SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 9. MALAM YANG MENEGANGKAN.


__ADS_3

Perjalanan dinas telah dimulai. Sherlin yang baru pertama kali ini ikut dinas keluar kota benar benar merasa situasi ini cukup menegangkan tapi juga indah. Indah, karena suaminya memprioritaskan dirinya meskipun sedang bekerja sekalipun. Apalagi ia teringat dengan ucapan Amel saat ia memberitahu kan tentang situasi dinas suaminya kemarin.


" Lu harus ikut Sher. Kalo lu nggak ikut, cewek binal itu bakal dapat celah buat tebar pesona ama suami lu...!"


Ah. Apa yang diucapkan Amel membuat Sherlin mantap untuk ikut serta dengan suaminya. Lagi pula, ia juga tidak pernah mengunjungi kota Banjarmasin saat sudah beranjak dewasa seperti ini. Meski pun ia berdarah Banjar, tetap saja Sherlin tidak pernah wara wiri dikota tersebut, karena biaya untuk kekota itu cukup membuat Sherlin harus merogoh kocek lumayan dalam untuk ukuran perekonomian nya.


Sekarang. Mereka sudah sampai di kota tersebut. Sudah berada didalam kamar hotel yang disiapkan khusus untuk mereka selama dinas. Sherlin menatap keindahan kota Martapura dari kaca jendela kamar hotel. Indah menyejukkan mata.


"Sayang, habis magrib kamu udah harus siap karna kita akan bertemu dengan klien aku disebuah restoran..!"


Sherlin membalikkan tubuhnya ketika mendengar ucapan sang suami.


"Aku harus ikut...?"


"Nggak mungkin dong aku ninggalin kamu sendiri disini...?"


"Rasanya selalu ngikutin kamu kerja kok kayak aku ini istri yang posesif ya...?"


Seloroh Sherlin. Revand menghentikan kegiatan nya yang sedang melepas pakaian nya untuk segera masuk kamar mandi.


"Aku nggak keberatan kamu jadi posesif...?"


Ucapnya serius.


"Nggak Vand. Kalau berlebihan artinya aku nggak percaya kamu dong. Malam ini, aku nggak papa kok sendiri disini, tapi kamu harus ingat, abis rapat kamu harus segera pulang, aku nggak mau kamu jalan jalan dengan Gisella..!"


Revand melangkah menghampiri sang istri. Ia mencondongkan wajahnya kearah wajah istrinya.


"Baiklah. Kalau itu mau kamu. Makasih ya, kamu percaya aku untuk pergi keluar bareng Gisella. Aku janji, aku akan menjaga kepercayaan kamu dengan baik, love you sayangku..."


Sebuah kecupan mendarat di bibir Sherlin. Sherlin hanya mengulas senyum. Membalikkan dan mendorong tubuh suaminya agar segera masuk ke kamar mandi. Ini sudah benarkan....? Rasanya ia jadi istri yang tidak benar jika terus menguntit suaminya. Ia bukan memberi celah. Tapi ia tidak ingin terlalu menjerat suaminya dengan segudang rasa was wasnya. Bukankah pria jika terlalu erat di ikat akan membuat pria tersebut beranjak pergi...?


Sherlin tidak ingin Revand jadi seperti itu...


Usai mandi, Revand mendirikan shalat magrib terlebih dahulu, setelah itu bersiap siap untuk rapat dengan salah satu klien mereka. Penampilan nya sudah sempurna. Karena Sherlin yang membantu nya. Meskipun Sherlin sederhana, tapi soal mendandani, wanita itu jagonya. Penampilan trendy Revand selama ini adalah hasil imajinasi wanita tersebut. Revand selalu tampil enak dilihat setiap kali kemanapun pria itu pergi.


"Sayang, jangan pergi pergi sendiri ya. Tunggu aku dikamar, aku akan segera kembali..!"


Revand pamit pada sang istri, sembari mencium lembut kening istrinya. Sekali lagi Sherlin membenarkan kemeja yang dipakai suaminya. Sebelum akhirnya, ia mencium telapak tangan suaminya seperti biasa jika Revand berangkat kerja. Etika seorang istri Solehah.


***


Gisella heran ketika Revand muncul tanpa didampingi istrinya. Heran sekaligus senang. Karena merasa tidak ada orang lain yang mengganggu mereka meskipun ini soal pekerjaan. Gisella berandai andai sekarang ini ia sedang mendampingi Revand bertemu klien tapi posisi nya bukan sebagai rekan bisnis. Tapi istri. Hanya membayangkan itu Gisella sudah bahagia.


" Gimana penampilan aku Vand..?"


Tanya Gisella sebelum mereka masuk mobil. Revand mengerut kan alis.


"Tolong jangan panggil aku begitu, kalau kita sedang kerja..!"


"Ia aku tau. Tapikan kita sedang dinas. Bukan sedang dikantor, nggak papa dong kita ubah sedikit biar nggak kaku..."

__ADS_1


Revand menarik nafas.


"Baiklah..!"


"Lagian istri kamu juga percaya kamu kan, buat apa khawatir dengan hal hal kecil begitu...? Buktinya dia ngizinin kita pergi berdua...!"


"Istriku itu wanita yang luar biasa, tentu aja dia percaya padaku.."


Puji aja terus...! Aku pastikan pujian kamu itu nantinya untuk aku Vand...


Maki Gisella dalam hati.


Mereka berdua segera masuk kedalam mobil. Sopir segera membawa mereka ke lokasi pertemuan mereka dengan klien.


Beberapa saat kemudian, mereka telah menemui klien mereka ditempat yang sudah ditentukan. Revand dan Gisella berusaha untuk meyakinkan klien untuk proyek yang sekarang mereka kerjakan. Bos mereka masing masing sudah menugaskan bahwa mereka harus bisa meyakinkan klien untuk proyek tersebut. Dinas kali ini harus diselesaikan dengan baik. Itu tekad Revand maupun Gisella.


Usai membahas proyek dengan klien, Revand pamit ketoilet. Entah kenapa baru sejam ia berpisah dengan istri nya ia sudah merasa kangen. Rasanya ia ingin sekali segera pulang. Ia pamit ketoilet hanya untuk menelpon sang istri. Bukan benar benar ketoilet. Revand tidak menyadari, Gisella diam diam mengikuti nya...


"Sayang, kamu baik baik aja kan...? Sabar ya, bentar lagi aku pulang kok. Rapat udah selesai, tinggal makan bersama aja, kamu jangan lupa makan sayang .."


Gisella mencibir mendengar ucapan Revand saat ia menghubungi seseorang lewat ponsel nya.


Pasti nelpon istrinya...cih...


"Ia dong aku kangen. Malam ini kan malam yang aku tunggu selama abis kita nikah. Kamu udah bersihkan...?"


Gisella mengerutkan keningnya mendengar ucapan Revand yang masih asyik bicara ditelpon. Masih berbicara dengan sang istri.


Gisella makin dibuat penasaran. Dilihat nya Revand sudah selesai bicara dengan sang istri. Memasukkan ponsel kesaku celana nya.


Lalu segera kembali menuju meja makan. Gisella menyembunyikan diri dari balik bilik toilet wanita saat Revand melintasi nya. Sebuah keingintahuan Gisella menyeruak. Masa iya pria ini masih perjaka...?


Gisella kembali kemeja makan sesaat kemudian. Mereka menikmati makan malam sembari terus membicarakan proyek yang mereka akan kerjakan. Gisella ingin sekali ini cepat berakhir. Karena keingintahuan Gisella semakin menggebu sekarang ini. Direktur muda yang mapan, tampan, baru menikah tapi masih perjaka...? Ini benar benar rezeki nomplok buat Gisella.


"Ohya. Kamu dan istri kamu itu baru resmi menikah ya...?"


Saat mereka sudah berada dalam mobil untuk kembali, Gisella langsung menanyakan hal itu.


"Iya. Kelihatan ya...?"


"Tentu. Kalian terlihat masih fresh, apalagi kamu, seperti menahan hasrat yang luar biasa setiap hari,"


"Ohya...? Seperti nya, kamu pengalaman bener dengan hal beginian,"


"Aduh. Kan sekarang internet banyak mengulas hal hal semacam itu. Emang bener ya, kamu lagi mengalami hal itu...? Kita teman kan ya...? Nggak papa dong ngobrolin soal itu, biar bagi pengalaman aja...!"


Gisella itu pelakor ulung, Revand lu harus hati hati...


Tiba tiba suara Roy temannya yang mengutarakan tentang pendapatnya pada Gisella terngiang. Entah kenapa, Revand jadi ingin membuktikan apa benar wanita yang tampak bermartabat ini ternyata pelakor. Apa yang dicari dari seorang Gisella jika memang wanita ini pelakor...? Dia berkecukupan, berpendidikan, punya karir yang cemerlang. Jauh dengan identik seorang pelakor yang biasanya punya misi meraup harta dari pria yang diincarnya. Apa wanita ini kesepian tidak punya cinta...?


" Em, emang dimata kamu aku seperti itu ya..?"

__ADS_1


Sial. Masa iya sikapnya begitu kentara jika sedang galau karena ia belum melewati malam pertama nya juga dengan sang istri...?


"Seperti seseorang yang haus dengan kasih sayang, boleh aku menebak, kamu dan istri mu belum melakukan malam pertama...?"


Revand spontan terbatuk batuk mendengar ucapan berani Gisella. Untung wanita itu memelankan suaranya saat mengucapkan kalimat tersebut. Jika tidak, ia pasti tengsin karena sopir didepan mereka ikut mendengarkan. Sialan. Sedangkan Gisella cekikikan dalam hati. Lewat reaksi Revand ia sudah bisa menebak kalau pria disampingnya ini memang masih perjaka.Tuhan sedang baik padanya. Pekik Gisella.


Selama menjadi wanita perayu. Baru kali ini ia mendapatkan target sebagus Revand. Tampan, muda, punya karir bagus, perjaka pula. Entah kenapa hasrat Gisella ingin memiliki pria ini semakin besar...!


"Kasihan.Pasti sekarang kamu tersiksa banget ya Vand, tapi pasti istri kamu ngasi servis lain dong biar gairah kamu terpenuhi..."


Gisella berbisik ditelinga Revand menyerupai desahan. Revand menelan ludah. Gila. Hanya mendengar bisikan Gisella, Revand merasa untuk sesaat ada hal yang tidak biasa menyinggahi nya. Wanita ini. Benar benar berbahaya.


Servis...? Revand paham apa yang dimaksud Gisella. Tapi Sherlin tidak pernah melakukan servis yang dimaksud Gisella. Bagaimana bisa melakukan hal itu...? Ia sentuh sedikit saja wanita itu sudah gelagapan setengah mati. Tapi meski begitu Revand suka. Dibandingkan dengan sikap berani Gisella, sikap Sherlin lebih membuat gairah nya memuncak. Karena itu berarti, Sherlin wanita baik baik yang belum punya pengalaman khusus untuk hal semacam itu.


Ia yakin. Seiring waktu ia bisa membuat istrinya itu bisa nakal sedikit padanya. Hanya nakal kepadanya. Tidak kesemua pria seperti halnya wanita disampingnya ini.


"Ah. Nggak juga, karna kita menikah atas dasar cinta, jadi nggak ada istilah tersiksa menjalani pernikahan ini, aku bisa sabar menunggu kok...!"


Revand merespon ucapan nakal Gisella sembari berdoa semoga mereka segera sampai, agar ia bisa lepas dari godaan wanita buas disampingnya ini.


"Tapi salah satu manfaat menikah itu adalah, terpenuhi nya hasrat kita, karna itu juga fungsi dasar nikmat nya sebuah pernikahan,!"


Gisella berbisik lagi. Kali ini jemarinya naik kepangkal paha Revand yang tertutup celana yang dipakai nya. Mengusapkan jemarinya disana, hingga Revand lagi lagi merasa ada sesuatu yang mendebarkan menyinggahi perasaan nya sekarang ini.


Ia menepis jemari Gisella yang nakal menjelajahi pahanya. Berharap sopir mereka tidak melihat perbuatan terkutuk wanita perayu ulung ini.


Sherlin... lihatlah. Suami kamu mulai digoda. Kamu harus tanggung jawab, karena wanita sialan ini, udah membuat gairah ku semakin bangkit memuncak.


Revand berusaha menguatkan iman nya yang sudah compang-camping lantaran kegersangan hasratnya dipancing menggebu oleh ulah nakal Gisella. Berusaha memusatkan fikirannya, hanya pada Sherlin. Karena ia tidak mau, ada Gisella yang ia fikirkan sekarang ini.


"Vand, kalau emang istri kamu belum bisa memberikan apa yang jadi kebutuhan kamu, aku bisa kok melakukan nya, jangan berfikir keras. Kita ini udah berfikir keras untuk pekerjaan kita, kita butuh refreshing agar otak kita rileks..!"


Gisella berbisik kembali ditelinga Revand. Jemari nya kembali mengusap pangkal paha Revand. Kali ini lebih menekannya hingga Revand benar benar merasa ada yang tegang dari balik celana nya akibat perbuatan wanita disebelah nya..


Sial. Aku bisa mati kalau begini terus...


Maki Revand berulang kali.


"Pak. Tolong lebih cepat lagi ya. Istri saya sudah menunggu..!!"


Pinta Revand keras. Ia memberi isyarat pada Gisella agar menjaga sikap. Tapi Gisella hanya tertawa kecil. Wanita itu bisa melihat betapa saat ini Revand terpancing dengan apa yang ia lakukan. Ia bisa melihat gairah pria itu memuncak akibat elusannya tadi.


Tapi jujur, Gisella heran sekaligus kesal juga. Digoda sedemikian rupa, kenapa yang ada Revand malah ingin mempercepat bertemu istrinya..? Padahal ia melakukan itu agar supaya Revand akhirnya menerima tawarannya untuk menghabiskan malam berdua ...


Sialan kamu Revand. Nggak bisa kugoda dengan cara ini. Aku masih punya cara yang lain....!


Tekad Gisella dalam hati.


( Godaan dalam sebuah hubungan itu pasti ada. Akan tetapi jika anda tulus mencintai pasangan anda, maka sebesar apapun godaan, anda tidak akan tergoda oleh godaan yang datang..)


Terimakasih masih terus membaca karya saya ini. Jangan lupa like, vote, n komennya jika suka ya. Dan yang udah like vote n komen makasiih😍

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2