
"Kak, Gisella...!"
Samar, Gisella mendengar suara Gita menyadarkan lamunannya. Gadis itu segera mengusap air mata yang ada di pipi nya. Memasukkan ponsel nya kesaku celananya. Lalu, berdiri.
"Antar gue menemui Revand...!"
Katanya dengan suara dingin.
"Tapi, bukankah ayah kakak meninggal..? Kakak nggak kembali kerumah...?"
Gita mencoba untuk mengingat kan.
"Nggak bisa, Gisella harus menemui presdir Zill dulu, dia yang bisa memutuskan tentang situasi Gisella..!!"
Wanita suruhan Gisella, mengucapkan kalimat tersebut, untuk mengingat kan. Gisella menatap tidak suka pada wanita suruhan nya itu.
"Berisik banget sih lu...!! Mau bawa gue kesiapa..? Ke Zill...? Berarti kalian abai dengan keselamatan Revand,"
Gisella menyahut dengan suara yang terdengar kesal. Untuk sesaat mereka kembali adu urat. Walau pada akhirnya, Gita dan wanita yang tadi ingin membunuh Sherlin, memilih membawa Gisella untuk menemui Revand, biar bagaimanapun, mereka tahu, Revand seperti itu karena hal tidak normal yang dilakukan Giaella, jika tidak menuruti apa yang dikatakan Gisella, mereka takut nyawa Revand taruhan nya.
Gita membawa Gisella ke ruang dimana Revand sedang ditangani oleh dokter yang memang ada di hotel milik keluarga besar Mahendradatta.
Sementara itu, Zill segera menyetujui ketika dokter meminta Revand dipindahkan ke rumah sakit untuk alasan fasilitas yang lebih lengkap. Sherlin juga satu tempat yang sama dengan Revand. Wanita itu juga belum sadarkan diri, meskipun dokter sudah berusaha untuk melakukan pertolongan pertama pada Sherlin. Namun Zill kemudian terdiam tidak melanjutkan rencana memindahkan Revand dan juga Sherlin, membuat Rei gemas.
"Zill, ayo pindahin Revand dan Sherlin kerumah sakit segera. Kalo mereka kenapa napa gimana..!"
Rei menyadarkan Zill, untuk segera memutuskan sesuatu.
"Gisella sedang menuju kesini...!"
Sahut Zill dengan suara datar.
"Apa hubungannya...? Lu urus Gisella, gue yang mewakili mereka buat bawa Sherlin dan Revand kerumah sakit...!"
Rei tidak mengerti dengan apa yang direncanakan oleh Zill.
"Mereka begini karna ilmu hitam Rei, meskipun kita bawa dia keluar negeri, percuma, dokter sendiri yang bilang, apa yang menyebabkan mereka seperti ini belum bisa dideteksi,"
"Itu karena fasilitas disini terbatas, dokter disini hanya untuk melakukan pertolongan pertama, bukan untuk memeriksa secara detail..!"
Rei membantah. Zill menatap wajah sahabat Sherlin itu tajam.
"Gue juga kagak percaya dengan hal mistis Rei, tapi ini fakta. Jadi, kita tunggu aja dulu wanita itu disini, sebelum memutuskan apa yang harus dilakukan...!"
"Zill, terus gimana dengan acara lu diluar..! Mereka sedang menunggu lu,"
"Mami masih bisa menggantikan gue untuk mengatasi situasi disana...!"
Rei menyerah. Dia sesekali memeriksa keadaan Sherlin, sesekali memeriksa keadaan Revand. Rasanya, ia seperti mau gila karna cemas dengan kondisi sahabatnya itu.
Zill mengawasi Sherlin dan Revand bergantian. Ada rasa iri merayapi hatinya sekarang. Sekarat pun, pasangan itu bersama.
Indah sekali, hubungan kalian...
Ucap pria itu didalam hati.
Tidak berapa lama kemudian, Gita, Gisella dan wanita yang tadi ingin membunuh Sherlin datang. Melihat Gisella, ingin sekali Zill memukul wanita itu dengan segenap kekuatan nya. Akan tetapi, Zill tidak pernah memukul wanita jika tidak terdesak. Sementara Gisella, mengacuhkan tatapan mata Rei dan juga Zill, saat ia hadir diruangan tersebut.
__ADS_1
Gadis itu langsung ingin mendekati Revand yang berbaring di ranjang nomor 1, tidak jauh dengan jarak ranjang dimana Sherlin terbaring.
Namun, gerakan nya ditahan Zill.
"Kamu fikir, aku tidak akan memberimu perhitungan atas semua yang kamu lakukan malam ini...?"
Tanyanya dengan suara dingin. Gisella tersenyum getir.
"Tanpa gue, Revand kagak akan selamat...!"
Sahut Gisella, sembari memberi isyarat pada Zill untuk menyingkir. Terpaksa Zill menyingkir, dan membiarkan Gisella menghampiri tepi pembaringan Revand.
Jangan melawan lagi Revand, turuti apa kata gue, dengan begitu, lu akan selamat...
Gisella mengucapkan kalimat tersebut didalam hati, lalu meletakkan telapak tangan nya didada Revand, yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Semua yang ada disitu melihat Gisella memejamkan mata nya. Bibir gadis itu komat kamit. Entah, apa yang diucapkan nya, hanya Gisella yang mengerti.
Raut wajah gadis itu sebentar tenang sebentar tegang, seperti sedang berdebat dengan seseorang di alam bawah sadarnya. Bersamaan dengan itu, Gita memekik ketika melihat ada darah keluar dari hidung Revand dan Sherlin. Zill segera menghampiri tepi pembaringan Sherlin, menggenggam jemari tangan wanita itu, untuk memeriksa suhu tubuhnya, sementara Rei mendekati tepi pembaringan Revand, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Zill.
Tangan itu tetap hangat, tapi darah tidak berhenti keluar dari lubang hidung pria tersebut, begitu juga Sherlin. Rei jadi khawatir. Disentakkannya Gisella hingga gadis itu terjajar kebelakang, dan spontan membuka kedua matanya.
"Apa yang lu lakukan pada Sherlin dan Revand...? Hidung mereka mengeluarkan darah...! Lu mau membunuh mereka berdua...!!"
Gisella menatap kesal kearah Rei. Merasa diganggu oleh pria itu saat melakukan ritual.
"Gue mau mengobati Revand, diam aja lu...!!"
"Lalu, kenapa hidung mereka berdua mengeluarkan darah ..?"
"Karena mereka kagak mau gue tolong.. !!"
"Apa maksud kamu...?"
"Mereka emang kagak mau sadarkan diri, gue udah berusaha untuk membuat Revand sadar, tapi Sherlin itu. Dia mempengaruhi Revand untuk kagak mau mendengarkan apa yang gue perintah kan.. !"
Gisella berucap demikian dengan suara meninggi.
"Apa maksud kakak.. ?"
Kali ini yang bicara adalah Gita, ia benar benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Apa benar, ilmu hitam sudah digunakan Gisella...? Meski sudah melihat hal ganjil seperti itu dari kondisi Revand dan Sherlin, tetap saja Gita seperti tidak percaya.
"Dengan kata lain, Sherlin melawan Gisella dialam bawah sadar, karena tidak ingin Revand sadar dari komanya, apa seperti itu Gisella...?"
Yang bicara wanita suruhan Gisella.
"Benar...!"
Gisella membenarkan. Semua yang ada disitu saling pandang.
Gue akan membuat, semua yang ada disini membenci Sherlin, Wanita sialan ini, sudah pingsan saja masih bisa melindungi Revand, gue benci hubungan mesra mereka itu....
Gisella mengucapkan kalimat tersebut didalam hati, sembari melangkah mendekati tepi pembaringan Sherlin. Namun, Zill segera menghalangi langkah Gisella untuk semakin mendekati tepi pembaringan Sherlin.
"Minggir lu Zill. Gue akan menyingkirkan penyebab Revand tetap koma.. !"
"Apa maksud kamu dengan kata menyingkirkan itu...?"
Zill menatap wajah Gisella dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Sherlin lebih memilih Revand koma untuk selamanya daripada sadar dari komanya, lu tau kenapa...? Karena dia tau, kalo Revand sadar, Revand akan lupa dengan dirinya...!"
"Apa...?"
Semua yang ada disitu sama sama serempak mengucapkan kalimat tersebut.
Namun Zill tidak mau percaya begitu saja atas apa yang diucapkan oleh Gisella.
"Kamu jangan main main Gisella, Sherlin itu wanita yang berhati tulus, dia selalu memikirkan diri orang lain, baru kepentingan dirinya sendiri, jadi tidak mungkin dia punya fikiran seegois itu ..!!"
"Benar kata presdir Zill, Sherlin bukan tipe wanita yang egois, dia berkorban untuk menyelamatkan orang lain, dengan aku saja ia seperti itu, padahal dia tidak mengenal ku, apalagi pada suaminya sendiri, mana mungkin dia mau melihat suami nya sekarat seperti itu...!"
Wanita yang tadi ingin membunuh Sherlin ikut bicara, dan membenarkan apa yang diucapkan oleh Zill.
Rei kesal dengan situasi yang sekarang tercipta, dengan penuh emosi, didorongnya tubuh Gisella menjauh dari tepi pembaringan Sherlin.
"Lu mau apain sahabat gue hah...? Lu mau gue lempar keluar dari jendela sekarang juga...!"
Semua menahan nafas, melihat Rei mendorong Gisella menuju jendela ruangan yang ada disitu. Gisella tersenyum sinis. Meski tahu sekarang ia ingin dibunuh, tapi seringai licik tetap bermain diwajahnya yang cantik.
"Lu kagak tau soal ilmu hitam kagak usah banyak omong, terserah lu kalau lu mau bunuh gue sekarang, dua teman lu itu juga akan mati, lu kira dokter bisa mengobati mereka berdua...!!"
"Kalo emang mereka berdua kena ilmu guna guna, gue akan panggil ustaz sekarang juga. Lu akan dibakar hidup hidup karna persekutuan lu itu...!!"
Rei menghempaskan tubuh Gisella ketembok. Lalu berbalik ingin melangkah meninggalkan ruang tersebut. Namun suara Gisella menghentikan langkahnya.
"Lu mau panggil ustaz berapa lama..? Ada ustaz nginap di hotel ini..? 10 menit aja lu melangkah, lu udah terlambat, gue kagak akan menahan kekuatan itu lagi, karna kalian keras kepala...!! Lu pikir, masalah nya selesai dengan memanggil ustaz aja...?!"
Bersamaan dengan itu, tubuh Revand bergetar, darah semakin banyak keluar dari lubang hidung nya. Hal ini membuat Gita tidak sabar untuk memanggil dokter. Namun, Gisella kembali berteriak keras hingga gadis itu mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Beri sekarang keputusan kalian, kalian ingin Revand selamat atau Revand kagak sadar untuk selama nya...!!
"Diam kamu...!! Sherlin dan juga Revand harus selamat itu yang kami mau...!!"
Zill balas membentak.
"Kenyataan nya, kagak seindah yang lu mau Zill, wanita ini melawan gue dialam bawah sadar, dia sengaja kagak mengizinkan gue buat menyadarkan Revand, lu fikir dengan kondisi Revand seperti itu, dia bisa bertahan berapa lama...? Darah dia akan habis, gue yang lebih tau soal ini bukan lu, bukan kalian...!!"
Gisella balas membentak.
"Jadi kami harus melakukan apa kak Gisella, aku mohon selamatkan mereka berdua, jangan mengorbankan mereka berdua aku mohon, mereka pasangan yang saling mencintai, jangan pisahkan mereka berdua...!!"
Gita yang sudah tidak kuat melihat kondisi Revand dan Sherlin yang sama sama mengeluarkan darah dihidung segera menghampiri Gisella meraih lengan wanita itu, dan berucap seperti itu. Namun, Gisella menepis tangan nya dengan kasar. Gadis itu meraih gunting yang ada diatas meja diantara kedua ranjang diruangan tersebut.
Lalu dengan gunting ditangannya, Gisella melangkah menghampiri Zill. Lalu mengulurkan gunting itu kearah pria tersebut...
"Waktu kalian cuma tinggal 5 menit lagi. Sebelum kalian kehilangan keduanya, lebih baik kalian memilih, Zill. Bunuh Sherlin sekarang juga. Karena dia yang tidak mau suaminya sadar dari koma, jadi artinya dia ingin suaminya seperti itu selamanya. Kalau lu membunuh nya, Revand akan gampang gue sadarkan, dan dia akan selamat....!"
Note: Cinta punya kekuatan untuk melindungi orang yang ia cintai, bukan untuk menyelakai orang yang dicintai, karena ketulusan cinta, akan selalu ingin membuat orang yang dicintai nya baik baik saja, meskipun terkadang untuk hal itu, harus mengorbankan diri dan perasaan nya sendiri.
👉 pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya 😘
👉 Jangan lupa baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul CINTA SANG PENULIS ya😘
👉 Dan novel non-fiksi karya saya diplatform kuning NOV*LME berjudul DOKTER ITU KAKAKKU dan novel fantasi terbaru saya berjudul MAHKOTA DEWA.
👉 DILARANG MEMPLAGIAT SELURUH ISI TULISAN INI...!!
__ADS_1
BERSAMBUNG