SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 58. TAK SESUAI RENCANA (1)


__ADS_3

Rei dan Sherlin masuk kedalam hotel berbintang, dimana pesta perjamuan yang memakai menu utama dari restoran mereka digelar. Staff yang lain sudah mengatur segalanya, tinggal Rei dan Sherlin yang mengecek apakah semua sesuai pemesanan. Ini kali pertama menu mereka dijadikan menu utama disebuah perjamuan besar sebuah perusahaan. Hingga mau tidak mau membuat keduanya deg degan juga.


"Rei, Sherlin, thanks ya, untuk kerja sama nya, tolong dicek sekali lagi karena pihak utama yang menggelar perjamuan ini tidak mau ada kesalahan dalam makanan yang tersaji,"


Zill bicara seperti itu kepada keduanya. Rei mengangguk. Lalu dengan sigap ia segera melakukan pengecekan, sebelum para tamu berdatangan. Sementara itu, Sherlin masih belum beranjak dari tempat nya, mengikuti Rei. Hingga membuat Zill heran.


"Sher, ada apa..?"


Tanyanya sembari menatap wajah wanita itu.


"Ah, itu, bisa nggak ya nanti kita bicara, maksudku, kalau nggak mengganggu acara kamu..?"


Kata Sherlin sembari tersenyum.


"Bisa. Tapi sabar ya. Setelah acara inti selesai, aku bisa meluangkan waktu sebentar, nanti aku hubungi, sekarang aku pamit dulu, aku harus bicara dengan partner bisnis ayahku yang lain, kalau ada apa apa, hubungi aku secepatnya,"


Sherlin mengangguk dan mengucapkan terima kasih ketika mendengar Zill mengucapkan kalimat tersebut. Setelah Zill pergi. Sherlin ikut beranjak untuk membantu Rei mengecek semua makanan yang akan disajikan kepada para rekan bisnis perusahaan Zill.


Sementara itu, Revand dan Gisella sudah memasuki area parkiran hotel berbintang. Berbagai pertanyaan berkecamuk diotak Revand, tapi pria itu memilih diam. Ia segera memarkirkan mobilnya, dan bersiap untuk keluar dari mobil, namun Gisella spontan mencekal pergelangan tangan nya hingga niat itu tertahan.


"Ada apa..?"


Revand bertanya sembari melepaskan pegangan tangan Gisella dilengannya.


"Lu harus patuh dengan rencana yang gue buat ya, awas kalo lu macam macam..!"


Revand menarik nafas.


"Cerita kan secara detail apa yang akan kita lakukan disini. Baru gue bisa ikut bekerja sama dengan lu..!"


"Gue nggak bisa secara detail menjelaskan, takut lu mengacaukan semuanya. Gue belum percaya seratus persen ama lu, yang jelas bos udah setuju, jadi kuasa ada ditangan gue meskipun lu direktur Vand, yang bisa lu tau hanya, perjamuan ini milik perusahaan Zill, dia dengan beberapa rekan bisnis nya menggelar perjamuan ini untuk membicarakan tentang situasi terkini perusahaan Zill pasca ayahnya meninggal, kalau kita bisa merusak reputasi dia didepan para rekan bisnis nya, gue yakin perusahaan Zill akan anjlok, dan dia bisa merangkak mengemis perusahaan kita untuk bekerja sama dengan kita..!!"


Sudah kuduga. Seperti nya, tempat ini yang dituju Sherlin malam ini. Sherlin mendapat orderan dari perusahaan perusahaan yang bekerja sama dengan Zill, karena aku belum tau apa rencana Gisella lebih baik, aku pura pura patuh aja dulu..


Revand membathin.


"Vand, denger nggak sih lu...?"


Suara Gisella membuyar kan lamunan Revand. Revand berusaha untuk tidak terkejut. Ia mengusap wajah nya. Lalu mengiyakan. Dan mereka segera keluar dari mobil.


Makin didekat lu makin nafsu gue ama lu Vand, sayang kita sekarang lagi tugas, pengen gue sekap lu disalah satu kamar hotel disini. Pengaruh ilmu pelet dukun itu emang efeknya kuat. Bikin gue horny mulu ngeliat lu, sialan...


Sambil melangkah, Gisella bicara seperti itu didalam hati. Sesekali ia nakal ingin menggandeng tangan Revand, namun setiap kali itu juga Revand menepis tangan nya. Membuat Gisella semakin gemas dibuat nya.


Mereka berdua masuk. Mereka bisa lolos dari serangkaian pemeriksaan, karena sekarang menyamar jadi seorang wartawan. Tidak berpakaian lengkap layaknya seorang pegawai kantoran. Gisella benar benar sudah merancang segala nya dengan cermat.


Didalam, Revand melihat Gisella berbicara serius dengan seorang pria, meskipun tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Gisella dengan pria itu, namun perasaan Revand tetap tidak nyaman. Matanya berkeliling mencari sosok istrinya. Siapa tahu saja tempat inilah tempat yang dituju istri nya.


Berulang kali, Revand berusaha mengirim pesan singkat keponsel sang istri. Namun ponsel itu seperti nya tidak aktiv. Entah karena dilarang mengaktivkan ponsel, atau karena batere habis. Rasa khawatir Revand semakin menjadi. Hingga ia memisahkan diri dengan Gisella. Gisella bukan tidak sadar Revand memisahkan diri dari nya. Ia sengaja membiarkan. Karena peran Revand ditempat ini memang bukan peran utama.

__ADS_1


Malam ini, gue akan buat lu membenci istri lu itu sayang..


Katanya dengan penuh rasa percaya diri.


"Bos, gue belum menemukan target kita..?"


Pria yang tadi bicara dengan Gisella kembali menemui Gisella. Wajah Gisella terlihat kesal.


"Cari dong. Yang becus kalo kerja tuh, gue tarik kembali uang DP lu baru tau rasa..!!"


Semprot nya sembari mendelik. Pria itu segera mundur dari hadapan Gisella. Kembali hilang dari ramainya tamu tamu elit yang datang. Gisella membuka genggaman tangan nya.


Tunggu cewek sialan itu minum tu obat, baru gue cekokin Revand. Sekali menyelam dua tiga pulau terlampaui, haha gue emang pinter...


Diwaktu yang bersamaan. Sherlin yang sedang sibuk dengan mengatur menu agar sajian diruang utama tidak habis, segera minta izin pada Rei untuk kebagian ruang belakang. Menu mereka sangat diminati tamu tamu relasi perusahaan Zill, Rei dan Sherlin dibuat kalang kabut karena dibagian depan selalu menginformasikan, menu mereka sudah menipis.


Saat tergesa menuju ruang belakang tempat dimana persediaan terakhir menu utama disimpan, langkah Sherlin terhenti ketika seorang pria menghampiri nya sembari membawa gelas air berisi racikan minuman dari restoran ia dan Rei.


"Maaf apakah anda penanggung jawab menu utama disini..?"


Pria itu berkata demikian dihadapan Sherlin.


"Iya, saya salah satu penanggung jawabnya, ada apa...?"


Pria itu menyerahkan gelas yang dibawanya, sembari berkata...


"Tidak mungkin, kami selalu memakai bahan yang kualitasnya terjamin, agar tidak mempengaruhi rasa dan kesegaran nya, anda salah kira mungkin..!"


Bantah Sherlin. Tentu saja. Prinsip Sherlin dan Rei adalah mengutamakan kepuasan pelanggan. Mana mungkin mereka memakai bahan yang tidak terjamin kualitasnya.


"Kalau begitu, harap anda cicipi minuman ini, rasakan sendiri. Jika terbukti memang tidak sesuai kualitas, maka saya akan mengajukan komplain..!"


Sherlin menerima gelas yang diberikan pria tersebut kepada nya. Meminum isinya seteguk. Mencoba merasakan apakah ada yang tidak beres dari rasa minuman itu.


Aneh, kenapa rasanya jadi seperti ini ya..


Sherlin mengakui, ada yang berbeda dengan minuman yang sedang diminum nya sekarang. Seperti ada rasa getir yang tertinggal setelah meneguknya. Ini minuman diracik dari buah buahan segar dengan kualitas terbaik, mereka sudah mencicipi nya, tapi kenapa rasanya jadi aneh...


"Bagaimana...? Apakah anda merasakan ada yang aneh di rasa minuman itu...?"


Sherlin mengangguk. Ia berniat ingin membawa sampel minuman itu kepada Rei, tapi tiba tiba, kepalanya mendadak sangat pusing. Hingga gelas yang sedang ia pegang saja nyaris terjatuh kelantai. Untung pria itu dengan sigap mengambil gelas itu. Lalu membuangnya ketong sampah yang ada didekat tempat itu.


"Anda kenapa...?"


"Kepala saya pusing, tolong bantu saya untuk memberikan gelas berisi minuman itu pada rekan saya bernama Rei, dia bertugas di bagian depan..!"


Sherlin meminta tolong kepada pria dihadapannya sambil memijit kepala nya.


"Baiklah. Mari saya bantu keruang istirahat tamu, setelah itu saya akan membawa minuman itu kepada rekan anda..!"

__ADS_1


Sherlin hanya mengiyakan. Bagaimana tidak. Ia tidak bisa melangkah sendiri untuk mencari ruangan khusus tamu yang sudah disediakan oleh pihak Zill.


Sementara itu didepan, Zill baru saja turun dari mimbar untuk menyampaikan pidato nya terkait pesan terakhir ayahnya. Beberapa wartawan mencecari Zill dengan sejumlah pertanyaan, termasuk tentang gosip nya dengan Sherlin. Revand menyimak semua situasi itu dengan baik sembari berharap bisa menemukan istri nya. Hanya saja, karena sekarang ia sedang menyamar jadi wartawan, ruang geraknya terbatas. Wartawan dilarang masuk area belakang.


"Direktur. Calon anda butuh pertolongan anda..!"


Seorang wartawan menghampiri Zill ketika Zill masih bicara dengan rekan bisnis ayahnya yang lain.


"Maksud anda...?"


Zill tidak mengerti arah pembicaraan wartawan tersebut.


"Calon anda dibawa seorang pria kesebuah kamar, jika ini bocor kepada wartawan yang lain, acara anda akan hancur direktur,"


"Darimana kamu tau info ini...?"


"Bos saya salah satu tamu disini, beliau yang melihat calon anda itu dibawa oleh seorang pria tidak dikenal..!"


Tanpa berfikir panjang, Zill segera berbalik menerobos kerumunan tamu yang memenuhi ruangan perjamuan itu. Beberapa rekan bisnis nya ingin menahan karena ingin bicara dengan Zill, namun Zill tidak mengindahkan. Dalam fikirannya cuma satu. Segera mencari Sherlin di salah satu kamar hotel satu lantai dengan ruang yang sekarang mereka pakai.


Sherlin, ya Tuhan apa yang terjadi sama kamu..


Setengah berlari Zill memeriksa satu demi satu kamar hotel yang ada dilantai yang sama dengan lantai ruang perjamuan. Rasa khawatir nya menjadi jadi. Ia takut terjadi apa apa pada Sherlin. Hingga di kamar ke 150 yang ia cek, ia bertemu dengan seorang pria yang tadi membawa Sherlin kesebuah ruang khusus tamu..


"Anda mencari wanita yang bertanggung jawab atas menu perjamuan anda..?"


"Iya, apakah anda melihat nya..!"


"Dia dikamar 157, saya tadi ingin membantu nya tapi dia tidak ingin saya sentuh...!"


"Anda yang membawa dia...?"


"Ia..!"


Zill ingin menghajar pria dihadapannya tersebut, namun pria itu menahan.


"Daripada anda menghajar saya, lebih baik anda segera tolong wanita itu, karena kondisi nya sangat mengkhawatirkan..!"


Zill tersadar, keselamatan Sherlin yang utama, ia segera melepaskan cengkraman nya dikerah baju pria tersebut, lalu segera menuju kamar yang dimaksud oleh pria itu.


Zill segera membuka kamar yang dimaksud pria tadi, pintunya tidak dikunci. Ia segera menerobos masuk, berusaha mencari sosok Sherlin dikamar yang sangat luas tersebut...


Note: Terkadang terlalu percaya dengan orang yang baru kita kenal, justru membuat petaka pada diri kita sendiri. Percaya adalah salah satu sikap yang baik, yang mana jika kita berusaha percaya pada orang lain, maka kita juga melatih orang lain juga percaya dengan kita. Akan tetapi, tetap waspada, karena tidak semua orang bisa dapat kita percayai.


👉 Jangan lupa like vote klik favo rate 5 jika suka ya 💖 buat yang selalu stay disini, yang komen yang like, yang rate 5, dan yang vote kalian pendukung novel ini yang setia❤️❤️


👉 Susahnya fokus saat ngetik episode pas sakit gigi, sakit kepala dan maag kambuh😭 tadinya udah ga mau update dulu tapi ternyata masih bisa dipaksain 😣


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2