
Sherlin tersenyum ceria ketika melihat Rei melambaikan tangan kearah nya. Wanita itu buru buru mendekati. Tidak sadar Rei menatapi nya terus menerus.
"Duh, imut banget sih lu. Coba aja belum jadi istri orang udah PDKT gue ama lu..!"
Katanya dengan tampang cengar cengir. Sherlin mencibir.
"Amel kalo dandan juga pasti unyu tau. Kamu nggak pernah liat dia dandan sih..!"
"Nunggu hujan es turun ke Samarinda dulu baru bisa liat dia dandan, celana aja robek sana sini kalo jalan ama gue, ohya, tapi lu darimana kok tumben kita ketemu diluar gini...? Sama siapa lu...? Revand...?"
Rei mengedarkan pandangannya ke sekeliling, siapa tahu ada sosok Revand menyusul dibelakang Sherlin. Ternyata tidak ada siapa siapa.
"Aku bareng mama, tadi baru abis dari salon, emang aku beda ya Rei...? Biasanya dekil gitu ya..?"
"Oh, lagi nyalon. Pantas cantik bener, sebenarnya lu itu selalu enak dilihat sih Sher, gue tadinya khawatir abis lu married penampilan lu berubah drastis terutama di dandanan, banyak cewek kalo udah abis nikah dandannya berlebihan, sedang menurut gue lu yang natural itu udah menarik banget, natural bukan berarti kagak pake bedak, maksud gue bedaknya kagak sekilo..!"
"Kalo sekarang, terlalu berlebihan ya...?"
Tanya Sherlin sembari melihat kearah dirinya sendiri. Rei menatap Sherlin dari ujung rambut sampai kaki.
"Kagak sih, cuma lebih fres aja, kinclong gitu. Sebelum nya lu udah menarik kok, cuma yang ini makin waow. Hati hati banyak yang naksir haha...!"
Sherlin terdiam sesaat.
Sebenarnya, aku begini demi mertuaku Rei...
Sherlin membatin sembari mengulas senyum pada Rei.
"Gue tadi abis survei tempat Sher, eh malah ketemu lu disini, em ohya, udah ngomong ama Revand belum soal izin..?"
Sherlin terlihat tergagap mendengar pertanyaan Rei. Wajah nya memancar kan perasaan bersalah.
"Maaf Rei, Revand nggak setuju aku kerja, sebenarnya aku mau. Tapi, kan dosa kalau tetap mau kerja sedang suami nggak izinin.."
"Oh, kagak papa, dimaklumi kok, lagian istri yang baik itu emang yang patuh ama suami, tapi lu tetap bisa bantu gue ngasi masukan kan, ada beberapa perusahaan yang gue incar Sher, termasuk perusahaan suami lu..",
"Emang udah masuk tahap apa rencana kamu ini, bukannya kamu masih ngumpul dana ya..?"
"Yeee, kan gue nabung. Gue nabung dari awal kerja sampe sekarang. Tabungan gue banyak tau. Saban THR pun duit dari bokap gue tabung haha sebenarnya tinggal mantapin hati aja gue,"
"Waah, keren kamu. Amel pasti beruntung punya suami seperti kamu. Kalau soal itu, aku bisa bantu kok. Revand nggak keberatan untuk hal itu,"
Wajah Rei terlihat semringah.
"Thanks Sher, lu emang sahabat yang kece dah. Lu balik sana ke salon jangan disini, ntar diculik orang haha. Gue balik ya udah mau kerja..!"
Sherlin membalas lambaian tangan Rei dengan senyum teriring.
Maafin aku ya Rei, aku nggak bisa kerja sama dengan kamu...
Katanya sembari menatapi punggung Rei yang menghilang dibalik kerumunan orang yang lalu lalang dipusat perbelanjaan ini.
"Sherlin. Ayo kita pulang.."
Suara ibunya terdengar. Satu plastik kantong belanja ditenteng nya. Rupanya sang ibu sudah selesai berbelanja. Sherlin mengiyakan ajakan ibunya. Segera menuju parkiran. Dimana sopir mereka sudah menunggu.
Tiba di rumah. Ibunya langsung menuju kebelakang. Sedang ibu mertua nya langsung menghampiri Sherlin, sembari menatapi menantunya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ditatap seperti itu, Sherlin jadi kikuk.
"Kamu cantik sekali. Ginikan enak dilihatnya, penampilan rapi, wajah fres, kalau Revand pulang dia pasti betah. Jangan kusut seperti biasanya. Kasihan suami kamu. Sudah lelah bekerja, pulang melihat istrinya berantakan, tidak membuat moodnya baik,"
Sherlin menelan ludah mendengar ucapan sang ibu mertua. Tapi sesaat kemudian, wanita itu tersenyum.
"Iya ma, terima kasih.."
"Mama besok mau pulang, kamu ingat kata kata mama ya, jangan sampai bikin suami kamu tidak betah dirumah, sekarang musim pelakor, kalau suami kamu tergoda dengan wanita lain, kamu jangan hanya menyalahkan suami kamu, tapi introspeksi diri, beres tidak kamu jadi istri,"
Sherlin menggigit bibir mendengar ucapan yang kedua dari ibu mertua nya. Tidak disangka, sikap asli ibu mertuanya seperti ini. Dahulu saat mereka menikah, hanya sempat sebentar bertemu. Wanita ini tidak banyak bicara. Apa mungkin karena saat itu sedang banyak orang. Hingga segan untuk bicara.
"Sher, ide mama itu harus tetap kamu pikirkan. Buat dirimu jadi berkelas. Biar sepadan dengan Revand. Jangan betah mengurus rumah saja, anggap ini permintaan mama untuk kamu. Penampilan menarik, harus ditunjang karir yang hebat pula, Revand itu anak mama satu satu nya, wajar kan mama ingin banyak meminta...?"
"Tapi ma...?"
__ADS_1
"Revand tidak mengizinkan kamu kerja..? Mungkin dia khawatir kamu tidak bisa bagi waktu. Kalau kamu bisa bagi waktu, mama yakin kok dia mengizinkan. Buat mama bangga dengan kamu sayang .."
Entah kenapa, kata "sayang" yang diucapkan ibu mertua nya tidak membuat hati Sherlin sejuk. Kata itu seperti menuntut. Sherlin merasa sesak mendengarnya.
"Aku kebelakang dulu ma.."
Pamit Sherlin akhirnya. Pikiran nya berkecamuk. Apa yang diminta ibu mertuanya membuat hati wanita itu gelisah.
***
Sherlin dibuat kaget ketika ia termenung di balkon kamar. Revand sudah memeluk nya dari belakang. Tidak hanya memeluk. Tapi dengan nakalnya, sang suami mencium lehernya. Lalu berbisik ..
"Lagi mikirin apa..?"
"Kerjaan kamu cepat selesai. Jam segini sudah pulang..?"
Bukan menjawab pertanyaan suaminya, Sherlin justru memberikan pertanyaan pula. Ia membalik kan tubuh nya. Hingga kini mereka saling berhadapan.
"Kamu cantik banget sih.."
Puji Revand sembari mencondongkan wajah nya ingin mencium bibir sang istri. Namun Sherlin menahannya.
"Aku tadi kesalon sama mama, nurut saran kamu.."
Revand manggut manggut.
"Terus mama bilang apa..?"
"Mama suka. Tapi beliau tetap lebih suka kalau aku punya karir Vand. Beliau bilang permintaan beliau itu wajar, karena kamu anak tunggal. Mama masih beranggapan, Gisella itu lebih plus dibandingkan aku.."
"Ssst, jangan bicara begitu. Itu hanya pikiran kamu aja. Sebenarnya kalau emang mama mau kamu berkembang itu bagus sih. Artinya dimata beliau kamu punya potensi. Jarang jarang lho mama itu melihat bakat orang..!"
Aku juga ingin berfikir seperti itu Vand, tapi entah kenapa, yang ada dalam fikiran ku ini, mama malu mengakui punya menantu hanya lulusan SD..
"Sayang. Aku sebenarnya nggak mau melihat kamu tertekan seperti itu. Tapi, mungkin ada baiknya, kita mengalah dulu aja."
"Maksud kamu...?"
Sherlin menatap wajah suaminya tidak mengerti. Revand menarik nafas berat.
Ucapan Gisella via telpon itu terngiang kembali ditelinga Revand. Karena hal inilah ia bisa pulang cepat seperti sekarang. Revand ingin membicarakan masalah ini dengan istrinya.
Gisella sudah berusaha sekuat tenaga, tapi tidak bisa. Mungkin aku harus terpaksa meminta bantuan Sherlin...
"Vand. Kenapa kamu menatapi aku begitu...?"
Suara Sherlin membuyarkan lamunan Revand.
"Sayang. Aku putuskan untuk mengizinkan kamu kerja sama dengan Rei. Tapi aku juga butuh bantuan kalian terutama kamu sayang..."
"Bantuan aku...?"
Sherlin mengulang kata kata itu dengan wajah bingung.
"Iya.."
Sherlin tertawa sumbang.
"Kamu memperolok ku..? Direktur minta bantuan orang yang nggak sekolah seperti aku...?"
Revand menarik tubuh Sherlin kedalam pelukannya. Ia tahu sekarang perasaan istri nya sedang berkecamuk karena permintaan ibunya.
"Kamu nggak suka aku izinkan buat kerja..?"
Revand berbisik di telinga sang istri.
"Aku suka. Tapi aneh aja, tiba tiba kamu ngizinin aku. Padahal sebelum nikah, kamu mati matian nggak ngizinin, tempo hari kita berantem juga gara gara ini, kenapa sekarang kamu berubah fikiran..? Kamu nggak berfikir kalau aku ini nggak sepadan jadi istri kamu karna cuma dirumah aja kan...?"
Revand sudah menduga pasti Sherlin berfikir seperti itu. Akhirnya, untuk menghindari kesalahpahaman, Revand menceritakan semuanya. Tentang masalah yang membelitnya belakangan ini. Sherlin terdiam mendengar cerita suaminya. Bayangan wajah Zill, pria pencinta kucing itu berkelebat dibenaknya.
"Kamu dan Gisella nggak merencanakan hal buruk untuk perusahaan dia kan..?"
Revand melepas kan pelukan nya.
__ADS_1
"Enggaklah. Emangnya kamu benar benar berfikir begitu...?"
"Waktu di Jepang, Gisella ngotot banget kan mau menghancurkan reputasi Zill...?"
"Akan lebih terancam lagi reputasi dia kalau dia nggak mau kerja sama dengan perusahaan kami sayang, dia akan jadi sasaran utama perusahaan kami, sedang latar belakang keluarga dia bisa menjadi sasaran empuk untuk menjatuhkan dia..!"
"Kan aku udah bilang, cari harta itu jangan menghalalkan segala cara. Aku nggak setuju,"
"Jadi kamu maukan bantu aku untuk bujuk pria itu..?"
"Kenapa kamu yakin aku bisa melakukan nya..?"
"Karena aura dia kekamu lebih bersahabat dibandingkan aura dia kekami..!"
"Itu karena kalian nggak tulus mau mengenal dia.."
"Ini bisnis sayang, bukan forum mencari sahabat sejati. Bisnis itu pelik. Kita nggak bisa kalau selalu pakai sifat jujur kita..!"
"Tapi bisnis yang dimulai dengan rasa jujur itu lebih berkah Vand, jangan deh kamu punya fikiran untuk membenarkan saran Gisella..!"
"Jadi, kamu mau nggak bantu aku..?"
Sherlin menarik nafas.
"Baiklah. Aku akan coba, tapi serius kamu nggak keberatan aku kerja sama dengan Rei ..?"
Revand mengangguk mantap.
"Makasih ya sayang, sekarang aku nggak stres lagi mikirin permintaan mama.."
Ucap Sherlin dengan senyum merekah.
"Cuma makasih...?"
"Maunya...?"
"Dengan penampilan secantik ini, aku mau minta jatah sekarang..!"
"Eeeh, tunggu dulu ini udah mau magrib lho, magriban dulu...!!"
"Masih setengah jam lagi baru magrib, masih sempat satu kali, ntar abis magrib nyambung lagi.."
"Gila kamu Vand, orang tua kita kapan makan malamnya kalo gitu...!"
"Jangan banyak alasan deh, suruh siapa cantik banget begini jadi nafsu besar kan aku..!"
Revand menggendong tubuh istrinya masuk kedalam kamar mereka. Tidak perduli Sherlin menjerit. Dan memukul pelan punggung nya. Ia membaringkan tubuh sang istri diatas tempat tidur.
"Besok besok aku nggak usah dandan deh kan mama juga udah pulang. Biar kamu nggak nafsuan..!"
Sherlin merajuk.
"Siapa bilang. Justru mama udah pulang makin lancar aku minta jatah. Tanpa perlu khawatir beliau teriak teriak diluar haha, mama kamukan sering dibelakang, beda sama mama aku yang selalu stay ganggu kita, mau kamu dandan atau nggak tetap nafsu aku. Tapi kalau cantik banget begini pengen minta berkali kali aku jadinya..!!"
Revand ingin mencium bibir istri nya kembali usai mengucapkan kalimat tersebut. Tapi tiba tiba..
"Revand. Bantu mama dong, ada kecoak dikamar mama, mama geli..!!"
Suara ibu Revand terdengar dari luar. Revand terpaksa menghentikan serangannya pada sang istri. Sherlin tertawa .
"Sana buang kecoak...!"
Perintah Sherlin masih tertawa tawa. Revand mencibir.
"Nanti malam jangan harap kamu lolos dari cengkraman ku. Aku minta double..!"
Katanya sembari turun dari tempat tidur, dan segera melangkah menuju pintu kamar. Sebenarnya, Revand tetap merasa bersalah pada Sherlin, karena ia tidak menceritakan, permintaan yang tadi ia utarakan itu adalah saran dari Gisella.
Maafkan aku Sherlin. Aku nggak menceritakan bagian yang itu. Karena melihatmu senang bisa menuruti permintaan mama saja sudah cukup buatku. Aku nggak mau merusak nya...
Note: Membuat orang tua bahagia itu kewajiban anak. Akan tetapi, orang tua yang baik juga tidak akan memaksakan kehendak kepada anak anaknya.
👉 Pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya😘
__ADS_1
bersambung.