SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 84. SELAMAT KAN DIA.


__ADS_3

"Revand. Jangan bodoh Revand..!! Jangan bergerak maju, dengarkan gue..!!"


Gisella kembali berteriak, berusaha untuk membuat Revand sadar, bahwa apa yang akan dilakukan pria itu sangat berbahaya, dan tidak ingin ia saksikan. Mana mungkin ia bisa menyaksikan, orang yang dicintai nya mati didepan matanya.


Revand tidak mengindahkan apa yang dikatakan Gisella, ia tetap mengeluarkan kepalanya dari jendela yang sudah ia buka. Menatap kebawah dari tempat nya sekarang berdiri.


Mobil mobil dibawah sana terlihat sangat kecil, orang orang yang lalu lalang dibawah sana pun terlihat sekecil semut, pertanda begitu tinggi posisi nya sekarang. Ketika Revand bersiap ingin terjun bebas kebawah, setelah mengucapkan kalimat selamat tinggal untuk istri nya, tiba tiba saja, dari kejauhan ia melihat dua orang wanita tengah terlibat pergumulan di tempat berbahaya, diujung sana.


Lampu lampu hotel yang terang benderang, membantu penglihatan Revand, meski jarak antara ia dan dua wanita tersebut sedikit jauh. Revand mengerjapkan matanya. Berusaha memperjelas pandangan matanya, meski sedikit kesulitan untuk konsentrasi, karena rasa sakit di kepala nya masih terus menyerang, namun ia bisa memastikan siapa dua wanita di ujung sana yang sedang bergumul ditepi balkon hotel.


"Sherlin..! Iya, itu Sherlin..! Dengan siapa dia disana..!"


Tertatih, Revand memundurkan tubuhnya, Gisella yang sudah menutup telinga dan matanya tidak bisa membayangkan, jika Revand benar benar melompat ke bawah, menghembus kan nafas lega, melihat seperti nya, Revand tidak jadi untuk melompat.


Ketika ia ingin mendekat, ingin mencoba membuat Revand terpengaruh kembali dengan mantra yang ia ucapkan, Revand kembali mengacungkan tangan nya, mengancam nya untuk tidak mendekat.


"Jangan maju..!! Kalau kamu maju, aku akan benar benar melompat dari jendela itu...!!"


Pria itu membentak sembari berusaha untuk menahan perasaan menyiksa yang menyerangnya dari dua arah. Melihat Gisella, gairahnya menjadi menggelegak. Apalagi, saat itu Gisella hanya mengenakan bawahan yang belum sempat ia buka, lantaran keburu ia sadar dari pingsannya. Namun, karena melihat Sherlin disana seperti nya sedang berada dalam bahaya, Revand berusaha ingin mencapai pintu, meraih baju yang berserak dilantai, memakai nya sekenanya, sementara Gisella, yang tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Revand, berfikir untuk menutup jendela itu terlebih dahulu, agar Revand tidak lagi berdiri disana untuk menerjunkan diri.


Diwaktu yang bersamaan, saat Revand bertengkar dengan Gisella tadi, di jarak beberapa meter dari kamar dimana Revand berada, Sherlin yang tadinya sedang dibawa oleh salah satu orang suruhan Gisella, masih bergulat dengan wanita yang mengaku wartawan itu, karena sadar, ia tidak dibawa keruangan dimana sang suami berada, justru dibawa kebalkon sebuah kamar hotel, paling ujung dan ingin didorong jatuh dari ketinggian kamar tersebut.


Wanita itu ingin mendorong Sherlin dari balkon tersebut. Meski pun, balkon tersebut dilengkapi pagar besi, tetap saja pagar itu bisa membuat seseorang jatuh jika didesak sedemikian rupa. Balkon itu tidak dimiliki semua unit kamar hotel itu. Hanya kamar tertentu saja yang memiliki balkon dengan letak yang strategis untuk berjemur matahari pagi, harga sewanya juga berbeda dengan kamar tanpa balkon, dan tempat itulah yang disewa orang suruhan Gisella, untuk menghabisi nyawa Sherlin, dengan merancang skenario bunuh diri, agar terlihat Sherlin terjun dari balkon tersebut.


"Kamu orang suruhan Gisella..? Dibayar berapa kamu untuk melakukan tindakan sekeji ini..!"


Teriak Sherlin sembari berusaha untuk bertahan dengan memegang pagar besi meskipun wanita itu terus menekannya untuk segera terjun kebawah.


"Yang pasti bayarannya fantastis nyonya Revand, tadinya, aku tidak mau membongkar ini semua, tapi ternyata kamu tidak sebodoh yang aku kira, aku perlu uang, aku punya banyak hutang, dan rentenir itu selalu mengancam ingin membunuh ku, jadi apa yang aku lakukan sekarang sebagai bentuk perjuangan aku untuk menyelamatkan nyawa ku, kamu tidak akan pernah merasa, sakitnya saat kita tidak memiliki uang sementara biaya pengobatan keluarga kamu yang sakit dirumah sakit membengkak. Jadi terjunlah sekarang, hapus semua kenangan kamu selama hidup, bukankah kau juga tidak bahagia dengan kehidupan kamu yang sekarang..? kita tukar kehidupan, kamu mati bahagia, aku hidup dari kematian kamu dengan bahagia..!"


Gisella, kamu menuturkan semua Kepahitan hidupku pada wanita ini, agar wanita ini terperdaya olehmu, kamu benar benar keterlaluan, kamu menukar nyawa orang lain, untuk membeli sebuah kehidupan baru..


Sherlin bicara seperti itu didalam hati. Saat mendengar ucapan wanita tersebut.

__ADS_1


"Kamu nggak akan tenang hidup jika kamu hidup diatas penderitaan orang lain, aku juga pernah mengalami hal yang sama seperti mu, itu ujian,kamu harus kuat, jangan lakukan ini, ingat keluarga kamu, ingat suami dan anak anak kamu...!"


"Diaaam...!! Justru aku melakukan ini karena aku menyayangi mereka, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membuat keluargaku lepas dari rentenir itu, jadi permudah saja proses nya, melompat lah, pejamkan saja matamu, dan semua penderitaan kamu akan berakhir..!"


Wanita itu semakin kuat menekan tubuh Sherlin untuk condong kebibir balkon. Nafas Sherlin sudah tersengal, rasanya ia tidak bisa bertahan terlalu lama berada dalam posisi seperti ini. Bayang bayang memorinya bersama Revand berkelebat satu persatu.


Apa benar, aku akan mati seperti ini malam ini..? Tubuhku meluncur jatuh dan tergeletak dibawah dengan kepala hancur, aku memang sedang merasa terluka dengan ujian yang sekarang aku terima, tapi aku tidak mau mati, aku masih punya Revand yang tetap mencintai ku, meskipun aku belum bisa memberikan nya keturunan, aku masih punya sahabat sahabat yang mencintai ku dengan tulus, ibu yang mengasihiku, aku benar benar belum ingin mati ya Allah, tapi kalau memang umurku harus habis malam ini juga, tolong selamatkan suamiku dari perbuatan buruk Gisella, aku tidak tahu dimana dia sekarang, Revand maafkan aku yang tidak bisa menemukan mu, aku malah terjebak disini antara hidup dan mati..


Airmata menggelinding jatuh dari sudut mata Sherlin. Betapapun dia berusaha untuk bertahan, berpegangan erat pada salah satu besi pagar pembatas balkon, tetap saja tangan kecilnya tidak sebanding kekuatan wanita bertubuh besar yang sekarang mendorong nya. Telapak tangan nya saja sudah terasa kebas, ia mulai mati rasa, beribu cara sudah dilakukan Sherlin, namun tidak membuat wanita suruhan Gisella itu mengurung kan niatnya.


Hutang 50 jutanya akan lunas, jika Sherlin terjun dari lantai atas kamar hotel ini, dan dipastikan tewas. Nominal itu, cukup membuat wanita itu gelap mata. Mau mencari kemana uang 50 juta dalam waktu dua hari...? Permintaan tolong Gisella, membuat ia merasa mendapat kan jalan keluar.


Sementara itu, Revand berhasil keluar dari kamar dimana ia disekap. Semula, Gisella ingin mengejar Revand, dan tidak membiarkan Revand lolos begitu saja, wanita itu benar benar tidak menyangka dengan niat yang akan dilakukan oleh pria tersebut, hingga ia kebobolan.


Revand berhasil keluar, dan ketika ia ingin mengejar, diluar ada beberapa orang yang sibuk mencari carinya, terpaksa Gisella tidak bisa keluar dari kamar, apalagi saat itu ia bertelanjang dada, tentu tidak mungkin mengejar Revand yang lolos dari kamar yang menyekapnya.


"Brengs*k...!! Lu pikir, lu bisa lolos dari gue meskipun gue kagak bisa ngejar lu Vand. Gue akan menambah mantra gue buat lu, biar Ki Robius semakin menyerang lu dengan kekuatan penuh, dan lu akhir nya merangkak mencari gue karena lu kagak bisa mengendalikan diri..!!"


Gisella bicara seperti itu, sembari duduk bersila, kedua matanya terpejam bibirnya mengucapkan mantra mantra yang diberikan oleh Ki Robius.


Revand berusaha untuk terus melawan, tekadnya ingin menyelamatkan sang istri yang tengah berada dalam bahaya begitu besar, seolah di ikat dengan rantai besi yang menariknya kembali menuju kamar semula, begitu berat Revand berusaha untuk melangkah kan kakinya untuk maju.


Darah merembes dari lubang hidung dan telinga nya. Semakin keras usahanya untuk melawan, semakin kuat kekuatan itu menyerbunya, menyerbu dirinya dari dua arah.


Ditengah perjuangan Revand untuk mencapai lokasi dimana istri nya sedang dalam bahaya, tiba tiba sebuah suara memanggil namanya.


Revand membuka mata, samar ia melihat wajah Zill. Pria itu terkejut melihat kondisi Revand yang sangat memprihatinkan. Baju berantakan, bahkan tidak terkancing dengan baik, hidung dan telinga yang mengeluarkan darah. Wajah yang bersimbah keringat.


"Revand, lu kenapa, kuasai diri lu, sadar...!!"


Zill berusaha untuk menyadarkan Revand semampu yang ia bisa.


"Tolong Sherlin Zill. Dia, dia ada dikamar paling ujung hotel ini, dia dalam bahaya, gue kagak bisa mencapai kesana dengan cepat...!",

__ADS_1


Revand mengucapkan kalimat itu dengan nafas tersengal sengal.


"Tapi, tapi kondisi lu begini, mana mungkin gue tinggalin lu..! Gue hubungi Rei dan dokter hotel ini ya,"


Zill ingin menghubungi Rei dengan ponsel nya, namun Revand tidak membiarkan Zill melakukan hal itu.


"Kagak ada waktu lagi Zill. Pergi lu sekarang, tolong selamatkan Sherlin, gue berikan apapun yang lu mau, asal lu mau menyelamatkan dia sekarang secepatnya..!"


"Apapun ya..? Lu gila, kalo gue mau istri lu, lu mau apa..?"


Genggaman tangan Revand di lengan Zill mengerat, pertanda ia tidak suka kalimat itu diucapkan oleh Zill. Tapi apa daya, hanya Zill yang sekarang bisa menolong nya. Ia tidak bisa mencapai lokasi dimana Sherlin berada karena kondisi nya seperti sekarang..


"Apapun itu lakukan...!! Tapi lu harus selamatkan dia...!!!"


Bentak Revand tersengal sengal. Ia benar benar merasa sangat payah sekarang ini, hingga untuk bicara saja ia sudah tidak sanggup. Zill tersenyum, diletakkan nya tubuh Revand yang semakin melemah.


"Lu tunggu disini, gue akan kembali membawa Sherlin...!"


Habis bicara seperti itu, Zill segera bangkit, dan setengah berlari menuju lokasi dimana Sherlin berada sesuai petunjuk Revand, tidak lupa ia memberitahu Rei, untuk segera menolong Revand, plus menyebut kan posisi Revand dimana.


Sepeninggal Zill, tubuh Revand semakin lunglai dan ia roboh tergeletak dilantai dengan darah masih keluar dari lubang hidung dan telinga nya..


Kamu harus hidup Sherlin, harus hidup, bertahan lah, Zill akan datang menyelamatkan mu, maafkan aku yang ternyata tidak bisa menyelamatkan mu sayang..


Note: Kekuatan manusia ada batasnya, kekuatan setan memang tidak berbatas, namun percayalah, kekuatan Tuhan lebih dari segala galanya....


👉 Pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya 😘


👉baca juga novel nonfiksi karya saya berjudul CINTA SANG PENULIS ya❤️



👉 "Itu bukan virus flu biasa Kay, virus itu sudah menguasai negara negara besar diluar sana, bagaimana jika aku tidak bisa melindungi mu meskipun aku seorang Dokter..? Kesehatan itu ada, jika pemilik tubuh nya sendiri sadar, bahwa menjaga kesehatan itu penting..!" Kalimat yang diucapkan oleh dokter Bryan, saat sang adik Kay, menyepelekan virus Corona ada dalam novel non-fiksi saya berjudul DOKTER ITU KAKAKKU Sudah update 41 episode ya, di platform kuning, NOV*LME klik MITHAVIC HIMURA cari judul novelnya DOKTER ITU KAKAKKU akan ada event nya next di-markas besar GSB bagi yang membaca novel saya tersebut.

__ADS_1



bersambung


__ADS_2