SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 5. DAYA TARIK.


__ADS_3

Revand baru saja membalas pesan singkat istrinya ketika sebuah ketukan terdengar di pintu ruang kerjanya. Ia mempersilakan orang yang mengetuk pintu nya itu masuk. Sekretaris nya muncul.


" Pak. Tamu penting bapak sudah datang, apakah dia bisa langsung masuk keruangan bapak,"


Sang sekretaris berkata demikian dihadapan Revand.


" Suruh dia langsung masuk saja,!"


Sang sekretaris tersebut mengangguk hormat. Lalu berbalik dan melangkah keluar ruangan. Beberapa saat kemudian, seseorang masuk. Langsung memberi salam kepada Revand sekaligus memperkenalkan diri. Revand mendongak wajah. Ia mengerutkan keningnya.


" Kenapa yang datang seorang wanita...? Saya tidak merasa membuat janji bertemu dengan seorang wanita...?"


Wanita yang baru datang tersebut membungkuk hormat sebelum kemudian menjelaskan kenapa dia yang sekarang berada dihadapan direktur muda didepannya.


"Oh. Anda orang kepercayaan beliau. Baiklah. Silahkan duduk. Kita langsung saja membahas materi yang sudah disiapkan,!"


Wanita itu tidak bergeming meskipun Revand sudah menyuruh nya duduk. Revand kembali mendongak. Mengalihkan perhatian nya dari setumpuk berkas yang ada dihadapan nya.


Wanita itu masih mengulurkan tangan kearahnya mengajak berkenalan secara resmi. Terpaksa Revand bangkit dari tempat duduknya, lalu menyambut uluran telapak tangan wanita tersebut.


" Gisella,!"


"Revand,"


Wanita itu tersenyum manis lalu segera duduk dihadapan Revand, sembari meletakkan map yang dibawanya.


"Saya baru tau, direktur perusahaan ini begitu muda, setahu saya posisi ini dulu diduduki oleh pak Chris, kemana beliau,?"


Tanya wanita yang memang tidak lain adalah Gisella. Ia mendapat tugas dari bos sekaligus pacar gelapnya itu untuk mengurus masalah kerja sama dengan perusahaan dimana Revand bekerja. Awalnya Gisella kesal diberi tugas itu. Harus duduk menunggu diruang tunggu, berdesakan dengan klien Revand yang lain, belum lagi perjalanan menuju kesini yang cukup membuat ia berkeringat. Untung nya tadi ia sudah merapikan diri di toilet. Keringat sudah ia bersihkan. Menyemprotkan kembali parfum keseluruh tubuhnya terutama bagian lehernya, hingga saat bertemu dengan direktur yang ternyata masih sangat muda ini ia tidak tengsin.


Begini muda...kenapa sudah bisa jadi direktur...? Dia bukan anak pemilik perusahaan inikan...?


Hati Gisella berkata sembari terus menatapi pria dihadapannya. Revand segera menyingkir kan berkas berkas yang ia kerjakan. Lalu fokus bicara dengan Gisella. Membahas tema yang sudah dipersiapkan sebelum nya, Gisella menyimak setiap ucapan yang keluar dari mulut Revand, seolah olah Revand sedang bernyanyi sebuah lagu kesukaan nya hingga ia begitu terlena.


"Bagaimana...? Apakah anda paham dengan apa yang saya ucapkan tadi,?"


Tanya Revand, ketika usai berbicara cukup panjang. Gisella sedikit tergagap. Ia tidak ingin terlihat sangat kentara sedang melamun saat membahas pekerjaan. Ia segera menimpali apa yang tadi sudah di katakan Revand, dan Revand menarik nafas lega ketika wanita didepannya ini tidak keberatan untuk proyek kerja sama yang akan mereka kerja kan. Proyek yang akan dikerjakan bersama oleh perusahaan mereka masing masing.


"Karena ini bukan rapat formal, anda harus membicarakan ini kepada atasan anda tentang semua yang saya ucapkan tadi, agar ketika atasan kita sama sama bertemu untuk membahas nya, mereka bisa saling memahami seperti halnya kita yang sudah saling memahami materi,!"


"Saya fikir, selain masalah pekerjaan, kita juga bisa saling memahami hal yang lain, apa direktur punya waktu, karena jika kerja sama ini disetujui, artinya dalam waktu yang cukup lama, kita akan terlibat kerja sama yang mana itu akan membuat kita selalu berinteraksi, bagaimana kita bisa bekerjasama dengan baik, kalau kita kaku satu sama lain,?"

__ADS_1


Revand tersenyum mendengar ucapan wanita sexy dihadapan nya.


"Anda jangan khawatir. Saya akan bersikap profesional selama kita bekerja sama, saya pastikan kita bisa mencoba untuk saling memahami satu sama lain,!"


Gisella tersenyum manis mendengar ucapan pria dihadapannya.


" Anda belum menjawab tentang pertanyaan saya tadi, pak Chris dimana sekarang..? Apakah beliau punya posisi baru di perusahaan ini..?"


"Oh, itu. Beliau sudah pensiun. Beliau belakangan mengalami penurunan masalah kesehatan, jadi beliau mengundurkan diri, tentu saja perusahaan ini sangat merasa kehilangan, tapi mau bagaimana. Hak pak Chris melakukan itu,"


Gisella manggut-manggut mendengar penjelasan Revand. Sebenarnya pertanyaan nya itu hanya sebuah pancingan. Hal yang sebenarnya yang diinginkan oleh Gisella adalah penjelasan kenapa pria dihadapannya ini bisa menjabat posisi direktur. Yang ia tahu, perusahaan ini tidak memiliki seorang pewaris. Tidak punya anak yang bisa diharapkan menjadi penerus, jika pria ini bukan anak dari pemilik perusahaan ini, itu berarti posisi yang ia dapatkan sekarang benar benar diperoleh berdasarkan prestasi...? Hebat sekali. Sudah muda, tampan, cerdas pula. Sasaran empuk...


Batin Gisella. Berbeda sekali dengan pacar gelapnya sekarang. Sudah tua, kulit tidak kencang lagi, meskipun tubuh nya dibalut dengan pakaian branded ternama. Tetap saja umur tua itu tidak bisa disembunyikan. Melihat betapa muda dan segarnya pria dihadapannya sekarang, membuat gairah Gisella meninggi. Wanita itu memperhatikan cincin yang melingkar dijari pria tersebut. Pasti sudah menikah... pikirnya. Gisella jadi ingin tahu wanita seperti apa yang bisa mendapatkan hati pria tampan seperti direktur muda didepannya ini.


"Ohya direktur. Soal waktu yang saya katakan tadi, kenapa kita tidak mengatur pertemuan diluar untuk kembali bertemu. Anda boleh mengajak istri anda, jika khawatir istri anda mencemaskan hal itu,"


Gisella kembali melancarkan jurus nya yang lain. Revand terdiam sejenak.


"Baik. Akan saya pertimbangkan, nanti saya kabari lagi soal itu, tapi anda juga jangan lupa untuk datang bersama bos anda jika pertemuan ini kembali berlangsung, agar bisa sekalian berdiskusi saja,!"


Senyum Gisella merekah. Tidak sabar rasanya, ia ingin melihat bagaimana rupa istri pria ini. Agar selanjutnya, Gisella bisa menyusun rencana yang sudah sekian kali ia lakukan jika bertemu target baru.


"Istri anda sangat beruntung mendapatkan pria mapan seperti anda. Saya sangat ingin mengenal lebih jauh istri bapak agar saya bisa belajar cara mendapatkan hati pria seperti anda,!"


" Anda terlalu berlebihan. Tapi yang jelas, saya yang merasa beruntung mendapatkan wanita yang sekarang menjadi istri saya. Sejak saya masih dibawah, masih pegawai magang, hingga sampai diposisi sekarang, dia selalu mendampingi saya dengan setia,!".


Sial....baru kali ini ada pria yang memuji istri nya didepan wanita cantik seperti gue Biasanya, setiap pria yang melihat gue pasti berusaha keras untuk menyembunyikan statusnya, yang ini bukan hanya terbuka tentang statusnya, tapi juga memuji istri nya, sialan. Kenapa makin pengen gue menaklukkan pria ini ya, dia punya segudang daya tarik yang jarang dimiliki oleh para pria,"


"Maaf. Apakah saya menyinggung perasaan anda,?"


Tanya Revand ketika melihat Gisella hanya diam sembari terus menatapi nya.


"Ah, Tidak. Saya justru kagum dengan anda. Anda terlihat begitu sangat mencintai istri anda, saya semakin iri dengan istri anda,"


"Ya, mau bagaimana lagi. Istri saya punya segudang daya tarik yang tidak saya temui dalam diri wanita lain, jadi maklum kalau saya begitu mencintai nya,!"


Terus saja puji istri lu, gue mau tau apa lu bisa tetap memuji istri lu itu setelah lu tau gue ini lebih punya banyak daya tarik dibandingkan istri lu itu ..


"Ya sudah. Kalau begitu saya pamit. Ini kartu nama saya, anda bisa menghubungi saya disitu ketika anda sudah menentukan hari yang tepat untuk kita atur pertemuan berikutnya,"


Gisella meletakkan kartu namanya dihadapan Revand. Revand menanggapi hal itu hanya dengan senyum. Dibiarkan nya wanita sexy itu pamit. Lalu keluar dari ruangan nya.

__ADS_1


Sepeninggal Gisella. Roy sahabatnya muncul. Revand mengerut kan alis melihat ekspresi sahabat nya itu kepada nya.


"Kenapa menatap gue begitu sih,?"


Roy merampas kartu nama Gisella yang ada ditangan Revand dan membaca nya.


"Hati hati ama ni cewek, gue denger dia pelakor ulung,"


Revand makin tidak mengerti dengan maksud sahabatnya itu.


"Pelakor...? Wanita berpendidikan seperti dia bisa melakukan itu...?"


"Vand. Zaman sekarang mau berpendidikan atau kagak, kalau udah kena penyakit demen laki orang, pasti udah jatuhin harga diri sendiri, gue takut lu jadi goyah, terus menyakiti istri lu, ingat Sherlin itu wanita terbaik yang harus lu jaga,!"


Revand tertawa mendengar ucapan sahabat nya yang dinilai tidak masuk akal.


"Lu pikir, gue kagak pernah ketemu cewek genit...? Roy, gue udah sering ketemu cewek bermacam macam label, lu kagak usah khawatir, Sherlin tetap yang terbaik buat gue,!"


"Tapi ini Gisella Vand. Gisella Anastasia Lin. Dia bukan pelakor biasa. Gue tau banget gimana dia bisa menghancurkan rumah tangga temen gue, sampe kemudian temen gue cerai. Temen gue itu setia mirip ama lu, tapi ternyata tergoda juga ama tu cewek,!"


"Yang gue takutkan justru elo. Gimana kalau lu yang kegaet pesona dia...? Rumah tangga lu udah 3 tahun berjalan, tanpa anak, itu bakal jadi santapan lezat pelakor pelakor yang ngerasa itu kartu AS dia buat ngerusak hubungan rumah tangga yang seperti itu, beda ama gue, masih baru, masih anget, meski gue udah pacaran lama dengan Sherlin, tapi baru beberapa hari ini gue bisa ngeliat body dia yang aduhai itu. Gue makin gila lah ama dia, kagak ada celah buat pelakor mengusik perhatian gue dari pesona Sherlin,!"


"Ya elah. Jabatan lu emang naik. Udah kece. Tapi ternyata otak lu masih jongkok. Lu ama gue beda Vand, liat gue karyawan biasa, gaji pas pasan, face juga kagak ganteng ganteng amat, mana mau pelakor ganggu rumah tangga gue meskipun gue punya celah. Posisi macam lu ini yang jadi incaran para pelakor. Inget pelakor itu bisa dapat duit banyak kalo ngerayu cowok yang punya dompet tebal, lah dompet gue kempis gini, mana bisa ,!"


"Tapi lu tetap perkasa kan...?"


Pertanyaan Revand membuat Roy meninju bahunya. Revand tergelak.


" Kalau kagak perkasa, kagak mungkin lah istri gue masih setia ama gue,!"


Roy bersungut-sungut saat menjawab pertanyaan Revand.


"Itu juga daya tarik. Lu pikir pelakor mau ama pria yang banyak duit tapi kagak jantan hahaha,!"


Roy mesem mesem mendengar banyolan sahabat nya itu. Hingga ia teringat satu hal...


"Yang harus dipertanyakan itu elo. Elo jantan kagak...? Udah tokcer kagak malam pertama lu...?"


Bisikan Roy membuat Revand teringat kejadian konyol saat malam pertama ia dan Sherlin tempo hari. Jika sahabatnya ini tahu, ia sekarang masih perjaka, dan Sherlin masih perawan, tentu sahabat nya ini akan menertawakan nya hingga tenggorokan nya sampai putus. Gara gara tamu bulanan istrinya, ia harus menunda menikmati malam pertama nya dengan sang istri, bah...!!


( Setiap manusia punya daya tarik nya masing masing, karena setiap manusia diciptakan punya kelebihan dan kekurangan nya masing masing, jadi jangan merasa kalian tidak mempunyai daya tarik dimata orang lain. Satu hal yang harus kalian ingat. Daya tarik yang sebenarnya itu bukan hanya indah secara fisik semata. Tapi juga memiliki hati yang indah, karna keindahan fisik akan sirna seiring bertambahnya usia, tapi hati yang indah tetap abadi sampai dibawa mati...)

__ADS_1


* Dilarang memplagiat isi cerita novel ini ya, karena isi cerita ini orisinil karya imajinasi saya sendiri selaku penulis nya, imajinasi plus berdasarkan pengalaman disekitar yang sudah bisa dipertanggungjawabkan kebenaran pendapat pendapat bijak nya, jangan lupa like, vote n komen jika suka😘*


__ADS_2