SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 46. GELISAH.


__ADS_3

Revand mengetuk pintu ruangan bosnya sebelum akhirnya, ia masuk kedalam. Ada perasaan ragu menghantui pikiran nya. Namun, rasa ragu itu terkalahkan dengan rasa penasaran yang menyelimuti fikiran nya atas ucapan Zill tadi diparkiran.


Sekian lama bekerja di perusahaan ini, baru kali ini lah, Revand penasaran dengan hal ini. Salah satu alasan, kenapa Zill tidak mau bekerja sama dengan perusahaan mereka adalah, perusahaan mereka tidak jujur...? Benarkah..?


"Ada apa...?"


Pria itu melontarkan pertanyaan nya dihadapan Revand. Revand duduk dihadapan bosnya, menarik nafas sesaat, lalu..


"Terkait dengan kendala kita tidak mendapatkan persetujuan untuk bekerja sama, ada hal yang sebenarnya ingin saya tanyakan kepada bapak. Tentang, bagaimana perusahaan kita memberlakukan peraturan, dan sistem kerja dilapangan, apakah benar benar sesuai prosedur...?"


Pria dihadapan Revand langsung menatap lurus kearah wajah Revand, ketika Revand mengucapkan kalimat tersebut.


"Apakah orang yang menolak kerja sama dengan kita, mengatakan hal itu...?"


"Secara samar, saya mengambil kesimpulan seperti itu..!"


Wajah bos Revand seketika berubah. Aura pria itu jadi tidak nyaman untuk dirasakan.


" Itu berarti, mereka mutlak mengibarkan bendera pertempuran..!"


Katanya dengan nada suara dingin.


"Maksud bapak...?"


"Revand, kamu sudah lama bekerja di perusahaan saya. Seharusnya, kamu tahu, bisnis itu tidak selama nya harus memakai jalur kejujuran, ada kalanya perusahaan dihadapkan situasi yang mengharuskan kita untuk melakukan hal hal tertentu, yang tidak sesuai dengan prosedur, yang penting itu hanya sebuah alternatif, bukan aturan utama perusahaan kita..!"


Telapak tangan Revand mengepal mendengar ucapan bosnya.


"Tapi saya rasa, tanpa melakukan itu pun perusahaan kita bisa maju pesat pak. Prospek perusahaan kita sangat bagus. Tidak perlu melakukan hal itu untuk membuat sebuah kemajuan..!"


"Tahu apa kamu tentang mengelola perusahaan...? Saya yang berjuang disini, membuat perusahaan sebesar ini dan mencipta kan lapangan kerja untuk kalian semua, lantas kamu ingin menyalah kan saya tentang hal kecil yang tidak merugikan orang lain...? Hidup ini keras Revand, apalagi dunia bisnis. Jika kita tidak punya alternatif, maka selamanya, kita juga tidak akan pernah maju...!"


"Pak, saya bicara seperti ini karena saya perduli dengan perusahaan kita, saya ingin terus bekerja disini pak, mengembangkan karir saya,"


"Karir kamu akan terputus hari ini juga, jika kamu tetap mempermasalahkan hal ini. Ingat, kamu sudah tidak becus melakukan tugas kamu dalam proyek baru perusahaan kita, jadi jika kamu membuat masalah, saya tidak akan segan segan untuk memecat kamu..!"


Deg. Jantung Revand seolah berhenti berdenyut mendengar ultimatum bosnya. Dipecat...? Tidak. Ia tidak mau karir yang susah payah ia bangun hilang begitu saja.


"Maafkan saya pak. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan bapak."


Pria dihadapan Revand, mendengus mendengar permohonan maaf dari Revand.


"Maaf kamu saya terima, jika kamu bisa memberikan pelajaran pada mereka yang menolak kerja sama dengan kita..!"

__ADS_1


"Maksud bapak...?"


"Hancurkan reputasi mereka, dengan cara apapun. Libatkan sekretaris kamu untuk melakukan ini, karena ia terlihat banyak mengetahui seluk beluk perusahaan tersebut..!"


Revand terdiam. Wajah Zill berkelebat. Rasa kesal masih menguasai hati nya sekarang ini pada pria tersebut. Namun sejujurnya, meski begitu kesal dengan Zill, Revand tidak ingin melakukan hal yang diperintahkan oleh bos nya ini kepada nya. Tapi, apakah mungkin...?


***


Sherlin menghampiri meja yang tamunya baru saja masuk kedalam restoran mereka. Seorang pria tampan dengan penampilan rapi setara dengan suaminya jika sedang berangkat kekantor. Ah, jika mengingat Revand, hati Sherlin masih didera kegelisahan. Namun, jika memaksa kan mempersoalkan persoalan yang sama, yang ada situasi rumah tangga nya juga akan tidak nyaman. Tidak. Ia tidak mau itu terjadi. Ia memang ingin penjelasan, tapi ia tidak ingin ada pertengkaran.


"Mau pesan apa...?"


Pria tersebut menengadah ketika suara Sherlin terdengar. Wajah nya seketika berubah.


"Eh, kamu ini, pacar Zill kan...?"


Katanya dengan nada suara semringah. Sherlin bengong.


"Pacar Zill...? Maksud anda ..?"


Pria itu tersenyum ramah, lalu mengulurkan telapak tangan nya, ragu Sherlin menyambut nya.


"Kenalin gue Pram, gue sahabat Zill, pacar lu..!"


"Sherlin, tapi maaf, mungkin anda salah orang ..?"


Sebenarnya, Sherlin bingung dengan semua ucapan yang diucapkan oleh pria yang mengaku bernama Pram itu. Namun, ada kalimat "menginap di hotel yang sama" itu membuat Sherlin jadi tersinggung. Kenapa pria ini berfikir sejauh itu...?


"Anda benar benar salah orang, mungkin wanita yang anda maksud itu bukan saya, saya sudah punya suami, suami saya bernama Revand, bukan Zill sahabat anda itu, jadi harap jaga kata kata anda, saya tidak mau ada yang salah paham jika ada yang mendengar...!"


Habis berkata seperti itu, Sherlin memutar tubuh, lalu melangkah meninggalkan meja tersebut. Meminta karyawan lain untuk menggantikan nya, melayani pria bernama Pram itu.


Sudah punya suami...? Seimut itu...? Berapa umurnya..? Wah, ini menarik, seperti nya Zill dan wanita ini sedang pacaran sembunyi sembunyi. Gue kagak pernah salah mengenali orang. Cewek tadi pasti, cewek yang gue lihat dihotel bareng Zill itu. Tapi dia bilang tadi suaminya Revand...? Kenapa sama dengan pria yang jadi pacar Gisella ya..


Pram sibuk bicara sendiri, hingga nyaris mengabaikan waiters yang sudah sejak tadi menunggu nya memesan menu. Pria itu tergagap saat sang waiters berdehem beberapa kali. Hingga membuat, ia segera memesan menu.


"Mbak, boleh nanya nggak...? Karyawan cewek yang tadi itu udah lama kerja disini...? Udah punya pacar kan..?"


Rasa penasaran Pram membuat ia melontarkan pertanyaan itu kepada sang waiters.


"Dia salah satu bos disini pak. Dan, Bu Sherlin sudah menikah, jadi urungkan saja niat bapak kalau naksir dengan dia..!"


Waiters itu berlalu setelah mengucapkan kalimat tersebut. Pram bengong lagi.

__ADS_1


Naksir...? Cantik sih, tipe gue, tapi kalo dia pacar temen gue buat apa. Mending gue getol berjuang ngedapatin Gisella aja lagi, jadi beneran dia udah nikah...? Apa dia dan Zill udah nikah tanpa sepengetahuan gue...? Sialan Zill, perlu gue ikat ditiang listrik udah lupa sobat sendiri...


Pram komat kamit sendiri sembari berharap, wanita bernama Sherlin itu muncul kembali. Akan tetapi harapannya tidak terealisasi, karena yang ia tunggu tidak muncul juga hingga menu yang ia pesan datang tersaji dihadapan nya.


Sementara itu didapur....


"Bu, yang dimeja nomor 3 itu kelihatan nya fans ibu, setelah ibu kedalam, dia nanya nanya tentang ibu kesaya..!"


Waiters itu menceritakan apa yang ia alami tadi kepada Sherlin.


"Cieeeee, selama ini restoran buka, fans lu makin banyak aja Sher, padahal lu dibelakang, gimana kalo dipajang didepan, restoran ini pasti rame terus ...!"


Amel langsung menggoda Sherlin. Tapi Sherlin menanggapi hal itu dengan tampang kurang bersemangat. Melihat aura salah satu bosnya suram, sang waiters segera undur diri sebelum kena sidang, telah usil dengan bosnya sendiri.


"Sher, lu kenapa, belakangan ini lu kurang ceria kelihatan nya, lu berantem lagi ama suami lu..?"


Setelah waiters itu pergi, Amel melayang kan pertanyaan itu kepada Sherlin. Sherlin menghela nafas.


"Tadi mertuaku telpon, beliau nanya aku udah hamil apa belum. Terus waktu aku bilang, aku belum hamil, beliau kayak kecewa banget gitu. Amel. Sebenarnya, aku ini sehat nggak sih, kenapa sampe sekarang aku belum hamil juga ya. Aku berusaha untuk nggak mau stres, setiap kali ada masalah, aku berusaha untuk nggak memikirkan nya, tapi hatiku nggak bisa bohong, kalo aku emang stres, tapi masa karena itu aku jadi belum hamil juga, aku mau punya anak dari Revand, karena aku mencintai dia Mel...!"


Amel mengusap pundak Sherlin dengan lembut. Lega, Sherlin mau terbuka pada nya seperti ini, karena tadinya ia tidak yakin, sahabatnya itu mau berbagi keluh kesah jika menyangkut persoalan rumah tangga.


"Kalian udah cek ke dokter kandungan...? Daripada menebak nebak lebih baik cek aja, dan apa yang membuat lu jadi stres Sher, Revand...?"


"Aku nggak tau, apa pantas aku mempersoalkan hal ini. Aku hanya ingin Revand jujur itu aja, tapi dalam situasi begini, rasanya kalo mempersoalkan itu, aku bakal bikin situasi kami makin buruk. Revand juga sekarang sedang banyak masalah diperusahaan nya, dia juga ditekan ibunya, kalau aku mempersoalkan hal itu, aku takut makin membuat rumah tangga kami jadi makin kacau..!"


"Hal apa yang kamu maksud say...?"


Amel terus mendesak Sherlin untuk bicara. Sherlin menatap wajah sahabatnya sesaat. Lalu...


"Aku nggak sengaja menemukan cincin pernikahan kami disaku celana Revand, dan itu bukan sebuah kebiasaan Revand, ini emang masalah sepele, tapi jujur aku gelisah. Aku takut, Revand melepas kan cincin itu karena ia melakukan hal buruk dibelakang aku, tapi dalam situasi begini, jika aku mendesak dia, yang ada kami pasti akan bertengkar Amel. Aku harus bagaimana...?"


Sialan lu Revand, lu mulai main api dibelakang bini lu..


Amel memaki didalam hati. Namun sebisa mungkin, ia berusaha untuk menahan semuanya, ia tidak mau Sherlin makin gelisah karena hal itu.


"Lu selidiki diam diam Sher, gue akan bantu lu, tapi lu harus janji, lu jangan terlalu stres mikirin ini, ntar lu nggak hamil hamil lagi, yang jelas, dalam situasi ini emang lu harus menepis ego lu dulu, jangan sampe masalah ini bikin rumah tangga lu keruh. Lu boleh gelisah. Lu boleh curiga, tapi jangan sampai lu hilang rasa percaya lu ama suami lu, siapa tau ada hal yang bikin dia melakukan itu, kita selidiki bareng ya, tapi lu janji, lu jangan terlalu stres lagi..."


Sherlin memeluk tubuh Amel, terharu dengan apa yang dilakukan gadis itu pada nya. Amel balas memeluk. Meski tidak berpengalaman soal mengatasi masalah pernikahan, tapi untuk memata matai, Amel cukup berpengalaman, karena dulu ia pernah melakukan itu saat ia mantan pacar nya selingkuh. Amel sukses membongkar kedok sang mantan yang seolah olah tanpa dosa dihadapan nya, tapi ternyata gemar menumpuk dosa dibelakang nya...


NOTE : menahan ego tidaklah mudah, disaat masalah bermunculan, dan menggiring seseorang untuk melakukan hal yang ia mau sesuai kata hati. Namun seseorang yang berfikir dewasa akan mampu menempatkan kapan ia bersikap untuk mengatasi masalah yang membelitnya.


πŸ‘‰ Buat yang selalu stay disini kalian bikin novel ini terus update tiap hari, meskipun kalo lagi gak vit begini buat ngetik aja jari saya udah gemetar, tapi melihat dukungan kalian untuk karya saya ini, saya bagai nemu obat disaat obat udah pada punah😘😘😘 makasih yaπŸ’ buat yang lain yang suka, mohon dukungan nya jugaπŸ’

__ADS_1


πŸ‘‰ Buat yang selalu membaca karya karya saya, baik yang sudah memiliki novel versi cetak saya seri non-fiksi saya, ataupun yang hanya baca versi online seperti ini, berkesempatan ikut dievent birthday saya next tgl 26 Agustus, di-markas besar GSB diakun FB saya MITHAVIC HIMURA. Jika di dua grup saya yang lain, di smule ⭐ UVSS ⭐ dan $ INTERNATIONAL event hanya diperuntukkan untuk yang member grup saya saja, berbeda dengan di markas besar GSB, member maupun non member boleh ikut berkompetisi, asal sudah memiliki novel saya paling sedikit satu, atau yang selalu mengikuti novel saya yang update setiap hari di dua platform online, disini sama disebelah ya platform kuning, jadi persiapkan diri kalian, semoga umur panjang, insya Allah event umum akan digelar, event tersebut disponsori oleh Owner $ International Zill Reta 😎


bersambung


__ADS_2