SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 29. SIAPA YANG LEBIH PANTAS..?


__ADS_3

Sherlin sudah selesai menyiapkan sarapan diatas meja ketika tiba tiba saja bel didepan berbunyi. Sang mertua, yang masih menginap dirumah mereka menahan Sherlin ketika wanita itu ingin beranjak membukakan pintu.


"Lanjutkan saja pekerjaan kamu, bukankah sebentar lagi Revand mau berangkat kekantor, kamu harus melayani suami kamu dulu, biar mama yang buka pintu.."


Ucap nya sembari beranjak meninggalkan Sherlin.


"Makasih ma..."


Sahut Sherlin, ia tidak perlu menyiapkan apapun lagi untuk Revand. Semua sudah ia siapkan setelah shalat subuh tadi, dari baju, kaos kaki, underwear semua sudah disiapkan, sudah disetrika, tinggal sarapan. Menu kesukaan Revand juga sudah ia siapkan. Nasi goreng seafood, semua dikerjakan Sherlin sendiri, meskipun asisten rumah tangga dan sang mama ingin membantu, tetapi wanita itu bersikukuh untuk mengerjakan nya sendiri, dan....


Semua selesai tepat waktu. Revand turun dari lantai atas dengan penampilan yang sudah sangat rapi. Meja makan sudah siap. Hanya Sherlin penampilan nya yang masih berantakan akibat terlalu sibuk dengan segalanya sejak subuh hari.


"Kamu ini, padahal ada bibik yang bisa bantu kamu kenapa kamu malah mengerjakan semua sendiri, ntar kecapekan lho..!"


Revand meraih lengan istrinya sembari ingin mencium kening sang istri namun Sherlin menolak dengan halus.


"Aku bau bawang, ntar penampilan kamu ruwet lagi kalo deket deket aku...!"


Kata wanita itu sembari meletakkan sendok kemasing masing piring diatas meja. Revand tidak perduli, ia tetap menarik tubuh istrinya, dan menghadiahkan ciuman sayangnya di kening sang istri. Rasa bahagia menyelimuti Sherlin, itu membuat lelahnya sejak subuh sudah melakukan banyak hal terobati. Dicium dikening seperti itu saja, Sherlin merasa dihargai...


"Mau bau bawang atau oli, kamu buatku tetap cantik..!"


Revand mengedipkan sebelah matanya kearah Sherlin, Sherlin mencubit pinggang sang suami merasa malu dipuji seperti itu meskipun itu sudah sering dilakukan Revand padanya. Beruntung, ibunya sedang ditoilet, jika tidak, Sherlin makin dibuat malu berlaku mesra dihadapan para orang tua.


Tawa Revand terhenti menggoda sang istri, ketika tiba tiba saja ibunya muncul dari depan membawa seorang wanita...


"Gisella ..?"



Revand dan Sherlin sama sama menyebut nama yang sama ketika melihat wanita yang dibawa oleh ibu Revand dari depan.


Tamu itu Gisella...? Kenapa dia pagi pagi kesini...? Dan penampilan dia...


Sherlin seketika dibuat membatin melihat cara berpenampilan Gisella. Lebih mirip ingin pergi kesebuah acara dibandingkan ke kantor. Sherlin berpaling menatap Revand. Meminta penjelasan. Ketika Revand ingin menjelaskan, suara ibu Revand terdengar...


"Dia sekretaris kamu Revand...? Cantik sekali. Dia kemari ingin mengingatkan kamu bahwa hari ini kalian akan mengadakan rapat penting dengan klien diluar bertema sebuah pesta, benar begitu...?"


Untuk sesaat Revand dibuat gelagapan. Ia tidak merasa merencanakan rapat bertema pesta seperti itu. Pria itu menatap kearah Gisella. Gisella tersenyum penuh arti.


"Lupa ya Vand, hari ini kita akan menemui klien penting kita kan, dan sesuai rencana kita perlu trik untuk membuat dia tertarik bekerja sama dengan kita..!"


Gisella bicara dengan lugas. Revand manggut manggut walau tidak sepenuhnya mengerti.


"Kamu sekretaris Revand...? Sejak kapan...? Seperti nya, Revand tidak pernah memberitahu kami kalau sekretaris nya itu kamu...?"


Yang bicara ibu Sherlin, wanita itu menatap tidak suka kepada Gisella. Revand buru buru menjawab.

__ADS_1


"Tadi malam aku mau bicara, tapi kalian seperti nya sudah lelah, jadi pagi ini rencananya aku mau bicara soal itu saat kita sarapan, tapi ternyata Gisella kesini lebih dulu, maaf ya ma, maaf ya sayang...!"


Sherlin terpaku ditempatnya. Perasaan nya jadi berkecamuk. Kemarin saat Gisella bekerja dikantor yang sama, Revand juga tidak lebih dulu bicara padanya, sekarang terulang lagi. Menjadi sekretaris pula, padahal yang ia tahu sekretaris Revand bukan Gisella.


Perasaan Sherlin bergemuruh. Ia bahkan tidak sadar Revand sudah membimbing nya menuju meja makan.


"Sudahlah, tidak penting sejak kapan Gisella jadi sekretaris Revand, toh dia bekerja untuk membantu Revand, menurut mama Gisella ini pantas menjadi sekretaris Revand, lihat penampilan nya, begitu intelek, Revand tidak akan malu seharian bersama Gisella dengan penampilan mereka yang cocok satu sama lain. Gisella, ayo sarapan bersama...!"


Entah kenapa ketika sang mertua mengucapkan kalimat itu, Sherlin seperti dibandingkan dengan Gisella perihal penampilan. Karena wanita itu spontan menatap Sherlin dengan penampilan rumahan nya lalu menatap kearah Gisella dengan tatapan penuh rasa kagum.



Apakah penampilan ku sekarang membuat mama nggak suka...


Batin Sherlin. Ia sudah mandi, hanya saja memang semrawut lagi karena usai shalat subuh tadi banyak hal yang ia lakukan sendiri. Semua demi suaminya. Apa itu salah...? Apa ia harus mengenakan gaun seperti Gisella saat memasak di dapur agar mertuanya itu suka...?


Jika Sherlin disibukkan dengan berbagai macam kata kata, begitu juga dengan Gisella. Meski ia suka, ibu Revand ternyata menyambut nya dengan sangat hangat, hingga bibirnya tidak berhenti mengulas senyum, tapi dihati gadis itu merutuk, karena melihat Sherlin memakai kemeja pria..


Cih...nggak punya baju sendiri apa, kenapa pakai baju Revand sih..! bikin kesel aja..!!


Gisella memaki dalam hati meskipun perlahan ikut menyantap juga nasi goreng buatan Sherlin.


"Sayang, kamu nggak makan, makan bareng ayo..!"


Revand bicara kearah istri nya ketika menyadari sang istri hanya diam tanpa mengambil nasi. Sherlin menolak ketika Revand ingin mengambilkan nasi untuk nya. Ia berusaha untuk tersenyum.


Katanya dengan suara terbata.


"Apaan sih kamu Sher, emang kamu orang gaib, hanya mencium aroma udah kenyang.."


Gisella merespon cepat.


Aku nggak selera ngeliat kamu ada disini pagi pagi Gisella...


Kata Sherlin dalam hati. Ibu Sherlin menatap kearah putri nya. Meski pun ia sudah terlihat menikmati sarapan nya, wanita itu tahu apa yang bergolak di hati anaknya tersebut.


"Kalian berangkat bersama tidak setiap hari bukan...? Apalagi Gisella harus repot repot kesini pagi pagi, lebih baik situasi dikantor tidak usah dibawa keluar kantor, nanti jadi omongan tidak baik orang orang...!"


Ibu Sherlin berucap seperti itu sambil menatap kearah Gisella dan Revand bergantian.


"Iya ma, Revand tau. Sebenarnya, ini karena kami mau rapat diluar aja, lokasi nya nggak jauh dari sini, mungkin itu sebabnya Gisella mampir kesini,"


Revand berusaha untuk mencairkan suasana yang sedikit canggung.


"Mama yakin kalian orang orang yang berpendidikan tidak mungkin melakukan hal hal yang menyalahi aturan, berbeda dengan orang yang tidak berpendidikan etika juga terkadang kebablasan, Revand direktur, Gisella sekretaris, tidak akan mungkin merusak nama baik sendiri, benar begitu kan...?"


Ibu Revand ikut bicara sembari terus menikmati sarapan nya. Lagi lagi ada sesuatu yang menusuk dirasakan oleh Sherlin. Sesuatu itu membuat hatinya terasa sakit.

__ADS_1


Kenapa aku ini, kenapa hanya karena Gisella muncul setiap ucapan mama jadi seperti menyindir ku, aku ini kenapa...


Sherlin bicara dalam hati. Ia tidak lagi mendengar kan dengan baik apa yang diucapkan oleh Revand maupun Gisella tentang pendapat mertuanya tadi. Semua seperti mengabur...


"Jadi kamu dan Sherlin sudah saling kenal sebelumnya...?"


Tanya ibu Revand sesaat setelah Gisella dan Revand merespon perkataan nya tadi.


"Oh, iya, saya dan Sherlin udah saling kenal kok, tempo hari, saya juga sempat masak bareng dengan Sherlin disini, abis kecanduan makanan yang dibawa Revand untuk saya saat sedang sakit...!"


Gisella menjawab dengan wajah merona.


"Revand bawakan kamu makanan..?"


"Iya ma, itu juga atas izin Sherlin kok,"


Revand buru buru menjawab, karena ia melihat raut wajah mertuanya semakin tidak nyaman.


Ibu Revand manggut manggut.


"Baguslah. Jadi apa yang perlu dikhawatirkan...? Toh mereka sudah kenal sejak awal, berteman, tapi Gisella kenapa memangnya kamu mau belajar masak segala...? Memangnya kamu sempat ...? Bukankah jadi wanita karir itu sudah hebat, masakan itu bisa dibeli, karir tidak bisa dibeli, buat apa repot repot belajar masak, seharusnya wanita itu seperti kamu ini, cerdas dan punya karir...!"


Lagi lagi Sherlin merasa tersindir. Wanita itu bangkit, lalu pamit untuk kebelakang ketika dirasa hatinya mulai terasa sesak. Sebenarnya apa yang sekarang tengah terjadi...? Kenapa ia bisa sesensitif ini...?


Dibelakang. Sherlin tidak bisa menahan air mata nya yang perlahan turun membasahi pipi nya..


"Sayang, kamu nggak papa...?"


Sherlin cepat mengusap air mata nya ketika tiba tiba saja Revand sudah menyusul nya. Ia membalik kan tubuh dan berusaha tersenyum.


"Aku nggak papa, hanya aja, aku kurang suka kalau Gisella kesini terus maaf ya..!"


Revand menjangkau tubuh istrinya meskipun Sherlin menolak secara halus karena tubuh dan pakaian nya sekarang beraroma masakan.


"Aku juga nggak suka, nanti aku akan bicara dengan dia agar nggak melakukan itu lagi. Soal ucapan mama, jangan di masukan dalam hati ya, beliau itu tipe orang yang suka frontal kalau ada kemauan nya nggak dipenuhi.."


"Soal aku buka restoran...?"


Revand mengangguk. Sherlin terdiam. Begitukah...? Apakah mertuanya ini benar benar ingin membuat ia berkembang...? Atau keinginan sang mertua hanyalah semata mata agar posisi ia sepadan dengan Revand...? Jadi sekarang siapa yang lebih pantas menjadi istri Revand...? Dia atau Gisella...?


Note: Tidak ada seseorang yang suka menjadi bahan perbandingan. Karena setiap orang punya kelebihan dan kekurangan nya masing masing. Cinta yang tulus akan menerima apa adanya, bukan ada apanya.


👉 Buat yang nanya novel online saya yang lain, ada ya satu lagi judul nya FACE menceritakan bahwa yang nampak belum tentu yang sebenarnya, terbit di lapak sebelah update tiap hari juga, dibaca online sama kayak disini, chat saya kalau mau tau lapaknya ini covernya👇



👉 Jangan lupa dukungan kalian untuk karya saya ini biar saya gak lengser dilapak ini😂😂 tapi tetep buat yang suka aja, karena kalo suka bacanya menghayati, ya nggak💝 tentunya kalo banyak yang suka, saya juga semangat update terus😍 biar gak vit asal bisa ngetik saya tetap rela update untuk kalian💖 buat yang terus setia baca ini kalian terrrrbaik😎😎😎

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2