SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 16. TIDAK ADA ALASAN ( 21+)


__ADS_3

Gisella pulang dari rumah Revand dengan perasaan kesal mendominasi. Sedikit pun ia tidak dapat celah untuk menarik perhatian Revand selama disana, justru yang ada mereka semua seolah olah pamer kebahagiaan dihadapan nya, hingga membuat Gisella semakin muak. Potret keluarga Revand dan istri nya benar benar membuat Gisella iri. Sherlin begitu bahagia. Revand memperlakukan wanita itu dengan sangat spesial. Jauh di lubuk hati Gisella ia juga ingin mendapatkan hal semacam itu. Dianggap spesial, diperlakukan baik, lembut, dan dielu elukan.


Ponsel Gisella berbunyi. Lamunan Gisella tentang rasa iri nya pada Sherlin buyar. Dilayar ponsel terpampang nama bos sekaligus pacar gelapnya.


"Aku mau ketemu kamu malam ini..."


Kata pria tersebut ketika Gisella menerima panggilan tersebut.


"Emangnya istri mu bisa ngelepasin kamu malam ini...?"


Sahut Gisella merasa surprise pria itu ingin bertemu dengan nya malam akhir pekan seperti ini. Biasanya, Gisella selalu merasa kesepian setiap kali akhir pekan. Karena, pacarnya tersebut harus memberikan seluruh waktu nya untuk keluarga nya.


" Waktuku malam ini untuk kamu.."


Senyum Gisella merekah. Ternyata hidupnya tidak sesuram yang ia bayangkan. Lumayan, malam ini ia bisa melarikan rasa terpuruk nya saat melihat Revand dan Sherlin terlihat sangat bahagia.


Mungkin aja dia juga mau bicara soal perceraian dengan istrinya itu ..


Gisella membatin. Ia memutar arah. Menuju alamat hotel yang diberikan bosnya tersebut. Tidak jadi pulang.


Gisella mengira, ia yang datang lebih dulu, ternyata perkiraan nya salah. Bosnya sudah menunggu nya disalah satu kamar hotel tersebut. Melihat Gisella, pria itu segera memberi kode. Dan Gisella paham kode tersebut.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu sayang..."


Kata pria setengah baya itu sesaat setelah mereka usai berciuman.


"Penting atau nggak..?"


Tanya Gisella dengan nada manja. Entah kenapa ia membayangkan kalau saat ini ia sedang bersama Revand dikamar tersebut, dan halusinasi Gisella membuat sikap wanita itu menjadi dua kali lebih menggairahkan di mata bosnya.


" Penting. Tapi sekarang yang terpenting mari kita lakukan yang tidak bisa ditunda dulu..."


Habis berkata seperti itu, pria itu meraih tubuh Gisella. Menghempaskan nya keatas tempat tidur, dan tergesa membuka seluruh pakaian wanita tersebut. Sementara Gisella yang berhalusinasi tingkat tinggi menyambut apa yang dilakukan pria tersebut. Keduanya saling mencari titik kepuasan masing masing lewat sentuhan sentuhan yang mereka lakukan ditubuh satu sama lain, hingga membuat pergumulan mereka semakin memanas. Baik Gisella maupun bosnya, sama sama dipuncak gairah. Gisella menganggap bosnya itu Revand, sementara bosnya memang selalu bergairah jika berhubungan intim dengan Gisella, tubuh Gisella yang indah dan jauh lebih kencang dibanding istrinya itulah alasan mengapa pria tersebut begitu bergairah, hingga di puncak permainan panas mereka, pria tersebut dibuat terkejut ketika Gisella justru menyebut nama Revand dalam desisannya.


Semula, pria itu menganggap ia salah dengar. Akan tetapi, hal itu terulang lagi ketika lagi lagi Gisella mencapai klimaks nya. Ini membuat pria tersebut spontan menyudahi permainan nya meskipun ia sendiri belum puas seperti sebelumnya jika berhubungan intim dengan Gisella yang mana, ia bisa mencapai klimaks berkali kali.


"Kamu naksir direktur muda itu ..!"


Kata pria itu dingin. Gisella tersadar.


"Sayang, tadi itu..."


"Aku lebih tau Gisella. Seseorang yang menyebut nama orang lain saat tengah berhubungan intim itu artinya tengah membayangkan orang itu bercinta dengan nya, tubuh kamu memang disini, tapi pikiran kamu di Revand..!!"


Gisella bangkit. Menyambar selimut untuk menutupi tubuh polosnya, lalu mendekati pria tersebut berusaha untuk membujuk, namun bosnya tersebut tidak bergeming. Memang selama ini Gisella tidak pernah setia. Berhubungan baginya hanya untuk mencari hiburan, akan tetapi baru kali inilah ia melakukan kesalahan besar saat berhubungan intim dengan pria yang dikencaninya. Menyebut nama pria lain ketika ia berada dipuncak klimaks. Terang saja bosnya merasa marah.


Sial...! Kenapa gue nggak bisa mengendalikan perasaan gue ini sih. Kenapa seluruh aliran darah gue justru menyerukan nama Revand.


Gisella memaki dirinya sendiri dalam hati.


"Aku tahu Gisella, hubungan kita ini mungkin tidak ada alasan yang perlu diperhatikan karena kita memang tidak bisa melakukan ini secara terang terangan, akan tetapi menyebut nama pria lain saat aku yang memberimu kenikmatan apa itu pantas...? Aku yang memberikan mu segalanya, dan kau berharap itu kau dapatkan dari Revand..? Katakan. Apa selama dinas di Banjarmasin kalian sudah melakukan hubungan intim...?"


Mendengar ucapan bosnya, Gisella bangkit berdiri. Sikapnya yang tadi ingin melunakkan kemarahan pria itu terhenti seketika. Gisella tidak suka di katakan sudah berhubungan intim dengan Revand padahal ia belum bisa melakukan hal itu faktanya. Ini membuat hati Gisella tergores. Spontan gadis itu menjadi kesal. Bayangan bayangan perjuangan nya merayu Revand berkelebat satu persatu. Dalam sejarah Gisella, belum ada pria yang setangguh itu ditundukkan nya. Revand benar benar menbuatnya gila.


"Jangan berlebihan.Kamu pikir, aku nggak cemburu setiap kali kamu tamasya dengan istri kamu keluar negeri...? Apalah arti perbuatan kecilku tadi, dibanding apa yang kamu lakukan padaku...?"


Gisella mencoba membela haknya. Dan pria itu mendongak balas menatap Gisella dengan tatapan tidak suka.


"Aku sudah membayar semua rasa cemburu kamu itu dengan harta dan kedudukan. Kamu pikir, kamu cerdas hingga bisa mendapat kan posisi mu yang sekarang...? Gisella, tanpa wajah cantik dan tubuh sexy kamu ini, kamu tidak ada artinya...!"


"Cukup pak...!! Baik. Sekarang kita perjelas saja hubungan kita yang memang tidak pernah ada kejelasan, kita akhiri saja hubungan kita ini. Karena bapak sangat egois, saya keberatan dengan tindakan bapak ini, bapak hanya memikirkan perasaan bapak sendiri tapi tidak pernah memikirkan perasaan saya, jadi buat apa untuk diteruskan,"

__ADS_1


Gaya bicara Gisella berubah. Seperti sedang berbicara dengan bosnya ini dijam kerja, dan itu membuat pria dihadapannya semakin naik pitam.


Pria itu segera memakai kembali pakaiannya yang berserak dilantai karena tadi mereka berada dipuncak gairah. Kini gairah itu berubah menjadi amarah. Ia tidak menyangka setelah semua yang ia lakukan, Gisella justru bisa mengucapkan kalimat tersebut. Ia memang tidak bisa menikahi wanita ini, akan tetapi ia ingin bersama Gisella selamanya, dan untuk itu ia sanggup memberikan apapun untuk wanita itu diluar sepengetahuan sang istri.


Tapi menyadari Gisella suka dengan pria lain, entah kenapa ia tidak terima. Ia tahu ia egois, akan tetapi ia merasa ia pantas menguasai Gisella seorang diri karena ia sudah keluar biaya banyak untuk hal itu.


"Kenapa kamu begitu mudah membuang orang yang memungut mu..?"


Bos Gisella melayangkan pertanyaan tersebut dengan nada dingin.


"Tidak ada alasan yang bisa membuat saya untuk mempertahankan bapak, karena bapak juga tidak pernah punya alasan yang cukup untuk memprioritaskan saya...!!"


"Apa kamu sadar posisi kamu itu apa...? Kenapa kamu meminta hal yang tidak seharusnya kamu pinta...?"


"Saya juga wanita pak. Saya juga ingin diprioritaskan, bukan seseorang yang bisa bapak datangi ketika bapak bosan dengan mainan lama bapak,"


"Kamu.."


"Jangan berteriak dihadapan saya pak. Kalau hubungan bapak ini bocor kemedia, bapak tau sendiri akibatnya kan, jadi berhenti bersikap seolah olah bapak yang paling benar disini...!"


"Kamu mengancam ku...?"


"Tidak, kalau bapak paham maksud saya...!"


Pria setengah baya itu mendengus.


"Kamu benar benar menyukai direktur itu...?"


"Teruskan saja asumsi bapak itu saya tidak akan membantahnya...!"


Kedua tangan bos Gisella mengepal.


"Jangan lupa, mobil dan rumah itu sudah atas nama saya..!"


"Kecuali itu ..!"


"Maksud bapak...?"


"Keluar dari kantorku mulai sekarang. Aku tidak mau melihat mu di kantorku..!!"


"Apa...?"


"Masih ada kesempatan untuk kamu memohon padaku Gisella, kalau kamu mengakui bahwa tanpa aku, kamu tidak bisa apa apa, memohonlah, maka aku juga akan mengabulkan permohonan kamu itu...!!"


"Oke. Kalau begitu saya mohon lepaskan saya saja bosku sayang yang terhormat...!!"


Brengsek...!!!


Pria setengah baya itu memaki dalam hati. Gisella benar benar ingin menantang nya. Ini tidak pernah ia perkirakan sebelumnya. Amarah pria itu semakin membara. Jika saja ia tidak mengingat akan ada media yang akan memuat berita nya sebagai berita utama, tentu sekarang ia sangat ingin melakukan kekerasan pada wanita simpanan nya ini.


Sementara itu, habis memakai pakaian nya kembali, Gisella segera keluar dari kamar tersebut. Kemarahan nya juga sama memuncak nya. Ia tidak terima dengan sikap yang diberikan bosnya tersebut tadi.


Hanya menyebut nama pria lain saat berhubungan intim, bikin kamu emosi, bagaimana dengan aku yang selalu melihat kamu menghabiskan waktu bersama dengan keluarga kamu...


Gadis itu memaki tiada henti sembari terus membawa dirinya pergi dari tempat itu.


Aku memang bodoh, tapi kalian para pria menurutku yang paling bodoh, karena nggak bisa menahan godaan wanita cantik dan sexy meskipun sudah memiliki anak dan istri ..


***


Zill membuka pintu kamar hotel ketika berulang kali bel pintu kamar hotel selalu berbunyi. Pemuda itu baru saja selesai mandi. Dan selama ia mandi ada saja hal yang membuat ia tidak bisa menikmati waktu pribadi nya sendiri.

__ADS_1


"Tuan muda, tolong angkat telpon dari nyonya besar tuan..."


Salah satu bodyguard nya berdiri didepan pintu langsung mengucapkan kalimat itu dihadapan nya.


"Kamu tuli...? Aku sudah bilang, nggak mau menerima telpon dari rumah kenapa suka sekali memaksaku mengulang kalimat yang sama...!!"


Suara Zill meninggi saat mengucapkan kalimat tersebut. Pria berjas hitam dihadapan nya tersebut menunduk dalam tanpa berani bersuara. Zill mendengus.


"Baiklah. Kamu pergi sana. Aku terima telpon nya untuk yang terakhir kali...!!"


"Saya tidak dipecat kan tuan muda...?"


"Belum saatnya...!"


Salah satu pengawal Zill tersebut menghela nafas lega. Hampir saja ia jadi pengangguran. Sulit sekali menghadapi sikap keras putra bos besarnya ini. Ia fikir, setelah pulang dari luar negeri, putra tunggal bosnya ini menjelma menjadi seorang pria yang berwibawa dan penuh karisma. Tapi ternyata justru berubah sangat menyeramkan. Tersenyum saja tidak pernah. Hal ini membuat pemuda itu terkesan terlihat dingin, angkuh dan sangat sulit diajak berkomunikasi.


"Kebanyakan makan salju kali waktu di luar negeri ni orang.."


Gerundel nya ketika tuan mudanya sudah kembali menutup pintu.


Sementara didalam...


"Ya Hallo."


Dengan nada malas Zill menerima juga telepon dari ibunya tersebut.


" Kamu dimana nak. Sudah di Samarinda kan, pulanglah, mami kangen kamu.."


Suara ibunya terdengar diseberang sana.


"Aku nggak mau pulang mi.."


Kata Zill datar.


"Kenapa...? Kenapa kamu tidak mau pulang kerumah nak. Kamu tidak kangen rumah...? Sudah cukup selama ini kamu menutup akses komunikasi dengan kami selama kamu di Jepang, sekarang, apakah kamu tetap melakukan itu pada kami...?"


"Karena nggak ada alasan yang tepat yang bisa membuat ku melangkah pulang mami..."


"Tapi kamu kembali kan ..? Itu sudah jadi pertanda kamu punya alasan untuk pulang..."


"Aku punya, tapi bukan alasan untuk pulang kerumah, hanya pulang kenegaraku, dan pulang kekotaku aja.."


Habis berkata begitu, Zill melempar ponsel nya keatas tempat tidur. Wajah tampan nya merah padam. Ekspresi dinginnya bertambah dingin.


Terus saja kalian bersikap kekanak-kanakan agar aku tidak ada alasan untuk menemui kalian dirumah...


Maki pemuda itu sambil merobek tabloid yang ada diatas meja disamping tempat tidur nya lalu melempar nya kesembarang arah.


Tulisan utama dalam tabloid itu adalah...


"Presdir Rolland Mahendradatta tertangkap kamera sedang terlibat pertengkaran diarea kantor mereka, disinyalir, hal itu dipicu permasalahan rumah tangga mereka yang tidak pernah terselesaikan dengan baik dari kedua belah pihak"


Berita macam apa itu...! Memalukan..! Nggak usah married kalau nggak bisa menyelesaikan masalah dengan baik...!!


Maki Zill dengan suara membahana...


Note: Ketika seseorang sudah mantap memutus kan untuk menikah, artinya ia sudah siap lahir dan batin untuk menghadapi situasi yang ada pasca menikah. Tidak lagi egois, tidak lagi serampangan dalam berbuat, agar kelak generasi yang dilahirkan merasa bangga sudah terlahir dari benih orang tua yang bisa memberi teladan yang baik...


**Jangan lupa like, vote, dan komennya jika suka ya 😉 dukungan kalian bikin author semangat update meski kurang vit😇 terima kasih selalu stay disini💖


Bersambung**...

__ADS_1


__ADS_2