SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 101. PESAN DARI GISELLA (21+)


__ADS_3

"Vand, kamu nggak harus ikut kok kalau emang kamu nggak sanggup buat ikut...!"


Sherlin keluar dari kamar mandi, sembari mengucapkan kalimat tersebut, saat melihat suaminya termenung diatas tempat tidur.


"Terus, aku biarin kamu berdua aja sama Zill...?"


Sherlin menarik nafas. Wanita itu berjalan menuju lemari pakaian yang ada disisi meja rias. Mengeluarkan piyama dari sana, namun ketika ia baru ingin memakainya, gerakannya terhenti saat tiba tiba saja Revand memeluknya dari belakang.


"Kamu tau nggak, waktu aku harus menerima resiko kematian dihadapan dukun Gisella, aku sempat ngomong ke Zill untuk menjaga kamu, karena kupikir, aku udah nggak ada waktu lagi buat hidup bersama kamu, aku melakukan itu karena aku tahu, selain aku, dialah yang sepertinya begitu tulus mencintai kamu, aku benci mengakui ini semua, tapi itulah kenyataannya, rasanya saat itu aku nggak mau meninggalkan kamu sendirian...!"


Revand berbisik seperti itu ditelinga sang istri. Lalu mencium tengkuk istrinya dengan lembut.


"Makasih ya, kamu mau berkorban untukku, makasih juga kamu mikirin aku bagaimana kalo kamu beneran pergi, rasanya kalo ingat itu semua, aku ngerasa itu kayak mimpi...!"


Sherlin menyahut.


"Kejadian itu pasti bikin kamu traumakan..? Makanya aku bilang, aku nggak maksa kamu buat ketemu dengan Gisella, aku paham kok perasaan kamu, aku mau ketemu dia cuma mau ngeliat gimana reaksi dia kalo ketemu aku, itu aja..!" Lanjut Sherlin.


Revand menarik tubuh istrinya menuju tempat tidur. Membaringkannya, dan membelai wajah alami Sherlin yang terlihat segar karena baru terbilas air.


"Aku mau pergi kalo kamu juga pergi, aku juga mau ngeliat reaksi dia kalau ketemu aku, sekalian aku mau jagain kamu siapa tau aja, dia masih aja buat hal gila sama kamu...!"


"Bukan karena cemburu aku pergi dengan Zill...?"


"Cemburu juga...!"


"Terus, aku harus ngelakuin apa biar kamu nggak cemburu lagi...?"


"Aku nggak mungkin ngelarang kamu temenan sama dia, dia pria yang baik, tapi wajar dong aku cemburu sama dia, selama dia masih jomblo, rasanya aku tetap bakal cemburu sama dia...!"


Sherlin ingin merespon ucapan suaminya, namun Revand sudah membungkam nya dengan bibirnya. Bukan hanya menc*um bibir istrinya, tangannya juga berusaha membuka handuk yang melilit tubuh mungil istrinya tersebut dengan sangat tergesa.


"Vand, akukan lagi hamil, ntar bahaya kalau kita ngakuin itu..!"


Sherlin mengucapkan kalimat tersebut, saat c*uman Revand menjalar ke lehernya.


"Aku ngelakuin nya nggak kasar kok, akukan nggak pernah kasar, nggak bakalan kenapa napa kok, ya..!"

__ADS_1


Revand menyahut dengan nafas yang masih memburu.


"Tapi...?"


"Kamu tadi nanya, apa yang harus kamu lakukan kalau aku lagi cemburu, ya udah nggak usah banyak protes, aku mau memiliki kamu sekarang, agar aku selalu yakin kamu itu milikku bukan pria lain..!"


"Apaan sih. Kekanakan deh, aku lagi hamil anak kamu, masih aja mikir kayak gitu...!"


Revand tidak perduli, nafsunya sudah menggelora, apalagi saat ia menyingkap handuk yang menutupi tubuh polos istrinya itu, aroma tubuh sang istri yang habis mandi makin membuat Revand tidak mau menunggu lagi. Menunggu sampai Sherlin melahirkan baru ia meminta jatah...? Mana kuat dia. Secara diam diam, ia sudah konsultasi dengan dokter tentang hal yang satu ini, menurut dokter berhubungan intim saat istri sedang hamil tidak bermasalah, asalkan ia melakukannya tidak kasar. Tentu saja Revand bukan tipe pria yang kasar saat melakukan hal tersebut.


Baginya, memperlakukan wanita yang dicintai harus dengan penuh perasaan dan harus dengan sentuhan yang lembut.


***


Gisella tidak bisa menahan rasa terkejutnya ketika Revand, Zill dan juga Sherlin sudah berdiri dihadapannya. Pram mempersilahkan ketiganya untuk duduk. Tidak jauh dari Gisella. Melihat Revand, sebenarnya hati Gisella menjerit. Ada perasaan sedih dan juga malu menyelimuti hatinya. Sedih, karena ternyata melihat pria itu hatinya masih merasa tergetar. Ternyata, ia masih mencintai pria itu, malu, karena Revand melihatnya dengan kondisi nya yang seperti sekarang. Cacat tidak bisa berdiri apalagi berjalan.


"Kenapa kalian masih mau ketemu sama gue...?"


Gisella melontarkan kalimat tersebut, dengan tanpa ekspresi.


"Karena, kita tetap anggap kamu temen kita..!"


"Termasuk lu Vand...?"


Gisella bertanya seperti itu kepada Revand. Revand menghela nafas.


"Iya."


"Bohong, lu kesini karena lu cemburu kalo Zill bareng Sherlin aja kan...!"


Sial, kenapa wanita ini tahu hal itu...


Revand mengumpat dalam hati.


"Sejujurnya, iya, gue selalu cemburu kalo istri gue dekat dengan pria lain, wajarkan. Karena gue cinta sama dia, tapi selain itu, gue emang beneran mau ketemu sama lu Sell, gue ikut prihatin dengan semua yang lu alami sekarang, tapi gue ikut bahagia, ada seseorang yang tulus yang siap melindungi lu sampai akhir hayat, jangan sia siakan hal itu. Pram, tulus ama lu...!"


Revand akhirnya bicara seperti itu dihadapan Gisella. Gisella tersenyum kecut.

__ADS_1


"Tapi gue kagak mau ngundang kalian kepesta pernikahan gue, karena gue bukan kalian yang bisa dengan mudah bersikap hangat penuh persahabatan setelah beberapa kejadian pahit yang terjadi...!"


"Nggak masalah Sell, tanpa datang kepesta pernikahan kamu pun, kita bakal doain kalian biar rumah tangga kalian bahagia..!"


Sherlin yang bicara sembari tersenyum.


"Selamat ya, gue denger lu hamil, pasti sekarang Revand makin cinta sama lu, dan emang lu patut mendapatkan itu. Hanya aja, gue mau jujur sama lu, gue kagak pernah menyesal pernah jatuh cinta sama suami lu..!"


"Aku tahu, itu hak kamu, dan Revand juga berhak untuk memilih wanita mana yang mendampingi dia seumur hidup dia..!"


Gisella menghela nafas panjang.


"Kadang, gue benci ama sifat lu yang pemaaf ini Sherlin, gue jadi kagak bisa nyakitin lu sampe puas, karena seseorang yang penuh rasa maaf itu kagak mudah disakiti, yah, semoga aja dengan perginya gue ini, hidup kalian jadi jauh lebih baik, dan lu Zill...!"


Gisella menatap Zill dengan tatapan ingin membunuh.


"Gita itu tulus ama lu, dia punya masalalu yang sama buruknya sama gue, jangan sampe lu jadi mirip Pram yang menyesal setelah semuanya terlambat, gue tau kok move on itu sulit, tapi belajarlah, buka hati lu untuk cewek lain, lu ngejudge gue ngarepin Revand melulu, lu sendiri masih ngayalin Sherlin aja terus, jangan sia siakan seseorang yang tulus cinta sama lu, sebelum ketulusan itu menjadi sebuah rasa sakit hati dan merubah orang itu menjadi seseorang yang buruk...!"


"Kakak nggak perlu ngomong gitu ke Zill, bikin malu aja, aku nggak maksain perasaan aku ini kok kedia, karna aku tahu cinta itu nggak bisa dipaksa, dan kakak nggak usah khawatir, aku nggak bakalan berubah jadi buruk hanya karena cintaku ini cuma bertepuk sebelah tangan..!"


Semua yang ada disitu berpaling ketika mendengar suara wanita berucap demikian. Dibelakang mereka, berdiri sosok Gita dengan senyum manis menghiasi bibirnya...


Note: Seseorang yang punya sifat pemaaf tidak akan mudah untuk disakiti, karena manusia pemaaf menjadikan perlakuan buruk seseorang terhadapnya adalah ujian menuju kedewasaan.


👉 Pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya 😘


👉 Baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul CINTA SANG PENULIS dilapak ini ya 💗



👉 Dan novel nonfiksi karya saya berjudul DOKTER ITU KAKAKKU & juga MAHKOTA DEWA diplatform kuning NOV*LME




berikan dukungan kalian untuk karya saya tersebut. Dan bagi kalian yang mengikuti terus cerita DOKTER ITU KAKAKKU & MAHKOTA DEWA akan berkesempatan mengikuti event nya next dimarkas besar GSB 😎 follow akun FB saya MITHAVIC HIMURA

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2