SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 73. PENDAMPING SEUMUR HIDUP. (21+)


__ADS_3

Sherlin baru saja masuk kedalam kamar ketika matanya melihat ada sebuket bunga yang diletakkan didekat pintu kamar, perlahan wanita itu memungut bunga tersebut.



wanita itu tersenyum melihat kartu yang terselip dibuket bunga mawar itu. Dari Revand. Tumben. Tapi suaminya itu kemana...? Revand tadi minta izin pulang lebih cepat, karena ada yang ingin diurus dengan Zill, sedang Sherlin baru saja pulang, usai mandi, ia kebawah mengajak ibunya untuk sekedar ngobrol, sedang ibu mertuanya sudah pamit pulang, meskipun seperti nya kepulangan ibu mertua nya itu hanya untuk sesaat, dan akan kembali lagi mengecek situasi mereka. Namun setidaknya, untuk sementara, Sherlin terbebas dari tuntutan sang mertua perihal wajib hamil atau membiarkan Revand poligami.


Jika membahas hal itu, entah kenapa seketika hati Sherlin jadi terluka, namun ia berusaha untuk maklum, karena biar bagaimanapun ibu mertuanya tetap harus ia anggap sebagai ibunya juga.


"Vand. Kamu dimana..!?"


Sherlin berteriak memanggil suaminya, melangkah memeriksa kamar, meletakkan buket bunga mawar itu diatas tempat tidur. Ketika ia membuka kamar mandi, ia menemukan suaminya disana, baru selesai mandi.


"Kok, nggak dikunci..?"


Sherlin bertanya ketika sang suami keluar dari kamar mandi. Tubuhnya hanya dibalut handuk. Rambutnya masih basah, namun ia melihat Revand seperti sedang menahan rasa sakit.


"Kepala kamu sakit lagi...?"


Sherlin meneliti paras suami nya.


"Apa aku perlu dirukyah..!"


"Apa..?"


Sherlin tidak paham dengan apa yang dibicarakan suaminya. Revand menatap istrinya sesaat, lalu mengalirlah cerita pria itu tentang Gisella. Tentang ilmu guna guna yang beberapa hari terakhir ini seperti menghantui nya. Paras Sherlin berubah mendengar cerita sang suami.


"Jahat bener Gisella. Dia melakukan itu karena kamu menolak dia..!"


Rasa bahagia Sherlin saat mendapat sebuket bunga mawar tadi, kini di nodai oleh perasaan kesalnya terhadap Gisella.


Pantesan belakangan ini Revand aneh, dia selalu tiba tiba merasa takut saat melihat ku..


Sherlin membathin. Dihampiri nya sang suami.


"Kamu harus menguatkan hati dan fikiran kamu Vand, setahuku ilmu pengasihan itu mendapat celah, ketika hati dan fikiran kamu lalai, apa saat melihat ku kamu seperti melihat sesuatu yang bikin kamu takut...?"


"Ia. Terkadang wajah kamu berubah menjadi wajah Gisella.."


"Itu yang mereka inginkan. Pandangan kamu terhadap ku ditutup oleh mereka, kamu melihatku seperti Gisella, rasa benci kamu dengan Gisella mendorong kamu untuk menjauhinya, kalo kamu ngeliat aku seperti Gisella maka, perlahan tapi pasti kamu nggak akan mau mendekati ku lagi, sebaliknya, saat kamu melihat Gisella, kamu seperti sedang melihat aku, dan secara otomatis kamu ingin terus dengan dia, karena dimata kamu, Gisella itu aku...!"


"Kenapa kamu paham tentang hal ini..?"


Tanya Revand, dengan tatapan heran.


"Ayahku pernah diguna guna wanita yang ingin merebut ayah dari ibuku, guna guna itu sangat kuat menjerat ayahku, karena pada dasarnya, ayahku selalu merasa kurang mempunyai istri seperti ibuku, guna guna itu sangat gampang masuk menguasai ayahku, Vand, jujur sama aku, apa dihati kamu, sebagai istri buatmu aku ini masih nggak bisa memuaskan kamu...?"


Suara Sherlin gemetar saat mengucapkan kalimat tersebut dihadapan Revand, sepasang mata nya pun dirasa mulai dibanjiri airmata. Revand menangkup wajah istrinya dengan kedua telapak tangan nya. Menengadahkan wajah wanita itu untuk menatap wajah nya. Mata mereka saling menatap.


"Aku merasa puas sama kamu sayang, dulu memang aku pernah punya perasaan kurang puas, tapi aku sudah membahas inikan, aku sudah menyadari nya, aku dulu kurang bersyukur. Tapi sekarang, aku sadar, aku bodoh kalau sampai mengabaikan mu."

__ADS_1


Butiran bening perlahan turun membasahi pipi Sherlin. Revand cepat mengusap nya. Dicium nya mata itu dengan penuh perasaan. Lalu ditariknya tubuh sang istri kedalam pelukannya. Sherlin tersedu di dada bidang sang suami, yang masih polos karena saat itu, Revand hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuh bagian bawah nya.


"Aku takut, kamu nggak puas dengan ku karena aku belum hamil juga, itu akan membuat hati dan fikiran kamu lalai, guna guna itu akan mudah menguasai hati dan fikiran kamu, dan aku akan kehilangan kamu Vand.."


"Aku udah bilang kan. Aku nggak pernah mempermasalahkan masalah itu. Percayalah, seluruh hati dan fikiran aku cuma buat kamu sayang. Justru sekarang aku yang uring uringan lihat foto kamu dengan Zill, jujur, aku cemburu.."


Sherlin menarik dirinya dari pelukan sang suami. Ditatapnya Revand dengan tatapan penuh rasa bersalah.


"Aku minta maaf. Tapi itu nggak seperti yang terlihat, Zill nggak menciumku,"


"Tapi tangan nya memeluk pinggang mu..!"


"Maaf. Konsep nya menuntut kami melakukan itu, aku juga merasa bersalah sudah melakukan itu. Aku rela menerima hukuman dari kamu untuk itu.."


Sherlin bicara dengan wajah tertunduk. Revand menyeringai mendengar ucapan sang istri.


"Hukuman ya, kalau gitu aku mau jatah double.."


Sherlin mencibir mendengar ucapan sang suami, sudah ia duga. Pasti ujung ujungnya seperti itu.


"Minta yang lain emang nggak mau..?"


"Nggak mau..!"


"Dasar suami mesum..!"


"Biarin, aku suka mesumin istri sendiri juga, bukan wanita lain."


Kali ini Revand yang balas mencibir. Kes al sekali dia jika sudah disinggung soal itu.


"Kamu nggak cemburu suami kamu ditawar 50 juta..?"


"Enggak..!"


"Apa..?"


"Enggak cemburu, karena aku udah beli kamu dengan cinta seumur hidup..! Mereka cuma nawar kamu satu malam. Aku seumur hidup kamu, kalau kamu lebih memilih mereka dibandingkan aku, itu artinya kamu suami yang perlu diberi pelajaran. Udah ada wanita yang menyerahkan hidup nya seumur hidup untuk mu, masih juga main mata dengan wanita yang cuma nawar kamu satu malam, mending aku tinggalin aja..!"


Sherlin pura pura merajuk saat mengucapkan kalimat tersebut. Ia ingin turun dari tempat tidur, namun Revand justru menarik lengan nya hingga ia justru terbaring diatas tempat tidur, dengan posisi Revand diatasnya. Jemari tangan Revand mengusap bibir mungil istrinya. Seperti nya Revand ingin menyuarakan bahwa, ia sangat puas dengan apa yang tadi diucapkan oleh sang istri, meski kalimat yang ujung membuat hatinya tidak terima.


"Aku akan memilih wanita yang memilih ku seumur hidup, dibanding kan yang satu malam, karena yang satu malam, nggak akan ada dalam suka maupun duka..! Makasih sayang, aku bahagia mendengar ucapan itu keluar dari mulut kamu..!"


Sherlin ingin merespon, namun Revand keburu membungkam nya dengan menc*um bibirnya dengan lembut. Tidak hanya menc*um, sebelah tangan Revand mulai bergerilya di paha sang istri karna dres wanita itu tersingkap memperlihatkan seluruh pahanya, akibat sentakan Revand yang tadi tiba tiba mendorong halus tubuh nya berbaring diatas tempat tidur.


Sherlin gelagapan. Bukan tidak ingin disentuh penuh nafsu seperti itu oleh sang suami, masalah nya, sebentar lagi mau magrib. Rasanya tidak etis berhubungan intim saat situasi azan yang akan berkumandang. Apalagi, sekarang suaminya sedang di jadikan sasaran guna guna. Tidak. Sherlin harus menahan nafsu sang suami segera.


"Vand, stop dulu mau magrib nggak boleh.."


Tersengal, Sherlin bicara seperti itu saat bibir suaminya berganti menc*umi lehernya.

__ADS_1


"Masih sempat kan satu kali.."


Revand tidak perduli, terus melanjutkan aktivitas nya, ingin membakar gairah sang istri lewat c*uman dan juga rabaannya di berbagai tempat sensitif tubuh istrinya.


"Revand, udah tahan dulu, magriban dulu ih,"


Sherlin berusaha melerai tubuh Revand yang menempel ditubuhnya, ketika Revand masih tidak perduli dengan permintaan sang istri untuk menyetop aktivitas yang ia lakukan ditubuh istri nya, pria itu mengerenyit menahan sakit lagi sembari memegangi kepalanya.


"Vand, sakit lagi ...!"


Revand mengangguk, tangan nya memijit kepala nya. Sherlin bangkit.


"Kamu wudhu gih, kita shalat bareng, ingat Vand, jangan sampai hati dan pikiran kamu lalai. Kamu pasti bisa..!"


Revand semakin samar mendengar ucapan sang istri, rasa sakit itu membuat ia tidak bisa dengan jelas mendengar apa yang masuk kedalam gendang telinga nya, seolah olah, ada sebuah bisikan didalam telinga nya yang menghimbau ia untuk menganggap Sherlin itu Gisella. Jika sudah seperti itu, mendadak ia melihat wajah istrinya berubah menjadi wajah Gisella. Dan itu membuat ia terperanjat hingga beringsut mundur.


"Revand, kuasai hati dan fikiran kamu Vand, jangan biarkan bisikan itu menguasai pikiran dan hati kamu, aku Sherlin bukan Gisella. Jangan menjauhiku..!"


Samar, Revand mendengar suara Sherlin dikejauhan. Sedapat mungkin pria itu mencoba untuk mengendalikan diri. Hingga keluar erangan dari mulut pria itu. Serta merta Sherlin memburu sang suami. Memeluk erat tubuh nya. Berusaha untuk membacakan ayat kursi sembari berulang kali meniup ubun ubun sang suami setiap kali usai membaca ayat suci tersebut.


Beberapa menit kemudian, akhirnya Revand terlihat mulai tenang. Keringat membanjiri wajah sang suami. Pertanda pria itu setengah mati bergulat melawan sesuatu yang memaksa dalam diri nya. Digenggam nya tangan sang istri.


"Aku takut.."


Katanya dengan suara terbata. Sherlin balas menggenggam jemari tangan suaminya.


"Aku disini sayang. Jangan takut..!"


Sahut Sherlin sembari mengusap keringat yang membasahi wajah suaminya. Revand terdiam sejenak. Seperti nya pria itu berusaha untuk menetralisir perasaan nya setelah tadi ia seperti diguncang hebat.


"Kamu suka bunganya..?"


Pria itu melontarkan pertanyaan itu kepada sang istri.


"Kamu masih ingat bunga itu setelah kejadian tadi Vand..?"


"Aku membelinya diperjalanan pulang kerumah, Zill yang membantu ku, aku dapat uang DP karena aku mau jadi model ibunya, aku langsung membelikan kamu bunga itu untuk kamu. Aku takut, kamu marah karena gosip 50 juta itu sayang, tapi setelah mendengar ucapan kamu tadi, aku jadi lega, aku benar benar beruntung menjadikan kamu sebagai istri ku. Zill benar, aku dulu kurang bersyukur, aku benar benar minta maaf Sherlin. Beri aku kesempatan untuk menjadi suami yang lebih mensyukuri segala nya.."


Sepasang mata Sherlin menghangat kembali. Ucapan Revand tadi cukup menyentuh hati dan perasaan nya. Ia tidak bisa merespon ucapan Revand, hanya mempererat pelukannya saja ditubuh sang suami. Berharap lewat hal itu, Revand paham bahwa ia mengerti dengan apa yang diucapkan sang suami tadi.


Gisella, aku tidak akan membiarkan kamu merebut apa yang sudah aku miliki. Kamu boleh merebut jabatan suamiku, tapi aku akan mempertahankan seseorang yang juga mempertahankan aku..


Sherlin bicara seperti itu didalam hati..


Note: Pertahankan seseorang yang mempertahankan kita, karena seseorang yang mempertahankan kita, artinya juga menganggap kita penting dalam hidup nya, jangan mempertahankan seseorang yang tidak mempertahankan kita, karena itu akan membuat ia bebas menginjak harga diri kita.


👉 pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya 😘


👉 jangan lupa baca juga novel nonfiksi terbaru saya dilapak ini ya, CINTA SANG PENULIS, dan berikan dukungan kalian untuk karya saya tersebut ❤️

__ADS_1



bersambung


__ADS_2