SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 94. AIRMATA CINTA (1)


__ADS_3

Ketika Zill masih tenggelam dalam kesedihannya, wanita yang bernama Yulia, sudah berdiri dihadapannya. Zill spontan mendongakkan wajahnya.


"Terimakasih sudah membawa suamiku kerumah sakit secepatnya. Kalian baik, meskipun mungkin suamiku banyak sekali membuat kesalahan pada kalian karena profesinya itu, tapi ternyata masih ada orang orang baik seperti kalian, yang tetap punya empati untuk menolong...!"


Wanita itu bicara seperti itu, dihadapan Zill. Zill menghela nafas panjang.


"Apa dia sudah sadar...?"


Zill melontarkan pertanyaan.


"Baru saja sadar, dan...!"


"Bagaimana keadaan dia..?"


Zill memotong ucapan wanita itu, karena jujur, ia ingin tahu resiko yang diterima oleh dukun yang disewa Gisella itu apa. Wanita yang bernama Yulia itu terdiam. Wajahnya terlihat suram.


"Kata dokter dia cacat, salah satu ginjalnya rusak, dan kedua kakinya lumpuh..! Aku datang kesini untuk mewakili suamiku untuk meminta maaf pada kalian semua, walaupun tidak sebanding dengan kesalahan yang dilakukannya, tapi percayalah,aku juga bersalah dalam hal ini, aku tidak ada saat ia terpuruk mengalami kesulitan hidupnya sendiri, padahal semua itu dia lakukan untuk aku dan anak anaknya, aku meninggalkannya disaat dia seharusnya didukung, jika kalian ingin membenci seseorang, bencilah aku, tapi aku mohon, maafkan dia, mungkin dengan begitu, dia bisa melewati rasa sakit yang menyiksanya itu dengan tegar...!"


Wanita itu bicara dengan suara terbata. Pram dan Zill sama sama menarik nafas panjang.


"Saya benci pada suami Anda, dan setelah mendengar apa yang Anda ceritakan, saya juga jadi membenci Anda, tapi disini, dari semua yang sudah terjadi korban utama dari apa yang dilakukan oleh suami Anda, Sherlin dan suaminya terutama Sherlin istrinya, sudah mengajarkan saya, untuk tidak menyimpan benci dan dendam, jadi asal Anda dan suami Anda benar benar bertobat dan mengaku salah, insya Allah kami akan memaafkan, turut prihatin untuk apa yang sudah diterima suami Anda, mohon doa agar sahabat saya Sherlin bisa sadar dari komanya dalam keadaan sehat walafiat..!"


Zill bicara seperti itu, dengan nada suara datar. Wanita bernama Yulia itu mengangguk, sembari mendoakan untuk orang yang dimaksud pria dihadapannya, setelah itu, wanita itu pamit, untuk kembali kedalam ruangan sang suami.


"Gue salut sama lu...!"


Pram bicara seperti itu, ketika wanita bernama Yulia itu telah berlalu.


"Salut untuk apa..?"


Zill bertanya tanpa menoleh.


"Dulu, lu termasuk tipe orang pendendam, sama ortu lu aja, lu lama membenci, tapi sekarang, banyak perubahan baik yang gue lihat semenjak lu kenal Sherlin, andai dia bukan istri orang, gue orang pertama yang merestui hubungan kalian...!"


Zill, mengepalkan kedua telapak tangannya, mendengar apa yang diucapkan oleh sahabatnya. Ingin membantah, atau bahkan marah, percuma, memang itu kenyataannya. Sejak bertemu dan mengenal lantas bersahabat dengan Sherlin, wanita itu banyak membuat perubahan positif yang dia sendiri saja tidak menyadarinya, ibu dan para orang terdekatnya juga mengakui hal itu. Sherlin, benar benar telah banyak membuat nya berubah jadi lebih baik lagi.


Kamu harus hidup Sherlin, kamu harus melihat begitu banyak orang orang berubah menjadi baik karna sifat mu itu, kamu harus sadar...


Lagi, ucapan itu diucapkan Zill didalam hati. Tiba tiba saja, dokter yang menangani Gisella keluar dari ruangan tempat dimana Gisella dirawat. Spontan Pram berdiri. Ingin tahu, bagaimana kondisi wanita yang dicintainya itu sekarang..


"Bagaimana keadaan calon istri saya dokter...?"


"Orangtuanya mana...?"


"Saya mewakili orang tuanya, karena saat ini ayahnya juga baru saja meninggal, belum bisa secepatnya kesini, jadi jika ada hal yang ingin diputuskan atau dibicarakan, tolong sampaikan pada saya saja..!"


Dokter itu menatap Pram sesaat, lalu...


"Dia sudah melewati masa kritisnya, ini aneh ya, dalam sejarah medis, pasien dengan diagnosis seperti dia ini, seharusnya cukup lama untuk bisa melewati masa kritis, tapi pasien sudah sadar, dan ada seseorang yang ingin ditemui nya...!"

__ADS_1


Pram dan Zill saling pandang. Mereka serempak berfikir, pasti orang yang dicari Gisella adalah Revand. Kedua telapak tangan Pram diam diam mengepal.


"Siapa yang dicarinya dokter..?"


Zill, memberanikan diri untuk bertanya.


"Ada yang bernama Sherlin disini...?"


Dokter itu menyebutkan nama, sembari menatap dua pria dihadapannya, lalu menyapukan pandangan nya kearah sana dimana ibu Sherlin, ibu Zill juga Gita dan Roy masih tegang menunggu bagaimana situasi kondisi Sherlin.


Mendengar nama yang disebutkan oleh sang dokter, Zill dan Pram tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Sherlin...?"


"Iya, harap bawa orang yang dicari pasien, agar pasien cepat pulih, jika kalian ingin membesuk silahkan tapi jangan terlalu melebihi kapasitas..!"


"Tapi dokter, orang yang dicari pasien itu sedang kritis sekarang masih belum sadar dari koma...!"


"Dan juga, dokter belum memberitahukan kondisi calon istri saya selain dia mencari wanita bernama Sherlin itu, apa yang sekarang terjadi pada dirinya...?"


Dokter itu menarik nafas.


"Anda sebagai calon suami nya harus tetap mendukung pasien, karena ini berat untuk dihadapi bagi seluruh wanita. Calon istri anda lumpuh, dan ia juga harus menjalani operasi pengangkatan rahim, karena rahim nya rusak ...!!"


Pram, sebenarnya sudah tahu resiko yang akan diterima oleh Gisella jika tetap nekat memakai ilmu pengasihan tersebut, namun saat mendengarnya langsung hal itu diucapkan oleh dokter yang merawat Gisella, entah kenapa rasanya hatinya sangat hancur, seluruh tubuhnya nyaris seolah tanpa tulang.


"Jadi, dia tidak bisa hamil selamanya dokter...?"


Habis bicara seperti itu, dokter yang merawat Gisella berlalu. Wajah Pram pucat pasi. Jika tidak ada Zill yang menopang tubuhnya, mungkin saat itu ia sudah luruh jatuh kelantai.


Zill mengajak sahabatnya masuk kedalam ruangan dimana Gisella dirawat. Sembari terus berusaha menguatkan sahabatnya itu.


Sesampainya didalam, mereka segera menghampiri tepi pembaringan Gisella.


"Gisella, gimana perasaan kamu, apa masih sakit...?"


Pram langsung melontarkan pertanyaan itu kepada Gisella yang memang sudah membuka kedua matanya.


"Mana Sherlin, gue mau ketemu dia..!"


Suara lirih Gisella terdengar.


"Kenapa kamu cari Sherlin..?"


Kali ini, Zill yang menanyakan hal itu pada Gisella. Gisella terdiam sejenak. Lalu, tiba tiba saja ada butiran bening mengalir dari kedua sudut matanya.


"Karena dia yang membuat gue sadar, dia datang ke alam bawah sadar gue, dan memaafkan semua kesalahan yang pernah gue perbuat, gue jahat sama wanita sebaik dia, gue takut kematian menjemput gue, gue ngerasa sendirian dialam itu, hingga dia datang tersenyum, sambil berkata gue harus kembali, dan ada kekuatan mendorong gue jauh banget lalu tau tau gue sadar, gue keluar dari alam yang mengerikan itu...!"


Gisella bercerita, dengan suara terbata. Airmata semakin deras membasahi pipi wanita itu. Pram, tidak bisa mengatakan apapun mendengar apa yang diucapkan oleh Gisella, ia hanya menggenggam jemari tangan Gisella untuk memberikan kekuatan.

__ADS_1


"Sherlin masih koma, dan kita semua kagak tau, apa yang nanti terjadi sama dia...!"


Dingin suara Zill saat mengucapkan kalimat tersebut. Mendengar ucapan Zill, tangis Gisella semakin tersedu. Tidak mau menyaksikan hal itu, Zill pamit untuk keluar pada Pram. Membiarkan Pram memberikan dukungan moril pada wanita yang dicintainya.


Saat Zill tiba diluar, Gita menyambutnya. Gadis itu memberitahukan bahwa ibunya sedang mencarinya, Zill mengucapkan terima kasih kepada gadis itu. Lalu berlalu untuk menemui ibunya. Sedangkan Gita segera ganti masuk kedalam ruangan tempat dimana Gisella dirawat.


"Bagaimana keadaan Sherlin Mi..?!"


Saat sudah berada dihadapan ibunya, Zill melontarkan pertanyaan tersebut. Baru saja sang ibu ingin menjawab pertanyaan putranya, tiba tiba saja dari arah ruangan dimana Sherlin dirawat, terdengar teriakan histeris Revand dan juga ibunya yang memang masih berada didalam.


Bergegas mereka masuk kedalam, ingin tahu apa yang sedang terjadi. Wajah Zill dan semua yang ada disitu pucat pasi, saat melihat alat pendeteksi jantung yang ada disebelah Sherlin menggambarkan garis lurus. Apalagi saat itu ia melihat Revand dan ibunya sibuk mengguncang tubuh Sherlin.


"Sayang bangun sayang...!! Jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Aku nggak bisa kamu tinggalkan sendiri..!!"


Berulang kali kalimat itu diteriakkan oleh Revand, sembari mengguncang tubuh istrinya. Hal yang sama dilakukan oleh ibu Revand, yang sudah berderai air mata seakan tidak percaya dengan apa yang dilihat nya.


"Zill, kenapa bengong, cepat panggil dokter...!!!"


Suara keras ibunya membuat Zill tersadar akan keterkejutannya karena melihat kondisi Sherlin. Pria itu tergagap. Lalu, segera keluar untuk memanggil dokter. Walau sekujur tubuhnya seperti lemas seketika. Garis lurus itu. Menandakan detak jantung wanita yang dicintainya itu sudah berhenti...


"Dokter tolong pasien bernama Sherlin dokter diruangan itu, tolong tangani secepatnya, detak jantungnya mendadak berhenti...!!"


Belum jauh Zill beranjak dari ruang dimana Sherlin dirawat, dokter yang menangani Sherlin muncul karena mendengar ada keributan dari arah ruangan dimana pasiennya dirawat. Bergegas dokter itu masuk kedalam ruangan sang pasien, meminta beberapa orang yang ada disitu keluar, sementara Zill, terduduk dilantai dengan wajah pucat pasi..


Kamu tidak boleh pergi Sherlin, aku tidak akan merelakannya kalau kamu pergi dalam keadaan seperti ini....


Teriak pria itu didalam hati dengan wajah putus asa, dan kedua mata yang mendadak digenangi airmata...


Note: Ketika manusia telah mati, akan terlihat siapa yang tulus menyayangi nya siapa yang tidak tulus menyayangi nya. Maka dari itu tidak heran ada pepatah lama mengatakan. "Andai aku bisa mati satu hari saja, maka aku bisa melihat, siapa orang orang yang tulus menyayangiku yang menangisi kepergian ku dan, siapa yang justru tertawa saat melihat kematianku" 😔


👉 Pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya 😘


👉 Jangan lupa baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul CINTA SANG PENULIS ya dilapak ini, perjuangan seorang gadis yang ingin meraih impian nya menjadi penulis..



👉 baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul DOKTER ITU KAKAKKU diplatform kuning NOV*LME, bagaimana perjuangan dokter Bryan melawan virus Corona..



👉 Dan novel fiksi fantasi saya berjudul MAHKOTA DEWA diplatform kuning NOV*LME juga, perjuangan Putra Mahkota turun kebumi untuk mencari benda pusaka kerajaan Negeri Atas Angin yang jatuh ke bumi



Semua novel online saya update setiap hari ya💗 Visual hanya imajinasi saya selaku penulis, pembaca bebas berimajinasi 🙏 dukung selalu karya saya agar saya terus berkarya 🙏


👉 Buat ke 25 peserta event birthday tokoh utama pria novel non-fiksi karya saya berjudul RACUN CINTA SIKEMBAR, pengumuman hasil nilai kalian dibabak sesi 1 sudah diumumkan dimarkas besar GSB, diakun FB saya MITHAVIC HIMURA


__ADS_1


bersambung


__ADS_2