SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 48. PENOLAKAN.


__ADS_3


Revand menghentikan langkahnya ketika dikoridor kantor, Gisella sudah berdiri disana, entah sejak kapan. Jika boleh jujur, semenjak Zill menghajar nya diparkiran lalu, Revand sedikit terpengaruh dengan ucapan Zill saat itu. Untuk itulah, beberapa waktu terakhir ini, ia sengaja menghindari Gisella.


Walau pun untuk menghindar secara mutlak jelas saja tidak bisa, karena Gisella sekretaris nya. Namun, diluar jam kerja, Revand sengaja membatasi interaksi nya. Seperti sekarang. Jika kemarin, mereka selalu berangkat kekantor bersama, sudah beberapa hari ini, Revand selalu punya alasan untuk tidak berangkat dengan Gisella.


Memang tidak mudah. Menghindari Gisella itu bukan persoalan yang mudah, ia harus siap dengan berbagai macam alasan. Tapi itu lebih baik, karena untuk sekarang, Revand benar benar sedang tidak mau membagi fikiran karena masalah ia dan Sherlin plus masalah dikantor sudah cukup membuat fikirannya terkuras.


"Vand. Gue mau ngomong..!"


Gisella bicara seperti itu ketika mereka sudah saling berhadapan.


"Jaga bicara kamu Gisella, ini bukan jam istirahat..."


Sahut Revand, berusaha untuk bersikap seperti biasa, walau tidak mudah.


"Oke direktur. Maaf. Kenapa direktur belakangan ini seperti menjauhi saya...?"


"Itu hanya perasaan kamu saja..."


"Direktur lupa, dengan janji direktur...?"


"Tidak.."


"Lalu...?"


Revand melirik arlojinya. Masih ada beberapa menit lagi sebelum jam kantor.


"Kita bicara diatas ..!"


Katanya, lalu segera kembali melangkah. Gisella bengong. Tapi tetap segera mengikuti langkah pria pujaan hati nya ini.


Dalam perjalanan menuju lantai atas, Revand membisu, walaupun Gisella berusaha untuk membuka topik obrolan, Revand menanggapi sekenanya saja. Tidak seperti biasa. Ini membuat Gisella was was sendiri.


Revand kenapa ya, dia marah kah ama gue ..


Batin gadis itu. Diperhatikan nya pria yang sedang berjalan disampingnya itu dengan tatapan penuh cinta.


Gila. Makin diperhatiin makin bikin bikin gue gila ni cowok ..


Gisella komat kamit sendiri. Mereka sudah sampai di ruang kerja Revand. Revand menatap Gisella dengan tatapan serius.


"Lu bilang gue teman lu kan...?"


Revand memberikan pertanyaan.


" Plus pujaan hati gue lu..?"


Gisella mengedipkan sebelah matanya. Membuat Revand mengalihkan pandangan nya, tidak ingin terpancing dengan perlakuan wanita dihadapan nya.


"Gue serius Sell. Tolong jawab pertanyaan gue, kenapa lu kagak pernah cerita, lu pernah merusak rumah tangga orang tua Zill...?"


Dingin suara Revand saat mengucapkan kalimat tersebut. Paras Gisella seketika berubah.

__ADS_1


Revand tau darimana soal itu..


Hati Gisella berbisik.


"Jawab gue Sell...!"


Suara Revand kembali terdengar. Gisella menarik nafas panjang.


"Itukan masa lalu gue Vand, lu bilang asal gue mau berubah, masalalu itu lupakan aja, jadi buat gue itu nggak penting buat dibahas lagi kan..?"


"Iya benar. Tapi kenapa lu kagak cerita soal itu saat dia setengah mati kagak mau kerja sama dengan kita...? Lu biarkan gue salah paham pada dia kemarin kemarin..!"


"Siapa yang cerita ini semua ke elo..? Dia ..? Dan karna itu lu jadi berubah kayak sekarang...? Gue fikir lu tulus mau beri gue kesempatan untuk berubah, tapi kenapa lu persoalkan hal itu kegue..? Itu masalalu gue. Nggak penting juga gue ceritain kan...?"


"Emang, kagak harus lu cerita kan. Gue juga kagak perduli. Tapi masalah nya, karena lu seolah membiarkan gue memendam benci pada pria itu, sebenarnya lu ini punya rencana apa...? Lu sengaja bikin gue benci ama dia...?"


"Lu emang benci dia sayang. Karena lu tau pria itu suka sama bini lu. Iyakan. Nggak usah munafik deh, akui aja lu benci dengan dia, dan kita emang lagi cari cara buat jatuhin reputasi dia kan...?"


Benar. Aku emang benci dengan Zill. Karena aku cemburu, tapi rasa benci aku yang sekarang berkurang ketika aku tahu yang sebenarnya, pria itu profesional, tidak seperti yang aku kira sebelum nya...


Revand membathin..


"Zill itu naksir bini lu Vand. Kenapa kita nggak buat gosip ini naik kepermukaan...? Dengan begitu reputasi dia hancur. Bos juga nggak kesel kesel amat sama kita. Dan perusahaan dia bakal anjlok..!"


Revand menatap Gisella dengan tatapan mata tidak suka.


"Lu kagak mikir, reputasi istri gue...? Lu mau merusak nama baik istri gue juga gitu...? Mereka tulus berteman Sell. Kagak seperti yang kita kira sebelum nya..!"


"Lu tau apa soal ini Vand...? Ayah dia aja bisa selingkuh, anaknya juga pasti nurunin bakat ayah dia, jangan terlalu naif Vand, Sherlin itu nggak mungkin selalu polos seperti yang lu kenal."


Suara Revand meninggi saat mengucapkan kalimat tersebut.


"Oke, oke. Gue tau. Gue yang salah. Masalah itu kita lupakan aja. Gue janji hanya mencintai lu dalam diam, tanpa merancang rencana apapun. Tapi gue harap, lu nggak pernah lupa dengan janji lu. Lu akan bantu gue buat lepas dari jeratan Pram sampai tuntas...!"


"Gue kagak pernah ingkar janji. Asal lu juga bisa gue percaya. Tapi gue akan terus terang dengan Sherlin soal kita. Soal akting kita yang sekarang. Gue kagak mau masalah ini bikin rusak rumah tangga gue. Gue kagak mau buat Sherlin stres,"


"Dengan lu jujur setelah lu berbohong, gue yakin istri lu nggak akan mau mengerti Vand, kenapa nggak lanjut bersandiwara aja. Lu takut, lu naksir gue..?"


Revand mengepal kan kedua tangan nya. Benar. Ucapan Gisella benar. Sherlin pasti sulit untuk menerima kenyataan itu. Walaupun dia tidak selingkuh, namun tetap saja ia sudah berbohong. Dan ia tahu, Sherlin paling tidak suka dibohongi.


Tapi menurut nya, akan lebih baik ia jujur sekarang sebelum istrinya tahu dari orang lain. Tentu semakin menambah kekecewaan istrinya nantinya.


"Gue tetap ambil resiko itu. Dan lu, kalo lu masih gue anggap teman, jangan coba coba merancang sesuatu yang buruk dibelakang gue ..!"


Gisella tersenyum. Entah kenapa, semakin galak Revand padanya semakin berhasrat Gisella untuk mendapatkan pria ini. Dahulu, dengan pria pria yang lain, selalu ia yang dikejar, ternyata mengejar juga mengasyikkan. Ia semakin tertantang untuk lebih ekstra berusaha.


Gisella maju menghampiri Revand. Menyentuh lengan pria tersebut, meski spontan Revand menepis nya, ketika ada perasaan lain menyergap nya. Perasaan dibutuhkan yang ingin sekali ia dapatkan ketika ia bersama Sherlin sang istri.


Namun, karena kejadian kemarin dirumah, dikamar mereka. Revand jadi kembali memahami Sherlin meski sebenarnya ia ingin menuntut.


Merasa ditolak, Gisella semakin nekat, didorong nya Revand keatas sofa yang ada diruangan tersebut, dan tanpa memberikan kesempatan Revand untuk bangkit, Gisella menindih tubuh pria itu dan bergerak untuk mencium bibir Revand.


Mendapatkan perlakuan Gisella yang menggila, emosi Revand tersulut. Didorong nya tubuh wanita itu spontan dengan kekuatannya. Hingga Gisella terdorong keras kebelakang, bahkan jatuh kelantai. Hal itu membuat rok mini wanita itu tersingkap.

__ADS_1


Revand memalingkan wajahnya ketika tanpa sadar melihat hal yang seharusnya tidak ia lihat. Bukan buru buru memperbaiki posisi kakinya, agar pahanya tidak terekspos keseluruhan, Gisella justru sengaja membiarkan posisi nya itu seolah olah sengaja memancing kelelakian Revand.


"Vand, wajah lu nggak bisa bohong, lu sebenarnya suka gue perlakukan mesum kan...? Akui aja, Sherlin nggak bisa membuat lu merasa di butuhkan kan...? Ayolah Vand, kita nikmati aja hubungan kita ini, lu bisa merasakan, servis gue atau servis bini lu yang bisa buat lu bahagia, kenapa lu buat ribet semuanya...?"


"Diam lu Sell...!! Keluar lu dari ruangan gue..! Kalo lu melakukan hal ini lagi, gue kagak segan segan bersikap antipati ama lu, dan gue kagak perduli apapun yang pernah gue janjikan ama lu...!!"


Mendengar suara Revand yang meninggi tidak seperti biasanya, Gisella mau tidak mau tercekat. Ia kaget juga. Masa iya hanya karena ia tidak bercerita tentang masa lalunya dengan orang tua Zill, Revand jadi bisa semarah ini .


Awas lu Zill, lu kira, lu bisa lolos dari serangan gue...


Gisella memaki dalam hati, sembari bangkit, dan merapikan pakaian nya. Setelah itu, ia segera keluar meskipun Revand tidak ingin menatapnya, atau membalas ucapan pamit nya.


Jujur, ada rasa sakit dirasakan Gisella, saat menerima penolakan Revand yang sekarang. Padahal ia tahu, pria itu seperti nya merasa berdebar setiap kali ia memancing. Ia tahu, semua pria akan seperti itu pada akhirnya. Awal menolak, tapi kemudian menikmati. Kenapa Revand jadi seperti ini, hanya karena ia tidak jujur soal masalalu nya...?


Lu lebih mementingkan karir lu dan Sherlin dibandingkan janji lu yang ingin buat gue berubah Revand. Lu akan menyesalinya..


Batin Gisella dengan emosi yang masih menyelimuti hatinya.


Diluar, Roy yang hendak masuk kedalam ruangan Revand, melihat Gisella yang semrawut seperti itu jadi heran. Namun pria itu memilih tidak menggubris hal itu dihadapan Gisella, tapi langsung masuk kedalam ruangan Revand.


Didalam, ditemukan nya sahabatnya itu terduduk dengan kedua tangan menekap kepalanya.


"Kalian abis ngapain...?"


Tanya Roy dengan tatapan mata menyelidik.


"Maksud lu...?"


"Lu dan Gisella, tampang kalian kayak abis terangsang tau...!!"


Spontan wajah Revand menengadah, menatap wajah Roy tidak suka.


"Gue lagi badmood Roy, jangan suruh gue buat ngemaki lu, karena lu sembarangan ngomong...!!"


"Sorry, tapi wajar dong gue nanya, gue khawatir lu kepancing rayuan cewek itu, inget, dia Gisella. Setiap pria pasti mampu ia buat menggelepar, kalo lu kagak waspada hal yang satu ini..!!"


"Menggelepar...?"


"Ia, dalam situasi apapun, tu cewek bisa membuat pria terangsang tau. Makanya gue jaga jarak. Kalo gue terangsang, berabe gue, ancur rumah tangga gue, dan lu...? Santai aja deket ama tu cewek, lu kagak digerayangi kan..? Inget bini lu Vand, lu bakal nyesel kalo bikin Sherlin hilang kepercayaan ama lu..!"


Revand terdiam. Apa yang diucapkan Roy memang benar. Gisella memang punya trik seperti itu untuk menjerat pria. Buktinya beberapa kali, ia nyaris tergelincir, walau ia masih mampu untuk menjaga diri. Ah, semakin difikirkan, semakin egois rasanya ia. Ingin Sherlin bersikap seperti itu padanya, agar ia tidak lagi terpancing dengan ulah nakal Gisella. Tapi bagaimana...? Ia juga tidak tega jika terlalu menuntut istri nya bersikap seperti itu.


"Gue mau sendiri Roy, tinggalin gue..!"


Usir Revand akhirnya. Roy menarik nafas.


"Ya udah. Tapi jangan lupa ntar menghadap bos, gue kesini cuma mau menyampaikan itu...! Dan jangan lupa, lu boleh curhat masalah apapun ama gue, jangan ama Gisella, kalo lu kagak mau, curhat lu itu dijadikan senjata nya dia buat merusak rumah tangga kalian..."


Gisella memang seburuk yang orang bilang, tapi aku tau wanita itu bener bener mau berubah. Sayangnya, kenapa dia harus mencintai ku. Kenapa kagak mencintai orang lain aja, agar dia kagak harus menyerang ku seperti itu disetiap kali ada kesempatan, aku kagak bisa mendua Gisella. Kagak bisa. Tapi jujur, apa yang kamu lakukan itu memang terkadang membuat ku merasa dibutuhkan. Lelaki macam apa aku ini. Kenapa sekarang aku justru banyak menuntut Sherlin...


Note: Ketika hati didera kebimbangan. Ingat lah niat awal saat memulai sebuah hubungan. Menuntut memang sesekali perlu. Akan tetapi tuntutan yang tidak melihat situasi akan membuat seseorang akan tertekan, hingga lahirlah sebuah perasaan terpaksa. Cinta tidak pernah bersyarat. Ia hadir untuk menyatu kan segala perbedaan, karena bersama bukan berarti bisa saling menuntut, namun harus bisa saling menutupi kekurangan satu sama lain.


👉 pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya💖💖😉

__ADS_1


👉 Persiapkan diri kalian dievent birthday saya insya Allah besok di markas besar GSB ya, follow akun FB saya MITHAVIC HIMURA bagi kalian yang selalu suka karya karya saya💖


bersambung


__ADS_2