue yang bakal buat perhitungan ke Revand, gue harap sih pelakor itu nggak bikin iman suami lu tergoda, inget. Lu harus waspada...!"


Bayangan Gisella berkelebat dibenak Sherlin. Rasa khawatir itu ada, tapi Sherlin memilih untuk tidak larut dalam kekhawatiran tersebut. Jika ia terus menerus mengkhawatirkan hal itu, ia takut Revand tertekan, merasa tidak diberi kepercayaan. Dan itu akan membuat suaminya akan menutupi sesuatu yang seharusnya tidak ditutupi.


" Revand nggak akan melanggar janjinya Mel. Kalau dia berani melakukan itu, dia tau resikonya apa, aku yakin dia bisa menjaga hatinya untuk nggak tergoda.."


" Tapi lu juga jangan terlalu merasa itu nggak perlu dikhawatirkan ya Sher. Lu tetap waspada, pelakor sekarang itu punya banyak cara,"


"Akan tetapi kekuatan cinta nggak akan mudah dirusak begitu aja kan...? Revand tahu untuk bisa seperti sekarang, kami melalui perjuangan yang nggak ringan, aku harap itu jadi bahan pertimbangan dia untuk nggak mencoba tergoda..."


"Jujur, gue masih nggak percaya cinta itu bisa menghalau segala godaan yang ada Sher, kalau nggak kenapa bokap gue bisa ninggalin nyokap gue demi wanita lain. Mereka juga sama sama saling mencintai.."


"Karena mungkin jodoh mereka udah habis Mel, sama seperti orang tua ku.."


"Dan lu mau anak lu ntar mengalami hal yang pernah kita alami...? Ini berat Sher, gue takut generasi gue nggak akan sanggup..."

__ADS_1


"Tapi menikah itu penyempurnaan ibadah Mel. Sealim alimnya manusia, kalau menolak untuk menikah padahal usia udah seharusnya menikah, sama aja nggak mau menyempurnakan ibadah dia..."


"Itu yang membuat lu jadi mantap menikah dengan Revand...?"


Sherlin mengangguk. Amel menghela nafas.


"Andai aja stok pria baik baik itu masih banyak ya, gue juga mau kok nikah.."


"Ada kok Mel. Dia ada didekat kamu, kamu aja nggak peka..."


"Rei maksud lu...?"


Sherlin mengangguk. Amel mencibir. Wajah cengengesan Rei terbayang. Amel jadi kesal. Pria itu. Setiap waktu tidak pernah romantis dihadapan nya, bagaimana ia yakin kalau pria itu punya hati yang bisa mencintai...?


"Gue ketoilet dulu Sher..."


Sherlin mengangguk. Amel menyeret langkahnya menuju toilet. Kesempatan itu digunakan oleh Sherlin untuk membereskan kamar Amel yang berantakan. Karena sudah terbiasa beres beres, hal itu bisa dengan cepat ia kerjakan. Hingga saat Amel keluar dari toilet, ia dibuat tertekun karna melihat situasi kamarnya itu sudah rapi dan bersih. Bahkan makanan yang dibawa Sherlin sudah disiapkan diatas meja oleh Sherlin. Hati Amel terenyuh...


"Sher. Lu ini manusia angin ya, gue tinggal bentar aja kamar gue udah rapi gini, lu begini juga dirumah...?"


Sherlin mengangguk.


"Lu kan nyonya direktur Sher, masih mau bebersih gini, astaga..."


"Emang kenapa...? Aku suka kok melakukan nya...!"


"Dirumah nggak ada pembantu...?"


"Ada, tapi aku masih sering ikut beres beres sih...!"


"Udah lah Sher, beri kerjaan pembantu lu, tugas lu itu beranak berikan keturunan buat direktur Revand, dan biar bisa hamil lu jangan capek capek ..!"


"Beranak...? Emang aku kucing...! Tenang aja, aku tau kok, Revand juga sering mengingatkan soal itu, dia yang paling bawel kalo soal itu..."


Ucap Sherlin namun ucapan Sherlin tidak direspon oleh Amel, gadis itu justru spontan memeluk Sherlin erat, hingga Sherlin jadi heran.


"Amel, kamu kenapa...?"


"Makasih ya Sher. Ini pengalaman pertama gue diperlakukan sangat baik oleh orang lain, "


"Mel. Untuk jadi saudara, kita gak perlu lahir dari rahim yang sama, asalkan kita tulus, meski kita nggak ada pertalian darah, kita udah jadi saudara, aku juga makasih ya, kamu selama ini udah paham aku bener, aku sayang sama kamu Mel,"


"Gue juga Sher, makasih ya, lu bener bener kayak sodara buat gue. Sekarang bolehkan gue makan sop ceker favorit gue..?"


"Iya, habisin ya, kalau nggak aku nggak mau bawain kamu sop ceker lagi.."


"Beres ..."


Dengan penuh selera Amel segera mengambil piring yang sudah terisi nasi diatas meja kecilnya. Sherlin menyaksikan hal itu dengan perasaan bahagia.


Tuhan, terima kasih, sudah mempertemukan aku dengan orang orang baik seperti Amel, Rei dan juga Revand, bolehkah aku berharap, mereka tetap menjadi kebahagiaan dalam hidup ku Tuhan.....


Sherlin berbisik dalam hati...

__ADS_1


Note: Salah satu rezeki yang diberikan Tuhan untuk kita adalah, dipertemukan nya kita dengan orang orang yang baik dan tulus dengan kita😊


BERSAMBUNG...


__ADS_2