SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 51. KEINGINAN AYAH (2)


__ADS_3

Wanita yang sedari tadi menangis sesenggukan ditepi pembaringan itu mengangkat wajah dan menoleh ketika Sherlin sudah sangat dekat dengan tepi pembaringan.


Meski sepasang mata wanita itu sembab, namun melihat kehadiran Sherlin bersama Zill wanita itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Kebahagiaan berbalut luka.


"Saya, ikut berbelasungkawa atas meninggalnya suami ibu. Insya Allah beliau sudah tenang sekarang. Karena tidak lagi menahan sakit seperti saat beliau masih hidup.."


Sherlin mengucapkan kalimat tersebut, dengan sangat hati-hati. Mendengar ucapan Sherlin, spontan wanita itu memeluk tubuh mungil Sherlin dan mengucapkan kalimat terima kasih dengan suara parau.


Ada rasa nyaman saat Sherlin dipeluk seperti itu. Pelukan itu terasa sangat tulus. Sherlin seperti merasa sedang dipeluk oleh ibunya sendiri.


Sementara Zill segera menghampiri sisi kepala pembaringan. Menyingkap kain putih yang menutup bagian wajah tubuh yang terbaring diatas ranjang opname tersebut. Raut wajah Zill seolah membeku melihat, betapa benar, wajah ayahnya lah yang ada dihadapannya sekarang.


Wajah pria yang dulu pernah dibenci Zill lantaran telah bermain cinta dengan perempuan lain dibelakang ibunya. Hingga membuat ibunya stres dan tidak mempedulikan nya lagi kesepian atau tidak.


Zill terlihat berusaha keras menahan perasaan nya. Sang ibu beralih memeluk tubuh tinggi putranya, dan kembali terisak untuk sesaat.


Terasa sekali, suasana berkabung didalam ruangan tersebut. Hingga kemudian, asisten pribadi ayah Zill meminta izin untuk melakukan serangkaian prosedur untuk membawa jenazah ayah Zill kerumah duka.


Zill dan ibunya serta Sherlin keluar dari ruangan tersebut, dan duduk diluar dengan wajah suram.


"Terima kasih, kamu mau datang, meskipun kamu terlambat untuk ada disaat saat terakhir ayah kamu nak. Tapi itu mami artikan, bahwa kamu sudah memaafkan ayah kamu..!"


Suara ibu Zill terdengar sesaat setelah mereka hanyut dalam diam.


"Sebenarnya kenapa bisa terjadi mi, bukankah kemarin kondisi papi sudah membaik, kenapa mami tidak membawa papi keluar negeri aja agar papi bisa ditangani dengan baik...?"


Ada nada emosi terdengar dalam ucapan Zill barusan. Sherlin ingin bersuara, agar Zill bisa mengontrol emosi, namun ia merasa ia tidak punya andil untuk melakukan hal itu. Dia bukan siapa siapa.


"Ayahmu yang tidak mau dibawa berobat keluar negeri. Beliau sudah seperti ini sejak beberapa tahun terakhir, hanya berpura pura kuat saja. Beliau seperti itu ingin menebus dosa dimasa lalu, padahal mami benar benar sudah memaafkan ayahmu.."


Wanita itu tidak kuat untuk meneruskan ucapannya. Seperti nya hati dan jiwanya masih tidak bisa menerima semua yang sekarang sudah terjadi.


"Nak. Ibu boleh tau nama kamu siapa...? Kamu datang bersama putraku. Apakah kalian saling kenal...? Atau kalian memang sudah berhubungan...?"


"Mami, Sherlin itu bukan ..."


Zill tidak menerus kan ucapan nya. Entah kenapa, rasanya hatinya berkata berbeda dengan apa yang akan ia ucapkan dibibir. Zill memaki sendiri.


"Ah, Bu. Sebenarnya, hubungan saya dengan Zill itu sebatas teman aja, maaf ya. Saya dan Zill terlibat hubungan bisnis karena itulah saya kenal dengan dia, hanya aja saya tidak tahu kalau Zill ini adalah putra ibu yang dulu pernah ibu cerita kan itu..."


Sherlin buru buru menjelaskan situasi hubungan ia dan Zill, karena ia tidak ingin merusak hubungan baik nya dengan Zill karena ada rasa salah paham.


Wanita dihadapan Sherlin menarik nafas kecewa.


"Ibu kira Zill kemari memang sedang membawa calonnya, tadinya ibu sudah gembira sekali. Tapi tidak apa. Hanya dengan menjadi teman putra ibu saja, kamu sudah bisa membawa putra ibu menengok almarhum ayahnya. Terima kasih ya. Kamu wanita yang membawa aura positif untuk putraku...!"


Wajah Zill jadi merah mendengar ucapan frontal ibunya kepada Sherlin. Sedang Sherlin pun merasa jengah dengan situasi itu.


"Nama saya Sherlin Hapsari Bu, senang berkenalan dengan anda, terima kasih, ibu tidak keberatan putra ibu berteman dengan saya .."


Sherlin bicara demikian untuk mencairkan suasana.


"Nama kamu bagus, sebagus sifat kamu nak. Ibumu pasti bangga punya anak gadis seperti kamu. Kenapa harus keberatan...? Justru ibu lebih suka kalian bisa lebih dari teman..!"

__ADS_1


"Mi...!"


Zill memotong ucapan Ibunya. Wajahnya sudah terasa sangat panas. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa dihadapan Sherlin, saat mendengar kata demi kata sang ibu, yang menerbitkan perasaan aneh menjalar lembut dihatinya.


Perasaan yang sebenarnya tidak ingin ia nikmati, tapi ternyata ia juga tidak bisa untuk mengingkarinya, karena ternyata itu sangat indah.


"Zill. Wajarkan mami bicara seperti itu, ini ada hubungannya dengan keinginan ayah kamu. Keinginan terakhir ayah kamu, almarhum ayah kamu berpesan pada mami, selain harus tetap jujur mengelola perusahaan, ayah kamu juga ingin kamu segera menikah nak. Umur kamu sudah pantas untuk menikah, jika kamu mengabaikan hal ini, ayah kamu juga tidak akan tenang diperistirahatan terakhir nya..!"


Zill terdiam. Menikah ..? Pacar saja dia tidak punya. Bukan tidak ada yang suka. Masalah nya adalah, Zill yang kesulitan untuk merasa suka pada wanita.


Belakangan ini hanya Sherlin yang bisa membuat hatinya tergetar. Meski ia berusaha untuk membuang perasaan itu, karena ia tidak mau menodai persahabatan mereka dengan perasaan cinta, dan tidak mau merusak rumah tangga orang lain, seperti halnya Gisella yang nyaris menghancurkan rumah tangga orang tuanya dulu.


Apa yang harus aku lakukan sekarang, kenapa Tuhan memberikan perasaan nyaman ini jika aku bersama Sherlin. Apa salahku Tuhan. Ayahku yang menodai sebuah pernikahan, apakah aku juga harus menodai pernikahan orang lain, karena perasaan ini...


***



Ketika Sherlin pulang, dan masuk kedalam kamar nya, ia melihat suami nya berdiri didekat jendela kamar, sembari menatap keluar. Seperti nya pria itu sedang memikirkan sesuatu.


Melihat sang istri muncul, Revand segera menghampiri. Tatapannya penuh selidik.


"Kenapa baru pulang...?"


Tanyanya dengan nada suara datar.


"Maaf. Ayah Zill meninggal aku nggak bisa main pulang begitu aja sampai mereka selesai mengurus kepulangan jenazah nya.."


Revand terdiam. Ia tahu. Ia tahu kabar itu. Karena seluruh berita memberitakan hal itu dimana mana, tentang berita meninggalnya pria berpengaruh dibidang bisnis tersebut. Tapi bukan itu sebenarnya yang sedang mengganggu fikirannya. Pemberitaan sebelumnya, yang menyebutkan bahwa keluarga Mahendradatta punya calon menantu itulah yang membuat ia panas.


"Kamu marah...?"


Sherlin menghampiri suaminya dan duduk disamping sang suami.


Revand diam. Jika sebelum nya, ketika ia sedang kesal, ia pasti memaksa Sherlin untuk melayani nya, kini sedapat mungkin, keinginan itu ditahannya. Revand ingin berubah. Tapi jujur, itu benar benar sulit untuk ia lakukan, apalagi jika sedang cemburu seperti ini.


"Vand...?"


Hibur aku Sherlin. Redakan emosi ku ini dengan sentuhan lembut mu itu...


Hati Revand berkata seperti itu. Sherlin meneliti raut wajah suaminya. Wanita itu mengendus hal yang tidak beres dengan sikap suami nya.


"Kenapa kamu nggak cerita, kalau kamu kenal dengan keluarga Mahendradatta.."


Suara Revand dingin terdengar di telinga Sherlin.


"Kamu marah soal itu...? Aku bisa jelaskan. Aku nggak kenal, aku cuma kenal dengan Zill aja, emang dulu aku pernah nolongin seorang wanita, belakangan aku baru tau kalo itu adalah ibunya Zill, aku benar benar nggak tau.."


Revand berpaling. Ditatapnya wajah cantik istri nya..


Aku tidak mau orang lain mengklaim kamu itu calon istri pria lain Sherlin. Aku cemburu.


Revand kembali bergulat dengan batinnya. Ia mengusap wajah nya. Ketika melihat kesungguhan diwajah istrinya, seluruh kalimat yang tadi berjejalan ingin ia muntahkan menjadi sebuah kalimat untuk memarahi istrinya terhenti ditenggorokan.

__ADS_1


Wajah lelah tapi tetap cantik itu tidak berbohong.


"Aku tahu. Aku percaya. Tapi aku keberatan jika mereka menyebut kamu calon istri Zill, kamu itu istri ku. Kamu milikku. Aku keberatan mendengar pemberitaan itu, tadinya aku mau menuntut Zill dan keluarga nya setelah melihat berita itu, tapi tadi aku melihat mereka sedang berkabung, aku jadi menunda nya, apa aku salah mempersoalkan hal ini...? Gosip itu sampai kekantor ku dan teman temanku mengira, kamu selingkuh sayang...!!"


Sherlin bengong. Mendadak ucapan Zill tadi terngiang kembali ditelinga nya..


Apa kamu udah liat berita...


Wajah Sherlin memucat. Sungguh ia tidak tahu kalau ada berita seperti itu. Revand mengecek internet lewat ponsel ditangannya. Lalu ia menyerahkan ponsel itu kepada sang istri. Sherlin segera membaca berita yang ada di internet. Wajahnya semakin memucat.


"Ini, kenapa mereka mengklaim berita begini...? Aku nggak percaya keluarga Mahendradatta bisa melakukan hal seperti itu. Ini berita palsu. Kejadian nya nggak seperti ini..!"


Revand menatapi wajah panik sang istri. Ia bisa melihat betapa Sherlin terlihat shock setelah membaca berita tentang dirinya. Kepanikan yang tidak dibuat buat. Ini yang membuat api emosi Revand jadi sedikit memudar. Istrinya terlalu polos. Tidak mungkin melakukan hal yang aneh aneh. Keluarga Mahendradatta lah yang harus nya dituntut.


Namun menuntut saat situasi mereka sedang berkabung, tentu bukan hal yang baik.


Zill kenapa tidak mengklarifikasi berita ini ya, apa dia sengaja menciptakan gosip ini..


Sherlin jadi berfikir yang tidak tidak pada Zill sekarang. Otaknya mendadak penuh. Tiba tiba dia teringat sesuatu..


"Aku tau, gimana caranya para wartawan itu berhenti membuat berita ngaco...!"


"Caranya...?"


Revand jadi penasaran dengan apa yang difikirkan sang istri.


"Kita kerumah Zill, melayat. Dengan begitu wartawan tau aku dan kamu suami istri, dan gosip itu akan hilang. Kita juga bisa langsung klarifikasi kalau mereka bertanya kan. Aku yakin di rumah Zill ada banyak wartawan, banyak wartawan yang ingin meliput berita berkabung itu...!"


Revand menarik sudut bibirnya ketika mendengar ide sang istri.


"Benar juga. Aku setuju..!"


"Eh, kamu setuju...?"


Sherlin tidak bisa menyembunyikan kekagetan nya ketika mendengar persetujuan suami nya.


Aneh, biasanya Revand paling anti dengan Zill, kenapa sekarang dia seperti bersikap bersahabat dengan Zill...


Lamunan Sherlin buyar ketika tiba tiba suami nya menarik tubuh nya dan menarik nya keatas tempat tidur.


Sherlin gelagapan ketika Revand menciumi nya.


"Vand, bukannya kita harus bersiap siap kerumah Zill..? Kenapa kamu malah nyerang aku gini sih.."


Disela sela ciuman sang suami, Sherlin mengucapkan kalimat tersebut. Tubuhnya menggeliat menahan geli ketika ciuman itu mendarat dibagian leher nya. Revand melakukan tanda kepemilikan di leher jenjang istri nya.


"Iya, aku memang setuju dengan ide kamu tadi, tapi sebelum itu, kamu harus dihukum dulu, karena udah bikin aku cemburu dengan berita itu...!"


Sherlin baru paham sekarang. Namun ia bisa merasa kan meski sang suami cemburu, tapi sentuhan nya tidak sebrutal biasanya ketika sang suami cemburu. Revand memang di bawah nafsu yang menggila sekarang, tapi sentuhan nya kali ini tetap lembut, tidak terkesan bercampur emosi. Ini yang membuat Sherlin akhirnya hanya bisa pasrah ketika sang suami melucuti pakaiannya. Revand menyentuh nya penuh cinta. Bukan berbalut emosi...


Note: Lakukanlah sesuatu dengan penuh cinta, maka sesuatu yang kita lakukan akan penuh makna.


👉 Pembaca yang baik pasti tahu kemauan author nya 😘

__ADS_1


bersambung


__ADS_2