
Sherlin dan Revand sudah kembali dari Jepang. Masa cuti bulan madu yang diambil oleh Revand sudah berakhir. Meski sempat diwarnai percekcokan lantaran ada Gisellla, Sherlin tetap merasa bulan madu yang diberikan Revand padanya cukup indah dan berkesan. Suasana romantis acap kali diberikan Revand pada Sherlin. Sherlin bahagia.
" Sebentar lagi mami sampe kesini, beliau ingin menginap beberapa hari disini, apa kalian keberatan..?"
Saat makan malam, Revand bicara demikian dihadapan Ibu mertua dan istrinya. Kabar itu disampaikan Revand ketika beberapa saat yang lalu sang ibu memberitahu kannya bahwa, sebentar lagi ia sampai. Ibu Revand diantar oleh sopir mereka, berangkat langsung dari kota Balikpapan. Karena orang tua Revand memang tinggal dikota beriman tersebut.
"Eh, kalau gitu aku beresin kamar tamunya dulu ya, takutnya ntar berdebu...?"
Kata Sherlin sembari ingin bangkit. Namun lekas ibunya menahan.
"Tidak perlu Sherlin. Kamar itu sudah bersih, Mama selalu membersihkan kamar itu setiap hari..."
Ucapnya meyakinkan.
"Ma, ada pembantu disini, mama nggak usah melakukan tugas rumah tangga setiap hari, mama bersantai aja, nikmati hari tua mama dengan bahagia, nggak usah capek capek..!"
Kata Revand dengan nada serius. Mertuanya tersenyum.
"Tidak apa apa. Ibu sudah terbiasa melakukan tugas tersebut, kalau terlalu sering santai, badan ibu malah sakit semua..."
Sherlin dan Revand saling pandang.
"Tapi mama janji ya, jangan capek capek. Ntar sakit.."
Ucap Sherlin tidak kalah serius nya. Sang ibu hanya mengangguk.
Bel diluar berbunyi. Revand seketika bangkit.
"Nah itu mungkin mama, aku bukain pintu dulu ya...!"
Katanya lalu segera meninggalkan meja makan dengan wajah semringah. Sebenarnya Sherlin sedikit gelisah. Jujur, ini kunjungan pertama mertuanya kerumah semenjak ia dan Revand menikah. Selama ini sangat jarang Sherlin bisa ngobrol bersama dengan ibu Revand lantaran ia bekerja setiap hari saat ia dan Revand masih berpacaran.
Ditambah kota Balikpapan dan Samarinda juga bukan sedekat Samarinda dengan Kota raja Tenggarong, tentu saja jika tidak libur panjang cukup sulit Revand membawa Sherlin kerumah orang tuanya. Terakhir bertemu, saat pernikahan mereka. Setelah itu belum pernah bertemu lagi.
"Assalamualaikum.."
Lamunan Sherlin buyar ketika suara salam terdengar. Sherlin bangkit dari duduknya, lalu menyongsong wanita tersebut dan mencium telapak tangan nya dengan hormat.
"Waalaikum salam"
Sherlin dan ibunya serempak menjawab, sembari mempersilahkan wanita tersebut untuk duduk. Revand membimbing ibunya untuk duduk disalah satu kursi. Meletakan piring kosong dihadapan ibunya, agar sang ibu juga ikut bersantap bersama mereka.
"Bagaimana perjalanan menuju kesini, apakah lancar..?"
Ibu Sherlin bertanya kearah besannya.
"Lancar tapi cukup melelahkan. Wah sepertinya menunya enak, kebetulan sekali sedang lapar, ingin mampir dijalan, kurang nyaman makan bareng sopir..!"
Mertua Sherlin menanggapi pertanyaan besannya, sembari menatapi menu yang tersaji diatas meja.
"Ini kamu yang masak Sherlin...?"
Tanyanya pada sang menantu.
__ADS_1
"Iya ma, semoga cocok dilidah mama ya.."
Mertua Sherlin segera mengambil nasi juga lauk pauk beserta sayurnya, akan tetapi...
"Ini apa...?
Wanita itu menyumpit lauk yang ada diatas piring.
" Itu ayam Karaage ma.."
Jawab Sherlin spontan. Mertuanya menatap kearah Sherlin.
"Maksud mama, sumpit ini untuk apa...? Kalian sekarang makan pake sumpit...? Nggak pake sendok lagi...?"
"Oh, itu. Itu Revand ma, dia mau makan ala Jepang gitu, jadi ada sumpit disitu.."
Mertua Sherlin menghela nafas. Ia meletakkan sumpit tersebut kembali disamping sepiring ayam Karaage yang dimaksud Sherlin.
" Bulan madu nya di Jepang jadi kebawa bawa ya, tapi inikan ayam goreng tepung itukan ya, sama ajakan apa bedanya...?"
Wanita itu menatap kearah Sherlin dan Revand bergantian.
"Sama tapi berbeda ma, bedanya di bumbu sama ukuran, ayam Karaage punya aroma campuran antara jahe dan minyak wijen didalam daging ayamnya, berbeda dengan ayam goreng tepung biasa, cara pengolahan nya juga berbeda, di marinated atau istilah dari kita itu di ungkep selama 1-4 jam, lalu ukuran ayam Karaage itu lebih kecil kecil potongan nya dibandingkan ayam goreng tepung biasa,, pemakaian tepung pelapisnya juga memakai potato starch karena ternyata di Jepang tepung kanji ( tapioka) itu sulit ditemukan, jadi masyarakat disana lebih cenderung memakai potato starch, tapi yang ini aku coba mengkreasikan menu, karena rempah rempah kita kaya, aku balance aja sendiri, dan aku coba pakai tepung maizena, bukan tepung kanji, dan rasanya, coba mama rasain...!"
Sherlin usai menerangkan salah satu menu makan malam mereka. Sang mertua melakukan apa yang diminta menantunya, mengambil satu potong ayam goreng Karaage lalu mencicipi.
"Enak. Sangat renyah, bumbunya merasuk sampai kedalam ..!"
Sherlin menarik nafas lega. Revand semringah. Sementara ibu Sherlin tersenyum senang. Setidaknya kepandaian memasak Sherlin diakui oleh besannya tersebut.
"Istriku itu, selain cantik juga pandai memasak. Baru satu minggu aku bawa ke negara orang udah bisa mempelajari salah satu menu disana, kebetulan dari sekian menu masyarakat disana, aku suka ayam goreng ini, tapi nggak aku sangka kreasi Sherlin memodifikasi menu jauh lebih nikmat..!"
Wajah Sherlin bersemu mendengar pujian yang diucapkan suaminya didepan sang mertua. Mertua Sherlin mengangguk angguk.
"Baguslah. Tapi Sherlin, apa kamu tidak berniat membuka restoran. Biar kamu jadi setara dengan Revand, memang sih, kalian sudah berkecukupan, tidak perlu tambahan penghasilan lagi, karena gaji Revand mama yakin juga cukup bahkan lebih untuk menghidupi kalian semua, akan tetapi, kalau ada peluang kenapa tidak dipergunakan...? Sherlin juga akan mendapatkan nama jika ia sukses di bidang nya sendiri...?"
Deg. Jantung Sherlin seolah berhenti berdenyut mendengar ide mertuanya. Kasarnya seperti ingin bilang bahwa, aktivitas nya selama jadi istri selama ini tidak setara jika disebut istri seorang direktur. Namun Sherlin cepat mengusir perasaan tersebut. Berusaha untuk berfikir positif saja.
Mama pasti berfikir, sayang kalau kemampuan memasakku tidak disalurkan dengan baik..
Hati Sherlin bersuara...
"Nggak mi, aku keberatan kalau Sherlin ikut berkarir juga, aku mau dia total dirumah mengurus rumah tangga, itu sudah cukup bagiku. Aku mana bisa ngeliat Sherlin sibuk dengan pekerjaan nya, terus lupa dengan tanggung jawab nya sebagai istri...!"
Revand membantah.
"Maksud mami, istrimu ini punya bakat, kenapa tidak disalurkan agar ia bisa membawa nama baik keluarga kita jadi semakin bagus...? Kamu direktur, istrimu pemilik restoran, toh soal modal mami yakin itu bukan persoalan yang sulit bukan..?"
"Nggak mi. Revand tetap keberatan. Aku nggak mau Sherlin kecapekan, ntar mami nggak bisa punya cucu cepat lagi kalau dia kecapekan..!"
Revand tetap membantah.
__ADS_1
"Bagaimana dengan kamu Sherlin...? Apa kamu yang sekarang sudah cukup puas dengan peran mu yang sekarang...?"
Ibu Revand mengalihkan pandangan nya kepada Sherlin.
"Itu...."
"Sayang, nggak usah diambil hati, mami itu cuma becanda, nggak usah ditanggapi dengan serius. Kamu harus ingat, kamu sekarang nggak usah capek capek lagi, aku suami kamu, aku yang bertanggung jawab menafkahi kamu...!"
Revand mengucapkan hal itu dengan nada serius kepada istri nya.
Sebenarnya, kata mertuaku itu benar, tapi bukan itu yang aku gelisah kan, aku takut saran yang beliau berikan itu kode buatku agar melakukan hal agar aku nggak memalukan benar jadi istri Revand. Tapi kalau itu aku fikirkan, sama aja aku berprasangka buruk pada mertuaku sendiri. Sudahlah tidak usah terpancing, aku nggak mau membuat situasi jadi nggak nyaman, saat kami berkumpul begini...
"Sherlin..!"
Suara ibu Revand membuyar kan lamunan Sherlin yang sibuk berkata kata dalam hati. Sherlin sedikit tergagap, meskipun tetap mengukir senyum.
"Saran mama bagus. Sebenarnya, semenjak aku kerja direstoran, aku juga pernah punya fikiran begitu, tapi buat Sherlin, restu suami itu penting ma, kalau Revand merestui kenapa nggak, tapi kalau nggak, aku juga nggak akan merasa sakit hati juga, toh selama ini kegemaran Revand makan dirumah itu jauh lebih membuat hobi memasak ku jadi terlatih, aku jadi suka bikin kreasi menu sendiri jadinya...!"
Ibu Revand mengangguk angguk. Wajahnya terlihat tetap tenang. Sherlin bahkan tidak tahu sebenarnya apa yang ada dalam otak mertuanya itu. Yang jelas, ia berharap, ide itu bukan kode dari mertuanya kalau sang mertua sebenarnya keberatan dengan aktivitas nya sekarang yang hanya jadi ibu rumah tangga padahal ia punya suami seorang direktur.
"Menurut saya, biarkan anak anak kita menentukan apa yang akan mereka jalani, kekhawatiran Revand masuk akal, kepatuhan Sherlin juga perlu dihargai, bagaimana baiknya saya selaku orang tua Sherlin pasti juga ingin yang terbaik buat Sherlin dan Revand. Kita cukup mendoakan saja, semoga rumah tangga anak anak kita tetap rukun dan damai..!"
"Amiiin.."
Sherlin dan Revand sama sama serempak mengamini kata kata yang diucapkan oleh ibu Sherlin. Hingga kemudian ibu Revand juga akhirnya ikut mengamini.
" Kalau Sherlin subur, pasti sebentar lagi dia akan hamil, Revand, lakukan tugasmu sebagai suami, jangan cuma sibuk cari duit, kamu lupa ngasi nafkah batin istri kamu ...!"
Wajah Sherlin memerah mendengar ucapan mertuanya yang sedikit frontal.
Tanpa di bina pun, anak mama selalu melakukan itu setiap hari, sampai aku juga kadang kelelahan dibuatnya..
Sherlin mengutuk hatinya sendiri yang seenaknya menimpali ucapan mertuanya tadi. Sementara Revand langsung cengengesan.
"Tenang mi, mana bisa juga yang satu itu aku lewatkan ..!"
Sherlin menendang kaki suaminya dibawah meja kala suaminya mengucapkan hal demikian, sementara ibu Sherlin berpura pura tuli tidak ingin ikut mengomentari dengan cara sibuk menikmati menu yang ada di piring nya.
"Bagus, mami harap kalian segera memberikan kami cucu, mau anak perempuan atau laki-laki sama saja, yang penting harus secepatnya, agar orang orang tidak menganggap Revand ini tidak subur..!"
Ucapan ibu Revand mau tidak mau membuat ibu Sherlin menghentikan suapannya...
"Perkara hamil atau tidak hamil, itu diluar kuasa kita sebagai manusia, yang penting tetap berusaha, jikapun belum diberi kita juga tidak harus menyalahkan anak anak kita, hal terpenting itu adalah baik Revand maupun Sherlin, jangan stres dan kelelahan itu saja..!"
Suara ibu nya membuat hati Sherlin yang semula sedikit was was akan ucapan mertuanya jadi merasa sejuk seketika. Sherlin masih berusaha untuk tetap berfikir positif. Ia beranggapan sikap mertuanya ini adalah bentuk kasih sayang sang mertua kepada nya. Bagaimana pun, jika mencintai anaknya, ia juga harus bisa mencintai orang tuanya pula.
Semoga, aku adalah menantu yang baik buat mama ...
Hati Sherlin berbisik ...
Note : Manusia hanya bisa merancang, Tuhan yang menentukan, jikapun rencana yang direncanakan tidak terjadi sesuai perkiraan, jangan saling menyalahkan. Karena baik menurut manusia, belum tentu baik juga menurut Tuhan. Dan yang pasti rencana Tuhan itu jauh lebih indah...
👉 Terima kasih sudah selalu setia membaca karya saya ini 💖
__ADS_1
BERSAMBUNG