
"Ngapain lu kesini tumben...?"
Gisella mengucapkan kalimat sinis itu, ketika melihat Dina yang tergopoh-gopoh menghampiri nya. Saat ini ia sedang diluar area kantor. Jam istirahat. Sejak menerima penolakan Revand, Gisella jadi berfikir keras untuk mencari trik agar mampu membuat Revand kembali jinak padanya.
Dina adalah salah satu teman kerja Gisella diperusahaan terdahulu. Hubungan pertemanan mereka, cukup baik. Mereka hanya jarang berkomunikasi, semenjak Dina asyik dalam hubungan nya bersama pria yang berhasil ditaklukkan nya, gadis itu seperti sibuk dengan dunianya sendiri. Karena itulah, Gisella jadi merasa telah lupa, Dina temannya atau bukan.
"Jangan jutek gitu juga kali Sell. Kita lama lho nggak ketemu..!"
Dina duduk dihadapan Gisella, sembari mengucapkan kalimat tersebut.
"Buat gue, lu udah mati."
Sahut Gisella dingin.
"Horor lu ah. Mentang mentang karir lu melesak naik. Eh, apa kabar lu sekarang..? Siapa mainan lu sekarang...?"
Gisella meringis ketika mendengar pertanyaan Dina. Spontan wajah Revand terbayang. Ukh...
"Buruk. Gue sekarang lagi badmood, makanya jangan mancing emosi gue..!"
Dina tertawa kecil mendengar ucapan Gisella.
"Tumben. Biasa lu kan nggak pernah pake acara badmood, lu selalu happy bersama mainan lu..!"
"Sekarang inceran gue tuh sulit didapat tau. Kesal gue ..!!"
"What...? Inceran...? Kagak salah nih...? Lu artinya naksir dong..? Biasa ditaksir, dikejar...!"
"Itulah Din. Pria ini bisa buat gue nggak nafsu ama yang lain, gue jadi nggak terobsesi lagi bercinta dengan yang lain, cuma dia dalam fikiran gue, kesel gue, segala cara gue lakukan, dia tetap kukuh cinta sama bininya,"
"Eh, maksud lu, lu naksir suami orang..?"
Gisella mengangguk. Dina bengong. Dahulu yang ia tahu, temannya ini selalu ditaksir suami orang, kenapa sekarang jadi terbalik...?
"Dia tajir bener ya, sampe lu gila..?"
Gisella menggeleng.
"Ada yang lebih tajir dari dia demen ama gue, tapi entah kenapa gue maunya sama dia, ya bukan berarti dia miskin, dia direktur. Tapikan lu tau, gue biasa mainnya sama Presdir, duitnya lebih banyak, plus bisa ngasi posisi bagus lagi dikantor, ini beda. Gue stres sekarang, padahal, gue nggak masalah sih dia mau ngejadiin gue yang kedua, asal dia bisa jadi milik gue...!"
Gisella nggak pernah seperti ini sebelumnya, seperti nya ni orang bener bener jatuh cinta, hebat juga tuh cowok bisa ngebuat seorang Gisella yang nggak pernah jatuh cinta, jadi jatuh cinta...
Dina membathin.
"Pepet terus aja, kenapa...?"
"Udah, nggak berhasil,"
"Beri obat perangsang, lu tiduri, lu buat cerita kalo lu jadi korban kan beres...!"
"Itu pernah terlintas sih dibenak gue, tapi ada cara lain nggak sih yang kayak alami, tapi cepet efeknya..!"
Dina terdiam sejenak. Lalu...
"Lu taukan. Wanita seperti kita ini, kalo mau tobat beneran itu susah..? Meski serius pun, orang juga nggak akan percaya, ya emang sih resiko. Tapi itulah kenyataannya. Gue ama suami gue yang sekarang aja, gue pake cara instan, kalo nggak gitu, mana bisa gue married ama cowok yang gue cinta..!"
"Maksud lu, cara apaan...? Lu jebak suami lu, hamil terus minta tanggung jawab...?"
Dina menggeleng.
__ADS_1
"Itu terlalu beresiko kekita. Iya kalo dia mau tanggung jawab, kalo nggak..? Ancur dikita, udah hamil dicap buruk dimata masyarakat pula..!"
"Terus...?"
Gisella semakin tertarik dalam topik yang mereka bahas.
Dina memberi isyarat ke Gisella untuk mendekat kan telinga nya. Gisella menurut.
"Gue pake guna guna..!"
Bisik Dina. Dan itu membuat raut wajah Gisella berubah.
"Gila lu. Kuliah di luar negeri, percaya juga ama yang gituan...!!"
"Buktinya, gue udah nikah ama suami gue yang sekarang, dia menceraikan istrinya, karna istrinya nggak mau dipoligami...!"
"Ah, masa sih...!"
Dina mengangguk mantap. Gisella terdiam.
Kalo gue pake cara itu, berhasil nggak ya...? Tapi gue nggak pernah percaya hal gituan...
Gisella membathin. Tidak sadar saat itu Dina terus memperhatikan nya.
"Terserah lu aja, gue cuma mau beri solusi, karna wanita yang pernah bermain main dengan suami orang, kalo udah mau tobat itu sulit, biar menangis darah pun, orang tetap men cap kita buruk...!"
"Lu nyesel dengan jalan hidup yang lu ambil..?"
Dina terdiam.
"Terkadang penyesalan itu emang datangnya belakangan, saat kita asyik dengan perbuatan buruk yang selalu kita lakukan berulang, kita bahkan nggak pernah merasa bersalah sama sekali, justru menikmati. Gue melakukan itu, karena dulu gue dicampakkan para pria yang gue suka Sell. Jadi hati gue buta karna benci. Tapi sekarang gue sadar, itu salah. Hanya aja, ketika gue ingin berubah, terlalu sulit masyarakat untuk menerima kita dengan lapang dada...!"
Gisella berkata dalam hati. Otaknya terus berfikir. Mempertimbangkan saran temannya. Hingga ..
"Gue balik dulu Sell. Suami gue udah pulang kerja, cari gue, pengen di servis..! Lu kalo mau bantuan gue soal itu hubungi aja gue, gue punya kenalan yang bisa beri kita sesuatu agar orang tunduk ama kita...!"
Dina bangkit dari tempat duduknya. Setelah mengucapkan kalimat itu, wanita itu segera pamit dari hadapan Gisella. Gisella menyahut ucapan pamit Dina seadanya.
Asyik kali ya, kalo Revand bisa jadi milik gue, terus dia menceraikan Sherlin, terus kawinin gue ...
Gisella membayangkan wajah tampan Revand, beserta sejumlah background mesum hasil imajinasi nya. Membuat wanita itu jadi makin gila sendiri dibuatnya...
***
Zill ingin mematikan siaran televisi, ketika tiba tiba saja sebuah berita memuat berita ayahnya. Pemuda itu membatalkan niatnya sejenak. Duduk dihadapan telivisi, dan menyimak berita tentang ayahnya.
Didalam berita tersebut, diberitahukan, ayahnya masuk rumah sakit. Sedang dalam keadaan koma, namun setelah operasi, kondisi ayahnya sudah mulai membaik, yang membuat Zill kaget adalah, kehadiran Sherlin di rumah sakit tempat dimana sang ayah dirawat. Didalam berita itu, disebut kan, bahwa ada seorang gadis yang disebut sebut calon menantu keluarga Mahendradatta, terlihat mengantar ibunya kerumah sakit.
Sherlin kenal mami...? Kenapa nggak ngomong ...?
Zill tidak bisa menyembunyikan kekagetan nya tentang berita tersebut. Ingin membantah. Hanya nama yang sama, tapi di rekaman telivisi tersebut, ada Sherlin yang memang sedang bersama ibunya. Zill tidak tahan, untuk tidak segera mencari informasi.
Segera ia menghubungi Sherlin. Karena mereka sudah jadi teman, bertukar nomor telepon itu sudah biasa. Lagipula, itu juga untuk kepentingan bisnis mereka, jika sewaktu-waktu, mereka harus menggelar rapat. Dan bukan hanya nomor kontak Sherlin yang di save Zill. Nomor Rei juga.
"Aku nggak bisa pergi kemana mana Zill. Lagi banyak tamu disini, kalo emang penting, kita bicara via telpon aja,"
Suara Sherlin terdengar diseberang sana.
"Kamu udah liat berita belum...?"
__ADS_1
Zill memilih to the point.
"Enggak, emang kenapa...? Saham kamu anjlok...? Terus berdampak dengan kerja sama kita...?"
Sherlin menyahut. Suara wanita itu sedikit terputus putus lantaran disana seperti nya wanita itu sedang melayani telpon nya, sambil menghimbau para karyawan nya. Sibuk sekali kelihatan nya.
"Ya udah, kita atur jadwal aja buat ketemu. Aku nggak masalah kamu mau datang sama Rei, atau sendiri. Yang jelas, pembicaraan ini nggak bisa kita bahas melalui telpon aja. Tolong atur waktu...!"
Zill menyudahi pembicaraan via ponsel tersebut. Pemuda itu kembali beralih memperhatikan telivisi dihadapan nya, yang masih menayangkan berita tentang ayahnya. Zill mengecek pesan pesan masuk, dan panggilan panggilan yang masuk kedalam ponsel nya.
Beberapa pesan dari ibunya masuk. Tidak hanya pesan. Tapi juga panggilan panggilan yang tidak direspon Zill. Apakah itu dilakukan sang ibu untuk memberitahu kan kabar ayahnya...? Mungkin. Tapi kenapa hatinya tidak bereaksi...?
Perlahan, Zill menekan nomor ibunya, menghubungi sang ibu. Hal yang tidak pernah ia lakukan sebelum nya, selama ia tidak pulang kerumah.
"Assalamualaikum, Zill, Alhamdulillah. Kamu menghubungi mami. Apa kabarmu sayang, luangkan waktu mu untuk kerumah sakit nak, papimu ingin ketemu...!"
Dari nada suaranya saja, Zill bisa menilai, ibunya begitu merasa surprise ketika menerima telpon darinya. Namun, tidak ada reaksi khusus dari Zill, tentang hal itu.
"Waalaikum salam. Apa papi udah baikan...?"
"Alhamdulillah, operasi papimu berjalan lancar, tolong kerumah sakit nak. Mami kemarin kemarin berusaha untuk menghubungi kamu, tapi kamu mengabaikan pesan dan panggilan panggilan mami...!"
"Maaf. Aku sibuk. Jadi baru cek pesan mami tadi...!"
Bohong Zill. Padahal pesan dan panggilan sang ibu, sengaja ia abaikan, karena di pesan itu sang ibu tidak memberitahu kondisi sang ayah. Zill mengira, ibunya hanya ingin berbasa basi saja seperti biasanya, karena itulah ia mengacuhkan nya.
"Tak apa. Tapi sekarang bisakah kamu kemari untuk menengok papi mu nak...?"
"Sekarang aku belum bisa, masih di Balikpapan, ada yang harus aku urus disini, tapi nanti aku coba menengok. Ohya, Mi. Mami kenal dengan wanita yang bersama mami dirumah sakit itu...?"
Zill tidak tahan untuk tidak menanyakan hal itu.
"Oh, kenapa ...? Kamu kenal...? Kamu pasti melihat berita di televisi ya, cantik kan, wanita yang baik hati, yang mengantarkan mami kerumah sakit saat papimu sedang butuh penanganan cepat, kalau tidak ada dia, entah apa yang terjadi pada papimu nak...!"
"Mami sudah lihat berita nya...? Kenapa mami tidak membantah kalau dia bukan calon ku..?"
"Kenapa...? Mami tidak mau membantah, tapi tidak membenarkan juga, lagi pula biarkan saja, toh mami suka pemberitaan itu, mami memang berharap, wanita seperti itu yang nanti akan jadi menantu mami, perhatian, baik, serta sergap...!"
"Tapi bisa saja dia yang keberatan dengan pemberitaan itu kan mi...? Bagaimana kalau dia udah punya suami, dan suami dia terganggu dengan pemberitaan itu...?"
"Mami tidak berfikir sampai kearah situ nak. Tapi pemberitaan itu kan bukan mami yang membuat, mereka membuat berita dengan sudut pandang mereka sendiri. Jadi kalau ada yang menuntut, kita tidak bisa disalahkan, kamu tinggal klarifikasi saja kan bisa...!"
"Jadi mami memang sengaja membiarkan wartawan itu membuat berita ngaco itu...?"
"Zill, jangan berprasangka buruk dulu dengan mami, mami hanya ingin memancing reaksi kamu nak. Bukti nya setelah melihat pemberitaan itu, kamu langsung menghubungi mami. Kamu tahu tidak, mami bahagia. Gadis itu membawa keberuntungan buat mami. Datanglah nak. Bawa calon kamu, kenalkan sama mami, kamu sudah cukup umur untuk berkeluarga, kamu tidak melihat kondisi papimu seperti ini..?"
Suara sang ibu diseberang sana benar benar membuat Zill terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dalam sekejap, pria itu diserbu berbagai perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya...
Kenapa rasanya aku tidak mau membantah pemberitaan itu...? Kenapa aku justru menyukai nya..? Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Sherlin sudah punya suami. Dan aku bukan pebinor yang suka merusak rumah tangga orang lain...!
NOTE: Mencintai tidak selalu harus memiliki. Karena jika harus, itu bukan ketulusan cinta, tapi sebuah obsesi. Cinta yang tulus, akan ikut bahagia, jika orang yang di cintai itu bahagia. Meskipun bukan bersama kita.
๐ Jangan lupa like,vote,rate 5 klik favo jika suka ya๐
๐ SANG PELAKOR dijadwal update hanya satu kali sehari, jika pun ada double, biasanya ada kuis event, tapi itu juga tidak selalu, karena jadwal sebenarnya hanya satu kali dalam sehari, mengingat kesibukan author juga banyak, disamping kondisi author tidak sehat, jarang sehat karna emang punya kondisi seperti itu apalagi sejak terdeteksi penyakit parah beberapa tahun yang lalu, meski sudah positif bebas dari virus penyakit itu, namun jujur fisik author tidak sekuat dulu lagi๐ terus kenapa saya bisa terus beraktivitas plus menulis...? Karena setiap hal yang saya kerjakan selalu dilakukan dari dasar hati. Ditambah lagi, kalian pembaca setia saya yang jadi obat ampuh saya untuk tetap menulis ๐ Terima kasih ya, insya Allah kalo tetap bisa ngetik ni jari, semua tulisan saya tetap update, kecuali dah ga update update lama, harus digaris bawahi, bukan saya yang mau seperti itu, tapi kita tidak tahu hal yang terjadi didepan kita nantinya. Apalagi soal umur. Jadi saya bukan tipe author yang suka gantung cerita๐ insya Allah jadwal tetap dipatuhi, meski setiap nulis kadang sambil mewek kalo udah nahan sakit, tapi kalian yg bikin saya kuat buat tetap nulis๐ makasih ya๐
๐ BUAT PEMBACA SETIA NOVEL NOVEL KARYA SAYA, BAIK YANG ONLINE ATAU CETAK, SILAHKAN IKUTI EVENT BIRTHDAY SAYA HARI INI DI-MARKAS BESAR GSB, FOLLOW AKUN FB SAYA MITHAVIC HIMURA , DIBAWAH INI NOVEL NOVEL YANG SAYA TULIS YA, VERSI ONLINE "SANG PELAKOR" "FACE" & " GARA GARA CORONA" SISANYA NOVEL CETAK SAYA SERI NON-FIKSI YANG INSYA ALLAH AKAN TERUS TERBIT HINGGA 18 SERI๐
__ADS_1
Bersambung