
Hallo pembaca setia SANG PELAKOR author mau memperkenalkan tokoh baru dalam cerita ini, berperan antagonis atau protagonis? belum bisa author bocorkan, yang jelas ikuti terus episode SANG PELAKOR ya😎
Tokoh baru ini bernama Zill Yura Mahendradatta, bagaimana perannya dalam cerita ini, yuk ikuti terus episode SANG PELAKOR 😎
- RUMAH ITU SURGA.
Gisella berdiri didepan pintu gerbang rumah yang sesuai dengan alamat yang diberikan Revand kemarin. Penjaga pintu gerbang mengintrogasi nya. Gisella mengatakan maksud kedatangan berserta siapa dirinya. Setelah itu sang penjaga pintu gerbang mempersilahkan dirinya untuk masuk.
Rumah itu memang tidak sebesar rumahnya. Namun sangat asri dengan berbagai macam tumbuhan bunga yang ada dihalaman rumah tersebut. Hawa nya menenangkan. Segera Gisella melangkah kan kakinya mendekati pintu rumah. Memencet bel. Lalu menunggu.
Tidak berapa lama kemudian pintu terbuka. Gisella mengulas senyum yang dipaksakan tulus ketika Sherlin sendiri yang membukakan pintu.
Cemburu dong, curiga gitu biar rame...
Hati Gisella memprovokasi. Akan tetapi, harapannya tidak terealisasi. Karena wajah Sherlin justru mengulas senyum kearahnya.
Gila ni cewek. Malah senyum ama wanita yang demen suaminya...
Gisella memaki, meskipun membalas senyum yang diberikan Sherlin . Sherlin mempersilahkan Gisella masuk. Wangi aromaterapi menyambut Gisella, begitu menenangkan, dan Gisella suka.
Lebih suka lagi kalau ada Revand, gue mau lihat dia kalau pake baju santai gimana ...
"Revand udah cerita tentang keinginan kamu buat belajar masak. Sebenarnya, kurang yakin juga, kamukan sibuk, masih mau belajar masak juga ternyata..."
Oh, udah diceritain, pantas aja ni cewek nggak ngamuk...
"Revand kerja...? Ini hari libur kan..."
"Ada dibelakang lagi beresin tanaman dibelakang.."
"Rajin amat. Nggak nyuruh tukang kebun aja...?"
"Kalau libur dia emang suka begitu, sekalian olahraga katanya..."
Pria sempurna...
Lagi lagi Gisella membathin. Ia mengikuti langkah Sherlin yang membawanya menuju dapur. Diruang tengah ia diperkenalkan dengan ibu Sherlin. Untuk sesaat wanita setengah baya itu menatapi Gisella dengan tatapan penuh selidik. Meskipun pada akhirnya, wanita itu tersenyum juga kearah nya. Gisella mendengus. Ia paling tidak suka orang tua yang suka ikut campur masalah anak anaknya. Apakah mertua Revand juga seperti itu...?
"Eh, udah datang. Susah nggak cari alamatnya...?"
Tanya Revand yang tiba tiba muncul dari arah belakang. Gisella tertekun. Revand hanya memakai celana pendek selutut dengan atasan kaos berwarna abu abu, jauh berbeda dengan penampilan formalnya dikantor, akan tetapi daya tariknya tetap ada. Gisella menelan ludah.
Apalagi saat itu Revand sempat sempat nya mencium kening Sherlin meskipun terlihat Sherlin ingin menghindari karena mungkin jengah hal itu dilakukan suaminya didepan Gisella, tapi ciuman itu mendarat sempurna dikening wanita tersebut. Gisella memaki dalam hati...
Sial....
"Sesulit apa pun, nggak masalah kok buat gue, sorry ya, gue nggak usah formal kali disini kalo ngomong .."
"Santai aja. Kamu harus formal ketika kita dikantor aja.."
Revand menyahut lalu pamit menggeluti apa yang dikerjakan nya dibelakang. Memberikan kesempatan sang istri dan Gisella memulai aktivitas mereka didapur.
"Sher, gue rasa Revand itu mampu beli rumah yang lebih gedde dari ini, lu nggak mau minta yang lebih gedde...?"
Gisella mengucapkan kalimat tersebut sembari mengikuti instruksi Sherlin yang membinanya membuat bumbu soto Banjar.
"Buatku rumah ini sudah cukup besar untuk ditempati, lagian aku sudah puas dengan semua yang ada disini, nggak perlu yang lebih besar lagi..."
Cih, wanita yang cepat merasa puas...
__ADS_1
Batin Gisella.
"Kalian tinggal bareng orang tua itu apa asik...? Sepengetahuan gue, kalo udah married tinggal dengan orang tua itu bikin pusing...!"
"Ibuku sendirian, beliau juga sudah mulai sakit sakitan, akan lebih baik kami tinggal bersama, biar kami bisa terus merawat beliau..."
"Misalnya Revand kegoda perempuan lain, apa yang lu lakukan Sher...?"
TEKK...!!
Pisau yang digunakan Sherlin untuk memotong dada ayam kampung ditangan nya meleset mengenai jari wanita itu, Sherlin memekik. Darah mengucur dari luka tersebut. Mendengar teriakan sang istri, Revand buru buru menghampiri. Gisella hanya melongo plus menelan ludah ketika dengan penuh perhatian, Revand menghisap jari Sherlin yang terluka. Wanita itu berusaha mengalihkan perhatian nya dengan cara memotong bawang yang akan dihaluskan. Tapi karena pada dasarnya ia tidak biasa didapur, memotong bawang adalah hal yang sulit untuk ia kerjakan.
Aroma pedas bawang membuat sepasang mata Gisella digenangi air mata. Biasanya ia terbiasa pura pura menangis, tapi sekarang ia baru merasakan, menangis karena pedasnya aroma bawang sungguh menyakitkan.
"Aduh, mata gue, mata gue...!!"
Gisella sibuk mengipas matanya yang terasa pedas.
"Kamu pejamkan aja dulu mata kamu Gisella, ntar juga reda sendiri..."
Sherlin yang masih di obati oleh Revand memberikan solusi. Tapi Gisella seperti nya tidak mengindahkan apa yang diucapkan oleh Sherlin, ia bergerak menghampiri Revand menarik baju kaos yang dipakai pria tersebut lalu mengusapkannya kematanya sendiri.
"Eh, Shel, itu ada tissu jangan pake baju ku juga kali..."
Revand gelagapan tidak siap dengan apa yang dilakukan Gisella. Tapi Gisella tidak perduli, ia terus saja mengusap kedua matanya memakai baju yang dipakai Revand. Sembari mengucapkan kan kalimat "aduh" berulang kali. Sebenarnya, Sherlin kesal juga melihat nya, akan tetapi ia bisa melihat Gisella tidak sedang berpura pura, gadis itu benar benar merasa kerepotan dengan aroma pedas bawang tersebut.
Hingga Sherlin berinisiatif untuk memberikan tisu kepada Gisella, akan tetapi wanita itu spontan tertawa melihat kondisi mata Gisella. Eyeliner wanita itu merembes kemana mana hingga membuat penampilan cantik Gisella jadi berantakan.
"Kamu ketoilet dulu sana, rapiin muka kamu.."
Bisik Sherlin sembari mendorong tubuh Gisella menuju toilet. Gisella menurut, tengsin. Ingin tampil serba bisa justru mempermalukan diri sendiri.
Makinya berulang kali.
Harusnya waktu gue kepedesan tadi Revand niup mata gue kek. Sherlin doang yang dikhawatirkan, guekan juga mau...
Didalam toilet, Gisella memaki tiada henti...
Beberapa menit merapikan diri didalam toilet, Gisella keluar. Ia dibuat tertekun lagi ketika melihat sekarang yang ada di dapur justru Sherlin dan Revand yang sedang berkolaborasi memasak. Pemandangan itu membuat hati Gisella terasa sakit. Sakit ..? Benar. Ada rasa sakit yang menggores hati Gisella melihat betapa romantisnya Sherlin dan Revand yang sedang memasak bersama.
Sebuah keromantisan yang tidak pernah ia dapatkan dengan pria manapun yang pernah menjalin hubungan dengan nya.
Apa pernikahan memang bisa menyulap segalanya menjadi indah....
Gisella membatin dalam hati.
"Tolong jangan buat rumah ini menjadi neraka Gisella.."
Sebuah suara membuat Gisella tersadar dari lamunannya. Ia menoleh. Mertua Revand sudah berdiri disampingnya dengan tatapan dingin.
Apa apaan wanita tua ini...
Gisella memaki kembali...
"Apa maksud Tante...?"
Gisella mencoba berakting menjadi wanita yang tanpa dosa.
"Kamu kira aku tidak melihat apa yang tadi kamu lakukan pada menantuku...? Tissu ada disamping kamu, tapi kamu justru berlari kearah Revand dan melakukan itu padanya..!"
Tua tua cerdas juga ni ibu ibu...
__ADS_1
"Tante berlebihan, tadi itukan aku dengan kondisi mata yang begitu, mana mungkin melakukan hal yang Tante curiga kan itu, jujur aku nggak pernah masak Tante, jadi yang tadi itu cukup membuat aku kerepotan..."
Ibu Sherlin hanya membuang nafas. Wanita itu berlalu meninggalkan Gisella, membuat Gisella memajukan bibirnya merasa sangat kesal dengan sikap mertua Revand tersebut.
Awas lu wanita tua..! Lu pikir lu siapa...? Pengen bikin gue takut...? noooo...
Gisella memilih bergabung dengan Sherlin dan juga Revand. Namun kedua suami istri itu tidak mengizinkannya untuk kembali terjun langsung membantu. Hanya boleh memperhatikan, dan Gisella makin dibuat kesal jadinya. Bukan kesal tidak diizinkan memasak, sejujur nya ia bersyukur karena ia tidak tertarik sama sekali untuk terjun kedapur, yang ia kesalkan, kenapa bukan dia yang memasak bersama Revand...?
Beberapa jam kemudian, soto Banjar sudah tersaji hangat diatas meja makan, menggugah selera. Namun yang lebih membuat selera Gisella tergugah adalah penampilan Revand yang sudah rapi setelah mandi. Usai memasak tadi, pria itu mandi. Dalam kondisi apapun, pria ini memang selalu enak dilihat. Gisella semakin gila dibuat nya...!
Kenapa gue ini...? Biasanya juga gue nggak segila ini. Bukan yang pertama ngeliat pria ganteng, tapi kenapa yang ini benar benar bikin gue gila...
Gisella mengeluh dalam hati. Sekarang mereka sudah duduk berhadapan dimeja makan. Tak terkecuali mertua Revand juga ada diantara mereka, namun wanita itu bersikap seolah olah ia tadi tidak bersikap ketus kepada Gisella. Hingga hal itu membuat Gisella menjadi muak.
" Lu nggak kemana mana kalo weekend Vand..."
Gisella mencoba bersikap biasa diantara keluarga harmonis tersebut.
"Kadang kadang aja, kami lebih betah dirumah aja kalo libur..."
"Rumah itu surga. Kalau ada orang yang tidak betah dengan rumahnya sendiri artinya, ia punya sesuatu yang kurang beres, "
Yang bicara adalah ibu Sherlin.
"Nah, setuju aku kata mama, aku nggak pernah kemana mana kalau pulang kerja, karena orang orang dirumah ini bikin aku pengen terus cepat pulang,"
Revand lekas menanggapi.
"Dan seorang istri Solehah juga berperan membuat situasi rumah menjadi surga untuk suaminya, jadi Gisella, semua itu nanti kamu rasakan ketika kamu nanti menikah, kamu akan selalu berusaha menciptakan suasana damai dirumah, agar suami kamu nantinya betah pulang kerumah..."
Kata kata ibu Sherlin cukup menohok hati Gisella. Bagaimana tidak, selama ini ia selalu menjadi wanita ketiga dari rumah tangga orang lain. Ia tidak pernah merasakan apa yang diucapkan oleh ibu Gisella tadi.
Rumah itu surga...? Omong kosong...! Kalau iya, kenapa nyokap dan bokap gue selalu bertengkar kalo ada dirumah....?
***
Sebuah mobil berhenti di tepi sungai Mahakam. Sungai yang menjadi salah satu tempat wisata kota kayu Samarinda karena terkenal dengan sebutan tepiannya itu terlihat sedang pasang. Airnya terlihat keruh tidak seperti biasanya. Pertanda sungai memang sedang berada dalam situasi pasang yang besar. Dari dalam mobil mewah itu keluar seorang pemuda bertubuh tinggi, menyapukan pandangannya kearah sungai Mahakam, yang ditingkahi beberapa kapal ketinting yang melintas. Namun bukan itu yang menjadi pusat perhatian pemuda tersebut. Matanya yang tajam memperhatikan sebuah kapal yang memuat batubara disana.
" Kalian sudah mengumpulkan informasi terkait tentang perusahaan batubara yang menjadi saingan perusahaan kita...?"
"Sudah tuan muda..."
"Baik. Kita kekantor sekarang,"
"Tapi, tuan besar mau tuan muda pulang kerumah dulu tuan, masalah itu nanti saja,"
"Aku malas pulang kerumah...! Buatku rumah hanya akan membuat mood ku jadi buruk karena perselisihan mami dan papi...!"
"Tapi tuan muda baru menginjak kan kaki di Samarinda ini tuan, lebih baik..."
"Kamu mau aku pecat..."
"Tidak tuan, baik, baik tuan, saya antar kekantor sekarang...."
Pemuda bertubuh tinggi dengan tatapan mata dingin tersebut segera kembali masuk kedalam mobil. Mobil mewah itu melaju kembali berbaur dengan kendaraan lain yang memadati ruas jalan kota kayu Samarinda. Hampir 10 tahun, Zill Yura Mahendradatta tidak menginjak kan kaki dikota ini. Ternyata kota ini sudah banyak mengalami perubahan. Akan tetapi apakah sistem bisnis dikota ini juga mengalami perubahan...?
Note: Rumah adalah surga dunia manusia. Dirumahlah segala hal bisa kita lepaskan tanpa beban. Bukan seberapa besar dan mewah nya rumah yang kita miliki, tapi seberapa damaikah rumah menyambut kita saat kita kembali kerumah, disambut penuh cinta oleh orang orang yang menantikan kepulangan kita..
**Jangan lupa like, vote dan komennya jika suka ya 😉
BERSAMBUNG**..
__ADS_1