SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 68. SEKALI INI SAJA.


__ADS_3

Sherlin menepikan motor yang dikendarai nya, ketika melihat suaminya berjalan seorang diri ditepi jalan, dengan wajah suram. Menyadari istrinya yang menyapanya, Revand seperti menemukan air ditengah gurun Sahara. Sopir yang bekerja dengan mereka memang untuk sementara dinonaktifkan dahulu, oleh Revand, sampai nanti Revand kembali dapat pekerjaan baru. Karena itulah, Sherlin memakai motor pulang pergi ke restoran, beruntung. Jarak restoran dan rumah nya juga tidak terlalu jauh, jadi meski tidak terlalu mahir, Sherlin masih berani memakai motor sebagai alat transportasi nya bekerja.


"Kamu kedaerah sini emang disini ada perkantoran...? Jam segini kan kantor udah tutup. Kenapa nggak pulang aja..?"


Sherlin yang mengira, sang suami sedang mencari pekerjaan, langsung mengucapkan kalimat tersebut.


"Aku tadi udah pulang. Ada mami dirumah, kami berantem, terus aku pergi lagi..!"


Sahut Revand, dengan suara lirih. Sherlin menarik nafas. Ia langsung mengerti mendengar ucapan sang suami. Mendadak hatinya jadi was was.


"Ibu kamu pasti mendesak kamu buat nikah lagi ya..?"


"Kita nggak usah pulang dulu yuk. Kita kerumah Roy, ngungsi. Stres aku kalau dengar omelan mami..!"


"Nggak boleh gitu. Masalah ini harus dihadapi, bukan dihindari. Ayo, pulang. Mau magrib, nggak boleh keluar keluar ntar di culik setan..!"


Mendengar kata setan, Revand langsung memegang tangan sang istri.


"Setan...?"


"Iya, magrib nggak boleh keliaran diluar. Gampang kena kiriman ilmu setan..!"


Revand segera mengambil alih motor, agar ia yang mengemudikan motor tersebut. Tidak banyak bicara lagi, ia segera mengajak sang istri untuk pulang. Ucapan Pram tentang ilmu guna guna yang mengincar nya dari Gisella menggelitik pikiran nya. Revand gelisah.


Magrib nggak boleh keluar rumah ya, catet deh...


Gumamnya sembari meminta sang istri, memeluk pinggang nya agar ia bisa mempercepat laju motor tersebut supaya mereka segera sampai.


Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh wajah dingin ibu Revand. Sherlin yang mencium telapak tangannya saja tidak terlalu digubris ibu Revand. Wanita itu benar benar masih tidak bisa menerima kenyataan, jika putra tunggal nya sekarang bukan seorang direktur lagi.


"Sherlin. Kamu baik baik saja nak."


Ketika masuk kedalam rumah, sementara Revand dan ibunya masih berada di teras, ibunya menyapanya hingga Sherlin mengurungkan niatnya untuk naik kelantai atas.


"Doakan kami baik baik aja ya ma.."


Dari kalimat itu, ibu Sherlin sudah tahu, putrinya juga sedang didera rasa gelisah yang mendalam. Kedatangan besannya benar benar membuat Sherlin dan Revand terguncang. Dan itu dirasa kan ibu Sherlin.

__ADS_1


"Iya, mama selalu mendoakan kamu sayang, naiklah. Bersihkan tubuh mu, setelah shalat magrib kita makan bersama...!"


Sherlin mengangguk. Wanita itu segera naik kelantai atas untuk segera mandi. Tidak berapa lama kemudian, Revand menyusul. Seperti nya, pria itu sengaja meninggalkan sang ibu untuk pamit mandi.


Dikamar, Sherlin mengurung kan niatnya masuk kekamar mandi ketika tiba tiba saja Revand memeluknya dari belakang.


"Tolong bersabar menghadapi sikap ibuku ya, mungkin ini melukai mu, tapi percayalah, kita bersama sama melewati ini semua..!"


Bisik Revand ditelinga sang istri.


"Ia, aku mengerti."


Sahut Sherlin, singkat sembari melepaskan pelukan sang suami, karena ia benar benar harus mandi.


"Kita mandi bareng..!"


"Eh, nggak usah, kamu usil kalo mandi bareng..!"


Tolak Sherlin, sembari cepat cepat masuk kedalam kamar mandi, lalu menutup pintu nya. Alibi. Itu hanya alasan Sherlin saja, meskipun memang Revand selalu usil jika berada didekat nya. Tapi bukan itu yang membuat ia menolak keinginan Revand, untuk mandi bersama. Sherlin hanya ingin menangis sejenak didalam kamar mandi, agar perasaan sesaknya sekarang sirna meski hanya sedikit.


Kini, mereka sudah duduk bersama dimeja makan. Usai shalat magrib, Sherlin segera menyiapkan makan malam dibantu oleh sang suami. Semenjak menganggur. Revand memang banyak andil membantu pekerjaan rumah. Dan itu membuat ibunya semakin merasa tidak suka melihat nya.


Ibu Revand mulai mengomentari apa yang dilakukan Revand, yang sibuk membantu sang istri menyiapkan makanan diatas meja. Ibu Sherlin, ingin merespon ucapan besannya, namun Sherlin memberi isyarat agar sang ibu diam saja.


"Ma, situasi kami kan lagi kurang bagus, jadi kami nggak make asisten rumah tangga dulu, insya Allah, aku masih bisa ngurus pekerjaan rumah kok. Aku nggak pernah merintah Revand buat ngerjain pekerjaan rumah, itu murni keinginan dia sendiri..!"


"Iya mi, aku suka kok melakukan nya, lagian pria nggak tabukan bantu istri dirumah, selagi belum dapat kerjaan gini, Sherlin juga udah capek kerja, kasian...!"


Revand segera ikut menimpali, sembari menyerah kan piring kepada ibunya. Sang ibu menerima piring itu dengan wajah sebal.


"Pokoknya Revand, mami ingin kamu pertimbangkan tentang apa yang mami ucap kan sama kamu. Itu solusi terbaik..!"


"Solusi terbaik...? Maaf ikut mengomentari, apakah ini ada hubungannya dengan kenapa Sherlin belum hamil..?"


Sherlin dan juga Revand, sama sama menghentikan gerakan nya saat mendengar suara ibu Sherlin.


"Iya. Mau menunggu sampai kapan, ayah Revand itu sudah ingin menimang cucu, saya sudah memberikan kesempatan pada Sherlin, tapi apa hasilnya, justru sekarang liat rumah tangga mereka...? Semrawut...!"

__ADS_1


"Ini ujian, ujian pernikahan anak anak kita, sebagai orang tua, kita harus menguatkan mereka, bukan justru menambah beban mereka dengan keinginan kita yang belum terpenuhi...!"


"Itu karna Sherlin anak kamu, seandainya posisi kita dibalik bagaimana...?"


"Cukup..! Tolong jangan bertengkar lagi. Mi, kalau mami ngajak ribut melulu, aku bakal bawa Sherlin ngungsi, dia capek Mi, dia perlu istirahat lahir dan batin, tolonglah. Kita lagi didepan makanan, jangan ribut lagi..!"


Revand berusaha melerai pertengkaran ibu dan ibu mertua nya. Otaknya semakin penuh mendengar pertengkaran tersebut. Hingga membuat nafsu makan nya lenyap. Mendengar ucapan Revand, mau tidak mau sang ibu berhenti berbicara. Wanita itu segera menyantap makanan nya dengan pelan. Sementara Sherlin memang tidak berkomentar sama sekali, namun dari raut wajahnya, semua bisa melihat, wanita itu berusaha untuk menguatkan hati dan perasaan nya.


Perlahan, jemari tangan Revand menggenggam erat jemari tangan istrinya dibawah meja makan. Sherlin berpaling. Revand menatapnya penuh arti. Seolah olah, ingin meminta sang istri untuk kuat menghadapi sikap ibunya. Sherlin membalas genggaman tangan suaminya, dan tersenyum tipis. Apa yang dilakukan suami nya sedikit mampu membuat ia merasa sedikit jauh lebih kuat. Hingga wanita itu segera menyantap makanan nya perlahan ..


Usai makan, dan membereskan semuanya, Sherlin yang merasa tubuhnya luar biasa lelah pamit untuk kelantai atas. Revand yang menyuruh istrinya untuk segera beristirahat, sedang ia menemani ibunya mengobrol sebentar, meskipun ia sejujurnya malas juga, jika sang ibu hanya ingin membahas hal yang membuat nya pusing. Namun apa daya, tidak baik juga mengabaikan kehadiran orang tua yang sedang berkunjung. Karena itulah, Revand mengalah..


Baru saja Sherlin naik kelantai atas dan masuk kekamar nya, ponsel nya berdering. Nama Zill memanggil. Jujur, semenjak menerima pengakuan jujur pria tersebut, ada perasaan salah tingkah yang dirasakan Sherlin setiap kali berinteraksi dengan pria tersebut. Ia hanya tidak menyangka Zill bisa mempunyai perasaan itu kepada nya. Dan ia juga belum bercerita tentang ini pada Revand. Haruskah...? Toh, dia tidak menanggapi perasaan Zill. Dia sudah menolak pria tersebut. Sherlin masih bimbang harus jujur dengan Revand kah atau tidak, mungkin nanti setelah keadaan suaminya tidak seterpuruk sekarang. Sherlin takut, akan menambah beban Revand yang sekarang saja sudah berat dihadapi sang suami.


"Assalamualaikum, hallo Zill. Ada apa...?"


"Waalaikum salam sayang, ini ibu, bukan Zill. Zill sungkan mau bicara soal ini sama kamu..!"


Terdengar suara wanita diseberang sana. Ternyata yang menelpon nya memakai ponsel Zill itu ibunya, Sherlin tertawa kecil.


"Wah, ibu. Apa kabar, tumben nelpon. Alhamdulillah, Zill udah pulang kerumah ya Bu, selamat ya turut senang mendengar nya, kalian memang harus saling menguatkan, Zill sayang sekali dengan ibu..!"


Sherlin jadi lancar bicara seperti itu, dibanding kan jika ia bicara dengan Zill pasca kejadian perasaan pria itu terungkap. Perlu waktu buat Sherlin, untuk merasa baik baik saja. Ia yakin bisa, tapi bukan sekarang. Zill terlalu baik untuk disakiti, dan Revand juga tidak adil untuk dilukai.


"Ibu kangen sama kamu, Sherlin, ibu punya satu permintaan, satu kali ini saja, permintaan terakhir ibu untuk kamu, setelah itu, ibu janji tidak akan meminta apa apa lagi padamu, bolehkah...?"


Hati Sherlin jadi was was mendengar ucapan ibu Zill diseberang sana.


"Permintaan apa itu Bu, kalau saya bisa mengabulkan kenapa tidak..?"


"Datanglah hari Sabtu ke butik ibu, ibu butuh model baju pengantin dan kamu serta Zill yang ibu jadikan modelnya, gaun itu hasil rancangan ibu nak, kamu maukan jadi modelnya. Tenang saja ini pekerjaan, ibu akan profesional, tolonglah, sekali ini saja, hanya dengan mu wajah dingin putra ibu ini bisa memperlihatkan senyum, ibu tidak mau memakai model lain, tolong ibu sekali ini saja ya nak, kamu boleh kok minta izin dengan suamimu. Bilang padanya ini pekerjaan.."


"Apa...?"


Mendengar permohonan ibu Zill melalui sambungan ponsel Zill tersebut, Sherlin tidak bisa menyembunyikan kekagetan nya. Jadi model gaun pengantin bersama Zill. Astagaaaaaa, aura ini akan membuat mereka jadi semakin canggung. Apa yang harus ia lakukan sekarang....? Dari kalimat ibu Zill, tentang boleh meminta izin suami, artinya, Zill sudah menepati janji untuk berterus terang kepada sang ibu tentang akting mereka, tapi kenapa wanita itu tidak marah...? Justru memberikan nya pekerjaan...?


NOTE : Semakin sabar manusia, semakin besar ujian untuk kesabaran nya. Namun percayalah, buah dari kesabaran itu pasti akan manis pada akhirnya. Karena Tuhan menyukai orang orang yang bersabar.

__ADS_1


👉pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya 😘


Bersambung


__ADS_2