
Sherlin mengerjapkan matanya. Berusaha memperjelas, pandangan matanya. Ia tidak salah lihat. Ini memang kamar hotel. Kenapa ia bisa di kamar hotel. Ingatannya terbentur pada kejadian tadi malam, yang ia ingat. Ia langsung pusing saat meminum minuman yang di komplain oleh salah satu tamu.
Berfikir sampai disana, Sherlin memeriksa keadaan dirinya. Bugil. Banyak tanda kepemilikan, di bagian bagian sensitif nya. Jantung wanita itu berdegup kencang.
Apa yang aku lakukan tadi malam..? Apa yang terjadi..? siapa yang melakukan ini padaku...?
Sherlin segera ingin turun dari tempat tidur, namun gerakan nya terhenti saat pintu kamar mandi terbuka. Dirapatkan nya selimut agar tubuh telanjang nya tertutupi. Jantung Sherlin berdetak kencang. Siapa orang yang bercinta dengan nya tadi malam...?
"Udah bangun sayang..?"
Ketika pintu kamar mandi terbuka, sosok Revand yang hanya berbalut handuk ditubuh bagian bawah nya muncul. Sherlin bengong.
"Revand. Ke, kenapa kamu ada disini..?"
Sherlin bertanya dengan tampang bodoh. Revand menghampiri tempat tidur. Duduk ditepi pembaringan. Menatap wajah istrinya dengan tatapan serius.
"Siapa yang kamu harapkan ada disini sekarang...?"
Tanya nya dengan nada serius.
"Ah, itu. Aku nggak ngerti. Aku nggak ngerti kenapa bisa ada disini. Tadi malam itu, aku menerima komplain dari tamu, aku hanya mencicipi minuman racikan restoran kami sendiri, tiba tiba aja, kepalaku pusing. Terus aku nggak tau seperti apa kelanjutan nya, kenapa ada disini, dan tanpa busana begini..!"
Sherlin bercerita dengan suara terbata bata. Jelas sekali wanita itu terlihat kebingungan. Revand menggeser duduknya lebih dekat dengan sang istri. Diraihnya dagu mungil sang istri, meminta sang istri untuk menatap nya.
"Aku mau kamu jawab dengan jujur, saat kamu tadi sadar, aku yang ada dikamar ini, bagaimana perasaan kamu..? Apa tadinya kamu berharap pria lain yang bercinta dengan kamu tadi malam disini...?"
"Kamu ngomong apa..? Tentu aja aku lega, itu kamu. Aku cuma bingung kenapa ini bisa terjadi. Kenapa bisa begini. Bagaimana dengan acara diluar, Rei pasti kerepotan menghandle semuanya sendiri..!"
"Rei yang membawaku kesini, Zill yang awalnya bersama kamu disini, katakan apa sebelum aku datang, kamu melakukan hal hal intim dengan Zill..? Kamu dibawah pengaruh obat perangsang sayang. Kamu yang tadi malam itu berbeda, agresif dan aku nyaris nggak bisa meladeni nya..!"
"Maksud kamu, aku dan Zill...?"
"Iya, dia yang ada disini bersamamu sebelum aku datang.."
"Astaga, apa yang sudah aku lakukan. Apa aku melakukan hal hal buruk pada Zill...? Aku harus minta maaf pada nya..!"
Revand menahan gerakan Sherlin untuk bangkit. Ia menatap wajah istrinya dengan tatapan serius.
"Kita nggak bisa kemana mana, pintu dikunci dari luar, seperti nya Zill sengaja mengurung kita disini,"
Sherlin kembali terduduk. Ia masih tidak habis fikir dengan semua yang sudah terjadi. Tapi ia lega, saat ia terjaga sang suami yang ada bersama nya. Bukan pria lain.
__ADS_1
"Siapa yang melakukan hal gila ini Vand, ada orang lain yang ingin mengacaukan acara Zill..!"
"Dan merusak reputasi dia, dengan membuat kalian bersama di kamar yang sama dengan kamu yang berada dibawah pengaruh obat..!"
Sherlin menutup wajahnya. Bagaimana bisa ia berhadapan dengan Zill setelah semua yang terjadi..? Bagaimana jika tadi malam ia berbuat hal hal diluar kendali dihadapan pria itu...?
"Sher, semula, aku mengira aku akan sangat bergairah jika kamu liar dan agresif..!"
Sherlin menurunkan telapak tangan nya ketika mendengar penuturan sang suami.
"Maksud kamu..?"
"Maaf. Aku pernah berfikiran betapa indahnya jika kamu bisa liar dan agresif setiap kali kita berhubungan intim. Tapi tadi malam, aku sadar. Fikiran itu keliru. Aku lebih suka kamu yang dulu, yang malu malu, tapi membuat ku penasaran. Tadi malam itu, kamu berbeda, aku seperti sedang bercinta dengan wanita lain, bukan kamu...!"
"Jadi bener selama ini kamu membandingkan aku dengan Gisella...?"
Paras Revand berubah mendengar ucapan itu.
"Kenapa kamu tau..!"
Bibir Sherlin mengerucut mendengar pembenaran dari suami nya. Ia jadi kesal. Wanita itu berniat ingin beranjak dari tempat tidur. Ingin mandi, karena merasa seluruh tubuh nya terasa lengket.
Namun, Revand justru mendekap tubuh nya erat, meskipun ia meronta ingin lolos dari dekapan erat sang suami.
Sherlin bicara didalam hati. Sembari terus meronta. Aroma sabun yang keluar dari tubuh suaminya tidak bisa membuat ia merasa tenang seperti biasanya. Moodnya jadi berubah buruk.
"Aku minta maaf. Sebagai pria, aku juga mau diinginkan sayang. Selama ini, kamu nggak pernah melakukan itu, seolah olah hanya aku yang menginginkan kita berhubungan intim. Aku sempat berfikir, kamu nggak pernah bergairah jika bersamaku. Fikiran itu terus meracuni ku. Sampai aku sempat termakan ucapan Gisella. Mungkin karena selama pacaran sampai menikah, kita jarang berantem, hingga aku punya fikiran untuk mengetes perasaan cinta kamu itu, dengan bermain api dengan Gisella, berakting menjadi pacar pura pura nya, tapi aku menyesal sayang. Tadi malam, aku menarik kembali semua yang pernah aku ucap kan didalam hati. Aku suka kamu yang seperti biasa. Yang malu malu, tapi menggemaskan. Aku nggak suka kamu yang agresif dan liar. Aku jadi merasa bukan dengan kamu sedang berhubungan intim..!"
Sherlin sebenarnya kesal mendengar penuturan suaminya. Tentang imajinasi Revand yang tidak ia kira. Membuat ia tidak percaya diri saja. Apa yang harus ia lakukan sekarang jika mereka berhubungan intim..? Mendominasi, atau pasif ...?
"Aku mau mandi."
Sherlin memilih untuk tidak merespon ucapan Revand. Ia tidak tahu harus berucap seperti apa. Tapi jujur, ia sekarang memang kesal.
"Aku mandiin.."
"Enggak...!!"
Tolak Sherlin keras. Revand gemas. Ia bergerak ingin mencium sang istri, namun Sherlin meronta dan berusaha keras melepas kan diri dari cengkraman suaminya. Meski pada akhirnya, ia jadi tidak mengenakan apa apa berlari menuju kamar mandi, karena selimut di kuasai oleh Revand yang berusaha untuk menahan gerakan nya, tapi setidaknya Sherlin lega bisa segera masuk kamar mandi, dan menumpahkan segala perasaan nya disana. Apa yang terjadi tadi malam, ditambah pengakuan suaminya benar benar membuat Sherlin diserbu berbagai perasaan yang bercampur aduk. Bayang Zill berkelebat tiba tiba. Sherlin jadi tidak nyaman jika tidak segera membahas ini pada pria itu.
Keluar dari kamar mandi, Sherlin tercekat, ketika Revand sudah berdiri di hadapan nya. Rupa nya pria itu menanti nya didepan kamar mandi, sampai ia selesai mandi. Rambut Sherlin yang basah membuat wanita itu jadi sexy dimata Revand. Ditambah, Sherlin hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuh bagian dada hingga pangkal paha saja. Membuat kelelakian Revand kembali bergolak meminta pelampiasan.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak pake baju sih. Kita harus cepat keluar dari sini."
Sherlin tidak berani menatap wajah suaminya, terutama bagian dada suaminya yang juga penuh dengan tanda kepemilikan dimana mana.
Apa benar aku seliar itu tadi malam, dari dada sampai leher begitu penuh tanda merah. Aku jadi malu sendiri ngeliat nya...
Sherlin membathin.
"Kenapa...? Ini karya kamu kok. Kamu yang melakukan ini tadi malam, kalau mau, kamu juga bisa melihat bagian yang lain ..!"
Sherlin beranjak ketika dengan usilnya, Revand ingin membuka handuk yang dipakainya. Wanita itu membelakangi Revand. Berniat ingin memakai pakaian nya kembali. Namun gerakan nya terhenti, saat sang suami memeluk nya dari belakang. Menciumi leher nya. Hingga membuat tubuhnya kembali merinding.
"Vand, apaan sih, kita harus pake baju. Kalau Zill datang gimana, malu tau...!!"
"Buat apa malu, kita udah sah kok. Nggak ada yang bisa mencegah kita melakukan apa yang kita mau...!"
Revand menyahut sembari melanjutkan aktivitas nya. Menciumi tengkuk istri nya. Sementara tangan nya yang lain berusaha untuk menarik lepas handuk yang dipakai sang istri. Tapi Sherlin setengah mati mempertahankan handuk itu karena ia benar benar tidak memakai apa apa dibalik handuk tersebut.
"Vand, yang tadi malam nggak cukup. Badan aku udah merah semua gini lho, udahan ah, mesum ih...!"
Sherlin mencoba untuk membuat Revand sadar akan perbuatannya. Tapi, Revand tidak perduli. Diangkat nya tubuh mungil istri nya, dibaringkan nya tubuh itu diatas tempat tidur yang masih berantakan akibat pergumulan mereka semalam.
"Tadi malam itu bukan cinta tulus kita. Aku nggak mau hubungan intim kita dipengaruhi oleh obat obatan. Aku mau melakukan nya lagi saat kita benar benar sadar seperti ini..!"
Penolakan Sherlin atas kemauan suaminya terhenti saat mendengar ucapan sang suami. Ditatapnya wajah Revand yang sekarang berada diatas tubuhnya, seolah ingin menguasai tubuh mungilnya itu seorang diri.
"Tapi bukannya kamu nggak suka sifat pasif ku Vand, kurasa yang tadi malam itu pengalaman kamu yang lebih berharga dibanding malam malam kita yang lain. Tubuh kamu aja sampai penuh tanda kepemilikan begitu, sekarang pengaruh obat itu udah sirna, aku nggak bisa seliar itu lagi...!"
"Aku lebih suka kamu yang seperti ini sayang, aku sadar sekarang. Kamu yang seperti ini lah Sherlin ku. Bukan yang liar dan agresif seperti tadi malam, kamu yang seperti ini, yang bikin aku nggak rela tubuh kamu dijamah orang lain,"
Jemari tangan Revand menekan satu tanda merah dibagian leher samping Sherlin. Tanda kepemilikan itu bukan dia yang melakukan nya. Hanya satu itu bukan perbuatan nya. Dibagian tubuh Sherlin yang lain itu hasil dari perbuatan nya. Ia melakukan itu saat menyadari ada tanda merah tersebut hingga membuat ia kesal dan cemburu, lalu melakukan hal yang sama keseluruh tubuh istrinya, terutama bagian intim istri nya.
Aku tidak tahu, alasan apa Zill melakukan itu padamu Sherlin, meskipun aku berterima kasih dia sudah menyelamatkan kamu dari ulah bejat Gisella, tapi jujur aku tidak rela dia melakukan itu padamu...
Revand membathin sembari merunduk dan menc*um bibir istri nya yang tidak lagi memberontak setelah tadi ia mengucapkan kalimat tersebut. Ingin mengulang percintaan panas mereka tanpa dipengaruhi oleh obat perangsang....
Note: Cemburu adalah salah satu bentuk tanda cinta, akan tetapi cemburu yang membabi buta bukan lagi bentuk tanda cinta, tapi obsesi ingin menguasai. Sesuai kan porsinya, karena memberikan kepercayaan juga salah satu bentuk tanda cinta.
π pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya π
π buat salah satu penjoin sountrack SANG PELAKOR lagu yang dipopulerkan oleh five minute, perwakilan perasaan tokoh Sherlin with " Aku patut membenci dia" suara kamu mirip bener dengan vocalis five minute, makasih sudah bernyanyi bersama saya membawa kan lagu iniπ
__ADS_1
bersambung