SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 23. MAAF...


__ADS_3

Revand memburu Sherlin ketika ia berhasil melepas kan cengkraman tangan Gisella dilengannya. Berulang kali ia berteriak memanggil nama Sherlin, namun Sherlin sengaja menulikan telinga nya. Bagaimana tidak. Wanita itu tidak bisa membendung air mata yang terasa berebutan ingin turun membobol retinanya. Entah kenapa meski berulang kali berucap dalam hati bahwa ia bisa memaklumi tapi tetap saja hatinya terasa sakit.


Sherlin masuk kedalam kamar. Tidak mempedulikan Revand. Tidak mengunci pintu kamar nya, akan tetapi wanita itu segera masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


"Sher...buka pintunya sayang, tolong dengerin penjelasan ku dulu, kamu jangan salah paham..."


Revand menggedor pintu kamar mandi sembari meneriakkan kalimat tersebut.


"Biarkan aku sendiri dulu Vand, aku butuh waktu untuk sendiri..."


Sahut Sherlin tanpa membuka pintu yang digedor Revand. Revand menarik nafas. Rasanya hatinya begitu sedih, karena bulan madu yang ia rancang sedemikian rupa harus di warnai dengan kesalahpahaman seperti ini...


Apa benar yang dikatakan Gisella. Karena selama ini hubungan kami lurus lurus aja, hingga membuat Sherlin mempersoalkan hal hal yang seharusnya nggak dipersoalkan...


Hati Revand berkata. Kalimat demi kalimat Gisella bermunculan dibenak pria itu. Membuatnya hatinya semakin didera rasa bimbang yang amat sangat.


Detik berikutnya, pria itu memilih keluar kamar untuk membuang perasaan yang bercampur aduk yang menderanya...


Ketika diluar area kamar, secara tidak sengaja Revand kembali bertemu dengan pria pemilik kucing yang jujur membuatnya berfikir bahwa, pria itu membawa hal tidak baik bagi ia dan istrinya.


"Kita ketemu lagi..."


Sapa Revand saat mereka satu lift menuju lantai bawah.


"Tentu saja. Sepertinya kita menginap di hotel yang sama, dan tadi itu kita sarapan direstoran yang sama..."


Sahut pria itu tanpa ekspresi. Revand berpaling, sembari mengulurkan tangannya...


"Kenalkan, aku Revand suami Sherlin.."


Wajah wanita berwajah ceria terbayang dibenak pria yang tidak lain Zill itu. Wajah Sherlin.


"Kenapa kita harus berkenalan secara resmi...?"


Tanya Zill masih tanpa ekspresi, tidak pula menyambut uluran tangan Revand. Hingga Revand menarik tangan nya kembali...


Dasar sombong..


Maki nya dalam hati.


"Karena kamu kenal dengan istri ku..."


"Itu tidak disengaja. Kamu kira aku dan istri kamu punya hubungan sedekat itu...?"


Masih dengan nada dinginnya, Zill bicara.


"Yah, hanya ingin berteman dengan orang yang jadi teman istriku..."


Zill memalingkan wajahnya. Menatap kearah Revand dengan sorot mata yang tajam.


"Aura kamu tidak seperti yang kamu ucapkan bung. Kamu melakukan ini karena kamu ingin menyelidiki sesuatu...!'


Wajah Revand merah padam mendengar ucapan yang keluar dari mulut Zill.

__ADS_1


*Sialan. Kenapa dia bisa sepeka itu*...


Revand memaki ...


"Ternyata anda ini tipe orang yang suka berburuk sangka ya, kita sekarang berada dinegara orang, apa itu tidak keterlaluan,"


"Negara ini salah satu negara orang tuaku, jadi tidak sepenuhnya negara orang lain, karena aku juga berhak ada disini, kalimat kamu tadi seperti nya harusnya ditujukan pada diri kamu sendiri, aku tidak akan berprasangka jika aku tidak mencurigai sesuatu..."


Revand kembali mengumpat didalam hati. Pria yang sangat aneh menurutnya. Apakah selama Sherlin terpisah darinya tadi, istrinya itu bertemu dengan pria ini dan banyak bercerita tentang percekcokan mereka...?


Diam diam Revand kembali didera rasa kesal...


"Jaga apa yang sudah kamu miliki sekarang, jangan sampai kamu kehilangan baru kamu menyesalinya..."


Pria itu meninggal kan kalimat itu sebelum keluar dari lift lebih dulu. Wajah Revand merah lagi. Geraham nya gemeletukan ...


Aneh...apa maksudnya...? Dia seolah olah tahu segalanya, atau hanya sok tahu...? Aku jadi makin penasaran sebenarnya seperti apa kehidupan pribadi nya. Kenapa dia seperti lebih tanpa cela daripada aku hingga berhak mengucapkan kalimat itu...? Siapa yang kehilangan...? Aku...? Aku nggak mungkin merasakan perasaan itu. Sherlin tidak akan meninggalkan ku atas alasan apapun...!


Gerundel Revand. Sebelum akhirnya, ia juga keluar setelah lift telah mengantar kannya dilantai yang ia tuju.


***


Cukup lama Sherlin mengurung diri di dalam kamar mandi. Menumpahkan segala perasaan yang menderanya. Hingga kemudian ia merasa sudah lumayan lega ketika merasa cukup mengeluarkan air mata.


Wanita itu memperbaiki diri didepan kaca yang ada dikamar mandi tersebut. Matanya masih sembab. Tapi tidak begitu kentara jika ia berusaha untuk bersikap ceria.


Perlahan, wanita itu membuka pintu kamar mandi. Melihat situasi kamar, apakah sosok Revand ada disana. Bagaimana pun ia juga tidak ingin berlarut larut berselisih paham dengan suaminya tersebut. Sherlin bertekad ingin mengajak Revand bicara...




"Sayang. Aku minta maaf..."


Sebuah suara membuat Sherlin membalikkan tubuhnya. Revand sudah berdiri tidak jauh darinya sembari mengulas senyum, berusaha untuk bersikap baik baik saja, seperti dulu saat mereka berselisih paham sebelum menikah.


"Kamu yang bawa bunga itu kesini...?"


Tanya Sherlin dengan nada datar. Jujur ia merasa surprise dengan adanya bunga tersebut akan tetapi ia tidak ingin cepat bersikap lunak pada sang suami sebelum mereka bicara serius tentang persoalan mereka.


"Iya. Aku tadi keluar beli bunga itu buat kamu. Aku pilih mawar putih agar kamu tau, aku tulus minta maaf sama kamu, dan kamu harus percaya padaku bahwa, nggak ada yang terjadi antara aku dan Gisella dikamar itu..."


Paras Sherlin seketika berubah jadi bete kembali mendengar ucapan sang suami.


"Kamu tau kan kenapa aku kesal sama kamu...?"


Tanya Sherlin sembari menatap wajah suaminya.


"Aku tau.."


Sahut Revand sembari menundukkan wajahnya sesaat.


"Apa menurut kamu, pendapat aku itu nggak penting..? Hingga kamu bisa membuat keputusan sendiri tanpa merembukkan dulu sama aku..."

__ADS_1


"Aku tau. Aku salah. Dan tadi aku sudah menjelaskan perihal itu sama kamu, aku bukan sengaja.."


"Yang aku kesalkan, baru sebentar kamu kerja sama dengan dia, pikiran kamu juga sudah mulai terpengaruh oleh dia Vand, gimana nanti...? Aku nggak mau Gisella merubah kamu jadi pria yang nggak aku kenal. Bukan Revand yang aku kenal selama ini...!"


Suara Sherlin meninggi saat mengucapkan kalimat tersebut. Meski sedikit terbata, karena wanita itu berusaha meredam perasaan nya sendiri yang mendadak jadi tidak karuan ketika membahas hal ini lagi.


Revand maju menghampiri sang istri. Meraih kedua tangan wanita itu dan digenggam nya erat.


"Aku nggak akan berubah menjadi orang asing untuk kamu sayang. Tentang ide Gisella itu, masih aku pertimbangkan, karena ini menyangkut bisnis, aku harus tau lawan bisnis ku seperti apa dulu baru memutus kan rencana apa yang akan aku lakukan untuk menghadapi nya..."


Sherlin membuang tatapan nya ketika mendengar apa yang diucapkan sang suami. Sebenarnya ia kesal. Tapi ia berusaha untuk bersikap dewasa mengatasi gejolak perasaan nya sekarang. Kalau boleh jujur, ingin rasanya ia berkata dihadapan Revand bahwa. Ia keberatan Gisella bekerja satu kantor dengan sang suami.


Tapi apakah itu tidak keterlaluan...? Ia menutup rezeki orang hanya karena ingin melindungi rumah tangga nya...?


"Aku nggak mau punya suami yang menghalalkan segala cara untuk bisa mengalahkan orang lain dalam hal apapun itu .."


Ucap Sherlin akhirnya.


"Bukan karena orang itu adalah dia..?"


"Namanya Zill,"


Sela Sherlin dan itu membuat Revand jadi kesal. Tapi pria itu mencoba untuk menahan nya.


"Kamu cemburu pada orang yang salah Vand, dia pria yang sopan. Beda dengan Gisella, apa yang dia lakukan saat kalian tadi dikamar...?"


Sherlin bertanya dengan nada suara sinis. Revand tidak segera menjawab. Bayangan Gisella berkelebat, berikut perlakuan liar gadis itu saat mereka dikamar bersama, yang sempat membuat naluri lelaki nya bangkit. Belum lagi ungkapan perasaan wanita itu padanya. Bisa bisa Sherlin tidak akan memaafkan nya jika tahu itu semua. Tidak. Revand sudah susah payah merancang permintaan maaf nya pada sang istri, agar situasi bulan madu mereka tidak rusak seperti tadi .


"Dia nggak melakukan apa apa sayang, percaya sama aku..."


Sherlin menarik nafas panjang.


"Bukan berarti kamu bebas memberi celah untuk dia kan Vand, kamu normal, dia liar, apa jadinya kalau kalian..."


Revand meletakkan telunjuk nya dibibir Sherlin saat wanita itu mengucapkan kalimat itu dengan suara terbata bata lagi.Terlihat sekali sang istri berusaha meredam perasaan nya yang bergejolak dihadapan nya.


"Bantu aku untuk membuat dia berubah jadi lebih baik lagi sayang..."


Revand bicara seperti itu dengan nada serius. Jemarinya terangkat membelai pipi istri nya dengan lembut. Sherlin memberanikan diri menatap mata suaminya, mencari kejujuran dimata itu, apakah pria itu mulai tergoda pada wanita perayu itu. Tapi ia masih menemukan segudang cinta dimata itu untuk dirinya dari sang suami. Revand masih menatapnya penuh cinta seperti dulu, sebelum Gisella masuk kedalam kehidupan mereka berdua...


"Jadi kamu taukan dia itu berbahaya...? Kenapa kamu bertaruh tetap memperlakukan dia dengan baik padahal kamu aja belum tau, dia itu mau berubah atau nggak...?"


"Karena kamu juga merubah aku jadi lebih baik lagi dari sebelumnya sayang. Aku yang dulu merasa ibadah itu nggak perlu asal kita selalu ingat sama Tuhan, tapi karna kamu anggapan ku tentang itu jadi berubah. Kalau orang yang ingin berubah baik, lalu kita jauhi dan nggak mensupport nya, apakah itu adil buat dia...? Gisella pengen berubah, dan aku perlu kepercayaan kamu agar aku bisa merubahnya menjadi seseorang yang lebih baik lagi, jangan buat celah kosong dihati aku agar imanku tetap kuat sayang, sikapmu yang seperti ini membuat hatiku jadi rapuh, istri ku itu cuma kamu, aku janji itu..."


Aku tau Vand. Nggak adil untuk menjauhi seseorang yang ingin berubah jadi lebih baik lagi. Tapi, apa sikapku ini juga berlebihan menurut kamu...? Pergaulan bisa membuat seseorang berubah. Aku nggak tau apakah nanti Gisella yang berubah atau justru kamu yang berubah. Aku hanya ingin melindungi rumah tangga kita. Itu aja...


Ucapan Revand direspon Sherlin hanya dalam hati. Bibirnya kelu untuk mengucapkan nya. Ia takut, jika suara hatinya ia ucapkan, akan membuat perselisihan mereka semakin dalam. Karena ia tidak ingin memberi celah untuk Gisella mempergunakan kesempatan untuk masuk diantara mereka saat perselisihan ia dan Revand belum juga berakhir....


Note: Pergaulan akan mempengaruhi sikap seseorang. Ada yang berubah menjadi lebih baik lagi karena pergaulan, ada pula sebaliknya. Jika tidak cukup punya benteng pertahanan untuk menjaga diri terbawa arus, lebih baik jauhi bergaul dengan seseorang yang kedepannya akan menjerumuskan...


๐Ÿ‘‰ Jangan lupa like, vote, klik favo, beri bintang, jika suka ya ๐Ÿ’–


๐Ÿ‘‰ Novel nonfiksi karya saya dijual cetak ya, buat yang nanya, novel itu berseri, menceritakan kehidupan pribadi saya dari umur 14 tahun sampai sekarang. Untuk sekarang yang terbit baru 7 seri dari total 18 seri yang akan menyusul terbit, 3 novel lainnya nonfiksi juga, tapi story' teman yang ingin story'nya diabadikan menjadi sebuah buku,totalnya 10 yang terbit, jadi saya memang membuka jasa itu tapi hanya untuk yang mau mengikuti tarif dan ketentuan yang berlaku.Yang nawar nawar ga saya kerjain storynya ya๐Ÿ˜‚kesian penulis ga dibayar udah capek nulis๐Ÿ˜ญ menulis bagai salah satu nyawa saya, tapi faktanya buat buku itu perlu biaya๐Ÿ˜”๐Ÿ˜” saya bukan penulis yang ngejar ketenaran, &, memprioritaskan money dalam tulisan yang saya buat, tapi seseorang yang menghargai karya orang lain pasti akan memberikan apresiasi kepada karya tersebut, apalagi kalo itu karya orisinil, yg jiplak jiplak karya orang lain biar bisa disebut penulis, ketahuilah, tulisan hasil jiplakan TIDAK LAYAK DISEBUT SEBUAH KARYA....!!

__ADS_1


๐Ÿ‘‰ Terima kasih buat kalian yang selalu setia baca karya karya saya๐Ÿ’


Bersambung


__ADS_2