
Sherlin telah dibawa ke klinik terdekat oleh Revand dan juga Rei. Restoran, dibawah pantauan Amel. Sedang Gisella..? Diamankan oleh security. Revand melarang security melepas kan Gisella.
Selagi Sherlin masih belum sadar, Revand tidak akan membiarkan Gisella untuk bebas dari tuntutan hukum. Karena itulah, Gisella dibawa kepihak yang berwajib bersama sejumlah bukti. Cctv yang ada diarea toilet tersebut. Revand benar benar tidak ingin melepas kan Gisella begitu saja.
Beberapa saat kemudian, dokter yang memeriksa kondisi Sherlin, memperbolehkan Revand untuk masuk. Sementara Rei terpaksa kembali ke restoran, karena Amel tidak bisa lama menghandle restoran sendirian.
Revand berjanji akan mengabarkan info Sherlin kepada dua sahabat istrinya tersebut. Ketika Revand masuk, ia melihat sang istri sudah siuman. Revand segera menghampiri tepi pembaringan, menggenggam jemari tangan istrinya, dan mencium kening istrinya dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku sayang. Aku bikin kamu jadi begini..!"
Kata Revand sembari membelai kepala Sherlin. Sherlin menatap wajah suaminya. Lalu tersenyum.
"Kamu udah sadar...? Kamu nggak liat aku jadi Gisella lagi kan...?"
Tanya Sherlin terbata.
"Iya. Aku sadar, saat mendengar jerit kesakitan kamu sayang. Maafkan aku. Aku nggak bisa menguasai hatiku yang membenci Gisella, hingga ilmu itu menguasai ku..!"
Revand berucap sembari mencium jemari tangan istrinya, yang masih digenggam nya erat.
"Dia benar benar ingin merebut mu dariku Revand. Aku bisa merasakan aura itu. Apa aku bisa mempertahankan kamu. Didorong Gisella aja, aku pingsan. Aku lemah...!"
"Nggak sayang, kamu nggak lemah. Aku yang lemah, aku yang belum bisa menguasai dan mengontrol emosi ku, padahal kamu sudah memperingatkan aku, maafkan aku ya. Kamu jadi menderita karna aku..!"
Tangan Sherlin balas menggenggam jemari tangan Revand dengan erat.
"Dia nggak akan berhenti melakukan itu Vand, dia pasti akan mengulangi nya kembali. Kamu harus bisa menguasai diri, ilmu itu bisa kamu lawan, kalau kamu bisa menguasai hati dan fikiran kamu. Jangan membenci nya. Doakan saja dia diberi hidayah, agar bisa berubah. Semakin kamu membencinya, semakin mudah ilmu itu menguasai kamu."
Sherlin, wanita berhati apa kamu ini, sudah disakiti berkali kali oleh Gisella, kamu masih bisa mengucapkan kalimat itu padaku. Kamu memang istri terbaikku sayang, aku janji, tidak akan membiarkan siapapun memisahkan kita..
Revand bicara seperti itu didalam hati, sembari lagi lagi mencium jemari tangan istrinya yang masih digenggam nya erat.
Karena luka yang diderita Sherlin tidak begitu parah, dokter mengizinkan Sherlin untuk pulang setelah sehari semalam di istirahat kan di klinik. Hanya saja, dokter berpesan pada mereka, agar berhati-hati, jangan sampai hal itu terulang kembali. Karena bisa jadi akan fatal akibatnya, mengingat kepala bagian belakang Sherlin yang terbentur di tembok. Kesergapan Revand, membawa Sherlin keklinik membuat Sherlin cepat ditangani. Meskipun istrinya tidak kenapa napa, tetap saja Revand sebagai suami, sangat merasa bersalah hal itu bisa terjadi pada istri nya.
Ketika mereka sampai kerumah, Sherlin sudah disambut oleh ibunya, yang sangat khawatir dengan kondisi putrinya, melihat putrinya tidak kenapa napa, wanita tersebut tidak bisa menahan rasa haru dan syukur nya. Dipeluk nya tubuh mungil putrinya dengan penuh sayang.
"Revand. Wanita itu benar benar sudah bertindak keterlaluan, dia sudah berusaha menghancurkan hidup kalian nak. Ibu tidak rela, dia terus saja melakukan hal gila terhadap kalian...!"
Ibu mertua Revand bicara seperti itu kepada Revand.
"Iya ma, aku udah membawa kasus ini ke pihak yang berwajib, aku akan membawa perkara ini kejalur hukum, aku akan pastikan Gisella menerima hukuman atas perbuatan dia..!"
"Siapa bilang...? Gisella sudah aku bebaskan...!!"
Semua yang ada disitu menoleh saat sebuah suara terdengar lantang menyahut ucapan Revand. Ibu Revand muncul sembari menatap dingin kearah semua yang ada disitu. Terutama pada Sherlin.
"Mami...?"
__ADS_1
Revand tidak bisa menahan rasa terkejut nya melihat ibunya muncul, disertai ucapan yang benar benar tidak ia sangka sangka.
"Iya, ini mami Revand, Gisella sudah bebas. Mami yang menjaminnya, mami gunakan kuasa mami sebagai ibu kamu. Lagipula, kalau kamu bersikeras untuk menahan Gisella, mami akan membuat pengakuan, kalau yang bersalah itu mami, bukan Gisella..!"
"Apa maksud mami...?"
Revand tidak mengerti arah pembicaraan ibunya.
"Ya, Gisella melakukan itu atas izin mami...!"
"Mencelakai istriku mi...?"
"Itu karena istri kamu tidak tahu diri. Gisella sudah meminta baik baik untuk berbagi suami, dia rela menjadi yang kedua, tapi istri kamu itu tidak sudi dipoligami, istri kamu itu egois Revand, dia hanya memikirkan dirinya sendiri saja. Tidak memikirkan perasaan kamu, mami dan juga papi...!"
Sherlin membatu mendengar ucapan pedas yang diucapkan oleh ibu mertua nya. Sementara ibu Sherlin, segera melepaskan pelukannya ditubuh putrinya, lalu menghampiri besannya.
"Kita sebagai orang tua memang wajib untuk membina anak anak kita, tapi tidak selayaknya kita ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Dokter bilang, Revand dan juga Sherlin itu sehat. Jadi Sherlin belum hamil bukan karena mandul, kenapa kita sebagai orang tua tidak sabar menunggu ..? Kenapa harus membuat keputusan sendiri, sementara anak anak kita tidak dilibatkan dalam keputusan itu...?"
"Aku tidak bisa menunggu. Ini sudah terlalu lama. Putri kamu itu tidak bisa memuaskan suaminya secara bathin, itu alasan kenapa dia tidak bisa hamil sampai sekarang...!!"
"Mami...!!"
Suara Revand menggema diruangan itu saat pria itu mengucapkan kalimat tersebut. Sementara Sherlin, tidak tahan dengan ucapan demi ucapan yang ia dengar dari ibu mertuanya. Wanita itu berlari kelantai atas untuk segera masuk kekamar nya dengan mata yang sudah digenangi air mata. Menyaksikan betapa istri nya sangat terpukul dengan ucapan ibunya, Revand maju menghampiri sang ibu.
"Mami keterlaluan. Siapa yang bilang Sherlin tidak bisa memuaskan aku secara bathin...? Aku puas mami. Sangat puas, apa perlu aku catat berapa kali jumlah org*sme aku saat berhubungan intim dengan istri ku..? Mami ingin aku poligami...? Aku tidak akan pernah melakukan nya. Apalagi menikahi Gisella. Mami pikir, Gisella itu bermartabat...? Jangan menilai seseorang hanya dengan melihat penampilan nya saja mami, Gisella tidak layak untuk disejajarkan dengan Sherlin. Dia itu pelakor, kalau mami tidak percaya dengan ku, selidiki saja masalalu nya. Satu lagi, apakah mami tahu, apa yang ia lakukan padaku belakangan ini...? Dia mengirimkan aku ilmu guna guna, aku seperti mau gila setiap kali ilmu itu berusaha menyerang ku. Wanita seperti itu, yang mami bangga banggakan...? Aku sebenarnya tidak mau membongkar keburukan Gisella, tapi karena mami sudah keterlaluan, aku harus melakukan nya. Aku kecewa sama mami. Jangan panggil aku anakmu lagi, kalau mami tidak sadar apa yang mami lakukan sangat menyakitiku dan Sherlin mami...!!"
Habis bicara seperti itu, Revand berlalu dari hadapan ibu, dan ibu mertua nya. Wajah pria itu merah padam. Pertanda emosi begitu menguasai diri nya. Pria itu naik kelantai atas, menyusul istri nya. Khawatir sang istri terpuruk karena ucapan ibunya.
"Putriku tidak pernah memaksa seseorang untuk mencintai nya. Tapi ia akan mempertahankan seseorang yang juga mempertahankan nya. Fikirkan lagi apa yang sudah kamu lakukan, tolonglah jangan terus menyakiti perasaan anak anak kita...!"
Jika tadi, ibu Revand selalu berapi api setiap kali berbicara. Kali ini, mendengar ucapan ibu Sherlin, wanita itu tidak bergeming. Apa yang diucapkan oleh putranya tadi benar benar membuat ia terguncang.
Kamu ingin memutuskan hubungan antara anak dan ibu hanya karena Sherlin Revand....
Katanya dengan wajah pias.
Sementara itu dikamar. Revand menjumpai istri nya duduk termenung diatas tepi tempat tidur. Sisa airmata masih terlihat di kedua mata sang istri. Perlahan, Revand menghampiri istri nya dan duduk disebelah istri nya.
"Jangan bertengkar dengan ibu kamu Vand, biar bagaimanapun, beliau tetap wanita yang melahirkan kamu.."
Ucap Sherlin sarat luka.
"Mami itu salah Sherlin. Dia bersekongkol dengan Gisella, untuk bisa memisahkan kita..!"
"Dia hanya ingin cucu Vand, dan aku sebagai menantu nggak bisa memberikan itu. Wajar beliau bersikap seperti itu...!"
Airmata kembali turun membasahi pipi Sherlin.
__ADS_1
"Wajar. Wajar memang, tapi apa yang mami lakukan itu sudah kelewatan. Selama ini aku tidak pernah menentang beliau, hanya sekali ini aku ingin dia mau mendengarkan aku sekali ini saja. Biarkan aku mengurus rumah tangga ku sendiri, kita hanya perlu menunggu, aku yakin kok nanti juga kamu akan hamil, kalau kamu ditekan terus seperti ini, akan semakin sulit kamu akan hamil, karena kamu akan stres sayang...!"
Butiran bening itu makin deras turun membasahi kedua pipi Sherlin. Tidak tahan melihat kondisi istri nya seperti itu, Revand menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya. Dipelukan sang suami, tangis Sherlin pecah. Hati dan perasaan nya hancur, tapi disatu sisi ia paham perasaan ibu mertua nya. Entah kenapa, mendengar ucapan ibu mertua nya tentang ia tidak bisa memuaskan Revand, Sherlin jadi terpancing.
Hal yang selama ini mengganggu fikiran Sherlin. Apa benar, karena ia tidak pernah meminta kepada sang suami untuk berhubungan intim, suami nya itu jadi tersiksa bathin hingga mempengaruhi hormon lalu menyebabkan ia tidak hamil...?
"Vand, penuhi saja keinginan ibu kamu, buat beliau bahagia, tapi jangan dengan Gisella, cari wanita lain yang lebih baik dari dia dan aku, nggak ada gunanya kamu mempertahankan wanita yang nggak bisa memberikan kamu keturunan. Supaya kita juga nggak terus saling menyakiti, aku ikhlas Vand,"
"Enggak...!! Aku nggak mau mendengar ucapan itu keluar dari mulut kamu lagi. Aku nggak akan meninggalkan kamu apapun alasannya. Aku juga nggak akan menikah lagi Sherlin. Kamu nggak punya hati untuk kupoligami, aku juga nggak punya hati untuk melakukan poligami...!!"
"Tapi situasi ini bikin ibu kamu melakukan hal hal buruk Vand, beliau semakin jauh terjerumus, karena keinginan beliau ingin cucu belum terpenuhi, hal itu bikin beliau jadi gelap mata. Aku nggak mau bikin orang jadi jahat karna aku Vand, pahami itu...!"
Revand melepaskan pelukannya ditubuh istri nya. Lalu pria itu bangkit dan segera beranjak menuju pintu. Namun langkah kaki nya terhenti mendengar suara sang istri.
"Kamu mau kemana...?"
"Aku mau membunuh Gisella..!"
"Apa..? Kamu gila..!"
"Kalau karna dia aku jadi kehilangan kamu, lebih baik aku yang membuat dia kehilangan nyawanya, aku nggak pernah memukul wanita Sherlin, tapi untuk mu, jangankan memukul, membunuh pun akan aku lakukan. Dia sudah terlalu banyak melakukan hal yang menyakiti kita, kurasa aku pantas melakukan itu untuk membalas nya..!!"
Revand segera ingin membuka pintu kamar, setelah mengucapkan kalimat itu dihadapan istrinya, namun serta merta, Sherlin turun dari tempat tidur dan berlari menuju suami nya lalu memeluk suami nya dari belakang, berharap Revand tidak melangkah kaki nya untuk keluar dari kamar.
"Jangan lakukan itu Revand, aku mohon. Kamu akan mengotori tangan kamu kalau kamu melakukan itu, maafkan aku. Aku janji, akan berusaha untuk kuat menghadapi semua ini. Jangan lakukan itu...!"
Sherlin mengucapkan kalimat itu sembari terisak dipunggung suaminya. Airmata yang membasahi punggung Revand, membuat emosi Revand perlahan lahan turun. Ia berbalik. Dipeluk nya tubuh mungil sang istri. Dicium nya puncak kepala istri nya penuh sayang.
"Aku bisa menghadapi apapun itu, tapi aku tidak bisa menghadapi kenyataan kalau aku harus kehilangan kamu Sherlin..."
Bisik nya ditelinga sang istri, yang direspon Sherlin dengan cara mempererat pelukannya ditubuh sang suami.
Tuhan....
Biarkan kami tetap bersama, tanpa harus ada yang terluka karena kebersamaan kami...
Doa itu diucapkan Sherlin dalam hati, karena untuk bicara ia benar benar merasa tidak sanggup lagi...
Note: Tidak ada yang sia sia dari semua hal pahit yang diberi kan Tuhan untuk kita. Karena jika kita ikhlas menerima hal pahit tersebut, ada hal manis yang Tuhan berikan setelah nya.
👉 pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya 😘
👉 baca juga novel nonfiksi terbaru saya berjudul CINTA SANG PENULIS ya
👉 Dan baca juga novel nonfiksi karya saya yang lain terbit diplatform kuning N*velme berjudul DOKTER ITU KAKAKKU, update setiap hari juga❤️ perjuangan seorang dokter memerangi virus Corona, yang ternyata sang virus juga menjangkiti wanita yang dicintainya, mampukah sang dokter menyelamatkan wanita yang dicintainya tersebut dalam keterbatasan sarana rumah sakit karena pasien pengidap virus Corona semakin banyak..?
__ADS_1
bersambung..