SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 100. PELANGI SETELAH HUJAN.


__ADS_3

Wajah Zill sekilas berubah merah melihat Revand dan Sherlin muncul dari arah belakang, masih dengan saling bergandengan mesra. Meskipun sudah berusaha untuk mengiklaskan, memang untuk bisa mengontrol perasaan itu butuh waktu.


"Lu ini, istri lu digandeng mulu, kayak anak kecil takut kesasar..!"


Sungut Zill, saat keduanya sudah duduk dihadapannya. Wajah Sherlin merah menahan malu mendengar ucapan Zill, sementara Revand cuek.


"Apa, kamu mau makan sesuatu biar aku buatin..!"


Sherlin berusaha untuk bersikap biasa biasa saja, sesaat usai Zill mengucapkan kalimat tersebut.


"Nggak usah Sherlin, jangan capek capek, bukannya kamu lagi hamil kan, jangan terlalu banyak melakukan aktivitas yang bikin kamu lelah, aku udah minta Rei buat bungkus makanan yang pengen aku bawa pulang kok..!"


Zill meminta Sherlin untuk duduk kembali, dengan isyarat.


"Eh, lu kagak makan disini aja..?"


"Kalian mau makan bareng gue..?"


Zill balik bertanya setelah merespon pertanyaan Revand.


"Ah, ini belum jam istirahat kami, kagak enak kalo makan belum jam istirahat..!"


Revand menolak secara halus.


"Ya udah, kamu kesini kayaknya bukan untuk makan, ada hal penting apa yang membuat kamu pengen ketemu sama kami..?"


Sherlin kali ini yang bicara.


"Aku udah mengurus habis perusahaan tempat dimana Revand dan Gisella dulu kerja, sekarang perusahaan itu udah tutup, mungkin kalian juga udah denger kabar itu kan, selain mereka punya kesalahan tentang hal yang dulu pernah Revand katakan, mereka juga kagak bisa menutup hutang perusahaan, hingga mau kagak mau aset mereka dijual lalu perusahaan itu ditutup. Tanpa ada perlawanan yang keras dari mereka, aku datang kesini bukan mau bahas hal itu. Tapi, mau meminta Revand untuk bekerja di perusahaanku, itu juga kalau kalian kagak keberatan...!"


Sherlin dan Revand saling pandang mendengar apa yang diucapkan oleh Zill.


"Lu serius...?"


"Kalau gue becanda, buat apa gue datang kesini ngomong begini ama kalian...!"


Zill menyahut.


"Tapi, kenapa lu bisa berfikiran merekrut gue buat kerja di perusahaan lu..?"


"Karena reputasi lu bagus, dedikasi lu diperusahaan yang sebelumnya juga bagus, dan yang paling penting itu lu jujur, perusahaan gue sangat menjunjung tinggi hal itu, jadi kalau lu berminat besok lu bisa datang kekantor bawa berkas berkas yang diperlukan, terus kerja dikantor gue, gue butuh lu agar perusahaan gue semakin maju Vand. Orang orang seperti lu ini, yang harus dipertahankan, berdedikasi dan jujur dalam bekerja...!"

__ADS_1


"Ya, Allah, ini rezeki anak gue namanya, tentu aja gue mau. Kerja apapun itu gue mau, bolehkan sayang...?"


Zill tersenyum kecut mendengar Revand yang lagi lagi bersikap mesra pada sang istri.


"Iya, boleh, Alhamdulillah, makasih ya Zill, kamu temen yang baik..!"


Sherlin menyahut dengan wajah merah, karena merasa jengah suaminya bersikap mesra dihadapan Zill.


"Kamu nggak perlu kerja lagi, ingat itu kamu hamil, ya kagak Revand. Kalau lu kerja dikantor gue, Sherlin kagak perlu lagi kerja disini,"


Kini, ganti Revand yang mencibir, mendengar perhatian yang dilontarkan oleh Zill untuk istrinya. Zill pura pura tidak melihat, Sherlin hanya geleng-geleng kepala. Rasanya ia jadi merasa serba salah, jika suami dan temannya ini terlibat adu mulut hanya untuk saling berbalas cemburu.


"Gimana kabar Gita. Udah ada kemajuan kagak..?"


Revand sengaja membahas Gita, karena ia tahu, wanita itu suka dengan Zill.


"Mana gue tahu, emang gue harus tau kabar dia...?"


Zill menyahut cuek.


"Mungkin sekarang, lu kagak ngerasa dia itu penting, tapi suatu saat lu akan sadar, dia penting untuk lu,"


Revand berkata kembali, dan Zill menghela nafas.


Zill bicara seperti itu dengan nada suara serius.


Sherlin menggigit bibir. Jelas sekali, pria itu sepertinya belum mau membuka hati untuk wanita lain. Padahal ia ingin sekali melihat, pria itu bahagia, karena Sherlin merasa Zill pria yang pantas untuk bahagia.


"Ohya, kalian kagak mau ketemu dengan Gisella buat terakhir kali..?"


Suara Zill kembali terdengar.


"Terakhir kali...? Emang dia mau kemana...?"


Revand bertanya dengan nada heran.


"Dia mau ke Jakarta, mungkin bakal menetap disana, Pram juga udah mengatur rencana untuk menikahi Gisella, gue salut dengan anak itu, benar benar berubah drastis, menjadi lebih sabar, bijak dan tahu arti cinta yang sebenarnya. Perubahan yang luar biasa, gue berharap itu bisa membuat Gisella lebih bisa mawas diri lagi dan mau mengambil hikmah dari semua yang udah terjadi..!"


"Gue, kagak mau ketemu dia.."


Revand bicara seperti itu dengan wajah tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Vand, kan ustaz juga udah bilang, kamu jangan mendendam, kejadian ini emang menyakiti kita semuanya, tapi liat keadaan dia, cacat itu pasti jadi pukulan berat untuk dia..!"


Sherlin mengucapkan kalimat tersebut sembari menatap suaminya.


"Aku dulu udah ngasi kesempatan dia untuk berubah, tulus jadi teman dia, disaat kalian kagak suka aku berteman dengan dia, tapi yang ada, dia mengecewakan aku, terus melakukan ini dengan sangat buasnya..! Aku tahu, dia juga udah dapat hal, buah dari apa yang ia perbuat, tapi aku perlu waktu untuk bisa ketemu dia lagi...!"


Zill dan Sherlin sama sama menarik nafas panjang. Sebagai orang yang pernah menjadi target utama dari Gisella, wajar ada semacam perasaan trauma dirasakan Revand jika bertemu dengan Gisella. Zill dan Sherlin paham hal itu.


"Ya udah, kalo gitu biar aku aja yang ketemu Gisella, dimana aku bisa ketemu dia...?"


Sherlin bicara seperti itu kepada Zill.


"Kalau kamu mau, aku bisa nganterin kamu ketemu dia, ntar aku kontak Pram dulu, kita atur waktu aja biar ntar ketemu nya bisa lancar ...!"


"Eh, kalian mau pergi berdua ..?"


Revand menyela. Dan Zill mengangguk.


"Gue ikut deh, gue mau jaga bini gue, dia lagi hamil muda harus dijaga ketat..!"


"Bukannya lu trauma ketemu Gisella...?"


Zill menggoda Revand, karena ia tahu, pria itu jadi berubah fikiran gara gara ia dan Sherlin ingin pergi bersama menemui Gisella. Revand tersenyum kecut.


"Setelah difikir fikir, kagak ada salahnya buat ketemu dia buat ngucapin selamat karna mereka bentar lagi nikah..!"


Sherlin tersenyum, begitu juga dengan Zill. Meskipun mereka tahu, Revand berubah fikiran karena tidak ingin melihat mereka pergi bersama, namun Sherlin dan Zill maklum apa yang sedang bergolak dalam fikiran Revand tersebut. Sudah berubah fikiran pun Zill dan Sherlin lega. Setidaknya, Revand masih mau menemui Gisella untuk menunjukkan pria itu tidak mendendam pada wanita yang pernah ingin mencelakai dan merusak rumah tangga nya tersebut.


Aku berharap, dengan begitu, Gisella bisa belajar dari semua yang pernah terjadi, bahwa kekuatan cinta tidak akan pernah mudah untuk digoyahkan oleh orang ketiga, semoga aja, obsesinya untuk memiliki Revand bisa diredam oleh ketulusan cinta Pram, yang juga beritikad baik untuk bisa berubah...


Sherlin bicara seperti itu didalam hati...


Note: Kunci agar manusia bisa meredam perasaan menuntut yang selalu ada dan umumnya dimiliki manusia adalah bersyukur. Bersyukur lah dengan apa yang sudah dimiliki, maka sifat manusia yang cenderung tidak pernah merasa puas akan ternetralisir dengan baik. Karena setiap manusia pada dasarnya punya sifat tamak. Jika diberi satu lautan harta maka niscaya ia akan minta dua lautan harta lagi, jika diberi satu pasangan maka niscaya ia akan meminta satu pasangan lagi, begitulah seterusnya, maka untuk meredam sifat dasar manusia tersebut, bersyukurlah, jagalah hal yang sudah dimiliki, sebelum kehilangan dan menyisakan penyesalan.


👉pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya 😘


👉 Baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul CINTA SANG PENULIS dilapak ini ya 💗


👉 Dan 3 novel online saya diplatform kuning NOV*LME berjudul DOKTER ITU KAKAKKU ( non-fiksi perjuangan seorang dokter yang melawan virus Corona) MAHKOTA DEWA (fiksi fantasi, perjuangan seorang putra mahkota yang turun kebumi mencari benda pusaka) FACE ( fiksi roman. Perjuangan grup idol yang meraih mimpi mereka menjadi penyanyi )


berikan dukungan kalian untuk karya saya tersebut, agar saya terus bisa berkarya 💗

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2