SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 17. AIRMATA.


__ADS_3

Sherlin dan ibunya sudah sampai disalah satu pusat perbelanjaan. Hari ini mereka akan berbelanja bulanan. Karena Revand sedang sangat sibuk sibuknya, jadi Sherlin yang biasanya mengajak sang suami berbelanja jadi tidak tega jika merongrong Revand untuk pergi bersama nya juga. Biarlah. Toh, hitung hitung sekalian mengajak ibunya jalan jalan.


"Ma, aku ke bagian sayur sayuran dulu ya,"


Pamit Sherlin ketika melihat sang ibu masih asyik meneliti berbagai macam jenis ikan. Sang ibu mengangguk. Terbiasa belanja dipasar tradisional, wanita setengah baya itu terbengong bengong dengan barang barang yang dipajang di supermarket tersebut.


Sementara Sherlin meneliti beberapa jenis paprika dan juga brokoli karena dua jenis sayuran tersebut salah satu favorit Revand. Usai mendapat kan brokoli dan paprika terbaik, Sherlin beralih ke rak bagian susu. Ia mencari susu untuk ibunya. Kebiasaan ini sudah ia lakukan sejak dulu. Meski gajinya sebagai waiters tidak seberapa, namun Sherlin tetap membelikan susu khusus usia lanjut untuk ibunya. Dengan harapan, kondisi ibunya tetap terjaga dengan baik.


Akan tetapi, susu yang biasa dibeli Sherlin untuk ibunya berada dirak paling atas, tinggi tubuhnya tidak mampu mencapai rak tersebut, hingga kemudian ia sedikit kesulitan meraih kotak susu yang diinginkan nya.


Ketika ia sedang kesulitan itulah, tiba tiba sesosok tubuh tinggi dibelakang nya membantunya untuk meraih kotak susu yang diinginkan nya tersebut, dan memberikan nya pada Sherlin, meski wajah nya tidak menunjukkan ekspresi apapun.


"Ah, makasih ya. Aduh, aku tadi udah bingung aja cara ngambilnya gimana..."


Sherlin membungkuk hormat pada orang yang tadi menolong nya. Ia meraih kotak susu yang disodorkan pria itu padanya.


"Next, kalau kesulitan bisa minta pegawai nya buat membantu.."


Kata pria itu datar, tanpa ekspresi.


"Ah, iya, tadinya aku mau usaha sendiri dulu, baru minta bantuan orang lain.."


"Jangan terlalu mandiri. Mandiri itu bagus, akan tetapi buatlah seseorang yang sayang padamu merasa dibutuhkan, kalopun bisa, pura pura tidak bisa juga baik,"


Sherlin terdiam mendengar nasehat tersebut. Aneh. Tidak kenal kenapa pria ini bisa menebak kebiasaan nya ..? Revand pernah bicara hal yang sama persis seperti pria itu, ketika ia memang jarang meminta bantuan kepada Revand meskipun sedang kesulitan. Sebenarnya, itu karena Sherlin selama ini terbiasa sendiri. Tidak banyak orang yang bisa ia andalkan dalam hidup nya.


Ia pernah dikhianati teman. Karena terlalu mengandalkan, karena itulah Sherlin merasa, ia tidak perlu lagi bergantung pada siapapun selama ia hidup. Jika ia bisa, ia akan melakukan nya sendiri, jika tidak bisa, ia akan berhenti sejenak, lalu akan mencoba lagi sampai bisa.


Namun ternyata, kebiasaan nya ini sudah dikritik dua pria berbeda. Satu suaminya sendiri, yang kedua pria asing dihadapan nya. Sementara itu setelah membantu Sherlin, pria itu memutar tubuh lalu segera ingin beranjak meninggalkan Sherlin. Namun suara Sherlin menghentikan langkahnya...


"Maaf, walau pun kita nggak mungkin bisa ketemu lagi, tapi aku menghargai apa yang kamu lakukan tadi padaku. Namaku Sherlin. Terima kasih sudah membantuku dan memberiku nasehat itu..."


Pria tinggi itu memutar tubuh nya, membuka kacamata hitamnya lalu menatap Sherlin sesaat. Sherlin memberi senyum ramah. Berusaha meyakinkan kalau apa yang ia lakukan benar benar tulus sebagai ucapan terima kasih, bukan modus atau hal lainnya.


" Namaku, Zill Yura Mahendradatta, senang bertemu wanita mandiri seperti mu..."


Habis berkata begitu, pria itu memasang kembali kacamata hitamnya, membalik kan tubuh. Lalu melangkah meninggalkan Sherlin yang lagi lagi membungkuk hormat padanya.


Tidak ada senyum sama sekali, tapi aku bisa merasakan dia pria yang sangat menghargai orang lain...


Sherlin membathin.


"Sherlin, artis kah tadi...?"


Suara ibunya membuat Sherlin tergagap.


"Nggak tau. Tadi dia bantuin aku buat ambil susu Mama ini..."


"Tubuh mungil yang selalu beruntung, tapi baru kali ini mama melihat pria bicara tanpa ekspresi seperti itu, seram.."

__ADS_1


"Yang penting hatinya hangat kan ma, apalah arti ekspresi, kalau hati nya buruk..."


"Benar katamu sayang. Banyak manusia bersikap tidak seperti yang terlihat. Jadi kita perlu hati hati. Seperti halnya Gisella, kamu harus hati hati dengan wanita itu, mama kurang suka kalian dekat dengan dia, terutama Revand.."


Maafkan aku mama, aku nggak bisa mencegah Gisella dan Revand tidak berinteraksi, karena mereka satu tim kerja. Tapi aku yakin, Revand bisa menjaga kepercayaan yang aku beri...


Sherlin hanya bisa merespon ucapan ibunya dalam hati....


***


Revand kaget ketika jam kantor nyaris habis Gisella masuk kedalam ruangan nya. Terpaksa ia menunda kegiatan nya yang tadinya ingin beres beres sebelum pulang.


" Vand. Gue lagi banyak masalah, gue nggak tau harus gimana, dan cari siapa buat berbagi..."


Revand bengong mendengar gaya bicara Gisella. Biasanya dijam kantor, atau area kantor gadis itu tidak memakai aksen "elo- gue" saat bicara dengan nya, tapi sekarang...


"Kamu lupa, kita lagi berada dikantor...?"


"Gue tau. Tapi sekarang gue bukan tim lu lagi diproyek itu, gue udah dipecat...!!"


Gisella menundukkan wajahnya begitu dalam saat mengucapkan kalimat tersebut. Paras Revand berubah. Sebenarnya ia tahu tentang hal itu, karena bos Gisella sudah merekomendasikan orang lain untuk menjadi tim nya menggantikan Gisella, tapi awalnya ia hanya menyangka gadis ini hanya dioffkan dalam proyek bukan pekerjaan nya. Ternyata....


Revand duduk disamping Gisella, menepuk pundak wanita itu sesaat agar Gisella bisa menguasai perasaan nya.


"Gue turut prihatin ya kalo gitu .."


Gisella mengulang kalimat "gue " yang diucapkan Revand tadi, sembari mengangkat wajah nya berpaling menatap Revand, dan Revand melihat ada airmata di sana. Gisella benar benar sedang terpuruk ternyata. Pikirnya...


"Iya, sekarang kan lu bukan tim kerja gue, jadi kita ngobrol santai aja..."


Senyum manis Gisella merekah.


"Thanks ya. Tapi sekarang gue bingung mau kerja apaan, padahal gue harus bayar listrik, air, pembantu dirumah, terus kalo gue berhentikan pembantu gue, berarti gue membuat satu rakyat kecil lagi jadi pengangguran dong.."


Keluh Gisella. Revand menghela nafas.


"Kalo lu mau jujur share ama gue kenapa lu di pecat, gue mungkin bisa bantuin lu dapat kerjaan lagi..."


"Ohya, kenapa harus tergantung share gue dulu baru lu bisa bantu...?"


Tanya Gisella dengan tatapan mata serius.


"Karena gue mau memastikan satu hal, apakah lu penting untuk dibantu atau kagak...!"


Gisella tersenyum kecut mendengar ucapan Revand.


Ternyata, lu mulai curiga juga ama gue Vand, oke, gue ladeni, kita akan lihat, apakah radar lu ini bisa melawan pesona gue dimata lu....


Gisella membathin.

__ADS_1


"Emang lu pikir wanita itu menangis karena pura pura sakit...?"


Gisella memancing..


"Setahu gue, Sherlin kagak pernah berpura pura dihadapan gue...!"


Cih, Sherlin lagi...


Gisella memaki dalam hati.


"Tapi semua wanita nggak akan mengeluarkan air mata kalo nggak benar benar tersakiti Revand...!"


"Berarti lu sekarang sedang disakiti, hingga lu bisa mengeluarkan air mata dihadapan gue...!"


Bagus sayang, itu yang gue maksud....


Gisella bersorak dalam hati...


Dan akhirnya, untuk memperkuat posisi kalau ia sedang disakiti, Gisella pun menceritakan semua permasalahan nya kepada Revand. Gisella memakai cerita tersebut, untuk menarik simpati Revand.


" Elo...?"


"Iya, gue wanita simpanan bos gue, lu boleh menghujat gue cewek nggak tau diri, tapi situasi nya nggak seperti itu, gue disini nggak punya siapa siapa Vand, ortu gue nggak mau tau tentang gue, satu satunya orang yang bisa gue andalkan saat itu adalah dia, dia juga pernah bilang akan bercerai dengan istrinya, dan menikahi gue, tapi ternyata itu semua nggak pernah dia tepati, yang ada posisi gue semakin disembunyikan, setiap hari gue selalu diburu mimpi buruk, gue selalu diburu ekspresi kemarahan keluarga bos gue tentang gue yang jadi duri diantara mereka, itu yang membuat gue tertekan, hingga...."


Sampai disitu, Gisella menutup wajahnya, dengan kedua telapak tangan nya. Gadis itu terisak kembali. Revand yang awalnya tidak simpati sama sekali dengan Gisella karena ia anti wanita yang merusak rumah tangga orang lain, kini jadi merasa simpati. Simpati karena seperti nya Gisella tulus menyesali perbuatannya.


"Sampai akhirnya, lu minta kejelasan hubungan kalian, lalu yang ada dia mecat lu...!"


Gisella mengangguk masih sesenggukan. Tangan Revand terulur. Mengusap pundak Gisella sesaat mencoba menguatkan.


"Gue juga mau jadi orang bener Vand, tapi setiap kali gue pengen jadi bener, situasi nggak pernah ngedukung gue, itu yang bikin gue tertekan, jadi orang ketiga itu bukan pilihan gue, lu pikir gue suka jadi cewek simpanan, gue ada diposisi itu, karena dia menjanjikan hal yang mendamaikan hati gue, gue akan dianggap satu satunya saat ia sudah bercerai dengan istrinya tersebut...!!"


Lanjut Gisella berapi api.


"Iya. Gue paham, gue paham perasaan lu, gue turut prihatin. Sabar ya, emang untuk berubah jadi baik itu selalu ada aja rintangan nya, tapi kalo lu konsisten dengan keputusan lu itu, insya Allah, ada jalan. Yang harus lu lakukan adalah, lu harus perkuat niat lu itu, karena gue yakin, Tuhan selalu memberikan jalan untuk orang orang yang bener bener pengen memperbaiki kesalahan yang diperbuat nya. Tenangkan diri lu, insya Allah, gue bisa carikan posisi dikantor ini untuk lu...!"


Gisella mengangkat wajahnya saat mendengar ucapan Revand tersebut. Tergesa ia menyusuti airmatanya. Sepasang matanya berbinar...


" Lu serius Vand...? Lu mau bantuin gue padahal latar belakang gue ancur gini...!?"


Revand mengangguk.


Yess....! Berguna juga situa bangka itu nyakitin hati gue...! Revand lu emang pria yang baik, gue udah pastikan lu target terakhir gue, target yang bisa membuat gue berhenti dari hobi gue bermain main dengan suami orang..! Apa lu tau Revand, airmata gue ini sebenarnya bukan airmata karna hati gue dilukai pria tua itu. Siapa dia, bisa ngebuat gue patah hati...? Gue mewek dihadapan lu karna aset gue ditarik kembali, kedudukan gue yang bagus dirampas kembali dikantor padahal itu yang ntar gue banggakan dihadapan bokap nyokap gue kalo ntar gue balik ke Jakarta, agar mereka nggak meremehkan gue lagi.....


NOTE : Yang nampak belum tentu yang sebenarnya, jangan mudah percaya dengan apa yang hanya kita lihat dipermukaan nya saja, lalu menyimpulkan sesuatu atas apa yang hanya kita lihat saja. Karena banyak sekali orang yang menancapkan duri pada kita disaat ia tersenyum manis dengan kita...


👉 Jangan lupa like, vote, favorit dan komennya ya jika suka💖


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2