
Akhirnya, Gita dan wanita suruhan Gisella, telah sampai dikamar yang disewa Gisella untuk menempatkan Revand yang pingsan pada waktu itu.
Untuk sesaat, pintu kamar tidak dibuka, menunggu lama, Gita dan wanita suruhan Gisella itu akhirnya menarik nafas lega, ketika pintu dibuka. Segera mereka menerobos kedalam.
Gita dan wanita suruhan Gisella, terbelalak melihat penampilan Gisella yang masih berantakan. Bertelanjang dada, dengan situasi kamar yang seperti habis terkena guncangan gempa.
Gisella tidak kalah terperanjat nya melihat kedua wanita didepannya menerobos masuk. Terlebih, ada Gita disitu, yang menatap nya penuh rasa ingin tahu. Ingin meminta penjelasan.
"Keluar kalian...!!"
Gisella mengusir keduanya, sembari memungut pakaian nya dan segera memakai nya tergesa. Tidak perduli dua wanita didepannya terbengong bengong melihat hal itu.
"Kak, kenapa ini semua kakak lakukan...?"
Gita melontarkan pertanyaan, yang sedari tadi ingin ia katakan jika sudah bertemu dengan Gisella.
"Lu udah tau semuanya kan...? Jadi ya udah, itulah gue...!"
Gisella menjawab pertanyaan Gita, tanpa menatap wajah gadis itu.
"Nggak mungkin. Kakak pasti punya alasan melakukan ini. Kakak pasti sangat terpuruk saat itu, hingga kakak jadi seperti ini.. ?!"
"Faktanya, gue emang nggak sebaik yang lu kira Gita, jadi berhenti menganggap gue wanita yang baik...!"
Gisella ingin melangkah melalui kedua wanita dihadapannya, ingin segera keluar, berusaha kabur, namun wanita yang tadi disuruhnya menangkap lengannya.
"Gimana tugas lu, berhasil..?"
Tanya Gisella pada wanita itu.
"Aku berubah fikiran..! Orang yang kita jadikan target itu menolong ku Gisella, aku tidak punya hati untuk membunuhnya...!"
"Siapa yang ingin kalian bunuh...?"
Gisella tidak menggubris pertanyaan Gita. Ia memandang lurus kearah wajah wanita yang tadi disuruhnya untuk membunuh Sherlin.
"Kalo mau jadi jahat, kagak usah setengah setengah, lu pikir dengan menjadi baik, orang orang akan menghapus kesalahan yang pernah lu buat...? Kagak ya...!!"
"Tapi, aku masih punya hati nurani Gisella. Aku benar benar tidak bisa membayangkan, jika saat itu Sherlin tidak membujuk Presdir hotel ini untuk menolong ku, aku sekarang sudah tewas jatuh dari ketinggian hotel ini...!"
"Kalian ingin membunuh Sherlin...?!!"
Gita yang mendengar pembicaraan kedua wanita dihadapannya ini histeris. Tidak menyangka. Dua wanita dihadapan nya ini bisa melakukan hal sekeji itu.
"Gita...? Lebih baik, lu jangan ikut campur dengan masalah ini. Gue bisa membungkam mulut lu, kalo lu macam macam...!"
Gisella mengatakan hal itu dihadapan Gita. Bukannya takut dengan ancaman Gisella. Gita justru beranjak mendekati gadis itu.
"Kak. Sadar. Aku tahu, kakak melakukan ini karena kakak sakit hati, jangan dikuasai benci kak, aku percaya kok, kakak aslinya baik."
__ADS_1
"JADI ORANG BAIK, GUE SELALU DIINJAK GITA...!! JADI BUAT APA JADI ORANG BAIK...!?!"
Gisella mengucapkan kalimat itu dengan suara lantang. Wajah nya merah padam. Emosi menguasai diri nya.
"Tapi, Tuhan akan membalas kesabaran kita kak, dia yang akan memberikan hadiah terindah untuk kita, hasil dari kesabaran kita..!"
Gisella tersenyum sinis mendengar ucapan Gita.
"Kado terindah...? Yang gue mau itu Revand. Dia yang bisa membuat gue jatuh cinta lagi setelah gue banyak menghabiskan waktu dengan beberapa pria berduit...! Kalo gue bisa mendapatkan Revand, gue berjanji akan menghentikan semua kekacauan ini, coba lu ingat sekarang, apa yang lu dapat dari sabar yang lu agungkan itu...? Lu mencintai Zill, tapi Zill justru mencintai Sherlin. Ironis bukan...? Lu pikir, dengan sabar, lu bisa mendapatkan cinta yang lu mau...?"
Gita menggigit bibir, mendengar apa yang diucapkan oleh Gisella. Ada yang perih dirasakan wanita itu saat mendengar hal itu, dikatakan secara gamblang. Namun, ia tidak menyesali semua nya. Karena ia tahu, perasaan itu tidak bisa dipaksa.
"Aku memang mencintai Zill, tapi aku nggak mau karena perasaan ini, aku jadi menyakiti dia. Kak, apa kau tahu, buah dari perbuatan kamu itu, membuat sekarang Sherlin dan Revand sekarat. Aku baru menerima telepon dari Zill, saat ini pasangan itu sedang sekarat, bahkan Revand koma, apa kau puas melihat orang yang kakak cintai menderita seperti itu...?!"
"Apa.. ? Revand koma...?"
Gisella mengulang kata kata Gita, yang dinilai nya meragukan.
Bukankah Revand tadi keluar dari kamar masih bisa berjalan, dia sekarat karna ilmu itukah...
"Aku mau ketemu Revand...!"
Gita menangkap lengan Gisella, kini kedua lengannya dipegang oleh dua wanita yang berbeda. Membuat Gisella tidak bisa bergerak bebas.
"Kakak bukan harus ketemu Revand, kakak harus ketemu Zill, dia yang mau ketemu kakak, kakak harus menjelaskan dan mempertanggungjawabkan semua ini sama dia kak. Karena acara dia kacau karna ulah kakak. Kakak menyuruh orang untuk membuka aib almarhum, padahal itu juga aib kakak...!"
"Apapun yang kalian katakan, aku mau ketemu Revand, aku yang bisa menyelamatkan dia dari kematian kalian paham itu...?"
"Apa maksud kakak...?"
Gita bertanya seperti itu kepada Gisella.
"Jangan jangan Revand sekarat karna ilmu guna guna yang kamu kirim kedia...!"
Wanita suruhan Gisella, segera menebak. Gisella tersenyum sinis.
"Jadi, apakah kalian tetap bersikeras
kagak mau membawa gue menemui Revand...?"
"Kak Gisella keterlaluan...!!"
Pekik Gita dengan suara meninggi. Namun, Gisella tidak perduli. Dia segera beranjak untuk mendekati pintu. Sedang Gita dan wanita yang tadi ingin membunuh Sherlin, saling pandang. Mereka berfikir, memang, tidak ada jalan lain, selain membawa Gisella menemui Revand.
"Berjalan lah didepan gue, bawa gue menemui Revand, kalau kalian kagak mau menurut, Revand celaka gara gara kalian terlalu mengulur waktu...!!"
Mendengar apa yang diucapkan oleh Gisella, terpaksa Gita dan wanita suruhan Gisella, bergerak. Mereka melangkah mendekati pintu. Ketika Gita, baru saja ingin membuka pintu kamar. Tiba tiba saja, ponsel milik Gisella berdering.
Gita dan wanita suruhan Gisella, menghentikan langkah mereka, memberikan kesempatan untuk Gisella menerima panggilan tersebut.
__ADS_1
"Lu ngapain sih, calling melulu, bosan tau...!!!"
Terdengar Gisella menghardik sang penelpon seperti itu.
"Kamu harus pulang Gisella, aku tahu, kamu sekarang sedang berada dihotel milik Zill kan, kamu membuat keributan disana, kamu memakai kekuatan ilmu hitam untuk menundukkan Revand, sekarang, kau tahu Gisella, kamu melangkah terlalu jauh, karena perbuatan mu itu 3 nyawa menjadi taruhannya, dan yang pertama menjadi korban itu ayah kamu sendiri...!!"
Orang yang menelpon Gisella adalah Pram, sedari tadi, sebenarnya pria itu sudah menghubungi Gisella, hanya saja, karena Gisella sibuk mendesak Revand, ia tidak mempedulikan lagi ponselnya berdering. Karena tidak berhasil menghubungi Gisella, Pram menghubungi Zill, dari Zill, Pram tahu semua yang terjadi.
"Jangan mengada ada...! 3 korban apaan. Yang benar hanya satu korban malam ini, Sherlin, aku sudah menukar nyawa dia saat meminta dukun gue menyerang Revand lebih gencar, jadi jangan sok tau lu...!!"
"Gisella, mungkin memang kamu ingin mengorbankan Sherlin, tapi Sherlin lolos menjadi korbanmu malam ini, karena bisa menguasai hati dan fikiran nya, dia sakit hati padamu, tapi dia tidak mendendam, bahkan dia menolong orang suruhan kamu yang ingin membunuh nya kan...? Wanita setulus dia, tidak akan menjadi tumbal pertukaran mu itu...!"
"Tapi sekarang dia juga sekarat brengs*k...! Aku akan membiarkan dia seperti itu, dan mati perlahan, karena seribu dokter pun tidak akan bisa menolong nya...!!"
"Apapun itu, apa yang tadi kamu lakukan pada Revand harus kamu bayar mahal Gisella, kamu harus pulang, karna ayah kamu sudah meninggal baru saja...!"
"Apa.. ? Tidak mungkin...!!"
Gita dan wanita suruhan Gisella, terkesiap mendengar teriakan histeris Gisella. Bersamaan dengan itu, mereka melihat Gisella perlahan terduduk dilantai, dengan wajah pucat pasi. Ponsel ditangan nya pun terlepas. Melihat hal itu, Gita segera memburu Gisella, berjongkok dihadapan wanita itu.
"Ada apa kak...?"
Tanya Gita sembari menatap wajah pucat Gisella.
"Bokap gue meninggal Gita..."
Lirih Gisella mengucapkan kalimat tersebut, namun cukup jelas sampai ketelinga keduanya.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un, turut berdukacita kak, yang kuat ya kak."
Gisella bungkam. Bibirnya seakan kelu untuk bicara. Namun Gita dan wanita suruhan Gisella melihat, sepasang mata gadis itu mulai berkaca kaca.
Papi, nggak mungkin, nggak mungkin papi meninggal karena pertukaran yang kulakukan, gue emang benci lu papi, tapi gue sebenarnya juga masih sayang lu, gue benci papi karna papi nggak pernah adil sama gue .
Gisella menjerit didalam hati. Airmata nya turun membasahi kedua pipinya. Untuk sesaat, Gita dan wanita suruhan Gisella, terpaku ditempat nya, tanpa bisa berbuat apa apa..
Perlahan, Gisella meraih ponselnya, yang tadi sempat terlepas dari genggaman nya, diseberang sana, Pram masih terus memanggil nya. Ditempelkan nya benda itu kesalah satu telinga nya.
"Hentikan semuanya Gisella, kalau kamu tidak menghentikan semuanya, akan ada lagi korban yang jatuh karena perbuatan kamu, kamu begitu mencintai Revand...? Cintamu itu akan membunuhnya sekarang...
**Note: Sesuatu yang dilakukan didasari oleh rasa benci, tidak akan pernah membuat hati manusia akan puas. Karena kebencian itu seperti candu. Semakin dituruti, semakin meminta lebih.
👉 pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya 😘 Terima kasih ya yang vote 💗 Terima kasih juga buat yang selalu stay.
👉 baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul CINTA SANG PENULIS klik profil saya untuk cek karya saya.
👉 buat yang suka novel fantasi silahkan baca novel karya saya yang baru terbit berjudul MAHKOTA DEWA di platform kuning NOV*LME dan juga novel non-fiksi karya saya berjudul DOKTER ITU KAKAKKU
bersambung**.
__ADS_1