SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 57. WAS-WAS


__ADS_3

Revand mengetuk pintu ruangan bosnya sebelum masuk. Ketika ia masuk, bosnya itu sudah menunggu nya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa dikatakan ekspresi wajah yang baik baik saja. Ada aura tidak nyaman terpancar di diri pria tersebut, yang bisa di rasakan oleh Revand.


Revand melangkah masuk, dan duduk ketika pria itu memerintah nya.


"Kamu membuat ku kecewa Revand..!"


Dingin pria itu berucap.


"Maaf, bisa bapak jelas kan bagian mana yang membuat bapak merasa kecewa pada saya...?"


Untuk sesaat pria itu menatap Revand. Menarik nafas. Lalu..


"Pertama, kamu menyelidiki apa yang tidak seharusnya kamu selidiki, kedua, kamu tidak becus mengurus proyek baru perusahaan kita, kamu tidak melakukan apa apa terkait perintah yang saya berikan tempo hari, ketiga, kamu melakukan pemecatan sepihak pada sekretaris pribadi kamu..!!"


"Saya bisa jelaskan satu persatu pak. Saya punya alasan untuk hal itu, terutama untuk alasan yang terakhir. Saya melakukan itu demi menjaga reputasi saya dikantor ini,"


"Menjelaskan...? Saya sudah begitu jelas dengan alasan kamu itu, tidak perlu kamu perjelas lagi, kamu kira saya bodoh..? Kamu salah satu karyawan berbakat diperusahaan ini Revand, tapi kalau kamu selalu membuatku kecewa, saya tidak bisa lagi mempertahankan kamu di perusahaan ini..!"


"Bapak memecat saya...?"


"Tergantung dengan kesanggupan mu untuk sebuah pertimbangan yang akan saya berikan untuk mu..!"


"Apa itu pak..!"


"Hentikan penyelidikan mu terkait kinerja lapangan perusahaan ini. Tarik kembali surat pemecatan kamu pada sekretaris kamu..!!"


"Tapi pak. Saya.."


"Gisella lebih punya ide brilian untuk mengatasi situasi sulit perusahaan kita, dibandingkan kamu yang hanya sibuk menyelidiki perusahaan tempat kamu bekerja..!!"


Pria itu memotong ucapan Revand.


"Maksud bapak, Gisella punya ide..? Ide apa...?"


Revand bertanya dengan nada suara was was.


Wanita itu gila. Dia bisa saja melakukan rencana buruk setelah apa yang sudah terjadi antara aku dan dia..


Revand berbisik didalam hati.


"Rencana untuk meruntuhkan reputasi lawan kita. Maaf Revand, berita dimedia itu kesempatan emas untuk kita meruntuhkan reputasi perusahaan mereka, saya tidak perduli, orang yang terlibat diberita itu adalah istri kamu, hanya ini jalan satu satunya untuk membuat mereka menyesal sudah mengabaikan kita, dan Gisella sudah punya rencana yang baik untuk hal ini...!"


"Saya keberatan pak...! Kalau itu bapak lakukan, itu sama saja mengorbankan istri saya, suami macam apa saya yang rela mengorbankan nama baik istri demi perusahaan..!"


"Ketidak setujuan kamu, saya artikan pengunduran diri kamu, jika kamu berkeras tidak setuju untuk hal ini, terpaksa saya akan bertindak tegas. Kamu akan saya pecat, dan Gisella yang menggantikan kedudukan kamu sekarang..!"

__ADS_1


"Apa...? Bapak begitu mudah mengucapkan hal itu, sedang kan bapak tahu sendiri, perjuangan saya untuk perusahaan ini seperti apa...?"


"Tidak sebanding dengan kerugian yang dialami perusahaan karena kamu tidak becus untuk mengajak perusahaan itu bekerja sama...!!!"


"Pak, beri saya waktu untuk mencari jalan keluar nya, saya yakin saya bisa, tanpa harus memakai jalan kotor seperti itu..!"


"Saya tidak sedang mengajak kamu bernegosiasi Revand. Ini peringatan. Secara formal dan resmi, nanti akan saya berikan surat peringatan untuk kamu terkait hal ini. Saya serius untuk ini. Jadi jika kamu tetap sayang dengan jabatan kamu sekarang, saya akan memberikan kamu kesempatan, turuti apa yang saya perintahkan, bekerja samalah dengan Gisella. Apapun masalah kamu dengan dia, jangan lupakan tentang sikap keprofesionalan perusahaan kita...!!"


"Pak...?"


"Silahkan keluar sekarang...!"


Revand tidak diberi kesempatan untuk membela diri, atau sekedar untuk memberikan saran. Pria itu benar benar kelihatan sedang murka. Ia tahu, sekarang situasi kantor sedang tidak baik. Akan tetapi ia yakin. Jika bersatu untuk membuat perusahaan bangkit, Revand optimis perusahaan mereka bangkit, walau tidak harus melakukan jalan pintas seperti itu. Namun apa yang harus ia lakukan sekarang untuk membantah apa yang diperintahkan bosnya..? Apakah ini saatnya ia harus kehilangan karir yang sudah dibangun nya dengan susah payah...?


Ketika Revand ingin membuka pintu ruang kerja bosnya untuk keluar. Suara bos nya menghentikan langkahnya. Revand membalikkan tubuhnya..


"Malam ini bekerja samalah dengan Gisella, lakukan tugasmu dengan baik, jika kamu mau tetap berada diposisi kamu yang sekarang..!"


Revand tercekat. Malam ini...? Melakukan apa...?


"Apa bapak bisa menjelaskan untuk apa saya melakukan hal itu malam ini...?"


"Kamu bisa berdiskusi dengan Gisella tentang hal ini. Ingat Revand, saya lebih respect dengan orang yang mau melakukan apa saja demi perusahaan daripada, orang yang rela melakukan apa saja untuk menyelidiki perusahaan ini. Andai saya tidak mengingat dedikasi kamu diperusahaan ini, tentu saya sudah memecat kamu sekarang...!"


"Pak..."


Revand mengepalkan kedua tangannya, mendapati betapa bosnya tidak mau mendengar apapun hal yang ingin ia sampaikan. Disatu sisi, ia juga penasaran, apa yang akan dilakukan Gisella malam ini untuk perusahaan...?


Revand keluar dari ruangan bosnya, tiba tiba saja ponselnya berbunyi. Bunyi pesan singkat. Karena si pengirim pesan, tahu sekarang adalah jam kerja, hingga tidak memungkinkan untuk menelpon pemilik ponsel. Revand mengeluarkan ponsel dari saku celana nya, dan segera mengecek.


Pesan dari istri nya...


Malam ini aku minta izin ya, pulang agak telat karena ada orderan di perjamuan hotel berbintang, sekalian mo ketemu Zill, buat ngomongin tentang akting kami, kamu beneran udah mengakhiri akting kamu dengan Gisella kan sayang...? Aku akan menepati janji ku buat melakukan hal yang sama, aku akan perlahan ngomong sama ibu Zill, untuk menjelaskan hal yang sebenarnya...


Revand merasa sesak membaca pesan sang istri. Segera ia membalas pesan singkat itu...


Aku udah melakukan apa yang harus kulakukan, aku menunggu kamu melakukan hal yang sama sayang, malam ini aku juga agak telat pulang, bos ngasi aku tugas tambahan, jaga diri ya, i love you ..


Revand tidak menunggu balasan dari sang istri untuk pesan singkat yang ia kirim. Ia segera kembali keruangan nya dan meminta Gisella untuk datang menemuinya, tidak lupa ia mengirim pesan pada Roy, untuk berjaga diluar jika sekira kira ada hal tidak beres terjadi. Walau tidak percaya dengan guna guna, akan tetapi Revand tidak ingin gegabah. Rasanya mengerikan jika apa yang dikatakan Roy itu benar tentang Gisella yang memakai guna guna. Meskipun malas sekali ia menemui wanita itu sesudah insiden di ruang kerja nya tadi, tapi ia terpaksa melakukan hal itu demi mempertahankan posisi nya sekarang.


Aku tidak akan membiarkan Gisella menghancurkan karir, yang sudah sekian lama aku bangun...


Revand berbisik seperti itu didalam hati.


Beberapa saat kemudian, pintu diketuk dari luar. Ketika Revand mempersilahkan masuk sang pengetuk pintu, sosok Gisella muncul, dengan seringai penuh kemenangan.

__ADS_1


Wanita itu melangkah sembari membawa map yang tadi dilemparkan Revand kepadanya.


"Hallo pak direktur sayang, maaf ya, anda tidak bisa memecat saya tanpa izin dari Presdir. Mau bagaimana, kinerja saya lebih menjanjikan dibandingkan dengan kinerja anda belakangan ini..!"


Sambil mengucapkan kalimat tersebut, Gisella memberikan map itu kembali kepada Revand. Setengah hati Revand menerima nya. Pria itu berusaha untuk waspada, jangan sampai hal mesum seperti tadi terulang kembali.


"Kamu licik Gisella. Kamu tega melakukan ini pada orang yang percaya dengan kamu berubah menjadi baik..!"


Revand berkata dengan nada suara dingin. Gisella tertawa kecil.


"Yang tega itu anda direktur. Anda seenaknya memecat saya, hanya karena kita punya masalah pribadi, sangat tidak profesional..!!"


"Apa yang kamu rencanakan sebenarnya...!!"


Revand tidak ingin berlama lama bicara dengan Gisella karena ia masih belum siap jika wanita ini kembali menggila menyerang nya.


"Tentu saja menjalankan tugas kita dari bos, saya punya rencana jitu untuk hal ini. Anda hanya perlu ikut dengan saya malam ini, kita kesebuah perjamuan besar perusahaan musuh kita, kita akan menjalankan skenario bagus untuk hal ini, bekerja sama lah dengan saya direktur, jika anda tidak mau, saya yang menggantikan posisi anda dikursi itu...!"


Sebenarnya Revand emosi mendengar ucapan Gisella. Akan tetapi, rasa penasaran nya lebih meleburkan rasa emosi nya sekarang.


Perjamuan makan ya, kenapa bisa sama dengan pesan Sherlin tadi..


Mendadak Revand merasa was was tentang apa yang akan direncanakan oleh Gisella. Jika tadi ia tidak ingin mengikuti wanita itu malam ini, sekarang karena merasa was was dengan istrinya, Revand tanpa berfikir panjang mengiyakan ajakan Gisella untuk melakukan skenario yang dimaksud wanita itu ..


Note: Carilah rezeki dengan cara yang baik, agar setiap darah yang mengalir dalam tubuh kita tidak dialiri dengan darah yang berasal dari rezeki yang dicari dengan cara yang tidak baik. Hingga membuat kita buta pada Tuhan dan seruan-NYA.


๐Ÿ‘‰ Jangan lupa like vote klik favo rate 5 jika suka ya ๐Ÿ’– buat yang udah selalu mendukung karya ini kalian TERBAIK ๐Ÿ’


-Lagu backsound perwakilan tokoh Sherlin ๐Ÿ‘‡


๐ŸŽถMungkin, aku patut membenci dia, karena mencintai mu...


๐ŸŽถJujur kukatakan, aku tak rela, dia curi hatimu.....


๐ŸŽถ karena kulebih dulu ....jadi kekasih mu.... dan dengan sungguh mencintai mu...


๐ŸŽถkutak ingin dirinya.... menggantikan aku.... karena kutahu, kulebih baik dari dirinya...


๐ŸŽถAku ..ingin dia, yang pergi jauh, pergi jauh darimu...


๐ŸŽถ Karena kulebih dulu....jadi kekasih mu...dan dengan sungguh mencintai mu, kutak ingin dirinya... menggantikan aku....karena kutahu kulebih baik dari nya...


lirik lagu tersebut, milik Tere yang diaransemen ulang oleh five minute ya, lagu ini salah satu backsound novel "SANG PELAKOR" buat yang udah request lagu ini, lagunya sudah saya buka, silahkan dijoin ๐Ÿ˜Š mari bernyanyi bersama saya diakun smule saya MITHA_GSB_UVSS


__ADS_1


bersambung


__ADS_2