
Gisella mematut dirinya kembali didepan kaca. Penampilan nya sudah sangat sempurna. Akan tetapi, gadis itu masih saja merasa ada yang kurang dengan penampilan nya pagi ini. Difikir berulang kali pun, rasanya selalu ada yang kurang. Padahal, wajah, rambut, pakaian, kulit, aksesoris, semua sudah sempurna. Serba baru. Baru dibelinya di butik ternama langganan nya. Tapi entah kenapa, rasanya masih tidak membuat nya puas. Penasaran, ia keluar kamar. Turun kebawah, memanggil Bi Sarti yang sedang sibuk menyiapkan sarapan dimeja makan. Hingga tergopoh-gopoh, wanita setengah baya itu berlari menghampiri tuannya.
" Ada apa neng Gisella, sarapan sudah bibik siapkan ini."
Kata wanita itu kepada Gisella.
"Bi, coba liat deh. Apa sih yang kurang dengan penampilan ku hari ini,?"
Tanya Gisella sembari memutar tubuhnya dihadapan wanita setengah baya dihadapan nya itu, untuk meminta penilaian nya. Bi Sarti termangu.
Apa yang kurang....? perasaan sudah sempurna....
Bathin wanita itu berkata.
"Em, anu non. Bibi rasa, tidak ada yang kurang, seperti biasa, non Sella selalu sempurna,!"
Gisella mengerutkan keningnya. Tidak puas dengan pendapat asisten rumah tangga nya itu.
__ADS_1
"Kalau aku ngerasa nggak sreg, artinya ada yang kurang bibi, aku nggak pernah salah deh,!"
Bi Sarti menghela nafas. Mau bicara apalagi...? Toh, ia merasa tidak ada yang salah dengan penampilan nona besarnya tersebut. Tapi memang benar, jika sang nona besarnya ini berkata demikian, artinya memang ada yang belum disempurnakan oleh sang nona besar, entah apa...
"Oh, iya. Aku baru ingat, bulan ini kayaknya aku terlalu santai menekuni hobi ku. Pantesan, aku ngerasa semangat hidup ku ada yang kurang, terus ngaruh ke penampilan, mau pake apapun itu, kalau aku belum nambah bikin suami orang berdecak kagum ngeliat aku, terus jatuh cinta, rasanya cantik ku ini sia sia,!"
Gisella mengoceh. Ia melangkah menuju meja makan. Dimana sarapan lengkap sudah tersedia disana.
"Non. Itu perasaan non Sella saja. Bibi yakin non Sella lupa memakai sesuatu. Hingga non Sella merasa penampilan non, ada yang kurang, apa hubungannya dengan hobi non Sella dengan penampilan cantik non Sella,?"
Wanita itu mencoba mendebat pendapat Gisella tentang kecantikan nya. Gisella duduk di kursi, lalu mengambil roti dan mulai mengoleskan selai kacang diatas roti tawar tersebut.
"Bi, zaman kita itu beda. Zaman bibi dulu sih, udah bisa masak aja dibilang cantik, kalo sekarang, cantik itu harus bisa menaklukkan pria Bi, apalagi pria yang sudah beristri, heeem emang sih, ribet urusan nya, tapi bisa membuat pria beristri berpaling dari istri sahnya itu luar biasa banget lho. Artinya, dibandingkan wanita yang dinikahi nya susah payah, pake buang duit gelar pesta, ribet ngurus surat surat nikah juga, plus ribet minta restu segala, aku tuh lebih segalanya. Bangga dong Bi,!"
"Non. Bukan begini cara non Sella untuk membuat ayah non memandang non Sella wanita yang hebat, non Sella bisa melakukan cara lain agar beliau tidak meremehkan non Sella, bibi selalu ada dipihak non Sella, tapi bibi benar benar tidak bisa terus melihat non Sella seperti ini, bibi sayang non Sella,!"
Gisella bangkit dari tempat duduknya. Ia menatap wajah Bi Sarti, yang saat itu menunduk dalam dihadapan nya. Diletakkan nya roti yang baru separuh dinikmati nya diatas piring.
" Aku lebih tau segala nya banding bibi. Bibi fikir, hanya mengandalkan otak cerdas, aku bisa dapat posisi bagus di perusahaan...? Bibi tau nggak, gimana perasaan aku, diremehkan oleh ayahku sendiri...? Hanya karna aku nggak suka belajar. Wanita itu harus punya banyak akal Bi, aku nggak mau hidup seperti mami yang terlalu bodoh menuruti aturan papi, bagiku, wanita harus bisa diatas pria, pria harus bisa mengakui, tanpa wanita ia nggak bisa apa apa,!"
"Tapi non, bibi khawatir,"
__ADS_1
"Ah, udahlah. Bibi kebanyakan liat sinetron sih. Cerita cerita sial tentang pelakor itu cuma skenario aja. Dinyata pelakor itu lebih untung, lebih disanjung. Dipandang rendah oleh sesama wanita, karena kalah saing, tapi dimata pria dinobatkan sebagai ratu kecantikan,!"
"Bibi tidak suka kalau ada yang menyebut non Sella itu pelakor, dikampung bibi, itu sangat memalukan,"
"Apa sih gunanya sebuah nama...? Yang penting itu hidup kita enak tanpa perlu susah payah. Diberi kecantikan itu dimanfaatkan Bi, masa cantik cantik pacar cuma satu. Sejarah nya gitu amat, ntar anakku nggak bangga dong,mengenang maminya nanti, cuma punya satu pacar, nikah punya anak, terus mati,"
"Astagfirullah, Non. Jangan begitu. Justru non harus malu kalau anak non nanti, tau apa yang non lakukan sekarang, dalam agama itu juga tidak dibolehkan non. Dosa. Pernikahan itu sebuah ibadah yang panjang, kalau non Sella merusak rumah tangga orang, artinya non Sella sedang merusak ibadah orang lain, dosa non,"
"Sayangnya, buatku dosa itu nggak menyakitkan. Tapi nikmat. Hidup ku jadi lebih bersemangat. Wajah ku semakin cantik. Bibi fikir buat cantik itu nggak perlu biaya mahal...? Gajiku mana cukup untuk sekedar kesalon beberapa kali dalam sebulan. Belum lagi beli rumah mewah sebesar ini. Terus gaji bibi juga, bibi mau, aku pecat...? Karna bibi nggak mau dukung aku,!"
" Jangan non~"
"Ya, udah. Nggak usah kebanyakan komplen. Yang cari uang itu aku.Bibi bisa kok balik ikut ke papi dan mami, kalo nggak suka gaya hidup aku,!"
"Non.Kan bibi disini atas perintah nyonya besar. Nyonya sangat menyayangi non Sella. Begitu juga bibi. Mana mungkin, bibi meninggal kan non Sella sendiri. Apalagi ini Kalimantan. Berbeda dengan Jakarta. Non Sella tidak boleh sendirian disini,"
" Kalau bibi banyak komplen terus, aku nggak segan segan buat ngembalikan bibi ke Jakarta. Biar aja aku sendiri disini. Aku yakin. kok aku bisa sukses disini. Punya perusahaan batubara terbesar, biar papi nggak lagi meremehkan aku,!"
Habis berkata seperti itu, Gisella memutar tubuhnya, berjalan meninggalkan sang asisten rumah tangga nya, yang hanya menatap nya penuh perasaan bercampur aduk. Bi, Sarti hanya bisa mengelus dada. Gisella benar benar berubah banyak semenjak ayahnya kecewa, Gisella dianggap tidak berbakat menjadi penerus perusahaan karena otaknya yang tidak cerdas. Padahal menurut Gisella, buat apa susah payah belajar keluar negeri....? Toh, yang punya perusahaan adalah ayahnya sendiri. Tidak perlu susah payah belajar. Ada rekomendasi orang dalam yang kuat. Seperti posisi sekretaris yang ia dapatkan sekarang. Tanpa susah payah melakukan seleksi. Hanya bermodalkan rayuan dan wajah cantik nya itu, bosnya saja sudah belepotan. Mau memberi segalanya untuk Gisella. Asal Gisella merahasiakan hubungan terlarang mereka dari istri sahnya. Tidak perlu susah payah bekerja saja, Gisella sudah mendapatkan uang. Pekerjaan sekretaris hanya pencitraan untuk Gisella. Biar dimata masyarakat, namanya tidak buruk buruk amat. Lagipula semakin tinggi karir nya, semakin besar kekuatan Gisella menaklukkan banyak pria. Pria akan selalu bertekuk lutut dihadapan nya mengakui kehebatan nya, jika karirnya cemerlang. Cantik. Cerdas. Mandiri. Meski kata cerdas itu tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, karena ia bekerja atas bantuan koneksi, dan kata mandiri juga tidak terlalu tepat untuk dirinya karena apa yang ia dapatkan bukan murni hasil kerja keras nya. Tapi menurut nya, wanita itu harus cerdas mempergunakan kesempatan dan anugrah yang ada.
Buat apa susah payah belajar, jika seribu pria yang punya karir hebat bisa ia dapat kan hanya dengan modal cantik dan tubuh nya yang indah...? Belajar itu menyebalkan menurut Gisella. Berbeda dengan bermain muslihat. Selain mendapatkan untung banyak dengan cara yang mudah, ia juga sangat menikmati nya.
__ADS_1
Terpenting lagi dalam kamus Gisella. Bukan hanya dimata pria ia mendapat kan pengakuan. Beberapa wanita lain yang punya pendapat sama seperti nya, bahwa hidup itu indah jika banyak mempunyai uang dan kedudukan, akan mengakui kehebatan nya. Bermain cantik untuk mendapatkan segalanya. Secantik wajah nya. Karena rata rata pria jadi bodoh didepan wanita cantik. Sarjana lulusan luar negeri pun tidak bisa lari dari pesona nya. Bukan hanya sarjana. Seorang ustaz pun pernah dibuat Gisella bertekuk lutut dihadapan nya. Setengah mati ingin melamar nya. Meminta izin pada istri sah untuk berpoligami. Yang tentu saja ditolak Gisella, karena ia tidak ingin terikat dengan satu pria saja. Itu akan membuat pundi pundi keuntungan nya berkurang. Dan Gisella tidak suka itu terjadi. Hingga ia meninggal kan sang ustaz tersebut. Dan kabar terakhir yang ia dengar, istri sah ustaz tersebut meminta cerai karena tidak mampu memaafkan kekhilafan suaminya sudah tergoda dengan pesona Gisella....
Menyesal kah Gisella...? Tidak. Justru ia semakin merasa menikmati permainan yang sudah ia ciptakan selama meninggalkan rumah....