SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 62. PERMINTAAN PRAM.


__ADS_3

Gisella berulang kali menghubungi Revand via ponsel, namun panggilannya tidak dijawab oleh Revand. Gadis itu menghubungi kantor, memeriksa apakah hari ini Revand ada dikantor, namun orang kantor juga mengatakan Revand tidak ada dikantor hari ini. Hal itu membuat Gisella murka setengah mati. Ditambah lagi, semua rencana yang ia susun gagal total. Bahkan ia salah sasaran, ingin meniduri Revand agar bisa memasukkan guna guna dari sang dukun dengan maksimal, malah justru Pram yang menidurinya.


Gisella mendorong tubuh pria suruhan nya dengan kasar, ketika pria itu datang memenuhi panggilan Gisella. Pria yang dibayar Gisella untuk membuat Sherlin meminum obat perangsang, lewat minuman yang di permasalahkan sang pria pada malam itu.


"Kerja lu nggak becus tau nggak, gimana bisa lu buat Revand masuk kamar yang salah, bukan kekamar gue, dan Zill itu bisa tetap menuntaskan acaranya dengan baik..!!"


"Sorry bos, gue udah melakukan sesuai perintah bos, tapi sepertinya ada yang mengetahui rencana bos ini hingga rencana bos kacau semua..!"


Pasti Revand. Pria itu diam diam tau apa yang gue rencanakan hingga dia memutar balik semuanya seperti ini. Lu akan menyesali nya Revand..


Gisella memaki didalam hati sambil berulang kali mengepalkan kedua tangannya.


"Gue harus segera pergi dari sini,"


"Mau kemana...?"


Sebuah suara menghentikan gerakan Gisella yang berniat untuk pergi. Begitu juga pria disebelah Gisella. Dihadapan mereka berdiri Zill dengan tatapan penuh amarah. Entah sejak kapan pria itu ada disana.


"Kamu..? Saya pecat..!!"


Zill mengucapkan itu kepada pria disebelah Gisella. Pria itu memucat mendengar kalimat yang dilontarkan Zill.


"Ampuni saya bos, saya khilaf, saya hanya butuh uang hingga saya bisa melakukan hal ini.."


Pria itu memohon kepada Zill, dengan suara penuh harap.


Namun Zill tidak mengindahkan. Tatapannya beralih kearah Gisella seperti ingin mencabik Gisella lewat tatapan nya tersebut.


"Saya akan membawa kasus ini kejalur hukum..!!"


"Heh. Anda tidak bisa membawa kasus ini kejalur hukum karena sahabat anda akan ikut terseret, sudah melakukan pemerkosaan terhadap saya, jika anda nekat melakukan ini, saya pastikan, Revand, sahabat anda juga Sherlin akan menerima akibatnya, dan media akan ramai menulis berita, direktur Zill Yura Mahendradatta terlibat skandal dengan istri orang, paham..?"


Tangan Zill mengepal mendengar ucapan Gisella, rasanya ingin sekali ia menampar wajah wanita itu dengan segenap kekuatan nya, tapi Zill tidak pernah memukul wanita, seberapa kesalnya dia terhadap wanita, pantang untuk nya memukul seorang wanita.


"Kamu akan menerima buah dari perbuatan buruk kamu Gisella..!!"


"Jangan munafik direktur. Sebenarnya anda juga menikmati kan situasi yang tadi malam tercipta, apa saja yang anda lakukan bersama Sherlin..? Memeluk, mencium, atau lebih dari itu...?"


"Diam kamu...!! Perbuatan kamu kotor Gisella. Kamu memang tidak pernah mau berubah. Kasihan sekali Revand satu satunya orang yang percaya kamu itu bisa berubah, ternyata kamu menyalahgunakan kepercayaan dia selama ini, wanita seperti kamu...? Tidak layak diberi kesempatan sama sekali..!!"


"Saya terbiasa memanfaatkan kesempatan direktur, jadi tidak usah berpidato seperti itu dihadapan saya. Saya kasihan sekali terhadap anda, sudah tidak pernah jatuh cinta, sekali jatuh cinta anda mencintai istri orang, apa bedanya kita berdua...? Kenapa kita tidak bekerja sama saja..? Anda memiliki Sherlin, saya memiliki suaminya, bukankah itu kerjasama yang bagus..? Bagaimana..?"


"Pergi kamu dari hotel ini...!!"


"Anda yakin tidak mau bekerja sama untuk memperjuangkan cinta anda..?"


"PERGI...!!!"

__ADS_1


Gisella tertawa kecil melihat betapa marahnya Zill dihadapan nya. Gadis itu membalikkan tubuhnya, lalu melangkah meninggalkan Zill, namun langkah nya terhenti, dan berbalik sambil menatap kearah pria disebelah Zill yang masih meminta belas kasihan Zill, untuk tidak dipecat.


"Hey, kalau lu udah dipecat orang ya udah pergi aja, cari tempat dimana lu diterima dengan baik. Temui gue dikantor gue, kalo lu nggak mau jadi pengangguran, karena sekarang lu dipecat ..!"


Gisella mengucapkan kalimat itu kepada orang yang tadi malam disuruh nya menjebak Sherlin. Serta merta pria itu segera beranjak mengikuti Gisella. Zill tidak perduli, ia tidak akan menarik kembali ucapan nya tadi karena pantang baginya menarik ucapan yang sudah diucapkan. Hotel ini milik keluarga Mahendradatta, dia berhak melakukan pemecatan untuk karyawan yang melanggar aturan.


Zill naik kelantai atas, ia teringat dengan Sherlin dan Revand yang masih ia kurung dikamar hotel yang sama. Zill berharap, pengaruh obat perangsang yang menguasai Sherlin dan Revand sudah sirna. Melihat kemarahan Gisella tadi, Zill bisa menebak. Posisi Revand diperusahaan nya terancam. Meskipun ia tidak tahu motif Gisella apa sebenarnya, apakah karena hal pribadi, atau karena ingin menghancurkan nya, tapi jelas sekali, wanita itu memang ingin menghancurkan beberapa orang sekaligus tadi malam. Untung, Revand menyadari taktik Gisella. Atau mungkin, dari awal Revand sudah curiga hingga ikut ke hotel ini bersama Gisella..? Entahlah. Zill masih didera kebingungan atas kejadian semalam. Ditambah lagi adegan ia dan Sherlin dikamar masih saja mempermainkan pikiran nya. Membuat wajah Zill merah jika mengingat nya.


Andai ingin jujur, Zill belum siap untuk bertemu dengan Sherlin. Ia khawatir tidak bisa membendung perasaan nya. Akan tetapi ia harus profesional. Sherlin, dia dan Revand hanya korban, Gisella lah otak dari semua permasalahan ini. Hanya saja, Zill perlu mencari cara untuk membawa kasus ini kejalur hukum, karena seperti yang dikatakan Gisella tadi, bisa jadi Gisella balik menuntut, dan hal itu bisa membuat Pram sahabatnya terseret kasus itu juga.


"Gue mau bicara..!"


Belum sampai Zill dikamar dimana ia mengurung Revand dan Sherlin, Pram memotong langkah nya. Ekspresi pria itu dingin. Nada suaranya ikut dingin pula.


"Kenapa lu kagak pernah bilang kalo Sherlin itu istri Revand...? Calon lu itu, istri orang. Astaga Zill, gue kira lu ini pria bermartabat, nama baik lu ini bukan sekedar pencitraan, tapi ternyata lu brengs*k juga ya..?"


"Jaga ucapan lu. Baru satu malam lu ama Gisella lu udah berubah picik begini."


"Apa maksud lu menyuruh gue masuk kekamar Gisella tadi malam...?"


"Menyelamatkan rumah tangga orang yang ingin dirusak pujaan hati lu itu..!!"


"Tapi itu membuat Gisella makin marah ama gue Zill. Dia semakin sulit untuk gue taklukan,"


"Lu cinta sama dia..? Perjuangkan cinta lu ama dia. Terima aja konsekuensi lu dibenci Gisella karena lu pernah zalim dengan dia saat dia tulus ama lu. Pram, apa yang kita perbuat, suatu saat akan berbalik pada kita, jadi mulai sekarang, berhati hatilah menyia nyiakan kesempatan yang ada..!"


"Masalah itu kagak usah lu urus, itu urusan gue, yang jelas cinta gue kagak sekotor cinta pujaan hati lu itu, yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau..!"


Pram menyandarkan tubuhnya ditembok. Pandangan matanya menerawang. Ingatan nya kembali kemasalalu, dimana dulu ia pernah seenaknya kepada Gisella yang memang dulu tulus mencintai nya. Ia tidak menyangka, perbuatan nya itu membuat hidup Gisella jadi seperti sekarang. Menjadi gadis penuh obsesi yang tidak peduli dengan dosa.


"Apa yang harus gue lakukan sekarang Zill. Kalo gue balik ke Jakarta, dan ortu gue tau situasi disini, mereka pasti akan kecewa..!"


"Yakinkan kalo elo emang tulus ingin berubah, buat Gisella menyadari ketulusan elo itu, seperti dulu yang pernah dia lakukan keelo..! Gue yakin, lu satu satunya orang yang bisa membuat wanita itu jadi berubah baik..!"


"Dia kagak mencintai gue lagi Zill, difikiran dia hanya pria bernama Revand itu."


"Dia benci lu artinya dia masih mencintai lu, dia mencintai Revand, karena Revand pria lurus lurus aja, memang ini bagian tersulit lu untuk membuat Gisella jatuh ama lu, anggap aja ini saatnya membuktikan ketulusan lu itu, tapi kalo lu juga malas, ya cari aja cewek lain, lu mudah mendapatkan nya, lupakan Gisella...!!"


"Apa itu bisa lu lakukan saat lu mencintai seseorang..?"


Pertanyaan Pram membuat wajah Sherlin terbayang dibenak Zill.


"Yang jelas, gue kagak mau jadi orang ketiga Pram..!"


"Lu mencintai Sherlin.. ?"


"Siapapun akan suka dengan wanita sebaik dia..!"

__ADS_1


"Kenapa nasip lu sial amat sih. Kagak pernah jatuh cinta, tapi sekali jatuh cinta lu suka sama bini orang...!"


Zill meninju bahu Pram pelan saat pria itu usai mengucapkan kalimat tersebut. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Pram, untuk menuju kamar dimana Revand dan Sherlin berada. Namun ia teringat sesuatu..


"Lu setuju kalo kasus ini gue bawa kejalur hukum...?"


Tanya nya pada Pram.


"Maksud lu, lu akan melapor kan Gisella..?"


"Kecuali, lu tadi malam berhubungan intim dengan nya..!"


Wajah Pram merah padam mendengar nya. Menghadapi Gisella yang penuh gairah karena dibawah pengaruh obat perangsang itu bukan hal yang mudah buat Pram. Apalagi tadi malam ia juga di amuk api cemburu ketika Gisella terus saja meracau memanggil nama Revand sepanjang percintaan panas mereka. Membuat nya meladeni gairah wanita itu juga pada akhirnya.


"Dari ekspresi lu, gue bisa menilai, lu kagak bisa menahan birahi lu juga selama dikamar itu kan..?"


"Lu yang nyuruh gue masuk disana..!"


"Lu lebih suka Revand yang ada disana..?"


"Kagak lah...!!"


"Ya, udah. Kagak usah menyalahkan gue. Kita tanggung dosa masing masing. Gue tanya sekali lagi, apa lu setuju kasus ini gue bawa kejalur hukum...? Tapi resikonya, lu juga akan balik dituntut Gisella, atas tuduhan pemerkosaan..!"


"Sial. Yang diperkosa itu gue Zill...!!"


Sela Pram sengit. Zill menyeringai.


"Tapi lu juga menikmati nya kan. Meski pun lu mengklaim lu diperkosa tapi lu tetap lemah dimata hukum. Gisella berada dibawah pengaruh obat bukan...? Sedang lu kagak, semua kesalahan pasti mengarah pada lu, sama dengan kasus gue sama Sherlin tadi malam,"


"Jadi, lu tidur bareng Sherlin juga...!"


"Jaga ucapan lu..! Lu pikir hati gue sebuta itu ..? Kalo gue tidur dengan Sherlin, mana mungkin lu yang ada dikamar Gisella, karena pastinya Revand disana sesuai rencana Gisella...!!"


Kedua tangan Pram mengepal mendengar ucapan Zill, yang memang masuk akal.


"Tolong jangan bawa kasus ini kejalur hukum. Beri gue kesempatan untuk menyelesaikan nya, lu percaya gue kan...?"


Ucap Pram pada akhirnya. Zill menghela nafas.


"Oke, gue beri kesempatan lu satu kali, kalau sampai Gisella melakukan tindakan busuk lagi, gue kagak akan pernah memberikan kesempatan dia untuk lolos dari hukum lagi...!"


Habis berkata begitu, Zill membalikkan tubuhnya, lalu melangkah meninggalkan Pram yang untuk sesaat hanya diam mematung ditempatnya..


Note: Membuat seseorang percaya saat pernah dikecewakan itu memang tidak mudah. Akan tetapi, jika niat tulus melakukan nya, maka suatu saat orang tersebut akan percaya dengan ketulusan yang telah diberikan untuk nya.


👉 jangan lupa like, vote nya ya❤️

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2